NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANTE RIKA DAN KEBOHONGAN SUAMINYA

Sisa-sisa rintik hujan yang mengguyur kota perlahan-lahan mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aroma tanah basah dan genangan air di sepanjang gang sempit pemukiman terasa makin pekat. Lampu-lampu jalan remang membiaskan pendar keemasan yang tenang di atas permukaan aspal yang licin.

Enzo melangkah pelan menyusuri koridor gang, menyusupkan kedua tangannya yang agak dingin ke dalam saku celana jins lamanya. Usai mengantar Maya pulang hingga ke depan rumah sewanya dengan selamat, dada pemuda itu terasa jauh lebih lega. Keberhasilannya melunakkan tembok gengsi Maya tanpa mengobral kata-kata manis memberinya keyakinan baru bahwa kejujuran dan ketegasan sikap jauh lebih berharga daripada kepalsuan.

Saat Enzo berbelok di persimpangan gang menuju deretan kamar kontrakannya, langkah kakinya mendadak terhenti kaku.

Rumah permanen berlantai dua milik Tante Rika berdiri hening di sudut gang. Pagar besi tinggi rumah itu memang terkunci, namun di atas anak tangga teras depan yang hanya diterangi pendar samar lampu dinding, tampak sesosok wanita sedang duduk sendirian.

Tante Rika duduk meringkuk di atas ubin teras yang dingin. Wanita empat puluh dua tahun itu mengenakan gaun rumahan berbahan katun tipis yang dibalut cardigan rajut berwarna krem. Bahunya berguncang halus, dan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya rapat-rapat. Di samping lututnya yang terlipat, tergeletak sebuah jas kerja pria berwarna hitam yang agak terurai bersama selembar kertas putih yang terkoyak di bagian tepi.

Suasana di halaman rumah mewah yang biasanya sepi itu kini terasa begitu kelam dan menyesakkan.

Mengingat pesan evaluasi sistem untuk tidak lagi bersikap pasif atau sekadar menjadi penonton saat krisis terjadi, Enzo tidak ragu-ragu. Pemuda itu menggeser langkah kakinya, mendekati pagar besi yang sedikit renggang, lalu menyapa dengan nada suara yang tenang dan terukur.

"Tante Rika?" tegur Enzo pelan.

Suara rendah yang membumi itu memecah keheningan malam yang sunyi. Tante Rika tersentak kaget, dengan cepat mengangkat wajahnya dan menyapu sudut matanya yang basah menggunakan punggung tangan. Binar matanya yang biasanya lembut kini tampak sembab, memerah, dan dipenuhi oleh duka mendalam yang tak sanggup lagi ia bendung sendirian.

"Enzo..." bisik Tante Rika kaget, suaranya parau dan bergetar hebat.

"Kenapa belum tidur, Tante?" tanya Enzo seraya menatap raut wajah wanita paruh baya itu dengan perhatian jernih.

"Malam-malam duduk di teras dingin begini bisa bikin masuk angin," sambung Enzo mengingatkan tanpa nada menggurui.

Tante Rika berusaha memoles senyum tipis di bibirnya yang pucat, namun usaha itu gagal total. Air mata baru justru kembali menetes membasahi pipinya yang halus, mengalir melewati dagunya yang bergetar.

"Tante... Tante tidak bisa tidur, Enzo," sahut Tante Rika seraya menyapu sudut matanya yang kembali basah.

"Ada yang salah, Tante?" tanya Enzo dengan nada rendah seraya melangkah satu tapak lebih dekat ke celah pagar.

Tante Rika tidak langsung menjawab. Jemarinya yang gemetar meraih lembaran kertas putih yang tergeletak di samping jas suaminya. Ia memeluk kertas itu di dada, seolah-olah kertas tipis itu adalah beban amat berat yang menghancurkan seluruh pilar kehidupannya dalam sekejap.

"Tante cuma merasa bodoh, Enzo," bisik Tante Rika seraya meremas lembaran kertas itu hingga agak kusut.

"Tante merasa sangat bodoh selama belasan tahun ini..." lanjut wanita itu dengan nada keputusasaan yang begitu memilukan.

Enzo mengerutkan keningnya tipis. Selama bertahun-tahun hidup berdampingan sebagai tetangga, Enzo tahu betul betapa setianya Tante Rika. Meskipun suaminya—seorang pejabat lokal yang terpandang—jarang sekali pulang dengan alasan kesibukan dinas luar provinsi, Tante Rika selalu merawat rumah besar itu sendirian, memasakkan makanan hangat yang tak pernah tersentuh, dan selalu tersenyum sopan di depan tetangga demi menjaga reputasi suaminya.

"Maksud Tante bagaimana?" tanya Enzo dengan kening berkerut tipis, matanya menatap lurus ke arah kertas di tangan Rika.

"Kertas apa itu, Tante?" tanya Enzo seraya melangkah mendekat ke celah pagar.

Tante Rika menghembuskan napas patah-patah, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar menyodorkan lembaran kertas tersebut melewati celah jeruji pagar besi.

"Tadi sore... Tante berniat merapikan jas kerja Mas Hendra yang tertinggal di lemari untuk dibawa ke tempat cuci kering," cerita Tante Rika dengan suara tercekat di tenggorokan.

"Tante meraba saku dalamnya... dan menemukan ini," sambung wanita itu seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak sanggup menahan isakan tangisnya.

Enzo menerima lembaran kertas itu, membukanya perlahan di bawah pendar lampu jalan yang temaram. Benda itu adalah sebuah lembaran resi cetak otomatis dari sebuah hotel resort mewah bernuansa eksklusif di kawasan pinggiran kota—hanya berjarak empat puluh menit berkendara dari pemukiman mereka.

Di atas resi tersebut, tertera jelas nama suami Tante Rika sebagai pemesan kamar tipe *suite* selama tiga hari dua malam, lengkap dengan rincian biaya makan malam romantis untuk dua orang dan tagihan pembelian perhiasan di butik hotel.

Tanggal yang tertera di resi tersebut adalah tiga hari yang lalu—hari yang sama ketika suami Tante Rika berpamitan pergi menumpangi pesawat menuju Surabaya untuk urusan dinas pemerintahan yang mendesak.

"Nota pembayaran hotel... dan resi perhiasan emas," kata Enzo membaca baris-baris angka di kertas itu dengan raut wajah yang menggelap.

"Atas nama siapa perhiasan itu, Tante?" tanya Enzo lugas tanpa ada polesan kata manis.

"Bukan nama Tante..." bisik Tante Rika seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya berguncang hebat oleh isakan tangis yang akhirnya pecah sepenuhnya.

"Selama ini dia tidak pernah memberi Tante perhiasan..." isak Tante Rika di balik telapak tangannya.

"Tante selalu percaya kalau dia jarang pulang karena bekerja keras demi negara... Tante selalu menunggu teleponnya sampai jam tiga pagi... Tante selalu menyendiri di rumah besar ini sambil menahan sepi... Tapi ternyata dia cuma kebohongan besar, Enzo!" jerit Rika lirih, suaranya sarat akan kehancuran hati seorang istri yang dikhianati secara mentah-mentah.

Keheningan malam yang dingin seolah makin menekan dada. Enzo berdiri mematung di luar pagar, menatap wanita paruh baya yang kini terpuruk di atas lantai teras yang dingin. Kebohongan yang tersimpan rapat selama belasan tahun akhirnya terbongkar, meruntuhkan seluruh pengabdian tulus yang telah diberikan Tante Rika tanpa sisa.

Enzo meremas pelan resi di tangannya, merasakan kemarahan murni atas ketidakadilan yang dialami tetangganya tersebut. Namun, menguasai emosinya dengan kepala dingin, Enzo menyadari bahwa saat ini Tante Rika tidak membutuhkan amarah kosong atau penghakiman emosional. Wanita itu sedang tenggelam dalam samudera duka dan membutuhkan sebuah pijakan nyata untuk bertahan hidup.

Enzo menjangkau celah pagar besi, memutar selot kuncinya yang ternyata tidak terselot sempurna dari dalam, lalu mendorong pintu pagar itu hingga terbuka perlahan.

Enzo melangkah masuk ke dalam halaman rumah yang hening, menghentikan langkah kakinya tepat dua tapak di hadapan Tante Rika yang masih menangis terisak di atas anak tangga teras.

"Tante... jangan menanggungnya sendirian di atas lantai dingin begini," kata Enzo pelan namun sangat mantap, suaranya memberikan kehangatan yang amat nyata di tengah malam yang membeku.

Tante Rika perlahan menurunkan tangannya dari wajah, mendongak menatap Enzo dengan sepasang mata basah yang memancarkan kerapuhan dan keputusasaan tingkat tertinggi. Di hadapan pemuda muda yang berdiri tegap di hadapannya ini, seluruh pertahanan keanggunan dan status sosial Tante Rika luruh tanpa bekas.

"Tante harus bagaimana, Enzo... Tante tidak punya siapa-siapa lagi..." bisik Tante Rika lirih dengan bibir gemetar.

Enzo membungkukkan tubuhnya sedikit, mengulurkan telapak tangannya yang hangat ke arah Tante Rika tanpa ada niat jahat sedikit pun.

"Berdiri dulu, Tante," tegas Enzo jujur dan sopan. "Kenyataan ini memang pahit, tapi Tante tidak boleh menghancurkan diri Tante sendiri cuma demi kebohongan orang lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!