Sehari sebelum pernikahannya dengan Don Camorra, sang kakak kabur bersama kekasih gelapnya.
Otavio Martini tidak punya hati. Sejak kecil ia dibentuk menjadi mesin pembunuh, dan kini seluruh Sisilia gemetar bila namanya disebut. Pernikahan dengan putri sang konsiglier hanyalah kewajiban yang harus ia tuntaskan. Maka ketika pengantinnya menghilang, ia tahu persis siapa yang harus membayar: seluruh keluarga si pelarian.
Bianca, adik sang pengantin, hanya gadis buta berlidah tajam yang tak pernah menginginkan dunia mafia. Dengan pistol menempel di kepalanya dan nyawa ibunya dipertaruhkan, ia hanya punya satu pilihan: mengenakan gaun pengantin kakaknya dan menjadi istri pria yang bahkan tak sudi menatapnya lembut.
"Aku tidak bisa bersikap baik. Tapi kau milikku, Bianca, dan tak seorang pun boleh menyentuh milikku."
Sebuah pernikahan yang dimulai dengan ancaman. Seorang Don yang tak percaya cinta. Seorang istri pengganti yang menolak tunduk. Dan musuh-musuh yang bersembunyi di balik meja Dewan, di dalam rumah, bahkan di dalam keluarga sendiri.
Berapa lama sebuah hati yang katanya sudah mati sanggup bertahan, ketika satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya adalah gadis yang seharusnya tak pernah ada di altar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paula menezes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bianca duduk di tempat tidurnya dan tak sanggup lagi menahan air mata. Alice memeluknya dan menenangkannya, meski belum mengerti betul apa yang sedang terjadi.
"Aduh, Sobat, aku kangen sekali padamu. Banyak sekali yang terjadi, aku sampai tidak tahu harus mulai dari mana."
"Mulai dari bagaimana kamu bisa menikah dengan Otavio Martini, dan tiba-tiba aku tahu dia juga seorang mafioso."
Bianca pun menceritakan semuanya dengan rinci. Alice terperangah mendengarnya, dan lebih ngeri lagi oleh perbuatan Laura, meski tidak terlalu kaget, sebab Alice tak pernah menyukai atau memercayai Laura. Alice hampir yakin Bianca buta karena ulah Laura.
"Ya Tuhan, Bianca, aku tidak pernah membayangkan. Situasi yang rumit sekali."
"Lebih rumit lagi, akhirnya aku mengizinkan diriku hanyut dalam perasaanku, lalu kakakku kembali. Bukan berarti aku tidak menyayanginya, tapi sekarang semuanya berubah, Alice. Aku mulai punya perasaan pada Otavio, dan dia juga padaku. Sekarang dia akan dipaksa menikahi Laura, pernikahanku akan dibatalkan, dan aku akan dipaksa pergi atau dibunuh."
"Sahabatku, apa pun yang terjadi, aku ada di sini. Kalau kamu mau, kita bisa pergi. Aku bawa paspor, tadinya untuk berjaga kalau kamu disekap dan ingin kabur. Tapi kalau kamu mau, kita bisa pergi sekarang juga. Kita manfaatkan kekacauan ini dan kabur."
"Terima kasih, Sahabatku. Kamu selalu melindungiku, aku sangat berterima kasih. Tapi aku akan tetap tinggal untuk melihat apa yang terjadi."
"Kamu suka dia, kan?"
"Awalnya tidak, tapi sekarang iya. Aku menyukainya. Kami belum lama saling kenal, tapi cukup untuk menumbuhkan perasaan yang tulus padanya."
"Kalian pasangan yang serasi. Semoga semuanya beres, dan kalau kamu bahagia di sisinya, aku juga bahagia."
"Alice, kamu kenapa sih sampai bawa-bawa senjata?"
Mereka tertawa. Sambil tertawa, Alice menceritakan pada Bianca ekspresi tiap orang saat ia mencabut pistol, dan keduanya terbahak-bahak.
"Sobat, di tempat aku tinggal dulu ada pembunuh berantai yang membunuhi gadis-gadis. Jadi aku ikut kursus bela diri dan kursus menembak. Pistolnya juga kubeli untuk jaga-jaga kalau perlu membela diri. Hari ini kubawa ke sini karena, seperti yang kujelaskan, kukira kamu dalam bahaya."
Wajah Bianca berubah sedih dan air mata menetes di pipinya.
"Ada apa, Bianca?"
"Kakakku. Kamu lebih sayang padaku daripada dia. Sekarang dia kembali, tapi masih tetap angkuh. Kurasa aku tidak akan pernah mendapat kasih sayangnya."
Alice memeluknya dan menghiburnya.
Di lantai bawah, Otavio pergi ke ruang kerja bersama Jhon dan para anggota Dewan. Laura tinggal di ruang tamu bersama ibunya dan Ellen. Ia berusaha masuk ke pikiran ibunya agar sang ibu membantunya tetap tinggal di rumah itu, sehingga ia bisa mencapai tujuannya.
"Aduh, Mama, aku kangen sekali."
"Entah apa yang harus kupikirkan, Laura. Kamu meninggalkan kami untuk mati."
Ellen, yang mengamati semuanya, menegur Laura.
"Kamu sadar situasi apa yang kamu ciptakan, Nona? Karena tindakan gegabahmu, nyaris terjadi pertumpahan darah."
"Aku dipaksa, Bu Ellen. Bajingan yang bersamaku memaksaku kabur dengannya. Lihat aku, Mama, lihat bekas-bekas lukaku, lihat betapa kurusnya aku. Aku sangat menderita. Aku dipukuli berkali-kali, dia merendahkanku, Mama. Aku ingin pulang. Aku bahkan tidak sempat berpamitan dengan Papa. Aku sampai depresi karena kematiannya."
Laura menangis pura-pura. Rosa, yang percaya pada putrinya, memeluknya dengan sayang untuk menenangkannya.
"Aduh, Nak, aku lihat. Kamu memang terluka parah. Kukira kamu kabur supaya tidak menikah dengan Otavio."
"Bukan, Mama, tentu tidak. Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku dibawa dengan paksa. Aku rindu sekali."
"Aku juga, Nak. Rindu sekali."
Seperti Bianca, Rosa berhati lembut dan baik, tidak melihat kejahatan dalam ucapan orang. Maka ia pun memercayai penderitaan Laura dan siap merawatnya sekuat tenaga. Sebaliknya Ellen tidak menyukai Laura dan tidak percaya sepenuhnya pada semua ceritanya.
Di ruang kerja, Otavio murka atas semua ini. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injaknya dan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.
"Jelas kamu mulai kehilangan kendali, Otavio," kata Anggota Dewan Messias. "Gadis itu tidak baik untukmu. Laura pasti istri yang lebih pantas. Kamu bahkan tidak bisa mengendalikan tamu sendiri. Kamu membiarkan gadis biasa masuk membawa senjata ke rumah ini dan menodongkannya pada kami. Bianca pengaruh yang sangat buruk."
Mendengar itu, Otavio tersenyum mengerikan, seperti maut yang mengintai dalam bayang-bayang, siap menuai nyawa seseorang.
Itu jelas bukan lagi Otavio, dan si anggota Dewan akan segera mengetahuinya.