Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sukma di Dalam Kristal
"Ha... hantu!"
Satrio berbalik dan melompat ke ubin polos terdekat, lalu ke ubin polos berikutnya, tanpa peduli nyeri di lututnya. Sambil melompat, ia mengibaskan tangan kanannya sekuat tenaga.
"Lepas! Lepas!"
Kristal itu tetap menempel di telapak tangannya. Satrio menepukkan telapak itu ke paha dan mengibaskannya lagi ke kanan dan ke kiri, namun kristal itu tidak bergeser sedikit pun. Ia mencoba mencungkil pinggirannya dengan kuku ibu jari kiri, tapi kulit telapak tangannya malah ikut tertarik.
"Aduh, aduh!"
Ia berhenti di depan dua ubin berukir yang tadi ia lompati. Lutut kanannya gemetar, dan kalau ia melompat lagi, lutut itu pasti tidak kuat menahan tubuhnya.
"Berhenti mengibaskan tanganmu, bocah. Kepalaku pusing."
Suara itu terdengar lagi di dalam kepalanya. Satrio tersentak dan mundur selangkah sampai punggungnya membentur tugu.
"Kepala?" Suaranya parau. "Hantu punya kepala?"
"Hantu?" Suara itu meninggi. "Kau sebut aku hantu?"
Udara di depan Satrio bergelombang, kemudian dari gelombang itu muncul seorang lelaki tua berjubah merah. Janggutnya putih dan panjang sampai ke dada, alisnya tebal, dan keriput memenuhi wajahnya. Tubuhnya tembus pandang, sampai lewat dada lelaki tua itu Satrio masih bisa melihat kaki tangga di seberang ruangan.
Satrio terbelalak, dan punggungnya makin rapat ke tugu. Tangan kirinya meraba pinggang dan mencabut keris kecil dari balik ikat pinggang. Ujung keris itu ia todongkan ke depan, gemetar ke kanan dan ke kiri.
Lelaki tua itu berdiri di atas ubin berukir lidah api, tapi tidak ada api yang menyembur dari lantai.
"Ribuan tahun aku menunggu," dengusnya, "dan yang membangunkanku malah bocah yang memanggilku hantu." Ia melirik keris di tangan Satrio. "Mau kau apakan aku dengan pisau dapur itu?"
Satrio melirik kerisnya sendiri, lalu menurunkannya sedikit demi sedikit dan menyelipkannya kembali ke balik ikat pinggang.
"Ka... kalau begitu, Mbah ini siapa?"
"Mbah?" Alis tebal itu bertaut. "Aku bukan dukun kampung. Panggil aku Eyang."
"Eyang siapa?"
"Eyang saja. Yang berdiri di depanmu ini cuma sisa jiwa yang tertinggal di batu itu."
Satrio melirik kristal di telapak tangannya, kemudian kembali memandangi sosok di depannya.
'Sisa jiwa,' batinnya. 'Berarti tetap saja hantu.'
"Aku dengar itu," kata Eyang.
Satrio melongo. "Eyang bisa mendengar isi kepalaku?"
"Aku tinggal di batu yang menempel di tanganmu. Tentu saja aku dengar."
Satrio mengatupkan bibir dan berusaha tidak memikirkan apa-apa, namun matanya malah jatuh pada janggut putih yang menjuntai sampai ke dada itu.
'Mirip sapu ijuk,' batinnya.
"Itu juga aku dengar."
Eyang melangkah mendekat dan memandangi Satrio dari ujung kepala sampai ujung kaki, kemudian menekankan telunjuknya ke dada Satrio. Jari itu tidak menyentuh apa pun, tapi dada Satrio langsung panas.
"Ugh!"
Satrio terbungkuk sambil mencengkeram bajunya.
"Tubuhmu lembek. Tulangmu ringan," kata Eyang. "Cakramu juga sesempit lubang jarum. Ranahmu apa?"
"Olah Napas."
"Olah Napas." Eyang tertawa pendek. "Di padepokanku dulu, bocah Olah Napas belum boleh memegang sapu." Matanya beralih ke lengan Satrio yang melepuh. "Kau juga menginjak ubin lidah api, ya? Jebakan setua itu masih saja makan korban. Siapa namamu?"
"Satrio."
"Satrio?" Eyang terkekeh. "Nama kesatria untuk tubuh selembek ini?"
Satrio menggertakkan gigi. "Kalau cuma mau menghina, kembali saja ke dalam batu."
Eyang tidak membalas. Matanya turun ke telapak tangan Satrio, ke darah kering di sekeliling kristal. Kerutan di keningnya bertambah, dan suaranya merendah.
"Siapa orang tuamu, bocah?"
"Aku tidak tahu. Aku dibawa ke padepokan ini waktu masih bayi."
"Dibawa siapa?"
"Guru tidak pernah cerita."
Eyang memandangi wajah Satrio cukup lama. "Batu itu tidak bangun oleh sembarang darah."
"Lalu oleh darah siapa?"
"Itu yang sedang kutanyakan padamu."
"Eyang pasti tahu sesuatu."
"Bukan sekarang." Tubuh Eyang sempat memudar sesaat sebelum utuh kembali. "Aku baru bangun. Jangan buat aku banyak bicara."
"Kalau begitu, kenapa Eyang tinggal di dalam batu?"
Eyang memalingkan wajah ke arah dinding, ke ukiran lingkaran besar dengan sepuluh lambang di sekelilingnya, dan beberapa saat ia tidak bicara.
"Karena dulu ada pekerjaan yang tidak sempat kuselesaikan," katanya.
Sebelum Satrio sempat bertanya lagi, Eyang menoleh ke arah tangga. "Ada yang turun."
Cahaya kuning muncul di anak tangga terbawah, disusul langkah kaki dan batuk yang tertahan.
"Satrio!"
Ki Arya muncul di kaki tangga dengan pelita di tangan. Napasnya tersengal-sengal, dan ujung jubahnya kotor oleh debu. Begitu matanya jatuh pada kristal yang menyala di telapak tangan Satrio, pelita di tangannya hampir terlepas, dan wajahnya langsung pucat.
"Kau..."
Ki Arya tidak melanjutkan kata-katanya. Ia berjalan cepat melintasi ruangan, dari satu ubin polos ke ubin polos berikutnya, tanpa sekali pun melihat ke lantai. Dua ubin berukir di depan tugu ia lewati dengan satu langkah panjang.
Ia meletakkan pelita di lantai, lalu mencengkeram pergelangan tangan kanan Satrio. Matanya berpindah dari lengan yang melepuh ke kristal di telapak tangan muridnya.
"Apa yang kau lakukan?" desisnya. "Papan pendopo kau biarkan menganga. Kalau yang lewat tadi Pradipta, habis kita."
"Aku jatuh dari tangga, Guru. Tanganku berdarah, darahnya kena batu ini, terus batu ini terbang ke tanganku."
Ki Arya mengulurkan jari ke arah kristal itu. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaannya, ia buru-buru menarik tangannya kembali.
"Ssh!"
Ujung jari Ki Arya memerah. Satrio melongo, karena di telapak tangannya sendiri kristal itu hanya terasa hangat.
"Kenapa Guru kepanasan, sedangkan aku tidak?"
Ki Arya tidak menjawab.
Eyang membungkuk di belakang bahu Ki Arya dan memperhatikan orang tua itu dengan seksama. "Gurumu ini cakranya bocor, seperti tempayan retak."
"Jangan menghina guruku!" seru Satrio.
Ki Arya mengerutkan kening. "Siapa yang menghina?"
Satrio melirik Eyang, yang kini berdiri tepat di samping Ki Arya sambil mengelus janggut. Ki Arya sama sekali tidak menoleh ke sana.
"Ti... tidak ada, Guru. Kepalaku masih pusing."
Ki Arya memandanginya sebentar, kemudian matanya turun ke pinggang Satrio, ke keris kecil yang terselip di balik ikat pinggang.
'Guru melirik kerisku lagi,' batin Satrio. 'Sama seperti malam itu di bilikku.'
"Benda di tanganmu itu Kristal Geni," kata Ki Arya. "Pecahan cincin yang diminta Kala Ireng."
Satrio terbelalak. "Jadi selama ini pecahannya ada di bawah pendopo?"
Ki Arya mengangguk.
"Ambil saja, Guru. Aku tidak bisa melepasnya."
"Dia sudah mencoba," sela Eyang. "Sambil melompat-lompat seperti kera kepanasan."
Satrio menggigit bibir supaya tidak menjawab.
Ki Arya memandangi kristal yang menempel di telapak tangan muridnya, dan suaranya merendah. "Kalau benda itu diserahkan, kau ikut diserahkan."
Wajah Satrio memucat. Tangan Ki Arya yang masih mencengkeram pergelangannya ikut gemetar.
Ki Arya merobek ujung jubahnya yang sudah pudar dan membalutkan kain itu ke telapak tangan Satrio sampai kristal di sana tertutup rapat.
"Jangan buka balutan ini di depan siapa pun," katanya. "Gandung juga."
"Gandung juga, Guru? Dia saudaraku sendiri."
"Justru itu. Orang yang tidak tahu apa-apa tidak bisa dipaksa bicara."
Satrio terdiam, dan tangan kirinya mengepal di sisi tubuh.
"Lalu bagaimana dengan Kala Ireng, Guru?"
"Itu urusanku." Ki Arya memungut pelitanya lagi. "Naik dan obati lukamu."
Ki Arya berbalik dan kembali menyusuri ubin-ubin polos tanpa ragu. Di kaki tangga ia terbatuk dan menekan dada dengan punggung tangannya, lalu naik tanpa menoleh.
Eyang memandangi punggung orang tua itu sampai cahaya pelitanya hilang di atas.
"Gurumu tahu lebih banyak daripada yang ia katakan," gumamnya.
"Eyang juga," balas Satrio.
Eyang mendengus. Tubuhnya yang tembus pandang buyar dan tertarik masuk ke balik balutan kain, dan cahaya kristal di sana meredup.
"Naik sana," suaranya terdengar lagi di kepala Satrio. "Bau gosongmu mengganggu."
Satrio mengendus lengan bajunya yang hangus dan meringis.
***
"...dan murid itu terus bangun, Guru Besar. Sudah tiga kali kuhajar, tapi dia tetap berdiri."
Bargowo berlutut di lantai batu hitam dengan kepala tertunduk. Ruangan itu tidak berjendela, dan satu-satunya cahaya berasal dari pelita kecil di sudut. Keringat menetes dari pelipis Bargowo, padahal udara di sana dingin.
"Tapi apinya kecil, Guru Besar," lanjutnya. "Tidak cukup untuk merebus air."
"Aku menyuruhmu mengetuk pintu," kata sebuah suara yang tenang. "Bukan menghitung berapa kali bocah itu bangun."
Mulut Bargowo terkatup rapat.
Pemilik suara itu, Mahesa Kalandra, duduk bersila di balik meja batu yang rendah. Rambutnya yang mulai beruban disisir licin ke belakang, dan jemarinya yang panjang bertumpu di lutut. Sejak Bargowo masuk, ia bicara tanpa sekali pun membuka mata.
Di atas meja itu ada sebuah cawan perunggu berisi dua kristal, satu hitam pekat dan satu lagi hijau tua.
Ting.
Bargowo mengangkat kepala sedikit dan menahan napas.
Kristal hitam itu bergetar dan membentur dinding cawan, dan kristal hijau di sebelahnya ikut berguncang. Ting. Ting. Bunyinya makin rapat, sampai akhirnya kedua kristal itu bergeser sejari, sama-sama ke arah timur.
Mata Mahesa terbuka.
"Timur," katanya pelan. "Geni Wening."
Bargowo menegakkan punggung dan menyeka keringat di pelipisnya. "Guru Besar... orang-orang tua di pasar bilang, pecahan cincin bisa memilih tuannya sendiri."
"Orang-orang tua di pasar juga bilang gerhana terjadi karena bulan dimakan raksasa." Mahesa mengambil kristal hitam itu dari cawan, dan begitu berada di genggamannya, kristal itu langsung diam. "Cincin itu alat, Bargowo. Siapa yang memegangnya, dialah tuannya."
"Ba... baik, Guru Besar."
"Kirim dua orang ke Geni Wening. Awasi padepokan itu siang dan malam."
Bargowo membungkuk sampai keningnya hampir menyentuh lantai.
Mahesa meletakkan kristal hitam itu kembali ke dalam cawan. Kristal hijau di sebelahnya masih berguncang kecil, dan ujungnya tetap menghadap ke timur.
"Pecahan Geni Wening baru saja bangun," katanya. "Aku ingin tahu siapa yang membangunkannya."