seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEKLARASI RISHING GUILD
Ruang rapat rahasia di markas besar Asosiasi Pusat dipenuhi keheningan yang mencekik. Di layar hologram utama, sebuah rekaman video beresolusi tinggi sedang diputar ulang untuk yang ketiga kalinya. Rekaman itu menunjukkan Vex, pembunuh bayaran elit dari Guild Shadowhand, sedang diinterogasi di ruang isolasi medis. Pria itu tidak terlihat seperti seorang veteran Level 38. Ia meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya dengan satu lengan yang tersisa, matanya terbelalak menatap ruang kosong sambil terus menggumamkan kata-kata yang sama.
"Bayangan... dia bergerak di dalam bayangan... pedangnya tidak bersuara... kami bukan mangsa, kami adalah serangga... dia dewa kematian..."
Marcus, Direktur Eksekutif Penanggulangan Bencana, menekan tombol interupsi. Layar hologram memudar. Ia menatap lima jenderal Asosiasi yang duduk mengelilingi meja bundar. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Sepuluh lambang guild berlumuran darah yang dikirimkan ke meja sarapan tiga ketua guild raksasa pagi ini telah memicu gempa politik di seluruh Sektor Pusat.
"Sepuluh pembunuh bayaran tingkat atas," Marcus memecah keheningan dengan suaranya yang berat dan parau. "Dihabisi dalam waktu kurang dari lima menit di dalam medan rawa beracun tingkat Hard, tanpa ada satu pun jejak perlawanan yang berarti. Dan pelakunya membiarkan satu orang hidup hanya untuk menjadi kurir pengantar pesan. Ini bukan lagi sekadar anomali leveling, Tuan-tuan. Ini adalah deklarasi perang terbuka."
"Direktur," seorang jenderal wanita berdeham pelan. "Ketua Titan dan Shadowhand menuntut Asosiasi untuk mengeluarkan surat penangkapan resmi terhadap Andre dan Bastian Valerius atas tuduhan pembunuhan berencana. Mereka mengancam akan menarik seluruh pasukan pertahanan mereka dari garis depan Sektor 3 jika kita tidak bertindak."
Marcus mendengus keras, sebuah tawa sinis yang dingin. "Menarik pasukan? Biarkan saja anjing-anjing tua itu menggonggong. Mereka mengirim regu pembunuh ke dalam dungeon tanpa izin resmi, dan mereka kalah telak. Asosiasi tidak akan menjadi algojo bagi kebodohan mereka."
Marcus mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap layar yang kini menampilkan profil Andre yang berstatus First Job level belasan. "Pemuda ini... Andre. Gaya bertarungnya, efisiensinya, dan ketenangan mentalnya... dia bertarung seperti seorang jenderal yang telah melewati ribuan perang lintas planet. Jika firasatku benar, dunia ini baru saja melahirkan monster yang akan mengacak-acak hierarki. Tingkatkan status pengawasannya menjadi Kelas S. Jangan berani mengganggunya, tapi pastikan kita menjadi pihak pertama yang ia datangi saat dia butuh aliansi."
Di tempat lain, di dalam fasilitas megah Akademi Awakening Sektor 1, udara dipenuhi aroma disinfektan magis dan wangi herbal. Marvin duduk di bangku deretan tengah, mengenakan seragam putih bersih berlogo Asosiasi. Di depannya, di atas meja logam, seekor monster kelinci bertanduk kecil berbaring dengan luka sayatan yang cukup dalam di perutnya.
Ini adalah kelas praktik Healing dasar. Instruktur kelas, seorang wanita paruh baya berkelas Bishop, berkeliling memperhatikan para murid.
"Fokuskan mana kalian pada niat meregenerasi sel," instruksi wanita itu. "Jangan paksakan energi kalian masuk, biarkan energi itu mengalir seperti air yang mengisi rongga kosong."
Marvin memejamkan mata. Ia menarik napas perlahan, mencoba memisahkan dua inti mana yang saling bergejolak di dalam dadanya. Inti hijau yang hangat dan inti ungu yang mendidih. Ia menekan rapat-rapat aura ungu itu ke sudut terdalam jiwanya, lalu membiarkan energi hijau zamrud mengalir melalui telapak tangannya.
Cahaya hijau yang sangat terang dan murni menyelimuti kelinci bertanduk tersebut. Dalam hitungan detik, luka sobek di perut monster kecil itu menutup sempurna tanpa menyisakan bekas luka. Kelinci itu bangkit dan mengendus tangan Marvin dengan manja.
"Luar biasa, Marvin! Kemurnian mana milikmu sangat langka," puji sang instruktur dengan mata berbinar, mencatat nilai sempurna di tabletnya. "Kau memiliki potensi untuk menjadi penyembuh garis depan yang hebat."
"Terima kasih, Bu," Marvin menunduk sopan, tersenyum canggung.
Namun, tepat setelah instruktur itu berbalik pergi, senyum Marvin memudar. Ia melirik ke bawah mejanya. Tanpa disengaja, setetes keringatnya yang mengandung kebocoran aura Venomancer telah jatuh ke lantai. Lantai marmer putih di bawah sepatunya kini memiliki bercak hitam pekat seukuran koin, seolah batu itu baru saja membusuk dimakan asam mematikan.
Marvin diam-diam menggeser sepatunya untuk menutupi bercak hitam itu. Aku harus belajar mengendalikannya lebih baik, batinnya berdebar kencang. Jika ada yang tahu aku punya kelas penyebar wabah mematikan, Asosiasi akan mengkarantinaku. Aku tidak boleh menjadi kelemahan bagi Kak Andre dan Kak Bastian.
Lobi Utama Gedung Asosiasi Pemburu Sektor Pusat selalu dipenuhi hiruk-pikuk ribuan orang. Mulai dari para porter yang sibuk memanggul material, hingga para elit Second Job yang memamerkan zirah mengkilap mereka. Namun, siang itu, kebisingan tersebut perlahan mereda. Sebuah keheningan aneh merambat dari pintu masuk utama, menyebar seperti riak air hingga ke meja resepsionis di ujung ruangan.
Bastian melangkah masuk dengan gaya bangsawan yang khas. Zirah emas dan peraknya bersinar di bawah lampu kristal lobi, perisai raksasanya tersandang mantap di punggung. Di sebelahnya, Andre berjalan dengan langkah yang tak bersuara. Pakaiannya sederhana, dominan warna hitam, dengan sebilah pedang perak tersarung di pinggangnya. Matanya yang gelap dan tanpa emosi menyapu lobi, membuat siapa pun yang bertatapan dengannya secara naluriah menundukkan kepala atau membuang muka.
Berita tentang pembantaian di Lembah Siksa belum disiarkan ke publik, namun desas-desus di kalangan pemburu menyebar lebih cepat daripada angin. Mereka tahu siapa dua pemuda ini.
Bastian meletakkan sebuah koper logam di atas meja resepsionis, membuatnya berbunyi nyaring. Ia membukanya, memperlihatkan tumpukan koin emas murni yang bernilai setara dengan penghasilan sebuah kota kecil selama setahun.
"Pendaftaran Guild resmi," ucap Bastian dengan senyum percaya diri kepada resepsionis wanita yang gemetar. "Nama guild: Rishing. Anggota awal: dua orang. Ini biaya administrasi dan jaminan deposit untuk kelas Guild Independen."
Sebelum resepsionis itu sempat memproses dokumen, kerumunan di sebelah kanan lobi terbelah. Sekelompok pria berbadan besar mengenakan zirah hitam dengan lambang kapak menyala melangkah maju. Mereka adalah anggota Guild Titan. Pemimpin mereka, seorang pria botak berotot raksasa bernama Brutus—Wakil Ketua Titan—menatap Andre dengan urat leher menonjol karena amarah.
"Jadi ini bajingan yang berani mengirim lambang guild kami dengan darah?" geram Brutus, suaranya menggelegar ke penjuru lobi. Ia mencabut sebuah pedang besar dari punggungnya dan menancapkannya ke lantai lobi, merusak marmer mahal itu. "Tuan Muda Valerius, kau mungkin dilindungi oleh uang ayahmu. Tapi anjing peliharaanmu ini tidak punya hak istimewa itu. Dia mati hari ini, di sini."
Belasan anggota Titan menghunus senjata mereka secara serentak. Suasana lobi seketika berubah menjadi medan perang. Orang-orang menjerit dan berlarian mencari perlindungan. Penjaga Asosiasi mencoba maju, namun ragu-ragu karena level lawan mereka terlalu tinggi.
Bastian bahkan tidak repot-repot menyentuh perisainya. Ia hanya berdiri santai, melirik Andre.
Andre perlahan menoleh ke arah Brutus. Ia tidak mencabut pedangnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya membiarkan sedikit, sangat sedikit, aura pembunuh dari kehidupan lamanya sebagai Kaisar Kilat bocor ke udara.
Wush.
Udara di lobi itu mendadak menjadi sangat dingin hingga napas orang-orang berubah menjadi kabut putih. Tekanan gravitasi tak kasat mata menghantam ruangan tersebut. Bukan sihir, melainkan manifestasi murni dari niat membunuh yang melampaui level manusia.
Brutus, seorang Third Job level 65 yang pernah membantai ratusan monster, seketika merasa paru-parunya diremas oleh tangan es raksasa. Matanya membelalak dipenuhi teror absolut. Kakinya yang sekokoh pilar baja tiba-tiba bergetar hebat. Pedang besar di tangannya terlepas, berdentang jatuh ke lantai.
Bruk.
Tanpa disentuh sedikit pun, tubuh raksasa Brutus ambruk ke lantai, berlutut dengan kedua tangan mencengkeram lehernya sendiri yang terengah-engah mencari oksigen. Keringat dingin membanjiri wajahnya. Belasan bawahan Titan di belakangnya mengalami nasib serupa; beberapa bahkan pingsan dengan busa di mulut mereka hanya karena tidak sanggup menahan tekanan mental dari tatapan Andre.
"S-siapa... apa kau ini sebenarnya...?" bisik Brutus parau, air matanya menetes tanpa bisa dikendalikan. Insting hewawinya menjerit bahwa pria berbaju hitam di depannya ini bisa memusnahkan seluruh Guild Titan hanya dengan menjentikkan jari.
Andre menarik kembali auranya dalam sekejap, mengembalikan suhu lobi ke keadaan normal. Seolah tidak terjadi apa-apa, ia kembali menghadap ke meja resepsionis yang kini mematung dengan wajah seputih kertas.
"Tolong, stempel dokumennya sekarang. Waktu kami berharga," ucap Andre datar.
Dengan tangan gemetar hebat, resepsionis itu membubuhkan stempel emas berlambang Asosiasi ke atas formulir pendaftaran. Rishing Guild kini resmi berdiri secara hukum.
Namun, tepat ketika Bastian mengambil dokumen itu, langit-langit kaca gedung Asosiasi berubah warna menjadi merah pekat.
Suara sirine yang memekakkan telinga meledak di seluruh penjuru kota, suaranya melengking menyayat hati. Lampu darurat di dalam lobi berkedip merah secara serentak. Suara mekanis dari Sistem Dunia bergema langsung di dalam pikiran setiap manusia di Sektor Pusat.
[PERINGATAN GLOBAL]
[Skala Bencana: Tingkat 2]
[Anomali Terdeteksi: Celah Dimensi Terbuka di udara Sektor 3]
[Identifikasi Ras: Vanguard Iblis Menengah]
[Status: Invasi Dimulai]
Kepanikan absolut meledak. Ini bukan sekadar dungeon break. Ini adalah pembukaan gerbang invasi, sesuatu yang belum pernah terjadi selama belasan tahun terakhir sejak tewasnya sang Kaisar Kilat. Ras Iblis mulai menguji pertahanan Bumi.
Bastian menatap langit-langit kaca yang menampilkan pusaran awan hitam dengan kilatan petir ungu di kejauhan. Ia mengencangkan cengkeramannya pada perisainya, lalu menoleh pada rekan satu timnya.
"Sektor 3. Itu wilayah padat penduduk, tepat di luar perbatasan area komersial," gumam Bastian serius.
Andre menatap pusaran energi iblis itu. Di dalam hidungnya, aroma belerang neraka yang sangat familier kembali tercium. Bau dari makhluk-makhluk yang dulu ikut andil mengeroyoknya hingga tewas. Sudut bibir Andre perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman kejam yang meremukkan sisa-sisa kewarasan Brutus yang masih tersungkur di lantai.
"Ayo berangkat, Bastian," ucap sang pembunuh bayaran, mencabut pedang peraknya yang merespons dengan pendaran cahaya keperakan yang haus darah. "Dunia butuh pahlawan, dan Rishing Guild butuh iklan gratis."