Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Selamat ya, maaf aku cuma bawa ini," ucap Arga yang tiba-tiba datang memberi surprise pada Mela.
Cewek itu membungkam bibirnya karena terlalu shock saat melihat Arga.
"Makasih dok, dokter dateng aja aku nggak nyangka banget," ujar Mela terus terang.
"Wahh... Terimakasih ya nak Arga sudah mau mampir ke sekolah untuk memberi selamat pada Mela," ujar bapaknya Mela yang ikut terharu dengan kedatangan Arga.
"Sama-sama pak, memang niatnya ingin datang."
Ungkapan Arga membuat wajah Mela kini merona karena malu.
Setelah acara selesai dan Mela juga melihat bahwa Nadia juga sudah pulang, Mela, Arga juga kedua orang tua Mela kini pulang di antarkan oleh Arga.
.
.
.
Di kediaman Ruby dan Jayden.
Suasana begitu ramah dan hangat, tapi itu terlihat dari luarnya saja, sapa tahu jika di dalam hati mereka jika mereka saling mengumpat satu sama lain.
Semuanya tersenyum bahagia kecuali Jayden, cowok itu tak sbisa terus terusan harus berpura pura besikap manis.
"Kita ke kamar aja yuk," ajak Jayden pada Nadia.
"Ke kamar? di rumah lagi rame masa kita di kamar?"
"Males sayang," rengek Jay.
"Tapi di sini juga ada orang tua aku, kita hargain mereka dong."
"Iya iya maaf,"
Mau tak mau jay berkumpul dengan para orang tua yang berkunjung ke rumahnya saat ini untuk merayakan kelulusan Nadia.
Jams, cowok itu diam-diam terus melihat ke arah Nadia. Membuat Jay yang melihatnya menjadi murka, Jay tak suka jika sang istri di tatap oleh cowo lain.
"Masih sayang kan lo sama mata?
atau pengen gue congkel sekarag?" desis Jay pada Jams.
Anehnya Jams tak takut sedikit pun dengan Jay, cowok itu terlalu meremehkan Jay karena posisi Jay adalah adiknya.
Hari semakin larut, satu persaru keluarga mulai pulag ke rumah masing-masing, bahkan semua terlihat biasa saja dan tiak ada pertengkaran di antar dua kubu.
Jodi dan Jams pulang bersama, sementara Bramasta pulang bersama sang istri.
di pagi hari.
"Kamu jangan kemana mana duluya, di luar lagi nggak aman banget buat kamu," ucap Jayden dengan lembut
"Nggak aman gimana?" Nadia pun bingung dengan ucapan Jay.
"Susah jelasinya sayang, pokoknya kamu harus di rumah dulu, atau kamu mau ikut aku aja ke kantor?"
"Pengen ikut ke kantor aja deh, tap nanti, aku ada urusan dulu sama Mela nanti siang."
"Oke, kamu boleh keluar tapi haus pakai bodyguard ya!" Nadia mengangguk sebagai jawaban, walau sebenarnya dia merasa tidak nyaman.
Setela Jay pergi ke kantor, Nadia bersiap diri dan menghubungi Mela untuk ketemuan di salah satu cafe langanan mereka.
"Ketemuan di tempat biasa ya," ucap Nadia dalam panggilan ponselnya.
"Siap ndoro!!" sahut Mela yang selalu menuruti permintaan Nadia sebagai sahabat.
Mela berangkat lebih dulu dari ada Nadia, dan tak lama kemudian saat Mlea sudah menghabiskan satu gekas jus strowberry kesukaanya Nadia baru saja datang dengan dua mobil yang mengikuti.
"Anjirrr.... di kawal cuy," kata Mela menggoda.
"Terpaksa, tahu sedniri Jay gimana kan?" keluh Nadia yang sebenarnya lebih suka kebebasan.
Mela mengangguk megerti, "Namanya juga istri kesaangan, emang harus di jaga dengan ketat dong."
"Bacot lo ah, minuman buat gue ana anjir, pesen buat senidri aja," protesnya lagi.
"kan takut lolama, makanya gue pesen buat gue duu," Mela kemudian memesan dua minuman Jus lagi dan dua piring makanan.
"Lo yakin mau ngelakuin ini? kok gue takut sih Nad, lo kan beum pernah kerja apangan begini, apa lagi ini pertamakalinya buat lo kan?' tanya Mela khawatir.
"Kalau bukan siapa lagi anjir? lo mau emang jadi korban lagi?emang harus gue yang gerak sendiri buat nintasin semuanya, asal lo tetep tutup mulut, gue yakin semua berjalan dengan lancar kok."
"Terus lo mau mula dari mana?"
"Kalau itu jujur gue belum tahu, tapi kita lihat aja nanti kondisinya gimana? gue juga heran sih, kenapa mereka tega nglekauin ituke Jay, bayangin Mel, Jay di perlakukan kaya gini dari dia kecil, dan kita ngeliat dia kaya nggak ada beban sama sekali."
"Makanya dijaga kalau udah dapet berlian tuh, jangan di galakin mulu, kabur baru tahu rasa lo!"
"Si alan lo ya, malah ngejurus ke gue sih? ini gue mau bantuin dia anjir, gue bahkan rela nggka lanjur kuliah lagi coba biar jadi istri yang baik buat Jayden yan terhormat itu."
"Eh, betewe gimana lanjutan hubungan lo sama Arga? Ciee yang makin deket aja," kata Nadia lagi.
"Nggak usah bahas gue dufu deh, gue masih takut sebenarnya sama si pak dokter, secara gue juga nggak tahu dia jomblo apa engga kan? sekarang fokus aja dulu sama misi lo, biar guejuga bantu, anggep aja gue balas budi sama dengan apa yang selalu lo lakuin ke gue."
"Ck, iya jga sih, gue juga jarag sih kumpul sama temen- temenya Jay itu, jadi gue juga nggak tahu gmana mereka, nanti seaklian gue selidikin deh."
"Nah kala itu baru ide yang bagus," sahut Mela antusias.
"Ck tadi bilangnya jangan dulu, giliran sekalian antusias bener bu."
"Ya kan anggep aja berenang sambl minum air, kan jadi sekalian gitu, hehe...
Setelah perteuan dengan Mela. Nadia pergi ke perusahaan Jayden, dengan beberapa kotak pizza ditanganya.
Semua orang mennduk ketika Nadia melewati mereka karena hampir semua sudah mengetahui jika Nadia adalah Istri dari Jayden yag tidak mereka sembumbinyakn lagi.
Tapi Nadia melihat salah satu staf yang melihatnya dengan tatapan sinis, walau begitu, Nadia tak mau ambil pusing.
Tok tok tok...
"Paket," ucap Nadia dari balik pintu.
"Paket?" gumam Jay heran karena dia tak memesan apapaun.
"Masuk," tegasnya dengan netra yang terus fokus dengan beberapa berkas di tanganya.
"Sibuk bener sampe istrnya daeteng juga nggak sadar!" ketus Nadia kesal karena di cuekin sama Jay.
Mendengar hal itu, jay langsung menoleh ke arah suara tersebut" Astaga sayang, kok dateng nggak bilang - bilan sih?" Jay langsung menghampiri Nadia dan aka memeluk istrinya, tapi sayangnya Nadia merajuk dan menolak untuk di peluk.
"Ihh.. kok di tolak sih?" rengek Jay.
"Siapa suruh tadi nyuekin aku?"
Jay memelukNadia drai belakang, memebrikan kecuyoan kilas di leher jenjang istrinya, "Iya maaf sayang, habis terlalu fokus tadi."
"Hem... laper nggak? tapi aku cuma beli pizza."
Netra Jay menoleh ke arah pizza yang Nadia bawa. "Apapun yang kamu bawa pasti aku makan," sahut Jay tulus.
"Cih dasar lanang, pinter aja gombalnya."
"Tapi dari pada pizza, aku lebih pengen makan kamu gimana dong?"
Nadia membulatkan kedua matanya tak percaya, "Ini kantor anjir! bisa bisanya mesum," ketus Nadia.
"Emang kepa kalau di kantor? ini kan ruanga aku? yang masuk juga haruskan ruanga aku? yang masuk juga harus ketuk pintu dulu."
Bugh!
"Enggak!" tegas Nadia.
"Kalau habis makan boleh ya? udah lama kita sayang gak....." Jay menautkan kedua jarinya untuk memberi kode.
Nadia frustasi jika Jay sudah dalam mode manja seperti ini, "Gimana nanti deh, yang penting sekarang kita makan dulu, aku laper Nadia menarik legan Jay untuk duduk di sofa.
"Mau main di sofa sayang?"
"Astagaaa... Jayden Mahendra!!! makan anjir!" tegas Nadia dan Jay terkekeh.