Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Deg!
Napas Nathan berhembus menahan sesak yang teramat sangat. Seluruh persendian di tubuhnya serasa meloloskan kekuatan, memaksa pemuda itu mencengkeram sudut dinding marble yang dingin agar tidak roboh. Dunia di sekitar Nathan mendadak runtuh tak tersisa.
Selama bertahun-tahun hidupnya, yang Nathan tahu hanyalah cerita bahwa Arabella adalah bocah terlantar yang dipungut kedua orang tuanya dari jalanan. Alan selalu menanamkan doktrin keji di kepala Nathan sejak kecil—bahwa keluarga kandung Bella tak lebih dari sekadar preman pasar yang hina, pemabuk, dan tidak berpendidikan. Alasan itulah yang menjadi benteng pertahanan bagi sikap dingin, ketus, dan kebencian Nathan selama ini. Bagi Nathan, Bella hanyalah benalu asing berdarah kotor yang datang menumpang hidup mewah, menghambur-hamburkan uang keluarga Allegra tanpa tahu malu.
Namun detik ini... seluruh keyakinan yang ia pegang teguh berubah menjadi lelucon paling menjijikkan.
"P-Papa... ngomong apa tadi...?"
Suara Nathan memecah perdebatan di ruang tamu. Suaranya serak, rendah, namun bergetar hebat.
Alan dan Karin terperanjat seketika. Karin menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak panik saat melihat anak laki-lakinya melangkah keluar dari balik dinding pembatas. Wajah Nathan pucat pasi, namun sepasang matanya memerah menahan amarah yang membakar dada.
"Nathan... kamu... sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Karin gagap, melangkah maju berusaha mendekati putranya.
"Jawab aku, Pa!" bentak Nathan tanpa memedulikan ibunya. Pemuda itu maju beberapa langkah, menatap Alan dengan sorot mata kecewa dan penuh kemarahan luar biasa. "Gadis yang selama ini Papa bilang anak preman jalanan... gadis yang Papa bilang cuma benalu dipungut dari trotoar... ternyata ayah kandungnya mendekam di penjara demi nanggung kejahatan Papa sendiri?!"
"Nathan! Jaga suaramu!" tegur Alan keras, mencoba mempertahankan wibawanya meski kilatan panik sempat melintas di matanya.
"Jaga suaraku?!" Nathan tertawa sumbang, sebuah tawa yang sarat akan keputusasaan dan rasa jijik pada dirinya sendiri. Air mata kemarahan akhirnya menetes di pipinya. "Selama bertahun-tahun... aku membenci Bella! Aku memperlakukan dia seperti sampah, aku ngusir dia, aku bentak-bentak dia karena aku pikir dia nggak tahu diri membakar uang keluarga ini! Tapi ternyata...? Keluarga kita yang brengsek! Papa yang memanfaatkan kehancuran hidup keluarganya!"
"Nathan, cukup! Kamu tidak tahu apa-apa tentang urusan orang dewasa!" potong Alan tajam, rahangnya mengetat kaku.
"Aku tahu, Pa! Aku dengar semuanya dengan telinga kepalaku sendiri!" jerit Nathan frustrasi, menunjuk dada ayahnya dengan jari bergetar. "Kenapa Papa tega melakukan ini? Kenapa Papa membiarkan aku membenci adikku—anak dari orang yang udah mengorbankan kebebasannya demi Papa?!"
"Karin, masuk ke kamar!" perintah Alan dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Nathan.
"Alan, tolong... jangan keras-keras sama Nathan..." rintih Karin dengan tangis yang pecah. Wanita itu hanya bisa menunduk dalam-dalam, menyembunyikan rasa bersalah dan kelemahannya yang tak pernah bisa membantah sang suami. Ia meremas bajunya sendiri, membiarkan suaminya mengendalikan situasi tersebut.
"Masuk, Karin!" tekan Alan lagi dengan suara bariton yang menusuk.
Dengan tubuh gemetar dan derai air mata yang tak kunjung berhenti, Karin akhirnya berbalik dan melangkah cepat menuju lantai atas, meninggalkan suami dan putranya di ruang tamu yang tegang bagaikan medan perang.
Setelah kepergian Karin, Alan melangkah mendekati Nathan. Pria paruh baya itu tidak menunjukkan rasa penyesalan sedikit pun. Wajahnya kembali dingin, tenang, dan manipulatif seperti seorang pebisnis kawakan.
"Dengarkan Papa baik-baik, Nathan," ucap Alan pelan namun penuh intimidasi. Ia menepuk bahu Nathan, tetapi pemuda itu menepisnya dengan kasar. Alan tidak marah, ia hanya tersenyum tipis. "Jangan berpura-pura menjadi pahlawan suci di rumah ini."
"Aku mau kasih tahu Bella..." bisik Nathan dengan napas tersengal-sengal. "Aku mau kasih tahu dia kenyataan ini. Dia berhak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya! Aku nggak sudi hidup dalam kebohongan busuk ini lagi!"
Nathan memutar tubuhnya hendak melangkah pergi menuju pintu utama, namun kalimat Alan berikutnya menghentikan langkah pemuda itu seketika.
"Coba saja kalau kamu berani," ancam Alan dingin.
Nathan mematung, lalu menoleh lambat-lambat dengan tatapan tak percaya. "Apa kata Papa...?"
Alan merapikan kerah kemejanya dengan santai, menatap putra tunggalnya itu tanpa keraguan sedikit pun. "Jika kamu membuka mulutmu pada Arabella... detik itu juga, kamu tidak hanya akan kehilangan seluruh hak waris, fasilitas, dan harta keluarga Allegra. Tapi kamu juga akan kehilangan Papa."
"Pa!"
"Dengar, Nathan!" sela Alan, suaranya meninggi menekan mental putranya. "Papa melakukan ini semua demi mempertahankan nama besar Allegra! Demi masa depanmu, demi posisi perusahaan yang kelak akan kamu pimpin! Jika kasus korupsi itu terbongkar, Papa masuk penjara, perusahaan bangkrut, dan kita semua akan membusuk di jalanan! Apa kamu mau hidup melarat?!"
Nathan mengepalkan kedua tangannya hingga otot-otot lengannya menegang. "Tapi ini tidak adil buat Bella, Pa! Ini kejam!"
"Kejam?" Alan terkehdih pelan. "Siapa bilang ini kejam? Pria itu—ayah kandung Arabella—menyerahkan dirinya secara sukarela demi menggantikan Papa! Kami memiliki kesepakatan yang saling menguntungkan!"
Nathan menelan ludah yang terasa sepahit racun. "Kesepakatan...?"
"Ya. Iming-imingnya jelas: kehidupan putrinya terjamin di rumah ini sampai dia lulus sarjana, mendapatkan pendidikan terbaik, dan hidup bergelimang harta," jelas Alan tanpa rasa dosa. "Lagipula, di dalam penjara pun pria itu tidak pernah kekurangan satu apa pun. Papa menanggung seluruh hidupnya di sana, memberinya fasilitas terbaik yang bisa dibeli oleh uang. Kami saling menguntungkan, Nathan! Pria itu menyelamatkan Papa, dan Papa menyelamatkan masa depan anaknya!"
"Tapi Papa mendidikku untuk membencinya!" jerit Nathan, kepalanya serasa ingin pecah. "Papa membuatku merasa Bella adalah benalu, sampai aku hampir membunuhnya secara perlahan lewat tekanan mental!"
"Itu adalah kesalahanmu sendiri karena tidak bisa mengontrol egomu!" potong Alan menusuk, membalikkan keadaan dengan kejam. "Jadi, tutup mulutmu. Biarkan Arabella tetap menganggap kita adalah keluarga yang membesarkannya. Jika kamu menghancurkan kebohongan ini, kamu yang akan memisahkan dia dari fasilitas rumah ini, dan kamu yang akan menghancurkan hidup kita semua."
Nathan berdiri mematung di tengah luasnya ruang tamu yang megah namun terasa seperti neraka dingin. Napasnya naik turun tidak teratur, matanya menatap Alan dengan campuran rasa benci, jijik, dan ketakutan yang tak tertahankan.
Alan tidak membalas tatapan itu lagi. Dengan tenang tanpa beban, pria paruh baya itu membalikkan badan, membenahi lengan kemejanya, lalu melangkah santai menuju tangga lantai atas—meninggalkan putra tunggalnya yang hancur berkeping-keping di tengah ruang tengah.
Brak!
Nathan menghantamkan tinjunya ke dinding marmer di sampingnya. Rasa nyeri yang melanda buku-buku jarinya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang mencabik-cabik dadanya saat ini.
"Bangsat..." umpat Nathan lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya menetes satu per satu membasahi lantai.
Selama ini ia merasa menjadi korban atas kepolosan dan kecerobohan Bella. Ia merasa berhak membenci Bella karena gadis itu dianggap hanya memanfaatkan kekayaan keluarganya.
Namun detik ini, kenyataan menghantamnya tanpa ampun: dialah penjahat sebenarnya. Dialah orang yang memperlakukan putri dari penyelamat ayahnya seperti sampah, mengusirnya ke tengah jalanan malam hanya berbalut pakaian tipis, dan hampir membuat nyawa gadis itu melayang.
Dengan langkah sempoyongan dan pikiran yang benar-benar kacau, Nathan berbalik menuju pintu luar. Ia tidak sanggup berlama-lama berada di dalam rumah yang dipenuhi kebohongan busuk itu.
*
Sementara itu, malam semakin larut di ruang rawat VVIP rumah sakit.
Mangkuk makanan viral di atas meja kecil kini sudah kosong bersih. Bella menyandarkan punggungnya di sofa dengan rasa kenyang dan puas yang sudah lama tidak ia rasakan. Wajahnya yang semula pucat pasi kini sedikit merona hangat.
Christian yang duduk di hadapannya meletakkan cangkir teh hangatnya, lalu menatap Bella dengan binar mata yang redup namun begitu dalam.
"Sudah kenyang?" tanya Christian lembut.
Bella menunduk malu, meremas ujung selimut hospitalnya. "Sudah, Om... Terima kasih banyak. Padahal Om baru selesai tugas dan capek, tapi malah repot-repot beliin ini..."
"Tidak ada yang direpotkan," jawab Christian singkat namun tegas. Pria itu berdiri, meraih tisu, lalu secara alami membungkuk sedikit dan mengusap sudut bibir Bella yang ternoda sedikit saus.
Sentuhan jari Christian di pipinya membuat Bella menegang seketika. Jantungnya mendadak berdebar kencang, persis seperti sensasi aneh yang menyergapnya beberapa hari lalu. Bella mendongak, dan mata cokelat gelapnya langsung bertabrakan dengan manik mata Christian yang tajam dan posesif.
Untuk beberapa detik, keheningan di antara mereka terasa begitu intens dan menghipnotis.
Christian yang tersadar akan keheningan itu perlahan menarik tangannya kembali. Ia menetralkan debar di dadanya dengan berdeham pelan. "Kembalilah ke ranjang. Kamu harus istirahat supaya infusmu bisa dilepas besok."
"I-iya, Om," cicit Bella cepat-cepat berdiri dari sofa.
Namun karena gerakannya yang terlalu mendadak dan efek lemas yang belum sepenuhnya hilang, kaki Bella menyandung sudut meja kecil.
"Ah!"
Bella memekik pelan saat tubuhnya terhuyung jatuh. Sebelum tubuh mungil itu menghantam lantai, sepasang lengan kokoh Christian dengan refleks kilat langsung menyambar pinggangnya, menarik Bella rapat ke dalam pelukannya.
Greb!
Bella terengah-engah, wajahnya menempel tepat di dada tegap Christian yang terbalut kemeja tipis. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung pria itu yang berdegup kencang dan tidak beraturan—persis sama seperti detak jantungnya sendiri.
"Hati-hati, Arabella," bisik Christian dengan suara bariton yang rendah tepat di atas telinga Bella. Lengannya mencengkeram pinggang gadis itu semakin erat, seolah enggan melepaskannya begitu saja.
Bella mendongak pelan, menatap wajah tegas Om-nya dari jarak beberapa sentimeter. "Ma-maaf, Om..."
Belum sempat Christian menjawab atau menegakkan tubuh Bella, pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.
Klek.
Nathan berdiri kaku di ambang pintu. Napas pemuda itu masih terengah-engah setelah berlari dari parkiran, matanya sembab dan merah. Namun, pemandangan yang menyambutnya di dalam ruangan seketika membuat langkahnya terhenti total.
Nathan mematung melihat adiknya berada di dalam dekapan hangat paman mereka, dengan posisi yang teramat dekat dan intim.
"Om Christian... Bella...?" cicit Nathan kaget, suaranya bergetar hebat memecah keheningan malam.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang