Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Hujan Yang Membawa Kedekatan
Beberapa hari berlalu, namun bisik-bisik tentang Laras belum benar-benar hilang. Suatu sore saat hujan turun deras sekali, rencana kegiatan luar dibatalkan. Laras berjalan sendirian menuju perpustakaan, berharap bisa belajar dengan tenang di sana. Namun saat ia melewati koridor dekat ruang kelas, ia mendengar suara-suara yang sengaja dikeraskan.
"Hei, lihat deh... si anak pejabat koruptor mau ke mana ?"
"Pasti mau cari tempat sembunyi lagi ya, biasakan kalau sedang kacau keluarganya, lari ke tempat orang lain"
"Kasihan sih, tapi mau bagaimana lagi. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kan ?"
Kalimat terakhir itu seperti pukulan yang berat, Laras berhenti melangkah, dadanya terasa sesak. Tangan yang menggenggam buku itu gemetar. Ia ingin berlari, ingin menghilang, tapi kakinya terasa berat menapak di lantai yang dingin itu. Belum sempat ia berbalik, suara langkah kaki terdengar cepat mendekat. Keira berdiri di sampingnya, diikuti Zain, Dina, dan beberapa teman lain. Keira menatap tajam ke arah sekelompok siswa yang tadi berbicara.
"Maaf, boleh aku bertanya satu hal? " Suara Keira tenang namun tegas, terdengar jelas di lorong yang sepi itu.
"Jika ayahmu melakukan kesalahan, apakah berarti kamu juga orang yang salah ? Kalau keluargamu sedang jatuh, apakah berarti kamu tidak pantas berdiri di antara kita ?" Lanjut Keira
Salah satu siswa yang tadi berbicara tampak ragu.
"Bukan begitu, tapi kan memang benar ayahnya korupsi dan semua orang tahu itu" Jawabnya
"Benar, itu urusan ayahnya dengan hukum" Jawab Keira mantap.
"Tapi Laras bukan ayahnya, Laras adalah gadis yang selalu menolong saat ada teman yang sakit, yang diam-diam meninggalkan bekal makanan untuk Aldo saat dia tidak punya kiriman dari rumah, yang selalu mengajari kami pelajaran yang sulit meski dia sendiri sedang berat hatinya. Apakah kebaikan-kebaikan itu hilang hanya karena satu berita di koran ?" Lanjut Keira
Keheningan menyelimuti lorong itu, tidak ada yang berani menjawab.
"Kalau kalian hanya mau berteman saat seseorang sedang di atas dan terpandang. Maka pertemanan kalian tidak bernilai, teman yang sejati adalah yang tetap berdiri di sebelahmu saat dunia seolah berpaling darimu. Dan Laras pantas punya teman seperti itu, sama seperti kita semua " Lanjut Keira lembut namun tegas,
Zain melangkah maju, menatap mereka dengan tenang.
"Aku tidak meminta kalian untuk memuja Laras, ku hanya meminta satu hal perlakukanlah dia sebagaimana layaknya teman. Jangan menghakimi apa yang bukan milikmu untuk dinilai. Itu adil, bukan ?" Ucap Zain
Perlahan mereka yang tadi mencibir menunduk, lalu berjalan pergi tanpa kata. Keira segera berbalik menghadap Laras yang air matanya sudah menetes pelan di pipi.
"Maaf, aku tidak mau merepotkan kalian" Isak Laras pelan.
"Sejak kecil aku diajarkan untuk tidak mencampuri urusan orang lain, aku takut karena aku, kalian juga ikut dibenci" Lanjut Laras
Dina memegang tangan Laras erat.
"Kamu bukan beban, Laras. Teman itu bukan yang paling nyaman untuk dihadapi, teman itu adalah orang yang mau kamu hadapi bersama, bahkan di hari-hari yang paling berat sekalipun" Ujar Dina sambil tersenyum
Sore itu mereka tidak pergi ke perpustakaan, mereka duduk bersama di ruang tengah asrama, mendengarkan Laras bercerita untuk pertama kalinya tentang hari-hari terberatnya. Tentang bagaimana tetangga yang dulu selalu menyapa ramah kini menutup pintu saat ia lewat, tentang bagaimana ia harus berpisah dari sekolah lamanya karena merasa tidak nyaman. Tentang surat ayahnya dari penjara yang selalu berisi kalimat yang sama.
"Maafkan Ayah ya, Nak. Jadilah orang baik, jangan seperti ayah. Ayah bilang dalam surat seperti itu" Ucap Laras
"Aku kadang marah padanya, aku marah karena dia membuat kami menderita. Tapi di sisi lain, aku juga sedih karena dia adalah ayahku dan dia pun sedang menanggung akibatnya sendirian di sana." Akui Laras jujur, air matanya mengalir bebas sekarang.” Lanjut Laras
Sari merangkul bahu temannya itu pelan.
"Marah itu wajar, Laras. Sedih itu wajar, kamu tidak harus selalu kuat. Di sini kamu boleh menangis, boleh marah, boleh merasa apa saja dan kami tidak akan ke mana-mana" Kata Sari memberikan semangat
Malam itu hujan semakin deras di luar jendela, tapi di ruangan itu terasa sangat hangat. Laras akhirnya menyadari satu hal bahwa dunia di luar sana mungkin keras dan penuh prasangka, tapi selama ada tangan-tangan yang terulur seperti mereka, ia tidak akan pernah berjuang sendirian.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...