NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Saat Elang melangkah mendekat, kabut putih menggulung dan membentuk lorong panjang, dan di kedua sisinya benda-benda melayang setinggi dada, masing-masing dibungkus pendar tipis.

Sepuluh tahun ia hidup dengan sistem yang cuma punya dua baris, dan kini lorong ini terbentang di depannya tanpa ujung. Udara di sana tidak berbau apa pun. Elang menarik napas dalam-dalam, mencari sisa wangi ballroom di jasnya, dan tidak menemukan apa-apa. Sepatunya tidak menimbulkan gema.

Elang berjalan tanpa tergesa, kedua tangan di saku. Di sebelah kiri, sebuah botol kecil berisi cairan keemasan berputar pelan.

[Pil Peningkat Kecerdasan: meningkatkan kemampuan kognitif pemakainya.]

"Tidak perlu," gumamnya, lalu melewatinya begitu saja.

Berikutnya sebuah sarung tangan perak yang permukaannya bergelombang seperti air. Ia berhenti satu langkah di depannya.

[Sarung Tangan Gravitasi: memanipulasi gaya gravitasi dalam batas kemampuan artefak.]

Elang mengangkat tangan kanannya sendiri dan menatap sarung tangan hitam yang membungkusnya. Ia mendengus. "Tidak realistis, nanti malah diincar militer."

Kubus perak kecil berdenyut di sisi lain lorong. Langkahnya melambat.

[Perangkat Medis Nanoteknologi: melakukan prosedur medis di luar jangkauan teknologi modern.]

Ia membaca baris itu dua kali. Rahangnya bergerak sedikit, seperti menimbang sesuatu yang belum ia punya kebutuhannya. Lalu ia berjalan lagi. Kristal-kristal penyimpan, sebuah komputer hitam sebesar buku saku, perisai tipis yang bergetar di udara. Semuanya ia lewati dengan sekilas pandang.

'Barang bagus semua. Tapi bukan itu yang kucari malam ini.'

Di ujung lorong, hampir tertinggal di bawah bayangan, melayang sebuah gulungan tanpa pendar. Cahayanya paling redup di antara semuanya.

[Teknik Segala Ilmu Bela Diri]

[Mendapatkan semua ilmu bela diri dengan sempurna.]

Elang berhenti di depannya cukup lama.

Ia membayangkan mansion Nugroho, deretan pria berseragam hitam yang berjaga di lorongnya, dan tangan ayahnya yang selalu cukup panjang untuk menjangkau siapa pun. Ia membayangkan Ray, yang tidak pernah menyentuh sesuatu tanpa menyuruh orang lain melakukannya lebih dulu. Lalu ia membayangkan dirinya sendiri tanpa apa pun selain sebuah sarung tangan, di jalan yang tidak punya penjaga.

Uang bisa ia dapat belakangan. Tubuh yang tidak sanggup melindungi diri tidak bisa dibeli belakangan.

Ia mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan gulungan itu.

"Aku mau teknik ini."

[Permintaan dikabulkan.]

Panas turun dari ubun-ubunnya, pelan, seperti air hangat dituang ke dalam rongga tulang. Bahunya bergeser ke tempat yang benar. Otot di paha dan betisnya mengencang satu per satu, seakan baru dipasang.

Lalu datang gerakan-gerakan itu.

Tendangan memutar. Kuncian pada siku. Cara menekuk lutut sebelum jatuh. Cara bernapas dari perut ketika dada dihantam. Puluhan aliran, ratusan jurus, semuanya mengalir ke ujung jarinya tanpa ia pelajari satu pun. Tubuhnya hafal sebelum kepalanya sempat bertanya.

Elang mengepalkan tangan. Buku-buku jarinya berderak, bersih dan mantap.

Rasa logam menempel di lidahnya. Ia menggerakkan bahu, memutar pergelangan, lalu tersenyum miring.

"Dunia menyebut ini bakat," katanya pelan. "Aku menyebutnya hakku."

[Host dipindahkan kembali ke dunia.]

...-----...

Putih itu menggulung dan lenyap.

Ia berdiri di depan gerbang besi mansion Nugroho, tepat di bawah lampu jalan yang sama. Lampunya masih berdengung. Musik ballroom masih samar di kejauhan. Tidak ada waktu yang berlalu, atau setidaknya tidak ada yang cukup berarti untuk dihitung.

Elang merapikan manset jasnya, lalu berjalan.

Ia tidak memanggil taksi. Kakinya memang sedang ingin berjalan, dan lagi pula tidak ada satu pun orang di sekitar sini yang layak ia beri tahu ke mana ia pergi.

Di saku dalam jasnya tersimpan satu kunci dengan gantungan plastik murahan. Kunci kontrakan yang ia sewa minggu lalu, dibayar tunai, tanpa memberi tahu siapa pun. Ia sudah tahu pesta malam ini tidak akan berakhir dengan ia tidur di kamarnya sendiri.

Jalan menuju kontrakan melewati sebuah gang yang menghubungkan dua permukiman. Lampunya satu, berkedip-kedip dan lebih sering mati. Bau got dan sampah basah menggantung rendah. Seekor kucing melompat dari atas tong dan menghilang di balik tembok.

Elang tidak melambat.

Dua puluh langkah di dalam gang, ia mendengar tiga pasang sepatu menyeret aspal di belakangnya, lalu satu lagi di depan. Ia tidak menoleh. Pundaknya turun sedikit, dan berat tubuhnya berpindah ke tumit tanpa ia perintahkan.

Dari bayang-bayang di depan, sebuah siluet melangkah keluar. Lebar, tinggi, dengan bahu yang menutupi hampir seluruh lebar gang.

"Oi, bocah..." Suaranya serak, dibuat-buat ramah. "Kau kayaknya ada masalah sama bos kami."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!