Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam dingin
Matahari siang kini telah berganti dengan rembulan yang bersinar begitu anggun, begitu cantik berdampingan dengan ribuan bintang di langit malam.
Kemala juga telah berganti pakaian dengan daster sederhana tapi masih belum melepas hijabnya.
Dia gelisah menanti Abimana yang belum kunjung masuk kedalam kamar.
Kemala melirik kearah jam di dinding kamarnya.
"Sudah pukul sembilan... Mas Abimana belum terlihat... Bahkan sejak selesai Isya tadi..." gumamnya.
Kemala duduk di sisi ranjang.
Menatap layar ponsel yang diletakkan di atas meja nakas.
Ragu untuk menghubungi laki-laki yang tadi pagi telah sah menjadi suaminya.
"Mungkin dia masih berbincang dengan Abah atau masih sibuk mengurus sesuatu...Ya, mungkin saja..."
Kemala masih tetap berfikir positif terhadap Abimana.
Jika di kamar Kemala gelisah menanti suaminya, lain lagi dengan Abimana yang memang sengaja berlama-lama di perpustakaan pondok.
Dirinya masih berkutat dengan layar laptop yang menyala tapi pikirannya melayang entah kemana.
"Saya tidak salah lihat... Itu memang dia... Dia datang kesini..."
Abimana mengusap wajahnya.
Suara ketukan di pintu membuyarkan pikiran Abimana.
"Boleh Ummi masuk?" suara Ummi terdengar diambang pintu.
"Masuklah Ummi... Saya sudah selesai..." seru Abimana.
Ummi berjalan dengan membawa nampan berisi teh hangat lalu meletakkannya di meja.
"Ummi perhatikan sejak siang, kamu begitu gelisah.... Apa yang mengganggu pikiran mu Nak?" tanya Ummi membuka pembicaraan.
Abimana menatap penuh pada wanita yang melahirkannya.
Mustahil dia bisa berbohong karena Ummi pasti menerkanya dengan jelas.
"Ummi...?"
"Apapun yang ada dalam pikiran mu, baiknya dibuang jauh-jauh. Kamu bukan lagi laki-laki lajang. Kamu adalah imam dari Kemala, menantu Ummi. Tolong jangan sakiti dia, jaga dia sebagaimana kamu menjaga dirimu dan keluarga mu... Apa yang kelak dia lakukan, adalah tanggungan buatmu... Kemala gadis baik bukan berarti gadis pilihan hatimu tidak baik. Tapi, kami hanya ingin melindungi Kemala dan hanya dengan menikahkannya denganmu adalah cara kami memberi perlindungan baginya...." Ummi berhenti sejenak.
"Tapi Ummi....," Abimana berusaha membantah perkataan Ummi, tapi tatapan tidak ramah wanita itu mengurungkan niatnya.
"Keluarga kita tidak pernah melarang poligami, tapi tolong, jangan lakukan hal itu terlebih kepada Kemala... Ummi tidak akan pernah menerimanya..." Ummi berdiri, merapikan gamisnya " Istirahatlah cepat! Jangan biarkan istri mu menunggu lama" titahnya kemudian.
Abimana semakin dilanda kegelisahan yang teramat dalam.
Ummi-nya tahu tapi justru menutup mata akan hati yang telah terberi kepada perempuan lain.
Dengan langkah berat, Abimana menuju kamar Kemala.
...****************...
"Dari mana Ummi?" suara dingin Abah menyapa gendang telinga Ummi Dewanti begitu melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Dari perpustakaan.. Tadi baru saja bawain Abimana teh hangat...." sahut Ummi sembari melepas khimar dan menggantinya dengan hijab instan lebar.
"Apa dia masih memikirkan gadis itu? Gadis yang datang bersama ibunya tadi?" terka Abah.
"Iya..." sahut Ummi tanpa ragu.
Abah menutup kitabnya dan meletakkan kacamata baca dimeja nakas. Menyusul Ummi berbaring di ranjang.
"Abah tidak benci kepada pilihan Abimana. Hanya saja, bagi Abah, Kemala adalah pilihan yang tepat bagi putra kita.... Abah tidak rela jika Kemala menikah dengan laki-laki lain...." ujarnya menerawang, menatap lampu kamar.
"Ummi tahu niat Abah baik.... Semoga Abimana bisa membuka hatinya untuk Kemala... Tidak sulit menyukainya...Dia gadis manis dan penurut... Pasti bisa jadi istri serta ibu yang baik nantinya...." tutur Ummi yang di amini oleh suaminya.
***
Abimana berdiri di depan pintu kamar Kemala.
Ragu untuk mengetuk pintu yang tadi pagi dia masuki.
"Bismillah... Semoga ini yang terbaik..." batinnya.
Ketukan pertama belum mendapat sahutan dan Abimana mencoba mengetuk kembali.
Ceklek...
Pintu kamar dibuka dan menampakkan sosok Kemala dengan mata sayunya.
Abimana terperangah menatap penampilan istrinya.
Kemala persisi gadis remaja dengan wajah polosnya.
"Mas... Kenapa tidak langsung masuk saja?" tanya Kemala bingung.
"Saya....Saya masih segan... Takut mengusik mu..."
Kemala tersenyum kecil, menampilkan lesung pipinya yang dalam.
"Masuklah mas... Sudah hampir larut...Mas pasti lelah..." Kemala menggeser badannya, memberi ruang agar Abimana masuk.
"Siniin jubahnya... Biar saya gantung...." ucapnya mengulurkan tangan, meminta jubah yang masih dikenakan oleh Abimana.
"Terima kasih... Saya cuci wajah sebentar..." Abimana bergegas menuju kamar mandi di sudut ruang kamar.
Kemala tak tinggal diam, dia mengeluarkan handuk baru dari lemari.
Abimana keluar hanya dengan memakai kaos putih pas bodi serta celana traning. Rambutnya yang sedikit basah jatuh menutupi dahinya.
Kemala terpana dengan penampilan Abimana yang baru pertama kali dilihatnya.
"Astaghfirullah...." lirih Kemala cepat-cepat menundukkan kepalanya dan mengulurkan handuk kepada Abimana.
Laki-laki itu tersenyum kecil dengan tingkah polos Kemala.
"Kamu berikan kemana handuk itu?" goda Abimana.
Kemala mengutuk dirinya karena salah arah.
"Makanya, angkat pandangan mu dan tatap saya... Saya suamimu dan kita pasangan yang sah..."
Kemala menurut.
"Bantu saya mengeringkannya.." pinta Abimana yang telah duduk di tepi ranjang sementara Kemala masih berdiri dihadapannya.
Mata Kemala berkedip lucu.
Gadis itu berjalan mendekat dan memberanikan diri mengusap handuk pada rambut Abimana yang sudah mulai kering.
Abimana memperhatikan setiap gerakan wajah Kemala. Mulai dari mengerucutkan bibir hingga mengerutkan kening.
Kedua mata mereka bersirobok.
Mengalirkan aliran yang menggetarkan darah keduanya.
"Bolehkah saya meminta hak saya sebagai suamimu malam ini, Kemala?" bisik Abimana menggenggam jemari Kemala yang dingin.
Kemala susah payah menelan air ludahnya yang tiba-tiba tercekat. Bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan tiba-tiba dia berteriak 'boleh'. Bukankah itu lucu.
Dengan kebisuan Kemala, Abimana menganggap itu sebuah persetujuan.
Dirinya juga mengutuk bibirnya karena bertanya seperti itu pada istrinya.
Abimana menarik Kemala hingga terduduk dipangkuannya.
Sebelah tangannya telah berada di atas kepala Kemala. Mulutnya bergerak membaca doa sebelum keduanya memulai aktivitas malam pertama mereka.
Abimana dan Kemala kini telah resmi menyatu dalam leburan kenikmatan duniawi. Meraih sesuatu yang sangat di idam-idamkan oleh kaum adam dan hawa hingga mereka melakukannya dengan cara yang tak halal sekalipun.
Kemala sebisa mungkin meredam suaranya agar rintihannya tak terdengar oleh seisi rumah meskipun jarak kamarnya cukup jauh dari kamar kedua mertuanya.
Abimana mengakhiri pergulatan panas itu dengan sebuah kecupan dikening Kemala yang mulai terlelap karena kelelahan.
Meski gadis itu terkesan kaku tapi dirinya tetap puas karena dialah yang pertama kali mendapatkan madu dari istrinya.
Terkesan kasar memang, tapi itulah lelaki yang tidak akan menolak daging manis meski bukan yang dia mau.
"Bersihkan diri dulu, baru kita tidur..." bisik Abimana tepat disisi kepala istrinya.
Kelopak mata Kemala yang sempat terpejam kini kembali terbuka.
Abimana benar, dirinya harus membersihkan diri sebelum tidur.
Dengan hati-hati, Abimana menggendong dan membantu Kemala membersihkan diri hingga kembali ke ranjang mereka.
Malam ini telah dilewati dengan sebuah senyum indah dibibir Kemala tapi tidak dengan laki-laki yang ikut berbaring disisinya.
Mata Abimana belum terpejam meski tubuhnya lelah.
Melirik di sisi ranjang yang dihuni oleh istrinya yang sudah pulas dan kembali menatap langit-langit kamar.
Satu wajah terbayang lengkap dengan tatapan sendu dari mata sayunya.
Entah apa yang dilakukan olehnya kini.
Abimana tahu ini salah tapi godaan syaitan lebih kuat dari apa yang ia bayangkan. Bahkan tadi dirinya saat menggauli Kemala justru yang terbayang olehnya adalah gadis itu.
"Karina Ayu...."
bersambung....