Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di atas meja itu terdapat sebuah kotak kaca yang berisi sebuah buku kuno dengan sampul kulit berwarna cokelat.
"Ini adalah buku pedoman medis kuno peninggalan Dinasti Ming yang ditemukan di sebuah kuil rahasia."
Pria di atas panggung itu mulai menjelaskan nilai sejarah dari barang tersebut dengan sangat meyakinkan.
"Harga penawaran awal dibuka dari angka lima ratus juta rupiah."
Orang-orang kaya di ruangan itu mulai berbisik-bisik dan mengangkat papan angka mereka satu per satu.
"Tujuh ratus juta."
"Satu miliar."
Angka penawaran terus naik dengan sangat gila-gilaan hanya dalam hitungan menit.
Astiana menatap buku kuno di dalam kotak kaca itu dengan pandangan menyipit.
"Ada yang aneh dengan buku itu."
Astiana bergumam pelan namun masih bisa didengar oleh Raka yang berdiri di sebelahnya.
"Aneh apanya, itu barang antik bernilai tinggi yang diincar oleh banyak kolektor."
Raka menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung.
"Buku itu palsu, Tuan Muda Raka."
Astiana berbicara dengan nada yang sangat yakin dan tegas.
Raka langsung menoleh menatap Astiana dengan tatapan terkejut.
"Jangan gila, penyelenggara lelang ini adalah PT Bintang Zamrud."
"Mereka tidak mungkin berani menipu para konglomerat dengan barang palsu di acara resmi seperti ini."
Raka mencoba memperingatkan Astiana agar tidak ikut campur dalam urusan yang bukan urusannya.
"Aku tidak peduli siapa mereka, tapi buku itu benar-benar barang tiruan murahan."
Astiana melepaskan gandengan tangannya dari lengan Raka.
Dia melangkah maju menembus kerumunan orang-orang kaya yang sedang sibuk menawar harga.
"Tiga miliar rupiah."
Seorang pria gendut berkumis tebal mengangkat papannya dengan wajah sangat bangga.
"Tiga miliar satu kali, dua kali..."
Pelelang di atas panggung bersiap mengetukkan palunya.
"Tunggu."
Suara lantang Astiana memecah keheningan yang tercipta di dalam ruangan besar tersebut.
Semua mata langsung tertuju pada gadis cantik bergaun zamrud yang berdiri di tengah barisan depan.
Pria pelelang itu mengerutkan keningnya merasa terganggu dengan interupsi tersebut.
"Ada apa, Nona, apakah Anda ingin menaikkan harga penawaran."
"Tidak, saya hanya ingin menyelamatkan uang tiga miliar milik bapak di sebelah sana."
Astiana menunjuk ke arah pria gendut yang tadi memberikan penawaran tertinggi.
Suasana ruangan langsung berubah menjadi riuh oleh bisikan para tamu yang kebingungan.
Raka yang berdiri di belakang meremas wajahnya dengan satu tangan merasa sangat panik.
"Mati aku, gadis ini benar-benar gila mencari masalah di kandang singa."
Suara hati Raka berteriak ketakutan membayangkan pembalasan dari Keluarga Adibrata.
"Apa maksud Anda, Nona muda."
Pria pelelang itu mulai menaikkan nada suaranya merasa harga dirinya dilecehkan.
"Buku yang ada di dalam kotak kaca itu adalah barang palsu yang baru dibuat kurang dari sebulan yang lalu."
Astiana berjalan mendekati panggung dengan langkah yang sangat tenang tanpa rasa takut sedikit pun.
"Lancang sekali."
Dua orang penjaga bertubuh besar langsung maju berniat menangkap lengan Astiana.
Namun Astiana hanya menggeser bahunya sedikit untuk menghindari tangkapan tersebut.
Sret.
Dengan gerakan yang sangat halus, Astiana menepuk pergelangan tangan penjaga pertama di titik saraf tertentu.
Bruk.
Tangan penjaga itu langsung lemas dan jatuh terkulai ke bawah tanpa bisa digerakkan.
Penjaga kedua yang terkejut mencoba menendang kaki Astiana dari arah bawah.
Namun kaki Astiana jauh lebih cepat mengunci lutut penjaga itu dan memelintirnya dengan sangat ringan.
Krak.
Penjaga kedua langsung berlutut di lantai sambil meringis menahan sakit yang luar biasa.
Semua tamu undangan menahan nafas melihat dua penjaga elit dikalahkan hanya dalam hitungan detik.
"Gadis ini dari keluarga mana, ilmu bela dirinya sangat tinggi."
"Dia melumpuhkan penjaga bayaran Bintang Zamrud tanpa merusak gaunnya sedikit pun."
Suara hati orang-orang di ruangan itu dipenuhi oleh rasa takjub dan ketakutan secara bersamaan.
Pria pelelang di atas panggung menelan ludahnya mundur satu langkah karena mulai merasa terancam.
"Kertas sampul buku itu direndam dengan teh hitam pekat agar terlihat cokelat dan usang."
Astiana menunjuk ke arah kotak kaca itu sambil terus menjelaskan kebohongan mereka.
"Dan jika kalian melihat jilid di bagian pinggirnya, itu menggunakan benang nilon sintetis yang baru ada di era modern."
"Tidak ada buku pedoman medis dari Dinasti Ming yang dijilid menggunakan benang plastik pabrik."
Pria gendut yang tadi menawar tiga miliar langsung berlari mendekati panggung untuk melihat lebih dekat.
Dia mengeluarkan kacamata pembesarnya dan meneliti bagian pinggir buku tersebut.
"Sialan, gadis ini benar."
Pria gendut itu berteriak marah ke arah pria pelelang.
"Benang jilidnya benar-benar terbuat dari nilon plastik yang mengkilap."
"PT Bintang Zamrud ternyata berniat menipu kita semua malam ini."
Suasana ruangan langsung meledak menjadi lautan kemarahan dari para tamu undangan lainnya.
Mereka merasa dilecehkan karena perusahaan besar ini mencoba menjual barang palsu pada mereka.
Pria pelelang itu pucat pasi dan tidak bisa berkata-kata lagi untuk membela diri.
Raka yang melihat kekacauan itu dari jauh hanya bisa tersenyum masam.
"Gadis ini benar-benar tidak kenal rasa takut, dia baru saja menghancurkan reputasi perusahaan mafia."
Suara hati Raka kini bukan lagi ketakutan melainkan rasa kagum yang mutlak.
Di tengah keributan yang semakin memanas itu, terdengar suara tepukan tangan tunggal yang sangat lambat dari lantai dua.
Prok. Prok. Prok.
Semua orang langsung terdiam dan menoleh ke atas balkon VIP yang berada di lantai dua aula tersebut.
Seorang pria paruh baya berkacamata hitam berdiri bersandar di pagar balkon sambil menatap Astiana ke bawah.
Pria itu memakai setelan jas hitam pekat dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Saat tangan kanannya memegang pagar balkon, lampu kristal memantulkan cahaya dari sebuah cincin perak di jari telunjuknya.
Cincin dengan ukiran burung elang dan ular yang sedang saling melilit.
"Kejelian yang sangat luar biasa, Nona muda."
Pria berkacamata hitam itu berbicara dengan suara yang berat dan menggema di seluruh ruangan.
"Saya meminta maaf atas kelalaian anak buah saya yang salah memasukkan barang pajangan ke dalam daftar lelang."
Astiana menatap pria di atas balkon itu dengan mata yang sedikit menyipit.
"Itu Tuan Kusuma."
Astiana bergumam pelan di dalam hatinya sambil mengunci pandangannya pada cincin perak tersebut.
"Siapa nama Anda, Nona, dan dari keluarga mana Anda berasal."
Tuan Kusuma bertanya dari atas balkon dengan nada yang terdengar seperti sebuah interogasi halus.
Astiana tidak langsung menjawab dan hanya membalas tatapan pria itu dengan wajah datarnya.
Raka segera menerobos kerumunan dan berdiri di sebelah Astiana untuk melindunginya.
"Dia adalah tamu istimewa dari Keluarga Darma, Tuan Kusuma."
Raka menjawab dengan suara lantang mewakili Astiana.
"Oh, jadi Anda adalah Tuan Muda Raka dari Keluarga Darma."
Tuan Kusuma tersenyum miring namun tidak ada sedikit pun kehangatan dari senyumannya itu.
"Keluarga Anda baru saja mengirimkan salam perkenalan yang sangat berkesan pada perusahaan saya malam ini."
Ancaman terselubung di dalam kalimat Tuan Kusuma itu sangat jelas terdengar di telinga semua orang.
Namun Astiana mengabaikan ancaman itu dan memfokuskan pendengarannya pada isi kepala Tuan Kusuma.
"Ternyata Keluarga Darma menampung gadis petarung yang merepotkan."
Suara hati Tuan Kusuma terdengar sangat dingin dan penuh perhitungan.
"Tapi tidak apa-apa, Nyonya Besar pasti akan senang jika aku membawa gadis ini hidup-hidup padanya."
Deg.
Jantung Astiana berdetak satu ketukan lebih cepat mendengar kata Nyonya Besar dari dalam pikiran pria itu.
Apakah Nyonya Besar yang dimaksud adalah wanita yang berada di dalam mobil sedan hitam kemarin sore.
Teka-teki ini semakin mendekati titik terangnya.
"Maafkan kami jika kehadiran kami merusak pesta Anda, Tuan Kusuma."
Astiana akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat tenang dan berani.
"Kami permisi pulang sekarang karena pertunjukannya sudah selesai."
Astiana menarik lengan Raka dan mengajaknya berbalik menjauhi panggung lelang tersebut.
Mereka berjalan keluar dari aula tanpa ada satu pun penjaga yang berani mencegah langkah mereka.
Tuan Kusuma hanya menatap punggung Astiana dari atas balkon dengan seringai licik di wajahnya.
Fase perkenalan telah berakhir, dan kini perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣