Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKU TEMBAK LORONG SEMPIT
Bau busuk yang menguar dari air comberan dan bangkai tikus langsung menyengat hidung begitu Elena menggeser pintu teralis besi di ujung lorong bawah tanah. Kegelapan di dalam terowongan pembuangan air tua itu terasa pekat, nyaris seperti benda padat yang menelan cahaya dari senter kecil di tangan kiri gadis tersebut.
"Masuk, cepat," desak Elena seraya menodongkan laras Glock-nya ke arah kegelapan di belakang mereka, berjaga-jaga kalau anak buah Bruno berani menyusul.
Leo menyusup masuk melewati celah teralis dengan susah payah. Bahu kanannya bergesekan dengan besi berkarat, memicu gelombang rasa sakit yang membuat napasnya tertahan. Ia memegang Sig Sauer P226 di tangan kirinya, siap memuntahkan peluru kapan saja. Begitu Leo masuk, Elena menyusul dan menarik kembali teralis besi itu hingga tertutup rapat.
Bunyi langkah kaki berat dan teriakan bersahut-sahutan mulai terdengar samar dari arah pabrik di atas mereka. Bala bantuan Marco sudah tiba, dan jumlah mereka jelas bukan hitungan jari.
"Mereka sedang menyisir sisa lantai dasar. Sebentar lagi mereka pasti menemukan ruang serverku," ucap Elena datar tanpa nada panik.
Gadis itu menyalakan senter kecil yang diikat di pergelangan tangannya. Cahaya kebiruan menyapu lorong sempit berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari bata merah berlapis lumut. Lebar terowongan itu tidak lebih dari satu setengah meter, membuat dua orang dewasa pun harus berjalan nyaris berbaris. Air setinggi mata kaki menggenang di sepanjang lantai, berwarna hitam pekat dan dipenuhi sampah.
"Kau yakin lorong ini tembus ke luar area pengepungan?" tanya Leo sambil mengatur napasnya yang mulai memburu. Suaranya bergema pelan di dinding lembap.
"Ini jalur pipa pembuangan peninggalan era perang dunia kedua. Pemerintah kota bahkan sudah menghapus cetak birunya dari arsip tata kota tahun sembilan puluhan," jawab Elena melangkah maju memecah genangan air. "Ujungnya tembus ke selokan besar dekat stasiun kereta lama, sekitar delapan ratus meter dari sini. Terus jalan dan jangan berisik."
Leo mengikutinya dari belakang. Suara decipak air setiap kali sepatu mereka melangkah terdengar terlalu nyaring di telinganya. Insting mafia yang sudah tertanam di kepalanya berteriak waspada. Lorong sempit tanpa tempat berlindung seperti ini adalah jebakan maut jika mereka ketahuan. Tidak ada jalan keluar selain maju atau mundur.
Lima belas menit mereka berjalan dalam diam. Udara terasa semakin tipis dan lembap, membuat paru-paru Leo bekerja lebih keras. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Obat antibiotik yang ia telan mulai bereaksi dengan adrenalin, membuat kepalanya sedikit berkunang-kunang. Namun ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menolak terlihat lemah di depan peretas yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
Tiba-tiba, Elena berhenti melangkah. Gadis itu mengepalkan tangan kanannya ke atas, memberikan isyarat taktis militer standar untuk berhenti.
"Ada apa?" bisik Leo seraya menaikkan laras pistolnya.
"Sstt," desis Elena tajam. Gadis itu mematikan senternya seketika, membuat mereka kembali tertelan kegelapan total.
Dalam keheningan itu, Leo akhirnya bisa mendengarnya. Suara decipak air. Bukan dari arah belakang mereka, melainkan dari depan. Dan cahayanya menyusul kemudian—beberapa sorot lampu senter taktis berwarna putih terang yang memantul di dinding lorong berair sekitar lima puluh meter di depan mereka.
"Bruno tidak sebodoh yang kukira," gumam Elena pelan, menempelkan punggungnya ke dinding bata yang berlendir. "Dia pasti memecah pasukannya. Sebagian mengepung pabrik, sebagian lagi mencari akses selokan di luar karena tahu pabrik itu punya jalur bawah tanah."
"Berapa orang di depan sana?" tanya Leo menyipitkan mata, berusaha menembus silau lampu senter yang bergerak acak.
"Kudengar sekitar empat atau lima pasang langkah kaki. Mereka pakai sepatu bot militer," bisik Elena sambil menarik ritsleting tas ranselnya pelan-pelan. "Kalau kita ketahuan di sini, kita jadi bebek duduk. Peluru bisa memantul ke segala arah di dinding sempit ini."
"Kita tidak bisa mundur," jawab Leo tegas. Ia memeriksa posisi magasinnya dengan ibu jari. "Kita harus terobos mereka."
"Pakai otakmu, Pangeran. Kau menembak dengan tangan kiri, lukamu parah, dan jarak pandang nol. Kalau kita baku tembak terbuka di lorong ini, kita berdua bakal jadi saringan teh," sahut Elena sinis.
Gadis itu mengeluarkan sebuah granat asap dari dalam ranselnya. Ia mencabut pinnya dalam kegelapan, mendiamkannya selama dua detik, lalu melemparkannya dengan lintasan rendah ke arah depan.
Tuk... tuk... ssshhhh!
Tabung itu mendarat dua puluh meter di depan mereka dan langsung menyemburkan asap putih tebal yang bergulung-gulung memenuhi lorong sempit tersebut.
"Hei! Apa itu?!" teriak sebuah suara parau dari arah depan. Sorot senter mereka langsung menyorot liar ke arah gumpalan asap.
"Mereka di sana! Tembak!" raung suara lain.
Rentetan tembakan senapan serbu langsung memecah keheningan lorong. Suaranya luar biasa memekakkan telinga di ruang tertutup. Peluru mendesing membabi buta, menghantam dinding bata dan memercikkan bunga api. Beberapa serpihan batu bata terlempar mengenai wajah Leo. Ia dan Elena kompak merunduk serendah mungkin, membiarkan genangan air comberan merendam lutut mereka.
"Sekarang giliran kita," seringai Elena terlihat samar di balik kegelapan.
Gadis itu tidak menembak asal-asalan. Ia merayap ke sisi kanan dinding, mengangkat laras Glock-nya yang dipasangi peredam, lalu membidik ke arah sumber kilatan cahaya tembakan musuh di seberang asap.
Pfut! Pfut!
Dua tembakan pelan terdengar, dan salah satu senter di depan sana langsung jatuh tercebur ke air, diiringi jeritan kesakitan seseorang yang memegangi pahanya.
"Sialan! Dari mana arahnya?!" jerit salah satu algojo Marco yang panik. Asap tebal membuat mereka sepenuhnya buta.
"Giliranku," geram Leo.
Mengabaikan rasa sakit di bahunya, Leo berdiri setengah membungkuk. Ia mengarahkan Sig Sauer-nya menembus tirai asap. Berbeda dengan pistol Elena yang sunyi, senjata Leo menyalak layaknya meriam di lorong itu.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan kaliber sembilan milimeter meledak keras. Leo tidak membidik dengan presisi tinggi; di lorong sempit ini, tembakan menyebar setinggi dada sudah lebih dari cukup. Terdengar dua suara tubuh ambruk menghantam genangan air, disusul erangan panjang.
Baku tembak jarak dekat itu berlangsung kacau balau. Anak buah Marco balas menembak membabi buta, namun arah mereka meleset jauh karena tertipu oleh gema suara tembakan Leo yang memantul-mantul di dinding terowongan.
Elena memanfaatkan kekacauan itu dengan sempurna. Ia bergerak maju di bawah lindungan asap dan tembakan perlindungan Leo. Dengan kejam dan efisien, gadis peretas itu mengeksekusi satu algojo yang masih berdiri kebingungan menembus asap. Tembakan tepat di dada, membuat pria itu terjerembap ke depan.
"Tinggal satu!" teriak Elena menembus suara bising gema tembakan.
Algojo terakhir yang tersisa tampaknya menyadari bahwa teman-temannya sudah habis. Kepanikan mengambil alih logikanya. Pria itu memutar badan, berniat lari kembali ke arah stasiun kereta.
Namun Leo tidak membiarkannya lolos. Pangeran mafia itu menerobos sisa asap putih dengan langkah pincang tapi mematikan. Ia melihat siluet pria itu berlari menjauh sekitar sepuluh meter di depan. Leo mengangkat pistolnya dengan satu tangan, menarik napas sejenak, dan menekan pelatuknya pelan.
Dor!
Peluru itu mengenai tepat di punggung bagian bawah sang algojo. Pria itu langsung tersungkur jatuh, wajahnya menghantam air kotor selokan dengan bunyi keras. Lorong sempit itu akhirnya kembali hening, hanya menyisakan suara tetesan air, desis sisa granat asap, dan erangan pelan dari algojo yang sekarat.
Leo berjalan tertatih mendekati tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia meludah ke samping, menatap jijik pada anak buah Marco yang kini menjadi mayat.
"Kau menembak lumayan jitu untuk orang kidal dadakan," puji Elena datar. Gadis itu berjalan santai melewati mayat-mayat tersebut sambil mengganti magasin pistolnya yang sudah kosong.
"Ayahku tidak pernah menoleransi kelemahan, termasuk membiarkan tanganku yang sebelah tidak berguna," jawab Leo mengusap keringat di dahinya menggunakan lengan bajunya yang robek. Matanya menatap Elena lekat-lekat. "Dan kau... kudengar rumor peretas biasanya jago di balik keyboard dan menangis saat mendengar suara tembakan. Kau baru saja membunuh dua orang tanpa berkedip."
"Aku tidak pernah bilang aku cuma peretas, Pangeran," jawab Elena membalas tatapan Leo dengan dingin. "Aku bertahan hidup enam tahun sendirian di neraka kota ini. Keyboard tidak bisa menghentikan peluru, jadi aku belajar menggunakan hal yang bisa."
Gadis itu terus berjalan melewati Leo. "Ayo bergerak. Asap ini akan keluar dari lubang ventilasi di jalanan dan menarik perhatian polisi atau anak buah Marco yang lain. Kita harus keluar dari lorong ini dalam lima menit."
Leo tidak membantah. Ia memungut sebuah senter taktis milik algojo yang tewas, memastikan senjatanya masih punya cukup amunisi, dan bergegas mengikuti langkah Elena di depan. Kerja sama pertama mereka di lapangan terasa aneh, sangat brutal namun di saat yang sama, begitu sinkron. Leo menyadari bahwa Elena benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Gadis ini bukan beban, melainkan mesin pembunuh yang tersembunyi di balik layar komputer.
Sekitar sepuluh menit kemudian, genangan air perlahan menyusut. Dinding terowongan mulai berubah menjadi beton tebal dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah tangga besi berkarat yang mengarah ke atas, menuju penutup gorong-gorong jalanan.
Elena menaiki tangga itu dengan hati-hati. Ia mengintip lewat celah penutup gorong-gorong. Hujan deras mulai turun di luar sana, membantu meredam suara apa pun yang mungkin terdengar.
"Jalanan sepi. Kita berada di gang buntu di belakang distrik pabrik garmen lama," bisik Elena ke arah bawah.
Gadis itu mendorong penutup besi berat tersebut dengan kedua tangannya. Terdengar bunyi decit logam berkarat yang digeser. Elena memanjat keluar, diguyur hujan malam yang dingin, lalu mengulurkan tangannya ke bawah untuk menarik Leo.
Leo memegang tangan Elena, mengerahkan sisa tenaganya untuk memanjat keluar dari lubang pembuangan. Begitu kakinya memijak aspal jalanan, ia langsung bersandar pada dinding bata sebuah gedung terbengkalai. Udara dingin dan segar yang masuk ke paru-parunya terasa seperti anugerah terindah setelah berjam-jam menghirup bau amis darah dan selokan kotor.
Elena bergegas menutup kembali penutup gorong-gorong tersebut. Ia menatap ke ujung gang yang gelap, lalu menoleh pada pangeran mafia di sebelahnya yang terlihat pucat pasi.
"Kita selamat untuk malam ini," ucap Elena menyeka air hujan dari wajahnya. "Tapi kita butuh tempat persembunyian baru sebelum subuh. Tempat di mana anjing-anjing Marco tidak berani mengendus."
Leo memejamkan mata, membiarkan tetesan hujan membersihkan wajahnya yang kotor oleh debu dan cipratan darah.
"Aku tahu satu tempat," gumam Leo membuka matanya perlahan. Tatapannya menajam, dipenuhi aura dingin seorang raja mafia yang sedang terusir dari kerajaannya. "Lantai atas gedung terbengkalai di zona netral distrik timur. Tempat itu milik klan netral, Marco tidak punya yurisdiksi untuk menggerebek ke sana tanpa memicu perang antar klan."
"Terdengar sempurna," Elena mengangguk kecil. "Jalan terus, Pangeran. Dendam kita belum tuntas."