Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Sahabat
Laras menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Sesekali, ia merapikan baju yang ia pakai sambil memastikan tas kecil di tangannya tidak tertinggal. Wajahnya tampak bersemangat, seolah tidak sabar untuk segera bertemu seseorang.
Robby yang tengah duduk santai di ruang keluarga langsung menoleh saat melihat istrinya datang dari arah tangga. Keningnya berkerut heran, menyadari Laras sudah bersiap untuk pergi.
“Sayang, kamu mau ke mana?” tanyanya.
Laras menghentikan langkah sejenak, lalu menoleh ke arah suaminya. "Mas. Aku mau bertemu Salsa. Dia baru pulang dari luar negeri."
"Salsa?" Robby mengulang nama itu dengan dahi berkerut, seolah sedang memastikan jika ia tidak salah dengar.
"Iya, Mas." Laras mengangguk mantap. "Sudah lama kami tidak bertemu. Aku ingin mengobrol dengannya."
Robby terdiam sesaat. Sebenarnya, ia kurang menyukai kedekatan Laras dengan Salsa. Bukan tanpa alasan, wanita itu memiliki sikap yang tidak jauh berbeda dari Soraya, yang selama ini selalu memandangnya sebelah mata.
Robby khawatir pertemuan itu justru akan membuat Laras terpengaruh oleh perkataan orang-orang yang tidak menyukainya. Tapi, ia juga tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk melarang istrinya bertemu dengan sahabatnya sendiri. Terlebih lagi, Salsa baru saja pulang dari luar negeri.
Pada akhirnya, Robby menghembuskan napas pelan, lalu kembali memasang senyum di wajahnya.
"Ya sudah. Kamu hati-hati, ya, Sayang. Jangan pulang terlalu malam."
Laras mengangguk kecil. "iya, Mas."
Setelah itu, ia mengalihkan pandangan ke arah ruang tengah, di mana Bara sedang bersama Maya. Bayi mungil itu tampak asyik dengan mengangkat tangannya, mencoba meraih mainan dari tangan Maya.
Laras tersenyum hangat. Ia menghampiri putranya, kemudian berjongkok agar bisa menatap wajah mungil itu dari dekat.
"Mama pergi dulu, ya, Sayang. Kamu baik-baik di rumah, jangan nakal," ucapnya lembut. Lalu, Laras mengecup keningnya cukup lama sebelum akhirnya kembali berdiri dan, beralih menatap Maya.
"Tolong jaga Bara baik-baik, ya, May."
"Baik, Nyonya," jawab Maya sopan.
Laras tersenyum tipis sebagai balasan. Setelah memastikan Bara kembali asyik bermain, ia berbalik dan berniat segera menuju pintu utama.
Tapi, baru beberapa langkah, suara seseorang terdengar dari arah belakang.
"Wah, wah, wah! Katanya kalau libur mau menghabiskan waktu bersama Bara. Ternyata cuma omong kosong belaka!"
Langkah Laras seketika terhenti.
Ia memejamkan mata sesaat, berusaha mengendalikan emosinya sebelum berbalik, menatap Diah, yang berdiri tidak jauh darinya, dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Tatapan wanita paruh baya itu menyapu penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang mencari-cari kesalahan yang bisa dijadikan bahan sindiran.
Laras mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini, tetapi ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya.
"Bu, aku cuma keluar sebentar karena ada urusan," jawabnya, berusaha menjelaskan tanpa memperpanjang masalah.
"Cih!" Diah mendengus sinis. "Urusan apa di hari libur begini, hah? Bilang saja kalau kamu mau kelayapan! Baru juga sebentar di rumah, sudah sibuk mau pergi."
Laras terdiam. Rahangnya mengeras, menahan kalimat tajam yang nyaris meluncur dari bibirnya.
Sebenarnya, ia sudah berusaha meluangkan waktu untuk Bara. Tapi, bukan berarti ia tidak boleh memiliki kehidupan di luar rumah atau bertemu dengan orang-orang yang ia rindukan.
Sayangnya, apa pun yang ia lakukan seolah selalu salah di mata ibu mertuanya itu.
Jika ia pergi bekerja, Diah akan menyindirnya karena dianggap tidak becus mengurus rumah tangga. Jika ia berada di rumah, wanita itu tetap saja mencari-cari alasan untuk merendahkannya.
Dan sekarang, bahkan keputusannya untuk menemui sahabatnya pun kembali dipermasalahkan.
Laras menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Saat itulah ia semakin menyadari alasan mengapa sejak tadi dirinya begitu ingin segera pergi. Ia tidak sanggup jika harus menghabiskan sepanjang hari di bawah satu atap dengan Diah, dan mendengarkan sindiran demi sindiran yang tidak ada habisnya.
Daripada membuang tenaga untuk berdebat, lebih baik ia segera pergi.
"Aku pergi dulu, Bu," ucap Laras akhirnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan.
Tanpa menunggu jawaban, ia segera berbalik, melangkah menuju pintu utama.
"Laras! Kamu itu kalau diajak bicara sama orang tua, dengarkan dulu! Jangan seenaknya pergi begitu saja!" teriak Diah dari belakang.
Tapi, Laras tidak lagi menoleh. Ia terus melangkah hingga akhirnya keluar dari rumah itu, membiarkan suara omelan ibu mertuanya perlahan menjauh.
Begitu tiba di luar, Laras menghembuskan napas lega. Setidaknya, untuk sementara waktu, ia bisa terbebas dari suasana rumah yang selalu membuat dadanya sesak.
Ia meraih ponselnya, memeriksa pesan dari Salsa, lalu tersenyum tipis.
Pertemuan ini datang pada waktu yang tepat. Hari ini, Laras hanya ingin menikmati waktu bersama sahabatnya tanpa harus memikirkan segala masalah yang menunggunya di rumah.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti