Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai kamar, memantul lembut di lantai marmer putih.
Gladys membuka matanya perlahan. Setelah dua jam terlelap dalam kelelahan fisik dan mental yang luar biasa, kepalanya terasa sedikit lebih ringan, meski beban di dadanya masih mengimpit erat.
Ia segera bangkit, membersihkan diri di kamar mandi, lalu mengenakan pakaian rapi.
Begitu ia melangkah keluar kamar dan menyusuri koridor lantai bawah, suara dentingan alat makan terdengar dari arah ruang makan.
Papa Devandra yang tengah duduk di meja makan langsung mendongak saat melihat kehadiran menantunya.
"Pagi, Gladys. Mari, sarapan dulu," sapa Papa Devandra ramah sambil menunjuk kursi kosong di sebelah kursi utama.
Gladys tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Pagi, Pa."
Tak lama setelah Gladys duduk, Papa Devandra berpamitan karena harus segera berangkat mengurus urusan kantor.
"Papa duluan ya, Nak. Kalian nikmati sarapannya."
Sepeninggal Papa Devandra, meja makan itu mendadak sunyi.
Raka duduk di hadapan Gladys, menikmati roti panggang dan secangkir kopi hitam tanpa melirik sedikit pun ke arah istrinya.
Gladys menatap secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis di hadapannya, merangkai keberanian sebelum akhirnya membuka suara.
"Kenapa kamu memintaku untuk keluar dari pekerjaanku?" tanya Gladys tenang namun tegas, menatap lurus ke arah Raka.
Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Raka meletakkan cangkirnya perlahan.
Ia merogoh saku jasnya, mengambil sebuah kartu hitam elegan berbalut chip emas, lalu mendorongnya di atas meja tepat di hadapan Gladys.
"Semua uang yang ada di sana bebas untuk kamu gunakan," ujar Raka datar tanpa ekspresi.
"Kamu tidak perlu lelah bekerja lagi. Cukup duduk diam dan jalankan peranmu di rumah ini."
Gladys menatap kartu hitam itu, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
Kekayaan Raka sama sekali bukan hal yang ia cari dalam pernikahan transaksional ini.
"Maaf, aku tidak bisa," tolak Gladys tegas.
Raka mendongak, menatap manik mata istrinya dengan sebelah alis terangkat.
"Gladys, tolong ambil ini dan segera keluar dari pekerjaanmu. Jangan membantah."
Gladys balas menatap wajah suaminya lekat-lekat—pria yang kini sah menjadi suaminya, namun tetap asing dan dingin.
Ada kilatan tekad yang kuat di mata Gladys. Ia tidak ingin menjadi burung dalam sangkar emas yang kehilangan kemandiriannya.
"Aku ambil kartu ini," Gladys menarik napas dalam,
"tapi aku akan membuka bisnis sendiri, dan kumohon, jangan melarangku."
Raka terdiam sejenak. Menatap ketegasan di wajah wanita di hadapannya, ia akhirnya menganggukkan kepala singkat.
"Terserah kamu, Gladys."
Mendengar persetujuan itu, Gladys bangkit dari duduknya.
Ia bahkan tidak menyentuh sarapannya. Hari ini adalah hari penentuan untuk merapikan sisa hidupnya yang berantakan.
Ia harus segera pulang ke rumah lamanya untuk membereskan dan mengambil pakaian, lalu langsung menuju ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Gladys melangkah meninggalkan ruang makan.
Di luar, sebuah mobil mewah beserta Pak Minto sopir pribadi yang telah disiapkan untuk mengantarkannya sesuai perintah Raka.
Sementara itu, Raka kembali menikmati sarapannya dengan tenang, sama sekali tidak menghiraukan kepergian istrinya yang diantar mobil menuju masa transisi hidup baru yang penuh liku.
Sesampainya di rumah lamanya yang sepi, Gladys melangkah masuk dengan perasaan campur aduk.
Rumah ini menyimpan begitu banyak kenangan indah bersama almarhumah Dewi, namun kini ia harus melangkah ke babak baru kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tanpa membuang waktu, Gladys segera mengganti pakaiannya dengan busana kerja yang lebih rapi dan formal. Ia memutar kunci lemari, lalu menarik keluar sebuah koper besar.
Dengan jemari yang tangkas namun hati yang terasa berat, Gladys melipat satu per satu pakaian, mengemas barang-barang pribadinya, serta dokumen-dokumen penting, lalu memasukkannya dengan rapi ke dalam koper tersebut.
Setelah memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal, ia mengunci pintu rumahnya rapat-rapat.
Koper besar itu dimasukkan oleh sopir ke dalam bagasi mobil.
"Ke kantor, Pak," ucap Gladys lirih begitu duduk di kursi belakang.
Sopir mengangguk patuh dan melajukan mobil membelah jalanan kota menuju perusahaan tempat Gladys bekerja selama beberapa tahun terakhir dimana sebuah tempat yang sebentar lagi akan resmi ia tinggalkan demi memenuhi janji dan babak baru hidupnya.
Sesampainya di halaman gedung perkantoran tempatnya bekerja, Gladys melangkah masuk melalui pintu kaca utama dengan perasaan yang begitu berat.
Begitu ia menginjakkan kaki di ruang divisi, suasana mendadak hening.
Beberapa rekan kerja dekatnya—yang malam sebelumnya sempat diundang untuk merayakan ulang tahun Gladys langsung menghampirinya.
Tanpa banyak bicara, mereka langsung memeluk Gladys dengan erat.
Pelukan hangat itu disambut Gladys dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gladys, kami semua turut berduka cita atas kepergian Dewi, ya. Kamu yang kuat, Gladys." bisik salah satu temannya sambil mengusap lembut punggungnya.
"Terima kasih banyak, ya, teman-teman. Maafkan aku kemarin.," tutur Gladys seraya mengusap air mata yang nyaris menetes di pipinya.
Ia sangat bersyukur memiliki rekan-rekan kerja yang begitu mengerti dan memberinya suntikan semangat di masa terpuruknya ini.
Setelah menenangkan diri sejenak, Gladys melangkah menuju ruangan atasan divisinya, Pak Barkah.
Tok! Tok!
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Gladys memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Pak Barkah yang sedang meneliti berkas di mejanya mendongak, lalu memasang raut wajah penuh empati.
"Eh, Gladys. Duduklah," puji Pak Barkah ramah seraya mempersilakan Gladys duduk di kursi kerja di hadapannya.
"Terima kasih, Pak Barkah," jawab Gladys pelan sambil mendudukkan diri secara perlahan.
Tanpa berbelit-belit, Gladys mengambil sebuah amplop putih bersih dari dalam tasnya dan meletakkannya dengan sopan di atas meja kerja sang atasan.
Pak Barkah mengerutkan kening. Ia meraih amplop tersebut, membacanya sekilas, lalu menatap Gladys dengan tatapan penuh keheranan dan rasa terkejut.
"Surat pengunduran diri? Gladys, kenapa kamu mengundurkan diri secara mendadak begini? Kamu adalah salah satu karyawan terbaik di divisi ini, dan performa kerjamu sangat bagus," tanya Pak Barkah penuh keprihatinan.
Gladys menarik napas dalam-dalam, merangkai alasan yang cermat. Ia tidak ingin mengumbar keretakan atau pemaksaan yang terjadi di balik pernikahan daruratnya, apalagi sampai mempermalukan Raka di depan publik.
"Saya sangat berterima kasih atas semua kesempatan dan apresiasi yang Pak Barkah serta perusahaan berikan selama ini," ucap Gladys tenang dan elegan.
"Namun, seperti yang Bapak tahu, setelah cobaan besar dan kepergian almarhumah Dewi, situasi keluarga saya mengalami perubahan besar. Saat ini saya memegang tanggung jawab baru di rumah tangga dan perlu mendampingi keluarga untuk membenahi beberapa hal mendesak."
Gladys memberikan senyuman tipis namun mantap untuk meyakinkan atasannya.
"Selain itu, suami saya meminta saya untuk memfokuskan tenaga di rumah tangga serta mendukung saya untuk mengelola usaha mandiri agar waktu saya lebih fleksibel. Ini keputusan bersama demi kebaikan keluarga kami ke depannya, Pak."
Pak Barkah mendengarkan penjelasan itu dengan saksama.
Raut keterkejutannya perlahan berganti menjadi rasa maklum dan penghormatan atas sikap dewasa Gladys.
"Kalau memang ini keputusan terbaik untuk kehidupan baru dan keluargamu, saya tentu tidak bisa menahannya lagi, Gladys," ujar Pak Barkah menanggapi dengan penuh kebijaksanaan.
"Saya atas nama perusahaan mengucapkan terima kasih atas dedikasi luar biasamu selama ini. Semoga sukses dengan bisnis barunya, ya."
Gladys menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Terima kasih banyak atas pengertiannya, Pak Barkah."
Setelah berpamitan dan menjabat tangan atasannya, Gladys melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Ia berjalan menuju meja kerjanya yang telah menemani hari-harinya selama beberapa tahun terakhir.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia memilah berkas-berkas pribadi, memasukkan alat tulis ke dalam dus kecil, dan merapikan sisa-sisa kenangan di sudut meja itu.
Melihat Gladys yang sibuk merapikan barang-barangnya, beberapa teman setimnya tak sanggup lagi menahan haru.
Air mata mereka menetes pelan, menyadari bahwa sosok yang selalu menjadi penenang dan sahabat terbaik di kantor itu kini benar-benar akan pergi.
"Gladys, kenapa cepat banget sih keluarnya? Kita pasti bakal kangen banget sama kamu." bisik salah satu rekan kerjanya seraya mengusap air mata dengan tisu.
Gladys menghentikan kegiatannya. Ia menatap wajah teman-temannya satu per satu, lalu menyunggingkan senyum hangat meski matanya sendiri masih berkaca-kaca.
"Sudah, jangan menangis dong," ujar Gladys lembut mencoba mencairkan suasana.
"Nanti kalau aku jadi buka kafe, kalian harus mampir ya. Aku tunggu kedatangan kalian."
Mendengar janji itu, teman-temannya tersenyum kecil sambil mengusap sisa air mata di pipi mereka.
Pelukan perpisahan sekali lagi saling terjalin erat sebelum Gladys akhirnya melangkah pergi membawa dus kecilnya menuju pintu keluar gedung.
Di halaman parkir, Pak Minto dengan sigap membukakan pintu belakang untuknya.
Gladys melangkah masuk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk, menghela napas panjang yang sarat akan kelegaan dan harapan baru.
"Pak, tolong antarkan saya ke ruko di Jalan Ahmad Yani, ya," ucap Gladys tenang.
Pak Minto menatap dari kaca spion tengah lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan.
"Baik, Ibu Gladys."
Mobil pun melaju mulus membelah arus lalu lintas pagi menuju lokasi ruko yang sudah Gladys incar untuk memulai langkah pertamanya membangun bisnis kafe mandiri.
Sementara itu, di sebuah penthouse eksklusif bernuansa gelap dan elegan di pusat kota, sinar matahari pagi menerobos melintasi celah tirai tebal yang terpajang di kamar utama.
Praduta baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan dada bidang yang bertelanjang dan rambut acak-acakan khas bangun tidur, pria itu mengusap wajahnya pelan.
Mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya utuh, ia merangkak duduk di tepi tempat tidur.
Pandangannya langsung tertuju pada layar laptop di atas meja kerja yang sejak semalam biarkan menyala.
Praduta meraih laptop tersebut, lalu menatap lekat-lekat foto Gladys yang terpampang jelas di sana—foto wanita bermata teduh yang kini resmi menjadi istri dari Raka Pratama Devandra.
Senyum tipis nan dingin kembali terukir di bibirnya.
"Gladys Anastasia," bisik Praduta serak, menyunggingkan seringai yang penuh dengan maksud tersembunyi.