Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATAS YANG MEMUDAR #1
Pagi hari di apartemen Maxime Sinclir.
"Max, maaf. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu sarapan. Aku sedikit terburu-buru."
Elma mengucapkannya sambil merapikan kerah kemeja suaminya. Jemarinya bergerak cekatan, memastikan tidak ada lipatan yang mengganggu penampilan pria yang berdiri di hadapannya itu. Maxime hanya diam. Pria itu menunduk sedikit, membiarkan istrinya menyelesaikan pekerjaannya. Namun, sorot mata kelabunya yang sejak tadi memperhatikan Elma perlahan berubah tajam.
"Apakah pekerjaanmu lebih penting dariku?"
Elma menghentikan gerakan tangannya.
Ia mendongak, menatap wajah suaminya yang mendadak kehilangan ekspresi ramahnya. Bukan berarti Maxime sebelumnya sering menunjukkan keramahan, tetapi setidaknya pagi ini pria itu terlihat cukup menyenangkan sebelum Elma menyampaikan keinginannya untuk pergi lebih awal.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apakah selama ini aku pernah mengabaikanmu?"
"Pernah. Kemarin kamu juga meninggalkanku seorang diri di meja makan" Ungkit Maxime.
"Oh, aku baru mengingatnya. Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu".
Alih-alih menjawab, Maxime justru melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lantas, kenapa hari ini kamu memintaku untuk sarapan seorang diri lagi? Bukankah itu sama saja artinya dengan mengabaikanku?" Ucapnya datar.
"Kamu tahu sendiri, kan, kalau aku paling tidak suka—"
"Diabaikan." Elma segera mendekatkan telunjuknya ke bibir Maxime, memotong ucapan pria itu sebelum sempat diselesaikan.
Senyum manis terukir di wajahnya.
"Aku tahu, Max. Aku sangat memahami itu. Tapi kali ini aku harap kamu mau mengerti. Persidangan ini sangat penting bagiku."
Elma kembali merapikan kerah kemeja suaminya, kemudian mengusap pipi pria itu dengan lembut.
Ia tahu betul bagaimana menghadapi Maxime.
Pria itu mungkin terkenal dingin, keras kepala, dan tidak suka dibantah. Namun, di balik sikapnya yang menyebalkan, Maxime memiliki satu kelemahan yang cukup mudah dikenali oleh Elma. Sentuhan kecil. Perhatian sederhana. Dan sedikit bujuk rayu yang dibalut senyum manis.
Sayangnya, Elma tidak tahu bahwa Maxime sudah terlalu mengenal semua taktiknya.
Pria itu tahu kapan istrinya sedang berusaha membujuknya. Ia bahkan tahu bahwa Elma hanya akan bersikap semanis ini ketika menginginkan sesuatu darinya. Dan entah mengapa, pengetahuan itu justru membuat Maxime semakin sulit menolak.
"Mmm... baiklah." Akhirnya, Maxime mengembuskan napas panjang.
Maxime tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka. Ia melakukannya sebagai rasa ucapan terima kasih untuk sang istri atas kehangatan yang ia berikan padanya semalam.
Elma langsung tersenyum lega. "Terima kasih, suamiku yang paling baik."
"Jangan terlalu cepat senang."
Senyum Elma perlahan memudar. Maxime menunduk, mendekatkan wajahnya hingga Elma terpaksa mendongak untuk mempertahankan tatapan mereka.
"Aku punya satu syarat."
"Apa lagi?"
Alis Maxime terangkat. "Apa lagi?"
Elma buru-buru memperbaiki ekspresinya. "Maksudku, apa syaratnya?"
"Kamu harus berjanji bahwa sore nanti kita bertemu di rumah. Aku dengar renovasinya sudah selesai. Jadi, kita akan pergi ke sana bersama."
Elma terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.
Hampir tiga bulan mereka tinggal di apartemen mewah milik Maxime karena rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal mereka setelah menikah sedang direnovasi.
Bagi Elma, kepindahan itu bukan masalah besar. Apartemen tersebut bahkan jauh lebih nyaman daripada rumah lamanya. Namun, ia tahu Maxime menantikan saat mereka kembali ke rumah itu.
Rumah yang akan menjadi tempat mereka membangun kehidupan sebagai suami istri, meskipun sampai sekarang Elma sendiri masih kesulitan memahami seperti apa kehidupan pernikahan yang sebenarnya diinginkan Maxime.
"Baiklah, aku janji." Elma mengangkat dua jarinya di hadapan suaminya sebagai tanda kesepakatan.
Maxime menatap kedua jari itu selama beberapa detik. "Kamu pikir kita sedang membuat perjanjian bisnis?"
Elma terkekeh kecil. "Kalau begitu, apa kamu mau aku menandatangani surat perjanjian?"
"Jangan memberiku ide."
"Max!"
Pria itu akhirnya mengalihkan pandangan, tetapi Elma sempat melihat sudut bibirnya bergerak tipis. Hanya sedikit. Begitu sedikit hingga siapa pun mungkin tidak akan menyadarinya.
Namun, Elma melihatnyaa dan untuk sesaat, ia merasa telah memenangkan sesuatu yang bahkan tidak pernah berani diakuinya.
"Ya sudah, aku pergi, ya."
Elma mengambil tasnya dari atas meja rias, kemudian berbalik menuju pintu.
Namun, baru beberapa langkah, suara Maxime kembali menghentikannya.
"Tunggu. Aku akan mengantarmu."
Elma menoleh cepat. "Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri."
"Aku tidak bertanya apakah kamu bisa pergi sendiri."
Maxime mengambil jasnya dari sandaran kursi, lalu mengenakannya dengan gerakan tenang.
"Aku bilang, aku akan mengantarmu."
"Tapi aku—"
"Elma."
Satu kata.
Hanya satu kata yang diucapkan dengan nada rendah itu sudah cukup membuat Elma menutup mulutnya. Maxime berjalan melewatinya tanpa memberikan kesempatan untuk menyelesaikan protes. Elma berdiri mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya menyusul pria itu dengan wajah masam. Sungguh, terkadang ia tidak tahu apakah sedang berhadapan dengan suaminya atau seorang atasan yang terbiasa memberikan perintah kepada bawahannya.
Di dalam lift pribadi yang membawa mereka menuju lobi, Elma berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Maxime, yang berdiri di sampingnya, melirik sekilas.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
"Kalau tidak ada, kenapa wajahmu seperti seseorang baru saja mengambil seluruh hartamu?"
Elma menoleh tajam. "Kamu selalu begitu."
"Begitu bagaimana?"
"Suka memutuskan sesuatu tanpa bertanya kepadaku."
Maxime memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku hanya akan mengantarmu."
"Masalahnya bukan itu."
"Lalu?"
Elma terdiam.
Ia ingin mengatakan bahwa sikap Maxime belakangan ini terasa berbeda. Namun, setiap kali hendak membicarakannya, selalu ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat.
Terkadang, Elma merasa Maxime mulai memperlakukannya sebagai seorang istri sungguhan. Pria itu mengingat jadwal makannya, bertanya apakah ia sudah pulang, bahkan beberapa kali menelepon hanya untuk memastikan Elma tidak pulang terlalu larut.
Hal-hal kecil yang seharusnya membuat seorang istri merasa diperhatikan.
Namun, bagi Elma, perhatian itu justru menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman.
Bukankah sejak awal Maxime menginginkan seorang istri yang mandiri? Bukankah pria itu selalu menegaskan bahwa pernikahan mereka tidak berarti Elma harus bergantung kepadanya dalam segala hal? Lantas, mengapa sekarang Maxime justru bertingkah seolah-olah ia tidak sanggup membiarkan istrinya melakukan sesuatu tanpa kehadirannya?
"Aku hanya tidak mengerti kamu," jawab Elma akhirnya.
Maxime menoleh. "Apa yang tidak kamu mengerti?"
"Kamu."
Jawaban itu membuat Maxime mengernyit tipis.
Elma menghela napas, kemudian menatapnya lekat-lekat.
"Dulu kamu selalu menyuruhku mandiri. Kamu bilang aku tidak perlu bergantung kepadamu hanya karena kita sudah menikah. Kamu bahkan memberiku mobil supaya aku bisa pergi ke mana pun tanpa harus merepotkanmu."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi akhir-akhir ini kamu justru terus ingin mengantarku, menjemputku, menyuruhku makan, bahkan memintaku pulang lebih cepat. Jadi, sebenarnya kamu ingin aku mandiri atau bergantung kepadamu?"
Lift terbuka. Namun, Maxime tidak langsung melangkah keluar. Ia justru menatap Elma dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Untuk pertama kalinya, pria tersebut tampak benar-benar mempertimbangkan perkataan istrinya. Kemudian, ia menjawab dengan tenang.
☆