NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:43.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Keluarga Latifah

Suara kendaraan yang memasuki halaman kediaman Ustaz Malik membuat beberapa orang yang berada di teras menoleh bersamaan.

Sebuah mobil berhenti di pelataran, disusul kendaraan lain yang membawa beberapa kerabat keluarga Ustaz Umar.

"Sepertinya keluarga Ustaz Umar sudah datang," ujar Umi Azizah.

Ustaz Malik segera melangkah ke teras, diikuti Bu Almira dan beberapa anggota keluarga lainnya.

Pintu mobil terbuka. Ustaz Umar turun lebih dahulu, disusul Umi Aisyah. Beberapa saudara dan kerabat mereka kemudian ikut turun, membawa tas serta beberapa bingkisan untuk tuan rumah.

Tak lama kemudian, Latifah muncul dari sisi kendaraan.

Ia mengenakan gamis panjang berwarna lembut dengan hijab yang terpasang rapi. Wajahnya terlihat tenang, tetapi jemarinya saling menggenggam erat, memperlihatkan kegugupan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.

Ia menatap rumah besar di hadapannya.

"Bismillah. Semoga semuanya berjalan dengan baik." batinnya

"Assalamu'alaikum!" sapa Ustaz Umar dengan ramah.

"Wa'alaikumsalam!" jawab Ustaz Malik sambil menghampiri.

Keduanya bersalaman erat, kemudian saling berpelukan hangat.

"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, Umar!" ujar Ustaz Malik. "Bagaimana perjalanan kalian?"

"Alhamdulillah, lancar. Maaf kalau kami datang sedikit lebih awal dari waktu yang dijanjikan."

"Ah, tidak apa-apa. Justru kami senang kalian sudah tiba."

Umi Azizah kemudian menyambut Umi Aisyah dengan pelukan hangat. Kedua perempuan itu sudah lama saling mengenal, sehingga suasana pertemuan mereka terasa akrab.

"Masyaallah, Aisyah! Sudah lama sekali kita tidak bertemu."

"Iya, Azizah. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa berkumpul lagi."

Para kerabat mulai saling bersalaman dan berbincang. Suasana yang semula tenang perlahan dipenuhi tawa kecil dan percakapan hangat.

Latifah pun ikut menyalami satu per satu orang yang menyambut kedatangannya.

"Masyaallah, ini Latifah, ya?" tanya salah seorang perempuan paruh baya yang merupakan kerabat keluarga Ustaz Malik.

"Iya, Tante," jawab Latifah sopan.

"Sudah besar sekarang. Terakhir kali Tante melihatmu, kamu masih kecil sekali."

Latifah tersenyum malu.

"Alhamdulillah, Tante."

Ia melanjutkan langkahnya, menyalami beberapa orang lain sambil berusaha mengingat wajah-wajah yang mungkin pernah dilihatnya saat kecil.

Namun, di tengah kesibukan itu, tiba-tiba terdengar suara seorang anak perempuan dari arah dalam rumah.

"Bu Latifah!"

Langkah Latifah seketika terhenti. Suara itu terasa begitu akrab di telinganya. Ia menoleh cepat ke arah pintu rumah.

Seorang bocah perempuan mengenakan gaun muslimah merah muda berlari kecil ke arahnya dengan wajah berseri-seri. Hijabnya tertata rapi, sementara kedua tangannya terulur seolah tidak sabar untuk memeluk seseorang yang telah lama dirindukannya.

"Bu Latifah!"

Latifah membelalakkan mata.

"Kaning?"

Belum sempat ia melangkah, bocah kecil itu sudah tiba di hadapannya dan langsung memeluk pinggangnya erat-erat.

"Bu Latifah! Kaning kangen banget!"

Latifah terdiam sesaat, benar-benar terkejut. Ia tidak pernah membayangkan akan bertemu Kaning di rumah itu.

Perlahan, ia berjongkok agar sejajar dengan bocah kecil tersebut, lalu memeluknya erat.

"Ya Allah, Kaning!" serunya dengan mata berkaca-kaca. "Sayang, kamu ada di sini?"

Kaning mengangguk berkali-kali, wajahnya menempel di bahu Latifah.

"Iya, Bu! Kaning sama Nenek datang ke sini. Kaning kangen Bu Latifah!"

Latifah mengusap punggungnya dengan lembut.

"Masyaallah, Nak. Bu Latifah juga kangen sekali sama Kaning."

Ia menjauhkan tubuhnya sedikit untuk menatap wajah bocah itu, lalu mengusap kedua pipinya.

"Ya Allah, kamu tambah besar, Sayang. Tambah cantik lagi."

Kaning terkikik senang.

"Benarkah, Bu?"

"Iya, dong."

"Bu Latifah tidak lupa sama Kaning, kan?"

Pertanyaan itu membuat dada Latifah terasa sesak oleh rasa haru.

Ia segera memeluk Kaning kembali.

"Tentu tidak, Sayang. Mana mungkin Bu Latifah melupakan Kaning?"

Kaning tersenyum lebar, lalu memeluknya semakin erat.

"Kaning juga tidak pernah lupa sama Bu Latifah!"

Orang-orang yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum haru. Bahkan beberapa di antara mereka saling berpandangan, terkejut melihat betapa dekatnya bocah kecil itu dengan Latifah.

Umi Azizah yang berdiri tak jauh dari Latifah ikut tersenyum.

"Masyaallah, ternyata mereka sudah saling mengenal," gumamnya.

Bu Almira segera menghampiri mereka.

"Latifah, Nak."

Latifah menoleh, lalu sedikit terkejut ketika melihat perempuan yang pernah ditemuinya bersama Kaning di Darussalam.

"Bu Almira?"

"Iya, Nak." Bu Almira tersenyum hangat. "Apa kabar?"

"Alhamdulillah, baik, Bu. Bagaimana kabar Ibu?"

"Alhamdulillah, baik juga."

Latifah kemudian mencium tangan Bu Almira dengan sopan.

"Senang sekali bisa bertemu Ibu lagi."

"Begitu juga dengan Ibu."

Bu Almira menatap Latifah dengan penuh perhatian. Dalam hatinya, ia bersyukur melihat Kaning langsung berlari menyambut perempuan itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa pertemuan yang telah lama direncanakan keluarga mereka akan dimulai dengan pemandangan sehangat ini.

Namun, Latifah justru mulai memikirkan sesuatu.

Ia memandang Bu Almira, lalu melirik Kaning yang masih menggenggam tangannya.

"Kenapa Bu Almira ada di sini? Apakah beliau memiliki hubungan keluarga dengan Ustaz Malik?" tanyanya dalam hati

Pikirannya kemudian melayang kepada seseorang.

yakni Pak Abimanyu Wicaksono. Ayah Kaning.

Latifah memang pernah bertemu dengan pria itu ketika Kaning masih tinggal di Darussalam. Ia mengingat dengan jelas sosok seorang ayah yang datang menjemput putrinya setelah sekian lama terpisah.

Namun, Latifah tidak pernah menghubungkan pertemuan itu dengan perjodohan yang sedang dijalaninya.

"Jangan-jangan keluarga calon suamiku masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga Pak Abimanyu?"

Ia menggeleng kecil dalam hati. Rasanya tidak mungkin. Atau setidaknya, ia belum memiliki alasan untuk mencurigai apa pun. Latifah kembali tersenyum kepada Kaning.

"Kaning datang bersama Papah juga?"

Senyum bocah itu sedikit berubah.

"Papah belum datang, Bu. Papah masih bekerja."

"Oh, begitu."

"Iya. Tapi Papah janji akan datang hari ini."

Latifah mengangguk sambil mengusap kepala Kaning.

"Kalau begitu, nanti kita tunggu Papah, ya."

"Iya, Bu!"

Kaning kembali memeluknya, lalu berkata dengan polos, "Bu Latifah harus duduk dekat Kaning, ya. Jangan jauh-jauh."

Latifah tertawa kecil.

"Iya, Sayang. Bu Latifah di sini."

Bu Almira yang mendengar percakapan itu tersenyum semakin lebar. Ia kemudian mempersilakan keluarga Latifah masuk ke rumah.

"Silakan, semuanya. Mari masuk dulu. Udara di luar cukup dingin."

Ustaz Malik ikut mengangguk.

"Betul. Kita berbincang di dalam saja. Nanti sebelum pukul sembilan, kita bisa mulai membicarakan tujuan pertemuan keluarga hari ini."

Latifah mengangguk sopan, lalu berjalan masuk sambil menggandeng tangan Kaning.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkah yang diambilnya sedang membawanya semakin dekat kepada rahasia besar yang akan mengubah kehidupannya.

Sementara keluarga besar mulai berkumpul di kediaman Ustaz Malik, sebuah mobil berwarna gelap melaju melewati jalanan menuju Lembang.

Di dalamnya, Mayor Abimanyu Wicaksono duduk dengan punggung tegak, mengenakan seragam loreng TNI Angkatan Darat lengkap dengan name tag bertuliskan ABIMANYU WICAKSONO.

Ia bahkan belum sempat mengganti pakaiannya setelah menyelesaikan tugas kedinasan.

Pagi itu, pekerjaannya benar-benar menyita waktu. Beberapa urusan yang semula diperkirakan selesai lebih awal ternyata membutuhkan penanganan tambahan. Akibatnya, Bima baru bisa berangkat menuju Bandung setelah memastikan seluruh kewajibannya selesai.

Sesekali ia melirik jam tangannya. Pukul delapan lewat lima belas menit. Pertemuan dijadwalkan pukul sembilan. Bima mengembuskan napas panjang.

"Bagaimana kondisi jalan di depan?" tanyanya kepada pengemudi.

"Sejauh ini cukup lancar, Mayor. Namun, semakin mendekati Lembang, kemungkinan ada sedikit kepadatan."

Bima mengangguk.

"Baik. Kita tetap berkendara dengan aman."

"Siap, Mayor."

Bima menyandarkan tubuhnya sesaat, lalu mengeluarkan ponsel untuk memeriksa pesan dari ibunya.

Ada pesan baru dari Bu Almira.

Bima, keluarga calon istrimu sudah tiba. Kaning juga sudah bertemu dengan Bu Latifah. Mereka sangat senang bisa bertemu kembali.

Bima mengernyit ketika membaca kalimat terakhir.

Bu Latifah?

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Lalu, tanpa sadar, ingatannya kembali kepada sosok perempuan berhijab yang pernah ditemuinya di Darussalam. Perempuan yang telah merawat dan membimbing putrinya selama satu tahun.

Perempuan yang dipeluk Kaning dengan penuh kerinduan ketika mereka meninggalkan pesantren.

Bima menghela napas pelan.

"Pantas saja Kaning selalu menyebut namanya. Ternyata mereka akan bertemu lagi hari ini."

Ia tidak merasa curiga. Baginya, pertemuan Latifah dengan keluarganya di rumah Ustaz Malik mungkin hanya kebetulan karena hubungan kekeluargaan yang terjalin antara kedua pihak.

Ia sama sekali belum mengetahui bahwa perempuan yang sedang dipeluk putrinya di Bandung adalah calon istrinya sendiri.

Bima kemudian mengetik balasan singkat.

Baik, Bu. Bima sedang dalam perjalanan. Insyaallah segera sampai.

Setelah mengirim pesan, ia memasukkan ponselnya kembali ke saku seragamnya. Tatapannya beralih ke pemandangan di luar jendela.

Di dalam hatinya, masih ada keraguan yang belum sepenuhnya hilang. Ia bersedia menjalani pertemuan itu karena ingin menghormati wasiat almarhum ayahnya dan mempertimbangkan masa depannya Kaning.

Namun, ia juga tahu bahwa keputusan mengenai pernikahan tidak bisa dibuat hanya berdasarkan keinginan keluarga.

Ia harus melihat sendiri perempuan yang akan dipertemukan dengannya.

Ia harus mengenalnya. Dan ia harus memastikan bahwa perempuan itu juga bersedia menerima dirinya beserta segala tanggung jawab yang melekat pada kehidupannya.

Bima menatap lurus ke depan.

"Semoga semuanya berjalan lancar," gumamnya.

Mobil terus melaju, membawa seorang pria yang belum menyadari bahwa takdirnya telah menunggu di ujung perjalanan.

Di kediaman Ustaz Malik, Latifah kini duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Kaning tidak mau jauh darinya dan memilih duduk rapat di sampingnya, bahkan sesekali menyandarkan kepala di lengan Latifah.

"Bu, nanti setelah ini Kaning mau menunjukkan kamar Kaning kepada Bu Latifah," ujar bocah itu penuh semangat.

Latifah tersenyum.

"Boleh, Sayang. Nanti kalau sudah selesai berbincang dengan orang-orang dewasa, ya."

"Janji?"

"Janji."

Kaning mengulurkan jari kelingkingnya.

Latifah tertawa kecil, lalu mengaitkan jari kelingking mereka.

"Janji."

Di seberang ruangan, Ustaz Malik sedang berbincang dengan Ustaz Umar mengenai keluarga almarhum Pak Ibnu. Sementara itu, Umi Azizah dan Umi Aisyah sibuk menyambut kerabat yang baru berdatangan.

Bu Almira beberapa kali memandangi Latifah dari kejauhan.

Perempuan itu tampak sederhana, sopan, dan lembut. Terlebih, melihat bagaimana Kaning begitu dekat dengannya membuat hati Bu Almira semakin yakin bahwa Latifah memiliki tempat istimewa dalam kehidupan cucunya.

Namun, ia tetap menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun.

Identitas calon suami Latifah belum diungkapkan secara resmi. Begitu pula Bima, yang sampai saat ini masih mengira bahwa dirinya akan bertemu dengan seorang perempuan yang belum pernah dikenalnya.

Kedua calon mempelai itu bahkan telah berada di rumah yang sama, hanya dipisahkan oleh waktu kedatangan.

Latifah menunduk ketika Umi Aisyah menyentuh lengannya.

"Bagaimana, Nak? Masih gugup?"

Latifah tersenyum tipis.

"Masih sedikit, Umi."

Umi Aisyah mengusap tangannya.

"Tenang saja. Apa pun yang terjadi, Abi dan Umi ada di sini."

Latifah mengangguk.

Namun, matanya tanpa sadar kembali tertuju kepada Kaning.

Bocah itu sedang tersenyum sambil menunjukkan sebuah boneka kecil kepadanya.

"Bu Latifah, kalau Papah Kaning sudah datang, Bu Latifah mau kenalan lagi sama Papah, kan?"

Latifah terkekeh.

"Tentu saja, Sayang. Bu Latifah kan sudah pernah bertemu Papah Kaning."

"Iya!" Kaning berseru senang. "Papah Kaning pasti senang kalau bertemu Bu Latifah lagi!"

Latifah tersenyum tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Baginya, Abimanyu hanyalah ayah dari seorang anak yang pernah ia sayangi seperti keluarga sendiri.

Ia tidak tahu bahwa sebentar lagi, pria itu akan datang bukan sekadar sebagai seorang ayah yang menjemput putrinya.

Melainkan sebagai laki-laki yang akan dipertemukan dengannya untuk membicarakan masa depan mereka.

Dari luar rumah, suara kendaraan kembali terdengar memasuki halaman. Beberapa kerabat menoleh, mengira Bima akhirnya tiba.

Namun, kendaraan itu ternyata hanya membawa anggota keluarga lain yang datang menyusul.

Bu Almira kembali melihat jam tangannya. Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Ia menarik napas lega sekaligus gugup.

"Bima, cepatlah datang, Nak," bisiknya dalam hati.

Sebab, ketika jarum jam bergerak mendekati pukul sembilan nanti, dua keluarga yang selama ini hanya mengenal kisah perjodohan melalui percakapan dan janji lama akhirnya akan menyaksikan sendiri pertemuan yang telah mereka nantikan.

Dan di tengah ruangan itu, seorang perempuan bernama Latifah masih menggenggam tangan kecil Kaning, tanpa mengetahui bahwa tangan mungil itulah yang mungkin kelak akan menuntunnya memasuki kehidupan baru.

Satu pertemuan. Dua hati yang belum siap. Dan sebuah rahasia yang tinggal menunggu waktu untuk terungkap.

Bersambung...

1
Dua Putri
bguss sekali... gk sabar lihat mayor Bima bucin
Atik Kiswati
ketidak sengajaan yg membuat org perpikiran buruk.....
Teh Euis Tea
nyari penyakit km mah ustad ingat woyy lathifah istri orang suaminya mayor loh ustad
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
wahhh ustad firman jgn gitu ntar ketauan pak mayor jd kelar hidupmu ustad
Teh Euis Tea: ho'oh kak🤭
total 2 replies
Teh Euis Tea
ustad firman udah jgn mikirin trs lathifah Kitakan lagi ta'aruf 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Nar Sih
kejujuran dlm rmh tangga emang harus dijga ,seperti bima dan latifah ,grgr ustaz firman jdi gosip deh buat latifah ,
Nar Sih
ustaz firman kasih perhatian buat latifah ,hati,,ifah semoga kmu gk tergoda lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk
total 1 replies
Teh Euis Tea
senyum senyum ngebayangin semalam, lumayanlah ada kemajuan 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya dong, harus ada kemajuan kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Sastri Dalila
🤭🤭
sri hastuti
bagus latifah km terus terang sm suamimu , jd gak salah paham, lagian ngapain uztad kok ya kurang kerjaan, wong ya latifah sdh menikah 😡😡😡
huuh bikin jengkel aja ,mau merusak rumah tangga orang ya , 😡😡
Nar Sih
penyesalan mu sdh ngk berguna ustaz firman ,ihkas kan latifah dgn keluarga bru nya ,semoga kmu lekas menemukan jodoh mu
Atik Kiswati
lnjt......
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
pagi yg indah bersama mas bima dan latifah juga kaning🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
Nar Sih
wah...cerita mayor abimanyu dan bu latifah bnr,,bagus kak 👍🥰🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih banyak kak 🙏🤭☺️
total 1 replies
Nar Sih
ciuman yg pertama buat latifah dari pak suami ,semoga jdi awal yg lebih indah untuk rmh tngga kalian kedepan nya☺️🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 🤭
total 1 replies
Nar Sih
menyesali yg sdh terjdi gk berguna lgi ustaz ,jadikan latifah msa lalu mu slh kmu juga gk kasih kepastian jdi klau latifah milik org lain yg gk slh kan
Nar Sih
semagat pk bima tenang kan istri mu biar gk sedih mikirin ustaz firman lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk
total 1 replies
Teh Euis Tea
msh blm eng ing eng ini sih, blm bisa ngintip 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belom kak, sabar...step by step 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
nyesel jg percuma ustad firman Bu Ifah udah nikah, mending km ta'aruf sm aku aj yu 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: hahaha
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!