"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Ampun, Mayor!
Dada Yudhana naik turun kencang. Istilah 'Om-om yang bukan siapa-siapa' yang diucapkan Vina terasa seperti tamparan telak yang membakar harga dirinya sebagai seorang suami dan perwira.
"Vina! Jaga ucapanmu!" sentak Yudhana, suaranya meninggi kaku mencengkeram udara kamar. "Saya ini suami sah kamu! Sampai detik ini, secara hukum negara dan agama, kamu masih berada di bawah tanggungan saya!"
"Suami sah?" Vina tertawa kecil, sebuah tawa getir yang penuh nada ejekan. "Suami sah macam apa yang sejak hari pertama nikah kerjanya cuma pasang muka tembok, ngajak cerai terus, dan bikin hidup saya suntuk di rumah dinas ini? Om jangan lucu deh, bikin perut saya mual sore-sore begini."
Vina menatap Yudhana dengan tatapan menyepelekan yang membuat sang Mayor kehilangan seluruh kendali dirinya.
"Saya tidak butuh uang Om. Saya tidak butuh fasilitas Om. Dan yang paling penting, saya tidak butuh belas kasihan dari laki-laki kaku yang tiap hari kerjanya cuma ngomel dan bikin kepala pusing," sambung Vina tajam tanpa jeda. "Jadi, silakan ambil amplop tebal itu, pakai buat urus surat cerai kita secepatnya!"
Skakmat.
Pukulan telak itu membuat Yudhana terpaku kaku di tempatnya berdiri. Darahnya berdesir panas, membakar sekujur tubuhnya hingga ujung kepala. Ia ingin membentak, ia ingin memegang pundak gadis itu dan mengguncangnya agar sadar diri, namun tenggorokannya mendadak tercekat oleh beban rasa bersalah yang teramat berat—bukan karena masa lalu yang sudah dilupakan Vina, melainkan karena ia menyadari betapa buruknya ia memperlakukan gadis itu selama satu tahun belakangan.
Yudhana menatap amplop berisi lembaran uang belanja yang dikembalikan Vina begitu saja di atas meja kerja, utuh tanpa tersentuh satu rupiah pun.
Amplop putih itu tergeletak sunyi di atas meja, menjadi saksi bisu betapa gagalnya ia sebagai seorang suami yang ingin memberikan perlindungan, dan betapa tak berharganya kekuasaan finansial yang ia banggakan di hadapan seorang gadis panti asuhan yang memilih merangkak dari bawah demi harga dirinya.
"Terserah kamu, Vina," bisik Yudhana parau, suaranya kehilangan seluruh keangkuhannya, menyisakan kepedihan asing yang meremukkan ulu hatinya. "Lakukan sesukamu. Tapi jangan pernah menyesal jika suatu saat kamu kelelahan dan tidak ada tempat untuk pulang."
Vina memutar bola matanya acuh tak acuh. "Tenang saja, Om Tentara. Saya dari kecil sudah terbiasa hidup susah di panti asuhan tanpa pernah diandalkan siapa pun. Hidup tanpa Om justru jauh lebih tenang dan menyenangkan."
Tanpa menunggu balasan dari Yudhana, Vina membalikkan badannya, berjalan santai keluar dari kamar utama meninggalkan sang perwira yang berdiri terpaku sendirian dalam kehancuran batin yang kian pekat.
Yudhana menatap bayangan dirinya di cermin meja rias. Di sana, di balik seragam dinas militer yang gagah dan tanda pangkat melati tiga yang berkilau, berdiri seorang pria yang benar-benar bangkrut secara emosional—kehilangan kendali atas istrinya, kehilangan harga diri di hadapan wibawanya, dan terperangkap dalam lingkaran penyesalan yang tak berujung.
***
Keesokan hari
Malam baru saja merangkak naik ketika rintik hujan gerimis mulai menampar-nampar kaca jendela mobil SUV dinas Mayor Yudhana. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih menyesakkan ketimbang udara dingin di luar sana.
Tanti duduk di kursi penumpang depan dengan raut wajah masam yang sengaja dipamerkan. Bagaimana bisa Tanti sampai berada di dalam mobil dinas seorang perwira tinggi Batalyon malam ini? Jawabannya bermula dari sebuah siasat licik yang disamarkan dalam balutan kepanikan palsu.
Satu jam yang lalu, saat Yudhana baru saja hendak meninggalkan area parkir markas komando selepas jam dinas, Tanti tiba-tiba muncul dari balik pilar gedung. Wanita bergaun merah marun itu mencegat laju kendaraan Yudhana dengan gestur dramatis—kedua tangannya melambai panik, rambut bergelombangnya dibiarkan sedikit basah terkena gerimis, dan wajahnya dipoles ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.
“Mas Yudhana! Tolong aku!” teriak Tanti histeris saat Yudhana membuka kaca jendela mobil.
Dengan napas terengah-engah, Tanti langsung merangsek masuk ke dalam mobil tanpa menunggu izin sang perwira. Ia beralasan bahwa mobil sedan pribadinya tiba-tiba mogok di persimpangan jalan dekat markas, ponselnya mati total karena kehabisan baterai, dan ia merasa diteror oleh seseorang yang tidak dikenal di pinggir jalan raya yang gelap.
Sebagai seorang perwira yang dibesarkan dengan rasa tanggung jawab sosial, Yudhana tentu tidak mungkin meninggalkan seorang kerabat terlantar di tengah jalan dalam kondisi cuaca buruk. Dengan terpaksa dan wajah kaku, Yudhana membiarkan Tanti duduk di sampingnya, berniat mengantarkan wanita itu pulang ke rumah keluarganya di ujung kota.
Namun, begitu mobil SUV dinas itu mulai bergerak membelah kemacetan kota, topeng ketakutan Tanti langsung menguap tak bersisa. Alih-alih merasa lega atau berterima kasih, Tanti justru langsung memanfaatkan momen di dalam kabin tertutup itu untuk melancarkan agendanya yang lain: mendesak Yudhana agar segera menuntaskan gugatan perceraian terhadap Vina.
"Mas Yudhana, sampai kapan kita harus menunggu?" desak Tanti tanpa henti, nada suaranya meninggi melengking di balik sekat kaca mobil yang kedap suara. "Sudah berapa minggu sejak insiden memalukan di markas itu? Dan sekarang cewek panti itu malah semakin menjadi-jadi! Dia mempermalukan aku di rumah dinasmu, menyiramku dengan air mentah! Padahal aku datang bertamu untuk menjenguknya!"
Tanti terus meremas tali tas tangan kulitnya berulang-ulang, meluncurkan rentetan hasutan dengan asumsi bahwa Yudhana akan mendengarkannya seperti biasa.
"Mas dengar aku tidak sih?" Tanti mendesak lebih dekat, mengabaikan jarak aman, sementara aroma parfum melatinya yang pekat menusuk hidung Yudhana. "Aku curiga, Mas ... amnesia yang dialami Vina itu sebenarnya cuma akal-akalan dia saja! Dia pura-pura hilang ingatan supaya bisa terus menumpang di rumah dinasmu, memeras simpatimu, dan menunda proses perceraian kalian! Perempuan licik seperti itu tahu persis cara memanfaatkan wasiat Opa Gema!"
bersambung...
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡