Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Kepulangan Yang Disambut Badai Dan Ancaman Baru
Liburan privat di pulau perairan Mediterania yang dipenuhi oleh deburan ombak tenang, pasir putih, serta kacamata hiu dan pelampung bebek akhirnya harus ditutup dengan lembaran kenangan yang manis.
Dua minggu berlalu begitu cepat. Pesawat jet pribadi berbadan lebar milik jaringan Blackwood mendarat mulus di landasan pacu bandara internasional ibu kota tepat pukul sembilan pagi. Langit ibu kota tampak mendung, seolah menyambut kepulangan sang penguasa dunia bawah tanah dengan atmosfer ketegangan yang kelabu.
Aira melangkah turun dari tangga pesawat mengenakan setelan blazer elegan berwarna abu-abu arang, memancarkan aura seorang Chief Executive Advisor yang sangat berwibawa. Di sampingnya, Gabriel berjalan tegap dalam balutan mantel panjang hitam khas seorang pemimpin korporasi multinasional, meski tangannya tidak pernah lepas menggenggam jemari Aira erat-erat.
"Selamat datang kembali, Tuan, Nyonya," sambut Felix yang sudah menunggu di samping pintu mobil Limousine antipeluru dengan postur tegak sempurna.
Gabriel mengangguk singkat, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya. Begitu mereka berdua duduk di kursi belakang yang luas, Gabriel langsung merosotkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di bahu Aira dengan manja.
"Sayang... rasanya baru kemarin kita di pantai pakai pelampung bebek, sekarang sudah harus balik ke dunia kantor yang membosankan," keluh Gabriel dengan suara manja berlebihan, menggosok-gosokkan kepalanya di lengan Aira.
Aira menahan senyum, lalu mencubit gemas hidung suaminya. "Hei, ingat posisimu, Tuan Ketua Mafia. Di luar sana puluhan anak buahmu sedang melihat ke arah mobil ini."
"Biar saja! Biar mereka tahu kalau Dark Lord mereka ini adalah suami yang sangat penurut pada istrinya," jawab Gabriel tanpa rasa malu sedikit pun, justru mempererat pelukannya di pinggang Aira.
Felix yang duduk di kursi depan pengemudi hanya bisa mengelus dada sambil menatap kaca spion tengah, merutuki nasib bosnya yang punya kepribadian ganda ekstrem: kejam dan dingin pada musuh, tapi berubah jadi anak manja di dekat istri.
Setibanya di gedung pencakar langit Blackwood Corp lantai lima puluh, suasana kerja yang biasanya tenang mendadak terasa berbeda. Udara di dalam ruangan eksekutif terasa lebih kaku dan penuh tekanan.
Di atas meja kerja rose gold milik Aira, telah menumpuk beberapa berkas laporan keuangan darurat. Sementara di meja utama Gabriel, tablet taktis menyala merah menyala, menandakan adanya status siaga tinggi.
Felix melangkah masuk membawa secangkir kopi hitam dan secangkir teh chamomile hangat untuk Aira. Wajah tangan kanan itu tampak sangat serius.
"Tuan, Nyonya, ada laporan darurat yang harus segera kita ketahui," lapor Felix tegas sambil membuka tabletnya.
Gabriel mendadak menegakkan tubuhnya. Sifat konyolnya seketika lenyap dalam waktu kurang dari satu detik, digantikan oleh sorot mata setajam elang dan aura intimidasi yang membekukan ruangan. "Katakan."
"Selama dua minggu kita berada di pulau Mediterania, faksi Viper Group yang sempat kail kapalnya kita hancur lebur ternyata tidak bekerja sendirian. Mereka telah bergabung di bawah aliansi baru bernama Scorpion Syndicate," jelas Felix cepat. "Dan target utama mereka bukan lagi sekadar mengambil alih jalur pelabuhan, melainkan... menjatuhkan reputasi hukum Blackwood Corp melalui serangan sanksi korporasi dan penculikan orang-orang terdekat petinggi perusahaan."
Aira mengerutkan dahinya, meletakkan dokumen di tangannya. "Penculikan? Siapa yang mereka incar?"
Sebelum Felix sempat menjawab, layar monitor besar di dinding ruang kerja mendadak menyala otomatis. Sebuah panggilan video terenkripsi masuk tanpa izin dari jaringan luar.
Gabriel menyipitkan matanya tajam. Ia menekan tombol terima pada konsol meja kerjanya.
Layar monitor menampilkan sesosok pria paruh baya dengan parut melintang di pipi kirinya. Ia sedang duduk di sebuah ruangan remang-remang sambil memegang segelas wiski. Pria itu adalah Marcus Vance, pemimpin kejam dari Scorpion Syndicate.
“Halo, Tuan Gabriel Blackwood. Kudengar liburanmu di pulau pribadi sangat menyenangkan?” suara Marcus terdengar parau dan penuh seringai meremehkan dari balik layar. “Sayang sekali, kesenangan itu harus dibayar mahal sekarang.”
Suhu di dalam ruang kerja eksekutif lantai lima puluh itu mendadak turun drastis. Gabriel tidak berbicara sepatah kata pun. Rahangnya mengatup sangat keras, sementara buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram tepi meja kayu mahoni hingga berderit nyaring.
“Kalau kamu ingin istri tercintamu, Aira Anindita, tetap bernapas dengan aman di sisimu...” lanjut Marcus dengan nada mengancam, “...datanglah seorang diri malam ini pukul dua belas ke gudang pelabuhan terbengkalai sektor tujuh. Serahkan seluruh kepemilikan aset Blackwood Corp atas namaku, atau kulihat sendiri bagaimana wanita cantik itu hancur berkeping-keping.”
Brak!
Sebelum Marcus sempat melanjutkan ancamannya, Gabriel bangkit berdiri dengan begitu cepat hingga kursi kerjanya terpelanting ke belakang menabrak dinding kaca.
Sepasang mata cokelat gelap Gabriel berubah menjadi merah menyala penuh amarah yang membara—mode monster pembunuh sesungguhnya telah bangkit sepenuhnya.
"Marcus Vance..." suara Gabriel berdesis rendah, keluar dari tenggorokannya bagaikan raungan iblis neraka yang siap mencabut nyawa. "Dengar baik-baik ucapanku. Karena kamu sudah berani menyebut nama istriku dengan mulut kotor itu... aku pastikan malam ini bukan cuma asetmu yang hilang, tapi aku akan mencabut nyawamu dengan tangan kosong, lalu melemparkan sisa tubuhmu ke laut!"
Klik!
Gabriel memutus sambungan video secara sepihak dengan membanting konsol meja hingga hancur berkeping-keping.
Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi mencekam. Felix menahan napasnya, tahu betul bahwa singa yang sedang tidur lelap baru saja dibangunkan secara paksa dengan cara yang paling salah.
Aira berdiri perlahan dari kursinya. Ia melangkah tenang menghampiri Gabriel yang masih berdiri mematung dengan napas memburu dan tangan bergetar hebat karena menahan amarah yang meledak-ledak.
"Gabriel..." panggil Aira lembut.
Gabriel menoleh cepat. Ketakutan luar biasa tiba-tiba menyergap dada pria itu—bukan takut pada musuh, melainkan ketakutan setengah mati bahwa istrinya akan terluka karena ancaman tadi. Gabriel langsung merengkuh tubuh Aira ke dalam pelukannya dengan sangat erat, seolah-olah ia ingin menyembunyikan istrinya dari seluruh dunia yang kejam.
"Aira... Maafkan aku..." suara Gabriel bergetar hebat, sama sekali tidak ada wibawa seorang ketua mafia di nadanya, yang ada hanyalah kepanikan seorang suami yang ketakutan kehilangan belahan jiwanya. "Aku tidak akan biarkan bajingan itu menyentuhmu! Demi Tuhan, aku akan ratakan seluruh markas mereka malam ini juga!"
Aira membalas pelukan suaminya dengan hangat. Ia mengusap punggung kokoh Gabriel dengan penuh kesabaran, menyalurkan ketenangan ke dalam jiwa pria yang selama ini menjadi pelindungnya.
"Hei... lihat aku, Gabriel," bisik Aira lembut, melepaskan pelukan sebentar untuk menatap langsung ke dalam mata suaminya. "Sejak aku memilih menikah denganmu, aku tahu risiko berjalan di samping seorang Dark Lord. Aku tidak takut pada ancaman mereka."
Aira menggenggam tangan Gabriel yang masih gemetar karena marah, lalu menautkan jemari mereka erat-erat.
"Kita hadapi mereka bersama-sama," lanjut Aira dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan baja. "Kamu bukan cuma bertempur sendirian lagi, Gabriel. Kamu punya aku di sisimu."
Gabriel tertegun menatap ketulusan dan keberanian yang terpancar dari istrinya. Ketegangan di dalam dadanya perlahan mencair, digantikan oleh rasa cinta dan hormat yang teramat besar.
Pria tegap itu menarik napas panjang, lalu mengecup kening Aira. "Baiklah. Kita ratakan mereka malam ini."
Gabriel menoleh tajam ke arah Felix yang masih berdiri siaga. "Felix! Siapkan seluruh pasukan elit garis depan. Pasang mode siaga tempur level maksimum. Malam ini, Scorpion Syndicate akan kita hapus dari peta dunia bawah tanah!"
"Siap, Tuan!" seru Felix tegas dengan mata berbinar penuh kepatuhan.