~DALAM TAHAP REVISI~
Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — Nama yang Tidak Dipakai (Revisi)
“Wis mulih (sudah pulang)?”
Suara itu berat dan tenang, datang dari ambang pintu di belakang punggung Raras. Raden Mas Jayeng Kusuma berdiri bertumpu pada tongkat kayu sawo. Rambutnya putih seluruhnya, dan sarung batik sidomukti membungkus pinggangnya.
“Romo, kenapa belum istirahat?” Retno melangkah maju.
“Aku ora iso turu naliko putuku nangis (aku tidak bisa tidur ketika cucuku menangis).” Eyang tidak menoleh. “Kowe ora kandha marang aku, Retno.”
“Retno baru mau memberi tahu besok pagi, Rama.”
“Wengi iki dudu sesuk.”
Raras langsung berdiri. Tangan kirinya meremas ujung kebaya.
“Sampun, Eyang (sudah, Eyang).”
“Mreneo (sini).”
Raras melangkah mendekat. Eyang mengangkat tangan kanannya yang berbalut kasa, memutarnya sedikit di bawah cahaya lampu, lalu menurunkannya lagi tanpa suara. Rahangnya mengeras sebentar.
“Tanganmu kenapa?”
“Ketumpahan teh panas, Eyang.”
“Sing nyiram ora teh, Nduk. Wong (yang menyiram bukan teh, Nduk. Orang).” Eyang duduk perlahan di kursi kayu, tongkatnya diletakkan di sisi. “Kowe teko dadi tamu apa dadi putu (kamu datang sebagai tamu atau sebagai cucu)?”
“Sebagai cucu, Eyang, kalau Eyang mengizinkan.”
“Dadi putu ora perlu sungkan.” Eyang menatapnya dari balik alis putih yang tebal. “Duduk. Sudah makan?”
“Sampun, Eyang. Ibu menyuruh Mbok Jinem menyiapkan makanan.”
Retno nyaris tersenyum. Raras duduk di dipan, di hadapan Eyang, dengan punggung yang masih tegak oleh kebiasaan lama.
“Ibumu sudah cerita. Danang minta pisah. Mertuamu juga bilang kamu datang ke keluarga mereka tanpa membawa apa-apa.”
“Inggih, Eyang.”
Eyang tidak bergerak. Hanya jemarinya yang mengetuk gagang tongkat, sekali, dua kali. Lalu ia mendengus, hampir tertawa. “Berarti mereka belum pernah menimbang beras di tanganmu.”
“Eyang...”
“Tidak perlu membela diri. Biar waktu yang membuktikan.”
Raras menunduk. “Raras takut Eyang kecewa. Raras menikah dan pulang tanpa kabar baik.”
“Eyang tidak menilai hidupmu dari kabar baik atau buruk.” Ia menatap Raras lurus. “Eyang melihat watakmu.”
“Kowe nangis?”
“Sudah, Eyang. Tadi, di pelukan Ibu.”
“Bagus. Orang perlu menangis kalau memang sakit. Setelah itu, bangun lagi.” Eyang mengangguk. “Apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Raras ingin minta satu hal.”
“Bilang.”
“Selama Raras di sini, tolong panggil Raras saja. Jangan Raden Roro.”
Ruangan hening. Mbok Jinem yang berdiri di dekat pintu menunduk lebih dalam. Retno menatap putrinya, tidak menghalangi, tidak menyetujui.
“Kamu malu memakai namamu sendiri?” tanya Eyang.
“Bukan malu, Eyang.” Raras menelan ludah. “Tiga tahun Raras hidup tanpa nama itu. Di rumah Mas Danang, Raras cuma Raras. Raras ingin tahu, tanpa gelar itu, Raras masih menjadi siapa. Apa masih ada yang tersisa dari diri Raras.”
“Kalau masih ada, lalu?”
“Raras akan memakai nama itu lagi. Tapi bukan untuk berlindung di baliknya.”
Eyang diam lama. Di luar, jangkrik berbunyi dari kebun belakang. Lalu bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum, tetapi sesuatu yang mendekati.
“Jeneng kuwi wasiat, dudu perhiasan (nama itu amanat, bukan perhiasan). Tapi baiklah. Kamu sudah cukup umur untuk memilih.”
“Matur nuwun, Eyang.”
“Raden Roro Raras Pramesti.”
“Eyang...”
“Eyang cuma menyebutnya sekali supaya kamu ingat.” Ia mengangkat alis. “Tidak perlu berterima kasih. Nama yang tidak dipakai itu ora ilang (tidak hilang).” Eyang meraih tongkatnya dan berdiri. “Tidur. Besok bapakmu datang.”
Sesuk, besok. Raras mengangguk. Baru setelah Eyang menghilang di balik lorong, ia sadar telapak tangannya basah.
Aditya tiba menjelang subuh, debu jalan Magelang masih menempel di sepatunya. Retno menemuinya di teras tanpa banyak bicara. Hanya sepuluh menit, tetapi ketika Aditya masuk ke pendapa, wajahnya sudah berubah.
“Ras.”
“Pak.” Raras berdiri dari dipan. Ia bersiap menunduk memberi hormat, tetapi Aditya sudah lebih dulu memegang kedua bahunya.
“Kamu kurus.”
“Cuma kurang tidur, Pak.”
“Kurang tidur tidak membuat tanganmu seperti ini.” Aditya menatap balutan itu. “Waktu kita teleponan Minggu lalu, kamu tidak cerita soal tanganmu.”
“Waktu itu belum melepuh, Pak.”
Aditya mendengus, hampir tertawa, lalu tidak jadi. “Ibumu sudah cerita sedikit. Sekarang ceritakan semuanya. Dari awal.”
“Raras malu pulang begini, Pak.”
“Malu itu kalau pulang membawa dusta,” sela Retno dari kursinya. “Kamu pulang membawa luka. Itu beda.”
Raras bercerita. Tentang Danang yang selalu pulang malam, perempuan bernama Niken, surat yang sudah ditandatangani tiga hari lebih dulu, rumah Prasetya, dan kalimat di halaman dua. Suaranya datar di bagian yang menyakitkan, bergetar di bagian yang sepele. Aditya mendengarkan tanpa memotong, sampai Raras menyebut ancaman Surya.
“Jangan harap kami bantu apa pun,” ulang Aditya pelan. “Dia benar-benar bilang begitu?”
“Iya, Pak.”
“Padahal pintu-pintu yang terbuka untuk Danang selama ini bukan karena keluarga mereka.” Aditya tertawa tanpa suara. “Pak Wiryo, Pak Sastro, Bu Warsih. Mereka menerima Danang karena Bapak menelepon. Bapak menelepon karena kamu yang meminta.”
Raras mengangkat wajah. “Pak.”
“Bapak tidak pernah cerita soal ini kepada siapa pun, Ras. Tapi kamu harus tahu, Bapak mengerti apa yang terjadi.”
“Raras minta Bapak merahasiakannya. Raras tahu Mas Danang akan merasa seperti orang yang harus berutang budi. Dia terlalu bangga untuk menerima itu.”
“Bangga.” Aditya mengulang kata itu. “Sekarang dia menganggap semua yang dia dapat sebagai hasil kerjanya sendiri.”
“Sebagian memang hasil kerjanya, Pak. Raras cuma membuka pintu. Yang masuk dan bertahan di dalam itu dia.”
“Kamu masih membelanya.”
“Raras hanya ingin adil, Pak.”
“Meski kamu marah?”
“Raras marah.” Ia menunduk. “Kadang Raras ingin dia kehilangan sesuatu supaya tahu rasanya. Raras malu mengakuinya.”
“Marah itu bukan dosa, Ras. Yang salah kalau kamu memakai kemarahan itu untuk menyakiti orang lain.”
“Menurut Bapak, kenapa dia melakukan ini?”
“Dia lelah selalu menjadi anak Pak Surya, Pak. Dia merasa hanya di depan Niken dia bisa menjadi dirinya sendiri.”
“Lalu, selama ini kamu melihat dia sebagai apa?”
“Sebagai suami.” Raras tersenyum pahit. “Mungkin Raras terlalu sibuk menjadi istri sampai tidak sadar kalau dia ingin dilihat sebagai dirinya sendiri.”
“Itu bukan salahmu. Dia seharusnya bicara, bukan mencari orang lain.”
“Danang tahu Raras pulang ke sini?”
“Belum, Pak. Raras baru mengirim pesan ke Ibu.”
“Dia tidak mencari kamu?”
Raras mengeluarkan ponselnya dari saku. Layarnya menampilkan sebelas panggilan tak terjawab dan dua pesan di bawahnya. Ia membacanya nyaris tanpa suara.
“Ras, kamu di mana? Aku khawatir.”
“Pesan yang satu lagi?” tanya Retno.
“Dari Ibu Marlina.” Raras menggulir layar. “Ibu tunggu tanda tanganmu akhir pekan ini. Jangan mempersulit Danang.”
“Akhir pekan,” kata Aditya datar. “Dia sudah menentukan batas waktunya sendiri.”
“Raras menyimpan semuanya, Pak. Pesan dan panggilan, lengkap.”
“Bagus. Simpan dengan tanggal dan jamnya.”
Retno dan Aditya saling pandang.
“Sudah kamu balas?” tanya Retno.
“Belum, Bu.”
“Kalau belum siap menjawab, tidak perlu dibalas sekarang.”
“Raras bukan sedang menghukum dia, Bu.”
“Ibu tahu. Tapi biarkan dia menunggu jawaban yang memang belum bisa kamu berikan.”
“Kamu tidak harus selalu kuat, Ras,” kata Aditya.
“Raras tahu, Pak. Raras hanya belum bisa berhenti berusaha.”
“Kalau begitu, pinjam kekuatan Bapak dulu,” kata Aditya. “Sampai kamu bisa berdiri sendiri lagi.”
Raras tertawa kecil, dan matanya basah lagi. “Bapak masih saja pandai bicara begitu.”
“Bapak belajar sejak kamu kecil dan sering menangis.”
“Raras tidak sering menangis, Pak.”
“Kamu menangis waktu jatuh dari sepeda. Mbok Jinem cerita.”
“Mbok Jinem terlalu banyak cerita.”
“Memang,” kata Retno. “Itu gunanya Mbok Jinem. Sekarang minum dulu tehmu, Nduk, sebelum Bapakmu mulai mengungkit kejadian lain.”
Aditya menatapnya lama. Matanya melembut, tetapi rahangnya tetap mengeras.
“Bapak tidak akan menyuruh kamu membalas. Bapak juga tidak akan menyuruh kamu memaafkan. Itu keputusanmu.”
“Terima kasih, Pak.”
“Apa rencanamu?”
“Pertama, Raras tidak akan menandatangani apa pun sebelum kalimat itu dicabut. Kedua, Raras akan membaca ulang seluruh suratnya dengan kepala dingin.”
“Dan ketiga?”
“Raras belum tahu.”
“Itu jawaban yang jujur.” Aditya mengangguk. “Satu lagi. Siapa yang membelamu di rumah itu?”
“Dimas, Pak. Kakaknya Mas Danang. Dia tidak banyak bicara, tapi dia meminta mereka mendengarkan Raras.”
“Catat namanya, Bu,” kata Aditya pada Retno. “Orang yang tidak ikut menginjak orang lain perlu diingat.”
“Bapak punya satu pertanyaan lagi.” Aditya menoleh pada Retno. “Bu, mana suratnya?”
Retno mengambil map cokelat dari meja kecil dan menyerahkannya. Aditya membuka halaman pertama, membaca sekilas, lalu membalik ke halaman kedua. Ia membaca kalimat pertama dengan bibir yang mengatup rapat. Cahaya matahari subuh masuk dari sela-sela tiang, jatuh tepat di atas kertas itu.
Aditya membaca kalimat tersebut sekali lagi. Jari telunjuknya berhenti tepat di bawah baris pertama. Ia tidak langsung bicara, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah memahami maksudnya. Raras duduk diam di hadapannya. Ia sudah membaca kalimat itu berkali-kali, tetapi melihat ayahnya membacanya membuat dadanya kembali sesak.
Aditya meletakkan salinan surat itu di atas meja, di depan Raras, dengan gerakan sangat pelan. Kertasnya tidak berbunyi. Tetapi seluruh pendapa terasa menahan napas.
“Kalimat ini tidak sesuai kenyataan,” kata Aditya. “Kamu sudah tanda tangan?”
lanjuut
🙏💪