NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: GUE BUKAN PACARNYA, ANJIR!

Pukul 07.20 WIB.

Kelas XI-A mendadak berubah menjadi ruang sidang.

Terdakwanya: Rendra Adijaya dan Kanaya Putri.

Dakwaannya: pacaran diam-diam.

Saksi utamanya: foto buram dari depan gerbang sekolah.

Dan hakimnya? Keysha, yang bahkan belum sarapan tetapi sudah siap mengurus kehidupan asmara orang lain.

“NAYA, JELASKAN!” seru Keysha sambil mengangkat ponselnya.

Naya memijat pelipis.

“Jelasin apaan?”

“FOTO INI!”

“Itu foto dua orang berjalan. Mata lo masih berfungsi, kan?”

“Tapi kenapa kalian datang bareng?”

“Karena kita tinggal di planet yang sama dan berangkat ke sekolah pada pagi hari.”

Beberapa anak tertawa.

Keysha tidak menyerah.

“Terus, kenapa Rendra beliin lo sarapan?”

“Karena gue minta.”

“NAH! BERARTI ADA HUBUNGAN!”

“Hubungan gue sama roti cokelat.”

Di bangku belakang, Aldi sampai menunduk di atas meja, menahan tawa.

Sementara itu, Rendra duduk kaku dengan wajah datar. Tangannya menggenggam pulpen, seolah benda itu satu-satunya hal yang mencegahnya melompat keluar jendela.

"Tenang, Rendra. Ini cuma rumor. Lo pernah menghadapi ratusan penonton di lapangan basket. Lo juga pernah bernegosiasi dengan ayah lo buat membeli jalur angkot. MASA MENGHADAPI TEMAN SEKELAS AJA LO MAU MATI GAYA?!"

“Rendra!” panggil Keysha.

Rendra langsung menegakkan badan.

“Ya?”

“Lo pacaran sama Naya?”

Seluruh kelas mendadak diam.

Rendra melirik Naya.

Naya menatapnya sambil mengangkat alis, seolah berkata, coba jawab aneh-aneh, gue kubur lo di belakang kantin.

Rendra menelan ludah.

“Enggak.”

Jawabannya singkat. Tegas. Aman.

Setidaknya, sampai dia menambahkan, “Kami cuma punya kontrak.”

Kelas meledak.

“KONTRAK?!”

Naya langsung berdiri.

“RENDR—”

“Kontrak tugas kelompok!” Rendra buru-buru menyambung. “Kontrak akademik. Pembagian tanggung jawab. Dokumen kerja sama.”

Aldi mengangkat tangan.

“Yang ditandatangani pakai darah siapa?”

“ALDI, DIAM!”

Guru belum datang, tetapi kelas sudah terasa seperti pasar malam.

Naya menarik Rendra ke sudut kelas sebelum cowok itu tanpa sengaja mengumumkan seluruh isi kontrak rahasia mereka.

“Lo tuh punya bakat bikin masalah dari udara kosong, ya?” bisiknya tajam.

“Gue panik.”

“Gue tahu. Makanya jangan ngomong kalau otak lo lagi cuti.”

Rendra menunduk sedikit.

“Maaf.”

Naya sempat terdiam.

Biasanya, Rendra akan membela diri, mengarang alasan, atau mengeluarkan ide absurd yang melibatkan uang keluarganya.

Kali ini, dia langsung meminta maaf.

Naya menghela napas.

“Udah. Lain kali, kalau ditanya begitu, jawab seperlunya. Nggak perlu menjelaskan seluruh riwayat hidup kita.”

“Baik.”

“Dan jangan bilang kita punya kontrak lagi.”

“Kalau perjanjian?”

Naya melotot.

“RENDRA.”

“Baik. Tidak ada kontrak, perjanjian, nota kesepahaman, ataupun dokumen kerja sama.”

“Gue lempar lo pakai kursi.”

“Dipahami.”

Pukul 07.35 WIB.

Pak Arman, guru Bahasa Indonesia, memasuki kelas dengan membawa buku dan setumpuk kertas.

“Kenapa kalian berisik sekali pagi-pagi?”

Semua murid langsung duduk.

Keysha menyembunyikan ponsel.

Aldi berpura-pura membaca buku matematika terbalik.

Pak Arman memandangnya.

“Aldi, bukunya terbalik.”

Aldi membalik buku itu dengan tenang.

“Metode belajar multidimensi, Pak.”

“Nilai ulanganmu kemarin multidimensi juga. Empat puluh dari seratus.”

Tawa langsung pecah.

“Sekarang keluarkan buku catatan. Hari ini kita membahas teks argumentasi.”

Rendra membuka bukunya dengan lega.

Pelajaran dimulai.

Tidak ada yang membicarakan rumor.

Tidak ada yang menatapnya.

Tidak ada yang bertanya tentang Naya.

Selama tiga menit, hidup terasa damai.

Kemudian sebuah kertas kecil mendarat di mejanya.

Rendra membukanya.

Tulisan Naya terpampang di sana.

JANGAN BIKIN GUE TERKENAL KARENA HAL BEGINI.

Rendra mengambil pulpen dan membalas.

"Gue nggak bermaksud begitu. Maaf."

Kertas itu kembali ke meja Naya.

Beberapa detik kemudian, balasan datang.

"Gue tahu. Tapi gue nggak suka semua orang ikut campur urusan pribadi gue."

Rendra membaca kalimat itu dua kali.

Dia paham.

Bagi dirinya, perhatian orang lain terasa seperti ancaman. Bagi Naya, perhatian yang tidak diminta juga bisa terasa melelahkan.

Dan dia tidak ingin menjadi alasan Naya merasa tidak nyaman di sekolah.

Rendra menulis lagi.

"Gue bakal bantu lurusin kalau ada yang nanya. Tapi gue nggak akan maksa lo menjelaskan apa pun."

Naya membaca pesan itu.

Kali ini, dia tidak membalas dengan ancaman atau makian.

Dia hanya mengangguk kecil ke arahnya.

Rendra menatap buku catatannya kembali.

Entah kenapa, satu anggukan itu membuat pelajaran teks argumentasi terasa sedikit lebih mudah dipahami.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, dia tidak sibuk menyusun strategi agar Naya terus berada di dekatnya.

Dia hanya mencoba menjadi seseorang yang bisa dipercaya.

Tentu saja, pemikiran bagus itu tidak bertahan lama.

Lima menit kemudian, Aldi menyenggol sikunya.

“Ren.”

“Apa?”

“Kalau kalian beneran pacaran, gue boleh jadi saksi nikah?”

Rendra menatapnya dingin.

“Kalau lo nggak diam, gue jadi saksi pemakaman lo.”

Aldi langsung menutup mulut.

Pak Arman menoleh.

“Ada yang ingin dibagikan kepada kelas?”

Rendra berdiri otomatis.

“Tidak, Pak.”

“Kalau begitu, jelaskan pengertian teks argumentasi.”

Rendra menjawab lancar.

“ Teks argumentasi adalah teks yang menyampaikan pendapat disertai alasan dan bukti untuk meyakinkan pembaca.”

Pak Arman mengangguk puas.

“Bagus. Duduk.”

Rendra kembali duduk.

Aldi berbisik, “Pintar banget. Sayang, urusan cinta masih remedial.”

Rendra menginjak sepatu Aldi di bawah meja.

Aldi meringis tanpa suara.

Keadilan akhirnya ditegakkan.

Jam istirahat.

Naya berjalan ke kantin bersama Keysha. Rendra dan Aldi menyusul dari belakang.

“Jadi,” kata Keysha, “lo beneran nggak suka Rendra?”

Naya hampir tersedak air mineral.

“Kenapa pertanyaan itu nggak pensiun aja, sih?”

“Gue cuma penasaran.”

“Penasaran sama materi ujian, kek.”

“Materi ujian nggak pernah membelikan orang susu stroberi.”

“Rendra juga nggak pernah membelikan lo susu stroberi.”

Keysha memegang dada.

“Serangan personal.”

Mereka tiba di kantin dan memesan makanan.

Saat Naya hendak membayar, sebuah tangan meletakkan uang di meja.

Rendra.

“Biar gue.”

Naya langsung menoleh.

“Gue bisa bayar sendiri.”

Rendra berhenti.

Dia melihat uang di tangannya, lalu menariknya kembali.

“Oh. Oke.”

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada tawaran membeli seluruh kantin.

Tidak ada pidato tentang kewajiban seorang pria melindungi perempuan.

Rendra hanya membayar makanannya sendiri, lalu berdiri menunggu Aldi selesai memesan.

Naya memperhatikannya sekilas.

Aneh.

Ternyata Rendra bisa juga bersikap normal.

Kemudian cowok itu berbalik.

“Nay, tapi kalau lo mau, gue bisa—”

“Jangan.”

“Gue belum selesai.”

“Gue sudah tahu ujung kalimat lo.”

Rendra menutup mulut.

Keysha tertawa sampai bahunya bergetar.

Mereka akhirnya duduk di meja dekat jendela.

Suasana terasa cukup damai sampai seorang siswa kelas XII mendekati mereka.

Dimas.

Kapten basket itu berhenti di depan meja, menatap Rendra sebentar, lalu beralih kepada Naya.

“Naya, boleh bicara sebentar?”

Naya meletakkan sendoknya.

“Kenapa?”

“Gue cuma mau minta maaf soal pertandingan kemarin. Gue terlalu terbawa emosi.”

Rendra terdiam.

Dia masih ingat bagaimana Dimas melempar bola ke arahnya dan menantangnya di depan banyak orang.

Namun, dia tidak menyela.

Naya mengangguk.

“Oke. Gue hargai lo minta maaf.”

Dimas melirik Rendra.

“Dan soal rumor kalian, gue nggak ikut menyebarkannya.”

“Bagus,” jawab Naya. “Karena gue juga nggak mau semua orang sibuk mengurus kehidupan pribadi gue.”

Dimas mengangguk, kemudian pergi.

Aldi menunggu sampai Dimas cukup jauh sebelum berbisik, “Ren, lo nggak cemburu?”

Rendra menatapnya.

“Kenapa gue harus cemburu? Dia cuma minta maaf.”

Aldi terdiam.

Naya juga sempat melirik Rendra.

Jawaban itu sederhana, tetapi berbeda dari Rendra yang beberapa hari lalu nyaris menganggap setiap cowok sebagai ancaman nasional.

Rendra mengambil sendoknya dan melanjutkan makan.

“Lagipula,” tambahnya, “kalau gue marah setiap kali Naya bicara sama orang lain, kapan gue bisa makan dengan tenang?”

Aldi mengangguk perlahan.

“Perkembangan karakter.”

“Diam.”

“Pertumbuhan emosional.”

“Gue lempar bakso.”

“Pemulihan kesehatan mental—”

“ALDI!”

Naya tertawa kecil.

Kali ini, Rendra mendengarnya.

Dan tanpa sadar, dia ikut tersenyum.

Bukan karena Naya sedang berada di dekatnya.

Bukan karena dia berhasil mendapatkan perhatian Naya.

Melainkan karena untuk sesaat, mereka bisa duduk bersama tanpa harus membuat siapa pun merasa terancam.

Bagi Rendra, itu sudah cukup berarti.

Sampai ponselnya bergetar.

Pesan dari ayahnya masuk.

Papa: Papa dengar kamu sedang punya pacar. Apa perlu Papa siapkan hadiah?

Rendra menatap layar dengan wajah kosong.

Kemudian dia mengetik cepat.

Rendra: PAPA DAPAT INFO DARI MANA?!

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Papa: Grup keluarga. Tante kamu sudah mengirim foto kalian. Papa sedang mempertimbangkan membeli restoran untuk kalian berdua.

Rendra menutup mata.

Naya meliriknya.

“Kenapa lagi?”

Rendra meletakkan ponsel di meja.

“Gue punya kabar buruk.”

“Apa?”

“Rumornya sudah sampai keluarga gue.”

Naya terdiam.

Lalu perlahan menutup wajah dengan kedua tangan.

“GUE CUMA MAU SEKOLAH DENGAN DAMAI, ANJIR!”

Dari seberang meja, Aldi mengangkat gelasnya.

“Selamat datang di dunia percintaan, teman-teman.”

Naya mengambil tisu dan melemparkannya tepat ke wajah Aldi.

Rendra menatap ponselnya lagi.

Pesan baru masuk.

Papa: Kalau restoran kurang cocok, Papa bisa membeli gedung sekolah kalian.

Rendra langsung membalas.

Rendra: JANGAN BELI APA-APA, PA.

Dan begitulah, rumor yang awalnya hanya berawal dari sebuah foto kini resmi menjadi masalah keluarga.

Padahal mereka bahkan belum pacaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!