NovelToon NovelToon
Sang Putri Pilihan Rakyat

Sang Putri Pilihan Rakyat

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi / Tamat
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.

Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!

Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Sumpah di Atas Abu

Asap hitam membubung tinggi membelah langit fajar Lembah Bunga Lotus. Suara benturan besi bertubi-tubi bergema di antara rumah-rumah kayu yang terbakar.

Pertempuran sengit antara pasukan bayangan istana dan para veteran perang pimpinan Tuan Zhao berlangsung luar biasa berdarah.

Tuan Zhao mengayunkan pedang peraknya dengan ketepatan yang mengerikan. Setiap tebasan memotong serangan musuh, menjatuhkan dua prajurit penyamun yang mencoba mengepungnya dari samping.

Meski usianya tak lagi muda, ilmu pedang mantan panglima kekaisaran itu masih sangat mematikan.

Trang! Trang!

Panglima Gao menangkis sabetan Tuan Zhao dengan sekuat tenaga. Sentakan benturan senjata itu membuat telapak tangan Gao bergetar hebat.

Ia melompat mundur dua langkah, seraya bernapas terengah-engah menatap Tuan Zhao yang berdiri tegap di tengah puing-puing bangunan yang terbakar.

"Kemampuanmu belum berkurang, Zhao!" seru Gao dengan nada geram, seraya menyapu darah tipis yang mengalir dari sudut bibirnya. "Tapi kau hanya menunda hal yang tak terelakkan. Pasukan istana di perbatasan utara sudah dikuasai faksi Permaisuri. Raja yang sekarat tak akan selamat, dan Pangeran Agung akan segera naik takhta!"

Tuan Zhao memicingkan matanya, tatapannya memancarkan kebencian yang mendalam. "Raja yang membiarkan rakyatnya dibantai dan ditindas oleh saudaranya sendiri telah kehilangan hak atas takhtanya! Jika Pangeran Agung naik takhta dengan darah rakyat jelata di tangannya, Dinasti ini hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur!"

"Bicara sesukamu, Pengkhianat!" jerit Gao. Ia kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Panah! Ratakan area ini!"

Di sekeliling alun-alun desa, belasan pemanah bayangan yang bersembunyi di balik semak-semak bukit mulai melepaskan hujan anak panah berapi.

Anak-anak panah itu menancap di dada para veteran perang dan warga desa yang bertahan. Jeritan kesakitan melengking di mana-mana. Satu per satu kawan lama Tuan Zhao tumbang membasahi tanah dengan darah mereka.

"Tuan Zhao! Lindungi bagian dalam!" teriak salah seorang veteran tua yang dadanya telah tertembus dua anak panah. Dengan sisa tenaganya, veteran itu menerjang dua prajurit musuh dan menjatuhkan diri ke dalam kobaran api demi membuka jalan bagi Tuan Zhao.

"Paman Feng!" teriak Tuan Zhao tertahan.

Mengetahui bahwa jumlah musuh terlalu besar dan pertempuran di udara terbuka makin tidak menguntungkan, Tuan Zhao memutar tubuhnya dan menerobos masuk ke dalam rumahnya yang mulai dilalap api di bagian atap.

Gao tersenyum licik melihat Tuan Zhao mundur ke dalam bangunan. "Bakar rumah itu! Jangan biarkan siapa pun keluar hidup-hidup!"

Di dalam rumah yang makin panas dan dipenuhi asap pekat, Tuan Zhao bergegas membuka papan kayu rahasia tungku dapur.

"Xiu! Keluar! Kita harus pergi sekarang melalui saluran irigasi belakang!" perintah Tuan Zhao tergesa-gesa.

Dayang Xiu merangkak keluar dari bunker bawah tanah sambil memeluk rapat bayi Lianhua. Wajahnya bernoda jelaga, matanya merah karena menahan asap dan air mata.

Di dalam dekapan hangatnya, bayi Lianhua kecil tampak gelisah tetapi tidak menangis keras, seolah mengerti suasana mencekam yang mempertaruhkan nyawanya.

"Tuan Zhao... bagaimana dengan warga desa yang lain?" bisik Xiu guncang saat mendengar jeritan di luar.

"Mereka mempertaruhkan nyawa agar Putri Lianhua tetap hidup," tegas Tuan Zhao sambil merobek kain dari jubahnya untuk membalut luka di lengannya. "Penghormatan tertinggi bagi pengorbanan mereka adalah memastikan anak ini tumbuh dewasa dan menumbangkan tirani yang membakar desa ini!"

Brak!

Balok kayu atap yang terbakar jatuh menghantam lantai tengah rumah, hingga menutup akses pintu depan. Asap makin pekat memenuhi ruangan, dan membuat napas mereka sesak.

"Ikut aku!" Tuan Zhao menghantam dinding belakang rumah kayu itu dengan tendangan kuat hingga papan-papannya jebol.

Mereka keluar lewat belakang rumah, menuju saluran irigasi batu yang terhubung langsung ke kolam-kolam lotus besar di tengah lembah. Namun, saat mereka baru melangkah beberapa meter, suara langkah kuda berat menghadang dari balik kabut asap.

Panglima Gao berdiri di atas kudanya, menghalangi jalan menuju saluran irigasi. Di belakangnya, lima prajurit berpedang terhunus mengurung Tuan Zhao dan Dayang Xiu.

"Mau lari ke mana lagi, Panglima Zhao?" cemooh Gao sambil menatap buntalan kain di pelukan Dayang Xiu. Matanya berbinar licik. "Jadi itu... bayi perempuan dari Selir Meizhen."

Tuan Zhao pasang badan di depan Dayang Xiu dan sang bayi. "Langkahi mayatku dulu, Gao!"

"Dengan senang hati!"

Gao melompat turun dari kudanya, memutar pedangnya dan menerjang Tuan Zhao dengan tebasan tajam mengincar leher. Tuan Zhao menangkis serangan itu dengan presisi tinggi, namun pedang Gao yang tebal berhasil menekan pedang perak Tuan Zhao hingga memercikkan bunga api.

Di saat yang sama, dua prajurit musuh memutar dari samping untuk mengincar Dayang Xiu.

"Serahkan bayi itu, Dayang!" bentak seorang prajurit sambil mengayunkan pedangnya ke arah kepala Xiu.

Dengan keajaiban keberanian seorang pelindung, Dayang Xiu tidak membelakangi pedang itu. Ia mengambil pisau dapur tua yang sempat ia kantongi dari rumah dan menusukkannya ke leher prajurit pertama yang mendekat.

Prajurit itu membelalak kaget sebelum roboh tersungkur. Namun, prajurit kedua berhasil menebas bahu Dayang Xiu hingga darah segar membasahi jubahnya.

"Akh!" Dayang Xiu menjerit kesakitan, tetapi tangannya tidak melepaskan bayi Lianhua sedikit pun. Ia pun jatuh berlutut di tanah lumpur.

"Xiu!" teriak Tuan Zhao berpaling sejenak.

Gangguan perhatian itu dimanfaatkan oleh Gao. Gao memutar tumitnya dan mendaratkan tendangan keras tepat di dada Tuan Zhao, hingga membuat mantan panglima itu terpental menghantam dinding batu irigasi. Pedang perak Tuan Zhao terlepas dari genggamannya dan jatuh ke dalam air kolam lotus.

"Selesai sudah riwayatmu, Zhao," ujar Gao sambil melangkah mendekati Tuan Zhao yang berusaha bangkit dengan dada sesak. Gao mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan siap menghujamkan mata pedang ke dada musuh lamanya.

Namun tepat sebelum pedang itu menghujam, suara dengungan anak panah berbunyi dari arah pepohonan bambu tinggi di seberang kolam!

Jleb!

Sebuah anak panah berujung besi menembus leher Panglima Gao dari samping! Gao terbelalak, matanya mendelik tak percaya. Pedangnya terjatuh dari tangannya, dan tubuh besarnya ambruk dihantam tanah.

Dua prajurit yang tersisa panik. Dari balik semak-semak bambu, muncul belasan pemuda desa yang memegang busur pemburu dan tombak bambu runcing, dipimpin oleh seorang pemuda bertubuh kekar yang merupakan ketua pemuda Desa Bunga Lotus.

"Habisi penyamun-penyamun ini!" teriak ketua pemuda.

Hujan panah bambu meluncur bertubi-tubi, menumbangkan sisa-sisa prajurit bayangan istana dalam hitungan detik. Pertempuran di desa pun perlahan mereda, menyisakan suara kayu terbakar dan tangisan pilu warga yang selamat.

Tuan Zhao memegang dadanya yang memar, sambil merangkak mendekati Dayang Xiu yang terbaring lemas di tanah.

"Xiu... bertahanlah..." bisik Tuan Zhao seraya mengangkat kepala dayang setia itu.

Dayang Xiu menatap wajah Tuan Zhao dengan pandangan yang kian kabur. Napasnya makin pendek. Luka tebasan di bahu dan pendarahan dalam akibat pelarian panjang telah menguras seluruh daya hidupnya.

Dengan sisa tenaganya yang terakhir, Dayang Xiu menggeser bayi Lianhua ke dalam pelukan Tuan Zhao.

"Tuan Zhao..." bisik Xiu dengan suara yang sangat halus, dan hampir tenggelam oleh angin lembah. "Hamba... hamba telah melunasi sumpah pada Selir Meizhen... Rawat... rawat Putri Lianhua..."

"Aku berjanji, Xiu. Aku berjanji atas nama kehormatan prajuritku," ucap Tuan Zhao dengan air mata menetes di atas pipi keriputnya.

Dayang Xiu tersenyum tenang. Matanya perlahan terpejam, dan akhirnya meninggalkan dunia fana dengan kedamaian di wajahnya.

Tuan Zhao berdiri perlahan di tengah reruntuhan Desa Bunga Lotus yang telah menjadi abu. Di sekelilingnya, warga desa yang tersisa berkumpul dengan wajah berduka, menatap sang mantan panglima dan bayi mungil di dalam pelukannya.

Tuan Zhao mengangkat bayi Zhao Lianhua tinggi-tinggi ke arah langit pagi yang tertutup asap hitam.

"Dengar, wahai tanah dan langit!" seru Tuan Zhao dengan suara menggelegar yang membelah keheningan lembah. "Hari ini, darah rakyat jelata telah ditumpahkan oleh keserakahan Istana! Hari ini, kita kehilangan rumah dan keluarga kita! Tapi dari atas abu pertempuran ini, seorang pemimpin baru telah lahir!"

Ia menatap bayi Lianhua yang kini membuka matanya, dan seolah memantulkan warna bunga lotus yang sedang mekar di sekeliling mereka.

"Dia adalah Zhao Lianhua! Dia akan tumbuh bersama penderitaan kita, makan dari hasil keringat kita, dan belajar memegang senjata bersama kita! Suatu hari nanti, ketika rantai tirani saudara kandungnya makin mencekik negeri ini, dialah yang akan memimpin pemberontakan rakyat jelata untuk merebut kembali keadilan!"

Para warga desa yang tersisa berlutut di atas tanah berdarah, seraya mengangkat tangan dan senjata mereka tinggi-tinggi.

"Hidup Putri Lianhua! Hidup Rakyat Jelata!" seru mereka bersahut-sahutan, gema janji setia yang akan memicu peperangan terbesar dalam sejarah Dinasti belasan tahun mendatang.

Bersambung...

1
Fitri 066
cerita nya sangat sangat bagus kk...terus semangat ya kk..💪💪💪
Aurora: makasih Kaka... siap, JD tambah semangat 😃🤗🙏
total 1 replies
Amy Asmeera
itulah pelik baca atas bawah atas bawah🤣terima kasih cerita nya menarik.hari2 tunggu update nya
Aurora: iya kak, othor baru ngeh, Lo episode 42 nya mana 😅
total 1 replies
chelsea dian
amazing
Murni Dewita
👣
Rubi Yati
merinding aku bacanya Thor,secangkir kopi☕ untukmu ,semangat nulisnya y💪💪💪
Aurora: makasih Kaka.... secangkir kopi nya bikin author jadi tambah semngat nulisnya 🤗
total 1 replies
Arix Zhufa
seruuu😍😍
Aurora: Alhamdulillah... makin semangat deh bikin ceritanya 😃🤗🙏
total 1 replies
Arix Zhufa
up
Arix Zhufa
saya terharu
Arix Zhufa
cerita nya bagus
Arix Zhufa
Mampir thor...semoga sampai tamat
Aurora: Makasih kakak... aamiin... semoga suka🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!