Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Kamar
“Halo, gais. Apa ada orang di rumah?”
Suara siapa itu begitu membahana di jam seperti ini. Melisa segera keluar kamar untuk mencari tahu. Itu perempuan yang kemarin datang ke sini saat Melisa membersihkan lantai yang basah bekas jejaknya tercebur kolam.
“Nona Sheila, astaga semakin bersinar saja.”
“Iya, dari jauh harumnya sudah tercium. Tidak seperti yang tadi malam, tidak jelas itu auranya.”
Melisa tahu ia yang sedang ditertawakan. Biar saja ia simak dulu akan sejauh apa mereka.
“Oh, ya? Keterlaluan sekali Dharma tidak memasukkanku dalam undangan intimate weddingnya.” Wajah Sheila berubah geram.
Ia menurunkan beberapa bag dari tangannya. “Ini oleh-oleh untuk kalian, cuma gelang biasa dari Edinburg. Diterima ya.”
“Wah, terima kasih banyak loh, Non.”
“Aduh, kenapa repot-repot ingat kami yang di sini? Harusnya Nona nikmati saja liburannya. Bisa berkunjung ke sini lagi setelah liburan saja sudah cukup untuk kami.”
Tiga orang pelayan yang sejak tadi bersantai itu kini sibuk memilih dan mencoba perhiasan pemberian Sheila. Sheila hanya duduk di sofa memperhatikan kehebohan itu dengan ekspresi yang begitu jumawa.
“Ah, mereka semua memang sama-sama penjilat. Pantas saja akrab,” batin Melisa. Ia memantau dari pintu kamarnya. Mereka semua seolah pemilik rumah di sini, berbuat sesukanya saat para majikan sedang mati-matian bekerja untuk membayar gaji mereka setiap bulan. Kontras sekali.
“Ada cerita apa saja selama aku di Skotlandia kemarin?”
Kali ini Sheila membuka sekotak pizza berukuran besar yang sejak tadi ia letakkan di meja.
Setiap orang tidak sungkan mengambil bagian, lalu satu per satu mulai memberikan laporan.
“Tidak ada yang spesial, Non. Hanya tiba-tiba Bu Inggit datang membawa seseorang yang dikenalkan pada kami sebagai calon Pak Dharma.” Rosa yang pertama kali memulai cerita.
“Betul, dan itu sangat mendadak. Kami jadi tidak sempat menghubungi Non Sheila saat itu.”
“Lalu di mana perempuan itu sekarang?” tanya Sheila.
Melisa terus menyimak. Kalau harus menunjukkan powernya sebagai Nyonya Dharma yang baru ia tidak tahu bagaimana agar terlihat berkelas. Jadi, memilih tetap dalam kamar dan menyimak. Untungnya, ia masih tinggal di kamar tamu. Itu cukup dekat dengan ruangan tempat mereka bergosip.
“Di dalam kamar tamu.”
“Kamar tamu? Bukannya dia istri Dharma sekarang?” Kalau sudah begini obrolannya akan semakin seru.
“Iya, sejak pertama datang dia tinggal di kamar itu, bahkan sampai sekarang.”
“Tadi pagi saja aku lihat sendiri Pak Dharma memperlakukannya seperti sampah.”
Suara mereka semakin tidak terdengar. Sepertinya tema obrolan semakin panas dan sudah merembet ke mana-mana.
“Wah, ini tidak bisa dibiarkan,” pikir Melisa. Ia tidak mau posisinya di rumah ini dianggap remeh meskipun ia hanya menjalani pernikahan ini karena terpaksa.
Melisa bercermin. Ia kalah jauh kalau soal cantik dan modis, tapi ia punya sesuatu yang berbeda dari semua orang yang sedang menggosipkannya itu, yaitu posisi.
“Semuanya harus dimulai dari Dharma, lalu Dayu.” Ia mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri begitu ide-ide yang dianggapnya cemerlang terlintas dalam benaknya.
Ia akan berusaha membuat Dharma menghargai posisinya agar orang lain tidak ikut meremehkannya. Itu bisa dimulai dengan tinggal dalam kamar yang sama.
Ia menghubungi Maya untuk bertanya kamar Dharma yang sebelah mana dan apakah ada kunci cadangannya, tapi pesan-pesannya tidak direspon. Tidak apa-apa, mungkin Maya sedang sibuk.
Ia coba mencari tahu apapun tentang keluarga ini di internet. Bisnis, skandal, gosip, atau apapun itu untuk bekalnya menentukan langkah apalagi yang kira-kira bisa ia lakukan untuk mendapat keuntungan. Sudah terlanjur tercebur dan basah begini, sekalian saja menyelam sambil membawa pulang harta karun. Kan, lumayan.
…
Dharma memutuskan untuk pulang lebih awal. Besok pagi saja dia mengecek stok bahan baku di gudang suplier, mungkin bisa sambil menawarkan pada Melisa untuk ikut agar tidak bisa hanya tinggal di rumah saja tanpa melakukan kegiatan apa-apa.
Begitu masuk rumah tercium aroma makanan. Tanpa menebak-nebak ia sudah tahu siapa yang datang tadi. Sheila sudah sering kali diperingatkan untuk tidak sembarangan berkunjung saat jam tidak ada orang di rumah, tapi perempuan itu tidak pernah mengindahkannya. Dharma tetap lanjut menuju kamar.
Melihat pintu kamar tamu sedikit terbuka, rencananya ia akan coba mengetuk. Ternyata Melisa duluan yang keluar, jadi Dharma berbalik dan pura-pura tidak peduli.
“Pak Dharma.” Ia berhenti begitu Melisa memanggilnya.
“Mau ke kamar, kan? Aku ikut.”
Dharma belum menjawab apapun, tapi Melisa sudah berdiri di sampingnya untuk ikut ke kamar.
Perempuan ini sepertinya ramah dan ceria seperti mantan istrinya. Hanya sedikit kekanakan, sikapnya kurang dewasa.
Dharma tidak ambil pusing meskipun Melisa mengiringi langkahnya. Ia santai saja berjalan ke kamar.
“Enak ya kalau bos, jam segini sudah boleh pulang.” Melisa melihat wajah Dharma sebelum melanjutkan ocehannya. Kalau wajahnya biasa saja berarti ia boleh tetap bicara.
“Dulu, saya kerja jam tujuh pagi sampai jam empat sore loh, Pak. Kadang malah jadi lebih lama kalau harus lembur. Biasanya di tanggal-tanggal kembar kan banyak promo tuh dari platform, jadi pesanan membludak. Lembur deh.”
Dharma sudah sampai di kamar.
“Oh, yang ini kamarnya. Saya ikut masuk, ya?”
Nah, ini baru Dharma merespon. Ekspresi wajahnya yang sejak tadi santai langsung berubah menjadi keheranan.
“Boleh?” Melisa bertanya sekali lagi.
Belum ada jawaban, tapi ia sudah masuk duluan.
“Cepat masuk, Pak. Ada yang mau saya bahas.”
‘Apa-apaan,’ batin Dharma.
“Kamu biasa masuk-masuk kamar orang asing begini, ya?”
Akhirnya, si Pak Dharma sok keren itu bersuara juga. Melisa membatin dalam hatinya, ia merasa lega. Itu artinya ia bukan dibiarkan mengoceh dan bergerak seperti sampah sejak tadi.
“Lah, kenapa orang asing? Kan, sudah sah tadi malem.”
Dharma membuka alas kakinya lalu mengambil handuk baru dari dalam lemarinya.
“Jadi begini, Pak.” Melisa langsung pada poin pentingnya saja, sudah cukup basa-basinya. Kalau sudah mengambil handuk itu artinya ia akan ditinggal mandi, kan? Otomatis jadi semakin awkward nanti kalau ia harus menunggu laki-laki itu selesai mandi dan hanya pakai handuk. Ih, membayangkannya saja sudah bikin Melisa jijik sendiri.
“Saya mau hari ini pindah ke kamar Bapak. Biar kita semakin akrab, bagaimanapun saya adalah pasangan Bapak dan kita harus tinggal bersama sampai beberapa tahun ke depan.”
Dharma mengakui keberanian Melisa mengutarakan keinginannya, tapi ia juga belum tahu harus merespon seperti apa. Jadi, ia memilih untuk mandi dulu. Nanti saja dilanjutkan pembahasan ini setelah mandi.
Tidak mendapat respon yang diharapkan, Melisa jadi kesal sendiri, tapi tidak ada waktu untuk marah-marah dan ngambek di saat seperti ini.
“Ya udah aku bawa aja barang-barang ku ke sini. Mumpung ada orangnya, kan? Nanti kalau dia udah berangkat ke kantor lagi malah takutnya dikira mau nyolong masuk-masuk ke sini sendirian,” pikir Melisa.
Ia segera mengambil barang-barangnya. Pokoknya harus sudah di sini semua sebelum Dharma keluar dari kamar mandinya. Toh, hanya dua koper kecil dan satu kardus saja.
Enteng sekali, bukan?
Melisa berlari. Ia berkejaran dengan suara gemericik air dari kamar mandi Dharma.