Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang yang Sederhana — Part 2
Arka baru sadar, bahwa selama ini sejak insiden di minimarket, alam bawah sadarnya selalu melihat Alya sebagai entitas yang berbeda.
Alya Renata. Sang Aktris top. Nama yang mendominasi billboard ibu kota. Wajah yang menghiasi puluhan iklan televisi. Seseorang yang oksigen hidupnya adalah sorotan kamera dan tepuk tangan.
Tapi sekarang, detik ini... di depannya hanyalah Alya.
Seorang perempuan cantik yang ternyata bisa sangat menikmati seporsi nasi ayam seharga dua puluh lima ribu rupiah dengan mata berbinar bahagia.
Merasa diperhatikan sedari tadi, Alya menghentikan suapannya.
"Kamu kenapa ngeliatin terus?"
Arka langsung mengalihkan pandangannya ke piringnya sendiri, sedikit salah tingkah. "Enggak kenapa-kenapa."
"Kamu tadi ngeliatin aku terus."
"Cuma lihat doang."
"Lihat apanya? Ada nasi di pipiku?" Alya meraba pipinya sendiri.
Arka terdiam sebentar, lalu menyendok nasinya. "Enggak tahu."
Alya menyipitkan matanya, menatap Arka dengan curiga yang dibuat-buat. "Kamu ini beneran aneh ya, Ka."
"Baru tahu?" sahut Arka santai.
Alya tertawa kecil mendengar jawaban datar itu.
Untuk pertama kalinya, Arka ikut tersenyum dan tertawa pelan bersamanya.
Bukan karena Alya adalah seorang aktris yang melontarkan jokes. Bukan karena situasinya sedang istimewa.
Hanya karena percakapan receh mereka terasa sangat normal dan membumi.
Setelah makanan di piring mereka berdua hampir tandas, Alya meletakkan sendok dan garpunya secara menyilang, lalu bersandar puas di kursinya.
"Wah, gila. Sudah lama banget aku enggak makan enak seperti ini."
Arka menatapnya tak percaya. "Serius? Makanan syuting sama restoran elite kurang enak?"
"Bukan soal rasa masakannya," sanggah Alya.
"Terus karena apa?"
Alya mengangkat bahu. "Kalau aku keluar buat makan, biasanya semuanya pasti ada yang ngatur dari awal sampai akhir."
"Jadwalnya?"
"Jadwalnya, tempatnya di mana, ruangannya seberapa tertutup, siapa aja orang security yang ikut, bahkan sampai ke menu kalori makanannya kadang diatur sama ahli gizi agensi."
Arka mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Makanan juga sampai diatur sebegitunya?"
"Seringkali iya, kalau lagi mau ada project penting."
Alya memainkan ujung sedotan es jeruknya, memutarnya perlahan. "Bukan berarti aku sama sekali enggak bisa milih ya, Ka. Aku bebas kok. Tapi... semakin lama, rasanya terlalu banyak hal dalam hidupku yang udah diputuskan oleh orang lain, sebelum aku sendiri sempat mikir mau milih apa."
Arka tidak langsung merespons.
Suasana warung makan itu tetap riuh. Suara sendok beradu dengan piring terdengar berisik dari meja-meja mahasiswa lain di sekitar mereka. Kipas angin di langit-langit terus berputar menderik menemani obrolan mereka.
Namun, di tengah kebisingan itu, percakapan mereka tiba-tiba terasa jauh lebih intim dan serius.
"Kamu... enggak suka hidup kayak gitu?" tanya Arka pelan.
Alya tersenyum tipis yang sarat akan makna. "Aku sangat suka dan bersyukur sama pekerjaanku. Akting adalah mimpiku."
Ia berhenti sebentar, menatap mata Arka. "Cuma... kadang-kadang, aku benar-benar pengin melakukan sesuatu yang sangat simpel, tanpa harus pusing mikirin bagaimana reaksi orang lain atau media yang melihatnya."
Arka mengangguk pelan. Memahami setiap kata yang diucapkan wanita itu.
Karena entah dengan cara yang sama atau berbeda, Arka sangat mengerti perasaan terkekang itu.
Ia juga tidak ingin orang-orang melihat siapa dirinya yang sebenarnya sebagai keturunan Pratama. Tidak ingin diperlakukan secara spesial atau dijilat oleh orang-orang yang menginginkan privilese bisnis. Ia tidak ingin setiap keputusan hidupnya selalu dikaitkan dengan kepentingan korporat keluarganya.
"Kita ternyata sama," ucap Arka tiba-tiba, memecah keheningan meja mereka.
Alya memiringkan kepalanya sedikit. "Sama?"
"Kamu ingin hidup normal dan jadi manusia biasa tanpa embel-embel artis." Arka menunjuk dadanya sendiri dengan garpu. "Aku juga pengin hidup normal, lurus-lurus aja."
Alya tersenyum lembut. "Bedanya, kamu masih punya kebebasan penuh buat wujudin itu."
Arka terdiam kaku. Mulutnya terkunci.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika saja Alya tahu siapa nama belakang keluarga yang membelenggunya, Alya pasti akan menarik kata-katanya barusan.
Melihat raut wajah Arka yang sedikit berubah muram, Alya tidak melanjutkan dugaannya.
Beberapa detik kemudian, ia mengubah topik. Ekspresinya kembali cerah seperti sedia kala.
"Pokoknya, kalau besok-besok aku lagi suntuk dan pengin makan enak dan sederhana, aku udah tahu harus cari siapa."
Arka mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa harus nyari saya?"
"Karena kamu tahu tempat-tempat hidden gem kayak gini."
"Banyak mahasiswa lain yang jauh lebih hafal warung enak selain saya."
"Tapi masalahnya, aku kan cuma punya nomor kamu."
Arka tertawa kecil. "Oh, jadi cuma gara-gara punya nomor WhatsApp?"
"Itu alasan pertama." Alya mengangkat bahunya santai. "Alasan keduanya, dan yang paling penting... karena kamu sama sekali enggak pernah memperlakukanku seperti orang aneh, atau menatapku berlebihan."
Pernyataan tulus itu kembali membungkam Arka.
Alya menopang dagunya dengan tangan, menatap Arka sambil tersenyum manis. "Dan jujur... aku sangat suka perlakuan itu, Ka."
Arka tidak membalas. Ia hanya balas menatap mata indah perempuan di depannya.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal nama Alya Renata, Arka tidak lagi memikirkan latar belakang wanita itu sebagai seorang bintang besar.
Ia hanya melihat Alya seutuhnya. Sebagai seorang perempuan biasa.
Perempuan yang suka makan di warung tenda. Perempuan yang tawanya mudah lepas karena hal-hal kecil. Perempuan yang ternyata menyimpan kelelahan karena harus terus hidup demi ekspektasi orang lain.
Dan entah kenapa...
Arka merasa hatinya berdebar dengan ritme yang jauh lebih tenang, merasa jauh lebih nyaman dengan Alya yang seperti ini.
Setelah membayar makanan (yang uangnya sempat mereka perdebatkan sebentar karena Arka bersikeras mentraktir), mereka keluar dari warung tenda itu.
Alya berjalan berdampingan di sisi Arka sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Topi dan maskernya sudah kembali terpasang rapi.
"Terima kasih ya, Ka."
"Untuk?"
"Teman makan siangnya hari ini."
"Biasa aja. Cuma nemenin makan."
"Buat kamu mungkin cuma makan siang biasa." Alya menghentikan langkahnya sebentar dan menoleh. "Tapi buat aku, hari ini sangat menyenangkan."
Arka menatap mata Alya dari balik maskernya.
Alya kemudian kembali tersenyum hingga matanya menyipit, lalu melanjutkan langkahnya. "Besok-besok gantian aku yang traktir."
"Enggak perlu."
"Lho, kenapa?"
"Karena makan di situ murah banget."
"Justru karena murah, masa aku enggak boleh gantian bayarin?" protes Alya.
Arka mendengus tertawa. "Ya udah, terserah kamu."
Mereka kembali berjalan menyusuri trotoar menuju gerbang belakang kampus.
Di tengah perjalanan santai itu, ponsel di dalam tas Alya mendadak bergetar panjang. Alya mengeluarkannya.
Satu rentetan pesan panjang masuk berturut-turut dari Mbak Rini, manajernya.
Seketika itu juga, ekspresi mata Alya yang tadi cerah dan bahagia langsung berubah mendung setelah membaca baris pertama pesan tersebut. Dahinya berkerut dalam.
Arka yang berjalan di sampingnya langsung menyadari perubahan drastis itu.
"Kenapa, Al? Ada masalah?"
Alya buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan gerakan sedikit kaku.
"Enggak... enggak apa-apa, Ka."
Alya mencoba memaksakan senyumnya kembali, namun kali ini, senyum itu tidak sama seperti di warung makan tadi. Senyum itu tidak mencapai matanya. Ada rahasia yang mendadak kembali membebani pundaknya.
Arka cukup peka untuk tidak memaksa bertanya lebih jauh.
Ia hanya diam, kembali berjalan santai di samping Alya. Melindungi wanita itu dari keramaian trotoar. Tanpa kamera. Tanpa paparazzi. Tanpa status sosial yang membedakan mereka. Hanya dua manusia biasa yang baru selesai makan siang bersama.
Namun sebelum mereka benar-benar berpisah di persimpangan gerbang kampus, Alya tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Arka."
"Hmm?"
"Kalau suatu hari nanti... aku benar-benar nekat pengin hidup biasa dan ninggalin ini semua..." Alya menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya terasa tercekat.
Tatapannya mengarah lekat ke dalam mata Arka, mencari sebuah keyakinan.
"Menurut kamu... apa aku masih punya kesempatan untuk bisa?"
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap Alya selama beberapa detik. Mempertimbangkan beratnya pertanyaan itu bagi seorang bintang yang sudah berada di puncak karier.
Lalu dengan nada setenang air dan sejelas kristal, Arka menjawab sederhana,
"Kenapa enggak?"
Alya terpaku. Lalu perlahan, sebuah senyum kelegaan murni kembali mekar di wajahnya. Kali ini senyum yang benar-benar ringan tanpa beban.
Namun di dalam kegelapan tas tangannya, ponsel Alya kembali bergetar tanpa henti. Pesan dari manajernya rupanya belum selesai masuk.
Dan tanpa disadari oleh Arka sama sekali...
Siang hari yang indah itu, rupanya menjadi awal dari kedatangan sebuah masalah baru yang akan dengan paksa menyeret kehidupan Alya kembali masuk ke dalam dunia gemerlap yang ingin ia tinggalkan.
Sedangkan bagi Arka?
Saat ia menatap punggung Alya yang berjalan menjauh naik ke mobilnya, untuk pertama kalinya ia mulai menyadari satu hal yang sangat menakutkan sekaligus menyenangkan baginya.
Kehadiran perempuan bernama Alya Renata dalam hidupnya, mungkin sudah tidak bisa lagi ia sangkal sebagai sekadar 'kebetulan'.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!