Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 06
Drttzzz
Drtzzz
Ponsel Teani berdering terus menerus. Namun wanita itu tak kunjung menjawabnya. Dia membiarkan hingga suara deringnya berhenti dengan sendirinya.
"Jawab dulu, sayang. Siapa tahu penting," ucap Gani.
"Nanti saja, masih gelap juga. Lagi pula siapa juga yang mau membahas pekerjaan di pag buta seperti ini," sahut Teani. Matanya masih terpejam, dia benar-benar mengabaikan ponselnya yang berbunyi dan malah semakin mengeratkan tangannya pada perut Gani.
Gani pun hanya tersenyum simpul. Dia memeluk Teani kembali dan melabuhkan sebuah ciuman pada kening.
Keduanya belum resmi menikah, namun merek sudah tidur di satu ranjang setiap malamnya.
Tok tok tok
"Teani ... bangun Teani ... ."
Pintu kamar Teani dipukul dengan sangat kuat. Suara yang memanggilnya adalah suara sang ibu.
"Teani, bangun!!"
Nania memekik keras saat tak mendapat sahutan dari Teani. Nania juga lebih kencang lagi dalam memukul pintu kamar.
"Ck, mama kenapa sih?" gerutu Teani. Dengan enggan dia akhirnya turun dari ranjang dan menuju ke pintu.
Ceklek
Pintu dibuka perlahan, Teani menyipitkan matanya saat melhat ibunya. Wajah Nania terlihat gusar, bola matanya tak fokus, bergerak kesana kemari.
"Ada apa sih Ma? ini masih pagi sekali lho, jadi kenapa Mama teriak-teriak begini. Aku tuh masih ngantuk sekali," ucap Teani dengan mata yang masih enggan untuk terbuka. Teani sangat ingin kembali ke tempat tidurnya untuk tidur.
"Kamu tidak dengar kah ponsel mu berdering? Dari tadi katanya kamu dihubungi tidak bisa. Ini lho Mama dapat telepon dari karyawan TBBA. Katanya tender terakhir yang Rinda kerjakan tidak berjalan normal. Mereka tidak membayar bahan yang sudah dikirim. Uangnya dibawa kabur sama penanggungjawab keuangannya. Kita terancam rugi besar."
APA??
Mata Teani yang tadi enggan terbuka kini sepenuhnya terbuka lebar. Bahkan bola matanya nyaris keluar.
Dadanya berdegup dengan cepat dan wajahnya seketika berkeringat. Ia berusaha tenang, dan kembali mencerna apa yanh dikatakan oleh ibunya. Teani juga bergegas masuk ke kamar untuk mengambil ponsel miliknya yang kembali berdering.
"Ada apa?"
"Bu Teani, orang yang selalu berkoordinasi dengan kita, dia membawa kabur uang milik kita. Baru saja perusahaan rekanan menghubungi saya. Mereka juga mengalami kerugian. Sekarang mereka tengah mengejar orang tersebut."
Bruk
Tubuh Teani limbung lalu menabrak dinding. Apa yang tadi diucapkan ibunya ternyata benar.
Meski pada akhirnya mereka tetap akan menerima pembayaran, namun pasti akan sedikit tersendat. Perusahaan rekanan juga tidak akan bisa membayar dalam waktu dekat.
"Sial, kenapa harus disaat seperti ini, mendekati acara pernikahan ku," gumam Teani kesal.
"Mungkin ini ujian dari Tuhan untuk kita. Semoga kedepannya tidak ada apa-apa lagi setelah ini," ujar Gani yang sedari tadi mendengarkan perbincangan Teani dan Nania. Meski dia tak tahu apa-apa tentang TBBA, setidaknya Gani merasa ikut prihatin dengan apa yang tengah dialami oleh perusahaan milik keluarga Teani.
"Iya mungkin memang demikian, ujan pernikahan itu selalu ada. Tapi sekarang bergegaslah ke kantor. Pasti kantor akan sedikit ramai. Kerugian sementara akibat kejadian ini harus segera ditangani," ujar Nania.
Setelah mengatakan hal tersebut, wanita paruh baya itu melenggang pergi. Lalu Teani dan Gani kembali masuk ke rumah.
Peristiwa ini membuat Teani yang ingin bersantai untuk hari ini, akhirnya tidak jadi. Suka tidak suka, ia harus segera bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Kamu jadi buru-buru begini?"
Gani merengkuh tubuh Teani dari belakang. Bibirnya mengecup leher Teani, ia juga membasahi leher wanita itu dengan lidahnya.
"Eughhh Gan, cukup. Aku harus berangkat," ucap Teani melarang Gani untuk tidak meneruskannya. Tapi dia tidak mendorong pria itu untuk menjauh dari tubuhnya.
"Kamu suka kan?"
"Tapi Gan, i-ini ughhh."
Teani melenguh saat tangan Gani merembet ke dalam bajunya dan meremass miliknya.
"Aku mau Tea," pinta Gani.
"Tapi Gan, a-aku harus bergegas. Nanti oke, nant kalau urusan di kantor sudah selesai. Aku janji akan memuaskan mu," jawab Teani.
Gani menghembuskan nafasnya panjang. Dia menarik tangan dan tubuhnya hingga menjauh dari wanita itu.
"Gan?" panggil Teani. Dia merasa tidak enak menolak keinginan Gani.
"Ada apa?" jawab Gani sambil tersenyum.
"Kamu marah?" tanya Teani.
"Tidak, aku tahu kamu sibuk. Ada masalah di perusahaan, jadi kamu harus segera menyelesaikannya. Tenang saja, aku cukup punya waktu untuk menunggu," ujar Gani. Dia yang tadi sudah menjauh dari Teani, kini kembali mendekat dan mengusap wajah Teani.
"Ya itu benar. Oh iya Gan, kenapa kamu tidak bekerja d TBBA saja. Apa yang aku mau katakan, sungguh tidak ada maksudku untuk meremehkan pekerjaan mu. Tapi bukannya lebih baik di TBBA dari pada jadi pegawai sebuah badan usaha milik daerah?"
Gani adalah pegawai BUMD di daerah Yogyakarta. Dia sudah menjadi pegawai tetap sejak usianya 25 tahun. Dan sebenarnya bukan hanya kali ini saja Gani ditawari untuk mengisi posisi di TBBA. Dulu Rinda juga pernah menawari dirinya sama seperti apa yang Teani lakukan sekarang, akan tetapi Gani tidak mau.
"Tidak Tea, aku lebih suka seperti ini. Aku lebih suka berkerja atas dasar kemampuanku. Jika aku bekerja di TBBA, orang hanya akan menganggap ku memanfaatkan kekayaan istriku. Aku sudah nyaman dengan pekerjaan ku, jadi tidak masalah seperti ini," jawab Gani. Dia konsisten dengan pilihannya. Dari masih menjadi suami Rinda, sampai kini akan menjadi suami Teani. Jawaban Gani masih sama.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika nanti kamu berubah pikiran, segera beritahu aku ya. Kamu akan jadi suamiku, aku akan memberi hal yang lebih baik untuk mu yang belum pernah kamu dapatkan dari Rinda."
"Iya sayangku, terimakasih ya."
Keduanya saling memeluk untuk waktu yang sedikit lama. Setelah puas, Teani mengecup bibir Gani sekilas lalu segera pergi ke kantor. Dia meninggalkan Gani yang tengah bersiap.
Gani lalu duduk di tepi ranjang. wajahnya menengadah ke atas lalu hembusan nafas kasar meluncur dari bibirnya.
"Rinda ... ."
Satu kata keluar dari bibir Gani, yakni nama sang istri yang telah tiada. Setidaknya itu yang diyakini oleh mereka saat ini.
TBC