Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 21
PERTOLONGAN
Killian menatap mereka satu per satu, tatapannya tajam, seakan menembus kebencian yang tersembunyi di balik wajah-wajah itu. Sandra menyeringai, melangkah selangkah ke depan.
"Itu artinya perintah Vincenzo ditolak oleh Killian Marcano," ucapnya lantang. "Seseorang yang begitu dipercayai oleh kakakku sendiri."
Killian hanya diam, menatap wanita itu lekat, seakan sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Ia melangkah maju perlahan, dan Sandra menegang meski berusaha tetap tampak berani. Muchus mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat peringatan.
"Killian..."
Killian berhenti tepat di hadapan Sandra, tak berkedip sedikit pun.
"Jangan khawatir," ucapnya rendah, tenang namun mencekam. "Aku tidak akan menghabisinya."
Sandra menelan ludah, namun matanya tak beralih. Killian mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya dingin dan datar, menekan setiap kata seakan memaku ke lantai.
"Perlu kuingatkan sekali lagi. Jangan pernah lagi menyentuh milikku." Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap. "Peringatan ini yang terakhir, Bibi Sandra. Aku harap kau memahaminya. Karena aku tidak suka menumpahkan darah Marcano di rumah ini."
Wajah Sandra memucat pelan. Kalimat itu membawanya kembali ke dua tahun silam — saat ia ikut campur urusan bisnis Killian, berakhir dengan kehancuran yang tak terduga, kerugian yang tak ternilai, serta kematian satu-satunya orang yang dipercaya Killian selain Nico — tangan kanannya yang lain, seseorang yang tak pernah tergantikan. Keheningan di antara mereka terasa berat, penuh bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Killian berbalik perlahan, menatap Laura yang masih berlutut.
"Jika ada lagi yang menantangku, katakan saja. Aku menunggu," ucapnya tegas, lalu mengulurkan tangan ke arah gadis itu. "Ayo."
Laura menatap tangan itu — besar, hangat, kokoh. Ia meraihnya perlahan, bangkit berdiri sambil menahan rintihan. Paha kirinya terasa perih menyayat, darah merembes terus dari balik kain pakaiannya. Killian melihatnya seketika, tanpa ragu langsung mengangkat tubuh Laura dalam gendongannya, persis seperti menggendong pengantin baru. Ia melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih terpaku di tempat.
Di belakangnya, Sandra menggertakkan gigi, menatap punggung mereka dengan kebencian yang tak disembunyikan. “Fuck him..”
Wanita rambut orang yang berdiri tak jauh dari Sandra juga menatap dengan tak suka dan mengepalkan tangannya. Zoey sama sekali tidak mendekat mendekat, namun suaranya cukup didengar jelas dan sinis.
"Apalah daya kita yang takut kepadanya."
Sandra menoleh tajam, amarah meluap. Ia tak menjawab, melainkan bergegas melangkah menuju ruangan Vincenzo — hendak melaporkan apa yang baru saja terjadi.
Dan Muchus melirik tajam ke istrinya tadi.
Cklek!
Pintu kamar tertutup rapat. Killian mendudukkan Laura perlahan di tepi ranjang, berdiri tegak di hadapannya, menatap wajah gadis itu yang penuh luka — memar di pipi, darah di sudut bibir, hidung yang masih merah.
"Kau bukan putri McManaman," ucapnya dingin, tanpa tanya.
Laura mengangguk pelan, menegakkan kepala sekuat tenaga. "Bukan."
"Seharusnya kubunuh kau saat ini juga," katanya datar. "Berani-beraninya kau bermain api dengan keluarga Marcano."
Laura menahan air mata yang hendak jatuh, berusaha tetap tegar meski suaranya bergetar. "Kalau begitu, lakukanlah."
Killian melangkah mendekat, mengangkat dagunya dengan jari telunjuk, memaksanya menatap lurus ke mata birunya yang tajam.
"Jadi apa yang harus kulakukan padamu, Laura?"
Gadis itu menunduk pelan, pasrah sepenuhnya. "Bunuhlah aku. Itu yang paling adil."
Killian menyeringai tipis, diam selama beberapa detik. "Membunuh tanpa mendengar keterangan pihak kedua... rasanya tidak adil bagiku." Ia menatapnya lekat. "Kau tahu apa yang terjadi pada Kieran McManaman?"
Laura mengangkat wajahnya seketika, mata membelalak. "Ap-apa yang... Yang terjadi padanya?"
"Dia sudah tewas."
Darah seakan menguras dari wajah Laura. Ia menatap pria itu tak percaya. "Te... tewas?"
"Ya." Killian mengangguk pelan, tetap datar. "Sekarang jawab pertanyaanku sekali lagi. Apa yang harus kulakukan padamu? Seluruh keluarga ini ingin memburumu."
Laura menunduk kembali, air mata akhirnya jatuh perlahan ke pipinya.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan gemetar.
"Aku sudah masuk ke lingkaran kalian," suaranya lirih namun penuh kepedihan. "Mustahil bagiku untuk tetap hidup. McManaman menipuku... dia membunuh ayah dan ibuku, lalu menahan adikku sebagai sandera agar aku patuh. Dia mengirimku ke sini sebagai pengganti putrinya."
Killian diam, menatapnya tanpa berkedip.
"Jika kematian yang kau inginkan," ucapnya pelan namun berat, "Maka kau akan mendapatkannya di tanganku sendiri."
Ia berbalik hendak pergi, namun Laura segera meraih pergelangan tangan kirinya, menahan langkah itu.
Tatapannya yang memohon, penuh air mata yang tak terbendung lagi bertemu dengan mata biru tajam Killian.
"Tolong... selamatkan adikku, Lily. Dia ditahan di rumah sakit jiwa dan dia tidak gila. McManaman mengurungnya di rumah sakit jiwa agar aku tidak berani melawan. Selamatkan dia... setelah itu... setelah itu kau boleh membunuhku. Aku mohon..."
Killian berhenti, menatap tangan kecil yang memegang pergelangannya erat.
"Kau memohon kepada seseorang yang akan membunuhmu? Dan kau memohon untuk seseorang yang bahkan mungkin bisa mengkhianatimu suatu hari nanti," ucapnya rendah. "Membuatmu menyesal."
"Dia keluargaku," jawab Laura tegas, matanya menatap lurus ke mata pria itu. "Dia adikku. Aku menyayanginya lebih dari nyawaku sendiri."
Killian terdiam. Kata-kata itu seakan menggores sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam dadanya, luka lama yang tak pernah benar-benar kering. Ia melepaskan perlahan genggaman gadis itu, lalu mengangguk pelan.
"Akan kukabulkan."
Ia berbalik pergi, melangkah dengan gagah berani, meninggalkan Laura yang masih mematung di tepi ranjang. Pintu tertutup rapat, dan barulah Laura membiarkan dirinya terkulai, menarik kedua kakinya ke atas kasur, meringkuk memeluk lutut, menahan tangis yang menderanya bersama rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Di lorong, Killian berpapasan dengan Sandra yang baru saja keluar dari ruangan Vincenzo. Wanita itu berhenti sejenak, menatapnya gelagapan, lalu berusaha menyembunyikannya dengan sikap angkuh sebelum pergi.
Killian memperhatikannya sejenak, lalu melangkah masuk ke ruangan ayah angkatnya itu.
Vincenzo berdiri membelakangi pintu, menatap ke luar jendela seperti biasa. Keheningan menyambut kedatangannya, hingga suara berat dan serak pria tua itu memecahnya.
"Kau membuat kesalahan besar untuk pertama kalinya, Killian."
Killian berhenti beberapa langkah di belakangnya, berdiri tegak, tak menunduk sedikit pun.