Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 Nasib Derita Istri Pekerja Kuli Bangunan
Langkah kaki burhan terasa kian berat saat menyusuri gang sempit menuju rumah kontrakan mereka.
Bayangan ibu kontrakan yang tadi pagi mengingatkan soal uang sewa bulan ini terus membayangi pikirannya.
Walau sudah dibayar separuh nya oleh hasil kerja kuli bangunan waktu pengecoran yang bayaran nya kontanan dan malam hari mencari rongsokan sebagai pemulung.
Di ambang pintu, Anisa menyambutnya dengan senyuman hangat, meski matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah. burhan berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya, meletakkan helm kusam di atas meja kayu.
"Sudah pulang, Mas? Gimana pekerjaan hari ini?" tanya Anisa lembut sambil mengangsurkan segelas air putih.
Burhan meminumnya cepat, meneguk habis rasa dahaganya. Ia menghela napas panjang lalu menatap istrinya dengan tatapan bersalah.
"Belum ada kejelasan, dari mandor setelah tahap pengecoran itu selesai bahwa bisa lanjut atau tidak pekerjaan itu , nanti malam dikasih tau katanya.
Anisa duduk di samping burhanmengusap lembut punggung suaminya. "Mas sudah berusaha seharian. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, ya."
" uang semalam sudah saya bayarkan mas kepada ibu yang punya kontrakan" ucap Nisa kepada Burhan,
" ya udah syukur lah masih bisa kita gak jadi diusir " jawab Burhan kepada Anisa.
"Bagaimana kalau Mas coba hubungi Bang Hendra lagi? Siapa tahu dia ada pekerjaan sampingan buat Mas?" usul Anisa pelan.
burhan menggeleng lelah. "Tadi siang Mas sudah ketemu Bang Hendra di pangkalan. Ojek Dia sendiri lagi pusing karena anaknya sakit, Nisa Mas benar-benar merasa gagal jadi suami..."
"Jangan bicara begitu, Mas!" potong Anisa cepat. Matanya menatap burhan penuh ketegasan dan kesetiaan. "Kita hadapi ini sama-sama. Anisa juga bisa coba tawarkan jasa cuci gosok ke tetangga sebelah."
"Mas tidak mau kamu terlalu capek, Nisa. Tugas Mas yang harus mencukupi kebutuhan rumah tangga ini," tegas burhan tak tega.
Anisa tersenyum tipis. Tangan kanannya meraih tangan burhan dan menggenggamnya erat. "Pernikahan itu kan saling menopang, Mas. Bukan cuma beban Mas seorang."
Keduanya terdiam dalam hening malam. Beban finansial yang menghimpit terasa begitu nyata, membuat udara di ruangan kecil itu terasa kian sesak. Burhan menyandarkan kepalanya ke dinding, terus memutar otak mencari solusi bayar kontrakan yang masih kurang dan untuk kelanjutan kebutuhan sehari-hari.
Di tengah keheningan itu, Anisa tiba-tiba berdeham pelan. Wajahnya yang semula murung perlahan berubah, ada rona merah pudar dan kecanggungan yang tak biasa di matanya.
"Mas..." panggil Anisa halus.
"Iya, Sa?" jawab burhan tanpa mengubah posisinya.
"Sebenarnya... ada hal lain yang mau Anisa omongkan dari tadi sore."
Burhan menoleh, menatap wajah istrinya. "Ada apa? Kamu sakit? Dari kemarin Mas lihat kamu agak pucat dan sering mual."
Anisa menggeleng pelan. Tangan kirinya bergerak ke dalam saku daster sederhananya, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang dan meletakkannya di atas pangkuan burhan
burhan mengerutkan dahi. Ia mengambil benda itu sebuah test pack plastic putih dengan dua garis merah yang terpampang sangat jelas.
Mata Burhan membelalak. Ia menatap garis merah itu, lalu beralih menatap Anisa dengan napas yang tertahan.
"Sa... ini... ini beneran?" suara burhan gemetar hebat.
Anisa mengangguk slowly, air mata kebahagiaan mulai menetes di pipinya. "Tadi siang Anisa ke puskesmas karena pusingnya tidak hilang-hilang. Bidan sudah memeriksa Anisa, Mas. Katanya... usia kandungannya sudah masuk empat minggu."
Burhan terpaku sejenak. Rasa terkejut, haru, dan gembira membuncah hebat melingkupi dadanya, meleburkan rasa lelah dan pusing yang sejak tadi menyiksanya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mendekap Anisa erat-erat.
"Alhamdulillah... Ya Allah... Alhamdulillah, Sa!" bisik Burhan penuh rasa syukur di selipan rambut istrinya. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan.
Anisa menangis sesenggukan di dada Burhan "Maaf ya, Mas... Di saat keadaan kita lagi sulit seperti ini, Allah justru menitipkan kepercayaan ini."
Burhan melepas pelukannya pelan-pelan, lalu memegang kedua bahu Anisa. Matanya menatap tajam namun penuh kehangatan.
"Kenapa harus minta maaf, Sa? Ini bukan beban, ini rezeki paling indah yang Allah kasih buat kita! Anak ini adalah berkah," ucap Burhan. mantap, mengusap air mata di pipi Anisa.
"Tapi... kontrakan kita gimana, Mas? Nanti biaya periksa kandungan, biaya melahirkan..." Anisa menunduk, ada rasa khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Dengar Mas, Sa," kata Burhan sambil mengangkat dagu istrinya lembut. "Kalau Allah sudah menitipkan nyawa di dalam kandunganmu, Allah juga pasti sudah menyiapkan rezekinya. Mas janji, Mas bakal kerja lebih keras lagi. Besok Mas akan nemuin mandor Pak Dudung, bicara jujur apa adanya. Mas yakin beliau punya rasa kemanusiaan untuk memberi mas kerjaan
"Anisa percaya sama Mas," balas Anisa lirih. "Anisa bakal jaga kandungan ini baik-baik."
"Terima kasih ya, Sa. Terima kasih sudah menjadi istri yang hebat," ucap Burhan penuh ketulusan, lalu mencium dahi Anisa lama.
Malam itu, beban hidup mereka memang belum sepenuhnya terangkat. Uang sewa kontrakan masih harus dicari solusinya besok pagi. Namun, hadirnya calon buah hati di tengah-tengah kesederhanaan memberi mereka dorongan harapan dan semangat baru yang tak ternilai harganya untuk terus berjuang bersama.