Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Ketika Kesalahpahaman Memisahkan
Suasana asrama biasanya terasa damai, tapi kedamaian itu tidak selalu berarti tanpa retakan. Suatu sore, terjadi keributan kecil di antara kelompok siswa laki-laki bukan soal hal yang besar, tapi soal kesalahpahaman yang dibiarkan tumbuh membesar karena tidak ada yang berani bicara jujur sejak awal.
Ada dua kelompok yang mulai saling menjauh, di satu sisi ada Aldo dan Bayu, di sisi lain ada Rian dan beberapa siswa lain. Semuanya bermula dari hal sepele karena hilangnya uang kas kegiatan bersama sebesar seratus ribu rupiah. Tidak banyak memang, tapi cukup untuk menimbulkan kecurigaan yang tidak seharusnya ada.
Beberapa siswa berbisik bahwa hanya Aldo yang terakhir berada di ruang kegiatan sebelum uang itu hilang, Aldo yang biasanya sudah siap meledak marah, kali ini justru terdiam dan pergi. Namun diamnya dia disalahartikan sebagai tanda bersalah, suasana di kantin menjadi canggung. Jika Aldo dan Bayu datang duduk di suatu meja, yang lain akan berdiri dan pindah ke meja lain.
"Ini tidak adil" Kata Aldo suatu sore saat mereka duduk sendirian di bangku halaman yang agak sepi. "Kamu harus menjelaskan pada mereka, Aldo. Kalau kamu diam saja, mereka semakin yakin kamu yang mengambilnya" Ujar Bayu
Aldo menunduk, tangannya mengepal kuat di lutut.
"Biar saja, kalau mereka sudah memutuskan aku penjahat, apa gunanya aku membela diri ? Sejak awal mereka memang tidak pernah benar-benar mempercayaiku karena siapa ayahku." Balas Aldo
Namun keheningan itu justru membuat jarak di antara mereka semakin lebar, Rian sebenarnya ragu sejak awal. Ia mengenal Aldo cukup baik untuk tahu bahwa meski laki-laki itu kasar di luar, dia tidak pernah mengambil apa pun yang bukan miliknya. Tapi dia juga takut dianggap aneh jika membela Aldo sendirian, akhirnya dia memilih diam dan keheningannya itu terasa seperti pengkhianatan bagi Aldo.
Konflik kecil itu memengaruhi semua kegiatan, belajar kelompok terasa canggung, kerja bakti terasa berat, dan tawa yang dulu sering terdengar kini jarang terdengar. Keira menyadari perubahan itu, tapi ia tidak mau ikut campur seolah tahu segalanya. Sebaiknya mereka yang menyelesaikannya sendiri.
Hingga tiga hari kemudian, seorang siswa bernama Eko datang dengan wajah malu-malu mencari Rian.
"Rian, aku mau bicara sebentar" Ucap Eko pelan saat istirahat siang.
"Uang itu tidak hilang dicuri, aku yang memindahkannya ke laci lain karena takut tertumpahi air minum. Lalu aku lupa memberitahu siapa pun, aku benar-benar malu" Lanjut Eko
Rian terdiam sejenak, lalu menyadari betapa besar kesalahan yang terjadi karena kelalaian satu orang dan ketidakpedulian banyak orang.
*****
Malam itu, ia memanggil semua yang terlibat berkumpul di ruang tengah. Dengan suara yang tenang namun tulus, ia berbicara di depan semua orang.
"Aku minta maaf, Aldo. Aku tidak percaya padamu cukup kuat saat kamu dituduh, aku takut berbeda pendapat dari yang lain, jadi aku memilih diam. Dan diamku itu sama saja dengan membiarkanmu disakiti. Aku salah, dan aku menyesal sekali" Ucap Rian
Aldo menatapnya, terkejut mendengar permintaan maaf itu. Selama ini ia siap dimusuhi, tapi tidak siap dimaafkan dan dihargai kembali.
"Aku juga minta maaf, aku seharusnya berbicara, bukan pergi dan menutup diri. Aku terlalu terbiasa dianggap salah sehingga aku lupa bahwa aku punya hak untuk menjelaskan." Jawab Aldo pelan
Bayu tersenyum lega melihat mereka akhirnya berbicara dari hati ke hati.
"Kita semua belajar pelajaran berharga hari ini, jangan pernah menghakimi sebelum semua fakta terungkap dan jangan pernah takut untuk bertanya, sebelum berasumsi." Ucap Bayu
Eko yang merasa bersalah besar, menunduk meminta maaf kepada semua orang.
"Aku janji tidak akan lagi menyimpan sesuatu tanpa memberitahu, maaf sudah membuat kalian semua bertengkar karena kelalaianku." Ujar Eko
Malam itu berakhir dengan tawa yang kembali terdengar riuh, tidak ada yang sempurna di antara mereka. Ada yang salah menuduh, ada yang lupa memberi kabar, ada yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tapi yang terpenting mereka berani mengakui kesalahan, berani meminta maaf, dan berani memulai lagi dari awal.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...