Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Setelah menjalani aktivitas di sekolah barunya seharian , akhir nya Vian pulang juga.
Bajunya sudah berganti menjadi setelan yang lebih santai dan nyaman. Kakinya beralaskan kaos kaki dan sepatu bulu yang lembut. Kata ibunya – agar tidak kedinginan.
Dia saat ini sedang bersantai di ruang tamu . Dengan anggota keluarga yang lengkap termaksud ashilla . Mereka menikmati waktu bersama dengan menonton televisi bersama. Dan tak lupa beberapa candaan yang terlontar membuat suasana menjadi lebih hangat.
Pintu terbuka , memperlihatkan atensi mereka semua. Rangga dan Diana tersenyum . Menyambut hangat kedatangan seorang wanita tua yang telah berjasa bagi mereka. Dan Vian secara sepontan berlari. Membuat beberapa orang yang ada di sana panik seketika.
Vian memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Dengan wajah yang di tenggelam oleh badan wanita itu. Ia mengelus lembut rambut Vian dan turun ke arah kulit pipinya yang sedikit tirus. Dapat ia rasakan keriput tangan yang di miliki oleh wanita itu.
" Halo tuan muda kecil" lembut nya . Tersenyum penuh kasih ke arah Vian yang menatap lekat dirinya.
"Selamat datang nenek" ucapnya . Wanita itu - bi Inah . Kepala pelayan Dharmawangsa sekaligus pengasuh Vian sendari kecil.
" Vian , jangan di ulangi lagi lari-lari seperti tadi" ucap Rangga datang dengan nada terdengar marah. " Udah mas " saut Diana menenangkan.
"Maaf" pelannya
Rangga membuang nafas panjang , menetralkan segala amarah yang ia rasakan. Sebenarnya ia tidak marah. Namun saat melihat Vian berlari dengan kondisi tubuhnya - ia hanya takut. Itu akan menyakiti Vian sendiri.
"Baiklah jangan di ulangi "
Rangga menatap wanita tua itu sejenak , tersenyum kecil ke arah wanita itu . Dan dia juga tersenyum ke arah nya." Selamat datang bi , mohon kerjasamanya kembali di mansion Dharmawangsa"
Bi Inah tersenyum. Menunduk penuh penghormatan ke arah pria di depannya " terimakasih kembali, dengan senang hati Saya juga berharap bekerja kembali sebaik mungkin seperti dulu"
" Kalau begitu ayo masuk bi , kami sudah menyiapkan kamar yang dulu bibi tempati " ramah Diana. Vian melepaskan pelukan nya . Dan berdiri di samping ke 2 orang tuanya.
"Terima Kasih nyonya "ucapnya ,dia merogoh kantong selempang yg ia bawa. Dan membawa buku yang terlihat familiar dengan nya" ini pesanan tuan kecil" ucapnya . Dia menyerahkan buku ke hadapan Vian dan diterima baik oleh nya.
" Saya tidak tau buku yang mana yang di minta tuan muda . Namun saya menemukan buku ini di salah satu laci. Hanya ke 2 buku ini yang ada" ucapnya.
" Terimakasih nek , bener kok buku ini" ucapnya.
"Mari bi , saya antar ,biar para pelayan lain yang membawa sebagian barang bawaan bibi" ucapnya. Diana pergi bersama BI Inah , meninggalkan Rangga dan juga Vian yang masih terdiam di tempat. " Ayo tungguin nya di ruang TV aja" ajaknya. Vian menatap Rangga bergantian dengan buku yang ada di tangan nya. " Gak dad , Vian mau ke kamar dulu . Mau ngerjain tugas " ucapnya dan pergi meninggalkan Rangga.
Sedangkan di ruang TV . Revano dan ashilla masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Revano yang sedang bergelut dengan semua bukunya. Karena Minggu depan akan diadakan ujian harian. Sedangkan ashilla sedang pokus membaca semua teks yang ada di telepon nya. Sesekali ia akan tertawa kecil saat membaca pesan teks yang di kirim oleh semua teman cewek nya.
"Ada apa nih kok seneng banget keliatan nya" kata Revano yg masih sibuk dengan buku di tangan nya. Ashilla terkikik. Memperlihatkan mata yang menyipit sempurna seperti bulan sabit. Telepon nya di simpan di dekat bibirnya. Seolah di dalamnya terdapat rahasia yang tak boleh terjamah oleh orang selain dirinya.
"Gak ada bang ,aku ke kamar dulu ya. Semangat belajarnya ya!!" Ucap nya sebelum pergi meninggalkan Revano sendirian di ruangan itu.
Di kamar , ashilla menghempaskan tubuh nya di atas kasur. Ia berguling ke girangan saat euforia membuncah di dadanya. Kalimat demi kalimat merendahkan ia baca dengan rasa percaya diri. Seolah dunia sedang berpihak pada diri sendiri.
Apa kabar Vian hari ini
Wkwkwk yang pasti gak ada kemajuan , orang dia anak sakit-sakitan.
Aneh gak si , bukanya perusahaan Dharmawangsa itu besar banget sampai punya cabang di luar negeri. Kok dia gak sembuh-sembuh sih?
Palingan drama , katanya biasanya anak bungsu chaebol itu suka banyak drama
Wkwkwk atau dia anak yang tidak di inginkan , gue denger dia di kirim ke luar negeri . Trus ortu nya sama sekali gak pernah nengok dia selama dia disana.
Mereka juga Cape kali ngurusin nya.
Berarti secara tidak langsung di buang
Awokawok
Woy jangan terlalu jujur
Jangan dekat-dekat @ass , nanti kena imbas!!
Wkwkwk iya lagi.
Kabur!!!
Di balik layar, Ashilla hanya menyimak. Matanya menelusuri untaian kata yang terus berdatangan di monitor. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring yang pelan-pelan melebar—bukan tawa manis seperti biasanya, melainkan ekspresi yang membuat udara kamar terasa lebih berat dan mencengkam.
"Dasar manusia berotak dangkal. Hanya karena aku menyulutkan sedikit api ke arah mereka. Mereka malah mengubah nya menjadi kobaran yang lebih besar " ashilla sekali lagi tertawa dengan telepon yang masih di genggam nya" yahh mungkin aku harus sedikit berterima kasih kepada seseorang yang hanya mengandalkan emosi sesaat seperti mereka ini"
Ashilla menyandarkan punggung ke kursi, menatap monitor tanpa berkedip. “Nikmati hidupmu yang baru, Dik,” ucapnya pelan, hampir seperti — ancaman yang dibungkus kelembutan. “Mulai sekarang, semuanya akan lebih… menarik.”
Ia menutup mata sebentar, menarik napas panjang, membiarkan keheningan kamar benar-benar meresap.
“Aku tak sabar lihat reaksi anak itu,” bisiknya.
Dan dengan senyum kecil yang masih tertinggal di wajahnya, ia akhirnya membiarkan dirinya terlelap.
Sedangkan di sisi lain. Vian berada di atas tempat tidur nya. Dengan kaki bersila memperhatikan dengan lekat buku di depan nya. buku jurnal milik Vian yang asli– yang sempat ia baca setengah. Ia menelisik setiap sudut yang masih sama. Jurnal itu tampak polos—bersampul biru cerah, sederhana.
Dia membuka beberapa lembar buku yang masih sama , kosong. Sampai ia membuka goresan keluh kesah Vian sekali lagi. Masih sama. Sampai di beberapa lembar berikut nya –sebuah narasi aneh muncul.
Membuat gerakan tangan yang membuka setiap lembar terhenti. “Apa maksudnya ini?”
Setiap hembusan nafas ,detak jantung ,dan seluruh penggerakan akan berhenti.
Saat kamu sadar bahwa kamu sudah lama mati.
Dia membuka kembali lembaran buku yang tersisa. Dan seperti dugaan nya. Semuanya kosong. Kecuali lembaran yang berada di tengah. Masih sama. Dan di lembaran terakhir sesuatu yang yang menarik terlihat. Sesuatu yang dapat mengungkapkan kebenaran dari semua rahasia dari anak kecil yang rapuh ini- Vian.
Sepertinya Tante Rosa dan om Dani membenci ku.
Vian terdiam memikirkan nama yang tertulis dalam buku. Lama ia berpikir sekelebat ingatan langsung muncul. Tentang percakapan kecil Revano - abangnya dengan sepupu nya . Sarah.
"Berarti ini ada hubungannya dengan kak Sarah?”