NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Terobosan Besar Sang Pemburu

​ROAAAR!

​Raungan monster bermata kuning mengguncang seluruh tebing di Lembah Batu Merah.

​Wang Dahu berdiri kokoh beberapa langkah dari tempat Rumput Tiga Daun Merah tumbuh. Di hadapannya, monster raksasa itu menundukkan tubuhnya yang tegap, siap melompat menerkam. Cakar-cakar tajamnya menggaruk tanah, meninggalkan guratan dalam di atas permukaan batu keras.

​Dahu tidak panik, apalagi bergerak serampangan.

​Dua puluh empat hari bertaruh nyawa di pedalaman hutan telah menggembleng mentalnya. Luka, perih, dan puluhan benturan dengan monster beast mengajarkannya satu hukum utama di alam liar:

​Jangan pernah bertarung menggunakan cara yang diinginkan oleh lawanmu.

​“Manusia lemah, kau benar-benar nekat mau melawannya?” ejek suara si iblis di dalam kepalanya. “Ingat, kalau kau mampus di sini, jiwamu menguap dan ragamu jadi milikku sepenuhnya!”

​Dahu melirik sekilas ke arah formasi batu raksasa di sampingnya. “Kalau aku mampus, kau cuma akan jadi jiwa busuk yang terkurung di dalam mayat gemukku. Masa depan yang sangat indah, bukan?”

​“Keparat kau!”

​Dahu menyunggingkan senyum tipis.

​BOOM!

​Tanpa peringatan, monster itu melesat menerjang!

​Batu besar tempat Dahu berpijak sejurus lalu hancur berkeping-keping dihantam sapuan cakar lawan.

​Dahu melompat ke samping secara refleks, namun sabetan tajam cakar monster masih sempat menyayat lengan kirinya. Darah segar seketika merembes menetes ke tanah.

​Dahu menggertakkan gigi menahan perih, buru-buru mengambil jarak. Kecepatan monster ini melampaui perhitungan awalnya. Jika ia hanya terus menghindar tanpa rencana matang, tenaganya akan habis terkuas sebelum sempat melancarkan serangan balasan.

​Matanya bergerak cepat mengamati setiap detail raga sang monster.

​Bulu tebal membungkus hampir seluruh tubuhnya, sementara bagian punggung dihiasi tonjolan keras mirip perisai alami. Kedua cakarnya sanggup meremukkan batuan tebal dengan sekali sabet.

​Namun, Dahu menangkap satu celah: setiap kali bersiap melompat menerjang, monster itu akan sedikit menurunkan kepalanya. Di detik itulah, area bawah lehernya yang tidak terlindungi bulu tebal akan terekspos terbuka.

​Itulah titik lemahnya!

​Dahu juga menyadari pola pertahanan monster tersebut. Creature ini selalu berusaha memblokir posisi Dahu agar tidak mendekati Rumput Tiga Daun Merah. Rupanya, ia sangat protektif terhadap tumbuhan obat tersebut.

​Sebuah taktik liar terlintas di otak Dahu.

​Ia membungkuk, menyambar sebuah batu tajam seukuran genggaman tangan, lalu melemparnya tepat ke arah mata kanan sang monster!

​Brak!

​Batu itu memang tak melukai serius, namun sukses memicu murka sang monster hingga meraung heboh.

​Tanpa membuang detik, Dahu berbalik dan berlari kencang menuju celah tebing batu yang amat sempit.

​Monster bermata kuning itu langsung melesat mengejarnya bagai kesetanan.

​“Jangan bilang kau mau adu balap lari dengannya, bodoh?!” teriak si iblis panik.

​“Aku tidak sebodoh itu!” sahut Dahu tegas.

​Ia sengaja memilih rute yang dipenuhi batuan tajam dan tidak rata. Tubuh Dahu yang kini lebih ringkas dan lincah mampu berkelit di antara celah batu, sementara raga raksasa sang monster terhambat karena harus menghantam bebatuan untuk menerobos.

​Saat mencapai lereng yang terjal, Dahu mendadak menghentikan langkahnya.

​Ia berbalik secara tiba-tiba, mencabut pisau pendek di pinggangnya, lalu berteriak memancing, “Kemari, binatang bodoh!”

​GROAAR!

​Monster itu meraung murka, melompat menerjang dengan seluruh bobot tubuhnya.

​Dahu berdiri mematung, menunggu hingga jarak lawan tinggal sejengkal dari wajahnya—lalu melempar tubuhnya berguling ke samping!

​DUARRR!

​Monster itu tak sempat mengerem lajunya. Kepalanya menghantam telak dinding batu tebal di lereng tebing. Batuan runtuh bergetar hebat.

​Monster itu terhuyung pusing, dan di saat itulah... area bawah lehernya terbuka lebar!

​Dahu tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini!

​Memusatkan seluruh daya fisik dan sisa energi dari meridian pertamanya, ia menerjang maju dan menancapkan pisau pendeknya sedalam mungkin ke leher lembut sang monster!

​JLEB!

​Monster itu mengerang hebat, meraung kesakitan menembus langit.

​Namun sebelum Dahu sempat menarik kembali pisaunya, kibasan ekor tebal sang monster menghantam dadanya dengan telak!

​BRUK!

​Tubuh Dahu terpental keras, menghantam permukaan batu di belakangnya hingga pisaunya terlepas.

​Rasa sakit membakar seluruh tulang rusuknya. Pandangannya seketika berkunang-kunang, darah kental merembes dari sudut bibirnya.

​Monster itu berbalik. Lehernya mengucurkan darah segar, namun matanya yang kuning menyala kian liar dan ganas.

​Dahu berjuang keras untuk bangkit, tapi kaki kirinya terasa ngilu terkilir.

​Gawat... Kalau serangan berikutnya kena telak, aku benar-benar jadi mayat di sini!

​Monster itu melompat untuk serangan pamungkasnya!

​Di detik-detik kritis itu, Dahu tidak mencoba kabur. Ia justru menjatuhkan diri berguling tepat ke bawah perut lawan yang melayang, meraih gagang pisau pendek yang masih tertancap di leher monster, lalu memutarnya sekuat tenaga!

​KRAK!

​Raungan melengking penuh penderitaan memecah kesunyian lembah!

​Monster itu mengamuk membabi buta, menghantamkan tubuhnya ke tebing batu demi menghempaskan Dahu. Dahu terpaksa melepaskan pisaunya dan menjatuhkan diri berguling menjauh.

​Beberapa detik berlalu. Napas sang monster kian tersengal kencang, darah mengalir membanjiri tanah.

​Hingga akhirnya... tubuh raksasa itu roboh terjerembap. Tak bergerak lagi.

​Lembah kembali hening.

​Dahu terbaring terlentang di tanah, napasnya memburu kacau. Baju robek-robek, tubuh penuh debu dan darah, serta persendian yang serasa remuk.

​Ia menatap bangkai monster yang terbujur kaku di hadapannya.

​“Aku... menang...” gumamnya dengan bibir gemetar. Senyum puas perlahan terukir di wajahnya.

​Di dalam alam bawah sadarnya, si iblis mendengus pelan. “Cacing keberuntungan! Kau tadi hampir mampus tiga kali!”

​“Tapi nyatanya aku masih bernapas.”

​“Itu bukan berarti kau sudah hebat!”

​Dahu menyeka darah di dagunya. “Kalau begitu, anggap saja keberuntunganku sedang bagus hari ini.”

​Si iblis membisu. Ia tahu betul ini bukan sekadar keberuntungan. Pemuda ini memiliki ketenangan luar biasa, sanggup membaca celah lawan di tengah intimidasi maut, dan mampu mengubah situasi kritis menjadi kemenangan.

​Naluri seorang pemburu sejati telah lahir di dalam raga Wang Dahu.

​Dengan langkah pincang, Dahu merayap menuju lokasi Rumput Tiga Daun Merah.

​Ia mengamati tiga helai daun merah pekat yang memancarkan pendar energi spiritual lembut tersebut. Dari literatur obat yang dihafalnya, tanaman ini memiliki konsentrasi energi alam yang amat pekat.

​Namun mengonsumsinya secara mentah-mentah sangatlah berbahaya bagi kultivator pemula.

​Dahu merenung sejenak. Ia baru saja menjebol Ranah Penempaan Tubuh tingkat pertama. Pondasi fisiknya memang sudah jauh lebih solid, namun jalur energinya belum terbiasa menampung lonjakan energi masif.

​“Jangan bilang kau berniat mengunyahnya langsung?” tebak si iblis curiga.

​“Memangnya ada cara lain?”

​“Kau mau bunuh diri, hah?!”

​“Kalau tidak berani mengambil risiko, sampai kapan aku harus jadi sampah yang diinjak-injak orang?”

​Dahu mengabaikan omelan si iblis. Ia memilah bagian batang dan daun yang paling matang menggunakan pisaunya, memisahkan bagian sari energi paling murni.

​Ia lalu duduk bersila di ceruk batu yang aman.

​Sembari mengatur ritme pernapasan dasar, Dahu perlahan menelan sari tanaman obat tersebut, mencoba mencernanya dengan tenang.

​Namun, begitu cairan merah itu meresap ke dalam tenggorokannya...

​BZZZZT!

​Sensasi terbakar hebat seketika meledak di dalam dadanya!

​Energi spiritual yang luar biasa liar menjalar liar ke seluruh pembuluh darahnya. Urat-urat di lengannya menegang menonjol, otot-ototnya bergetar hebat, dan rasa sakit luar biasa menyengat dari ulu hati hingga ke kepala!

​Dahu menggertakkan giginya hingga berdarah. “Kh—khhh... Brengsek!”

​“Muntahkan! Hentikan penyerapan itu, bodoh!” jerit si iblis. “Daya itu terlalu liar untuk jalur meridianmu!”

​Dahu mencoba menahan laju energinya, namun sari tanaman itu sudah terlanjur merangsek masuk ke dalam jalur sirkulasinya, menghantam dinding-dinding meridiannya secara brutal bagaikan lautan magma.

​Di saat Dahu berada di ambang batas kesadarannya...

​SHHH...

​Di dalam dimensi batinnya, sebuah rune keemasan pada gerbang segel hitam mendadak berpendar terang!

​Cahaya keemasan lembut merambat cepat melewati rantai-rantai kuno, lalu menyusup keluar menetralkan gejolak energi di tubuh Dahu.

​Seketika itu juga, aliran energi liar yang tadinya mengamuk mendadak menjadi jinak dan teratur, mengalir mulus melapisi seluruh sel tubuh Dahu!

​Si iblis membelalakkan matanya di dalam kegelapan segel, terpana tak percaya. “Apa... apa yang sebenarnya terjadi pada raga bocah ini?!”

​Dahu sendiri tidak paham apa yang baru saja menyelamatkannya. Yang ia tahu, rasa sakit membakar itu mendadak berganti menjadi sensasi hangat yang luar biasa menyejukkan.

​Tanpa membuang kesempatan, Dahu memandu aliran hangat itu ke pusat dantiannya!

​Energi di dalam tubuhnya kian memadat. Otot dan tulangnya berderak nyaring, memecahkan celah batas kemampuan lamanya!

​KRAK!

​BOOM!

​Gelombang kejut energi spiritual meletup dari raga Dahu, menghempaskan debu dan batu-batu kecil di sekitarnya!

​Dahu membuka matanya lebar-lebar. Pancainderanya mendadak menjadi jauh lebih tajam, pendengarannya sanggup menangkap desir angin di kejauhan, dan aliran tenaga di dalam ototnya terasa begitu melimpah dan terkendali.

​Ia telah berhasil melompati batas!

​Ranah Pengumpulan Qi tingkat pertama!

​Ia telah resmi meninggalkan ranah pemula dan menjejakkan kaki ke ranah kultivator sejati!

​Dahu mengepalkan tinjunya. Ketika ia mengayunkan tangannya pelan, angin murni terdorong kuat dari telapak tangannya.

​“Aku... berhasil...” gumamnya takjub menatap kedua tangannya sendiri.

​Ia bukan lagi pemuda buncit yang hanya bisa menunduk pasrah saat dihina. Ia bukan lagi manusia biasa yang tak berdaya.

​Si iblis di dalam dirinya membisu untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya berbisik rendah, “Jangan keburu sombong. Ini baru tingkat pertama Pengumpulan Qi. Di luar sana, jutaan kultivator bisa membunuhmu hanya dengan satu jepretan jari.”

​Dahu tersenyum tenang. “Kalau begitu, aku akan menjadi lebih kuat sebelum mereka sempat menyentuhku.”

​Dua hari kemudian, Dahu melangkah keluar dari kawasan Perbukitan Batu Merah.

​Ia membawa sisa sisa Rumput Tiga Daun Merah yang terbungkus rapi, serta inti kristal spiritual kecil yang ia ekstrak dari tubuh monster bermata kuning.

​Kini, impian dan tujuannya kian mantap. Ia berniat mencari informasi tentang seleksi penerimaan murid sekte-sekte besar di kota.

​Namun sebelum melangkah ke dunia luas, ada satu tempat yang wajib ia kunjungi terlebih dahulu:

​Desa Cangmu. Rumah sang ayah.

​Senja mulai membayang ketika seorang pemuda bertubuh tegap dan bergaris wajah tegas melangkah memasuki gerbang Desa Cangmu.

​Baju yang dikenakannya sederhana dan agak lusuh, sebuah pisau pendek tergantung di pinggangnya. Langkah kakinya mantap, matanya memancarkan ketenangan yang tajam.

​Beberapa warga desa yang berpapasan dengannya menatap dengan dahi berkerut bingung. Pemuda ini terasa tidak asing, tapi perubahan bentuk tubuh dan aura tegapnya membuat mereka ragu.

​Dahu mengabaikan bisik-bisik warga. Ia terus berjalan lurus menuju gubuk kecil di ujung desa.

​“Ayah!” panggilnya lantang.

​Seorang pria tua yang sedang memperbaiki cangkul di pekarangan mendadak menghentikan gerakannya.

​Wang Shun perlahan mengangkat kepalanya. Tangannya gemetar. Ia menatap pemuda tegap di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencoba memproses penglihatannya.

​“D—Dahu...?”

​Dahu tersenyum lebar. “Ini aku, Ayah!”

​Wang Shun menjatuhkan cangkulnya begitu saja. Ia berlari tergesa mendekat, memegang kedua bahu putranya erat-erat dengan mata berkaca-kaca.

​“Kau... kau benar-benar Dahu anakku? Bagaimana bisa...?”

​Dahu tertawa renyah. “Aku bekerja keras berlatih di hutan, Ayah. Aku berhasil bertahan hidup.”

​Wang Shun buru-buru memeriksa tubuh Dahu. “Kau tidak apa-apa? Ada luka serius? Kau tidak diserang monster, kan?”

​“Hanya goresan kecil, Ayah. Aku sudah sembuh total.”

​Saat memegang lengan putranya, raut wajah Wang Shun mendadak berubah terkejut. Sebagai orang yang hidup di dunia kultivasi, ia bisa merasakan desir energi hangat yang samar mengalir dari raga Dahu.

​“Sensasi ini... Dahu, kau...?”

​Dahu mengangguk mantap. “Ayah, aku sudah resmi menjadi seorang kultivator. Aku telah menembus Ranah Pengumpulan Qi tingkat pertama.”

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Wang Shun. Matanya membelalak lebar, air mata keharuan yang ditahannya bertahun-tahun akhirnya menetes membasahi pipinya yang keriput.

​Ia ingat betul bagaimana anak tunggalnya ini dihina, dicap sampah tak berguna, dan pulang dengan luka memar serta mata merah. Dahu yang dulu selalu menunduk ciut... kini berdiri tegap bagaikan gagah perkasa!

​“Bagus... Bagus sekali, Nak!” suara Wang Shun bergetar hebat. Ia langsung menarik Dahu ke dalam pelukan hangatnya yang erat. “Ayah tahu kau bukan anak yang gagal! Ayah bangga padamu!”

​Dahu membalas pelukan sang ayah dengan erat. Rasa lelah, sakit, dan perjuangan berdarah-darah di dalam hutan terasa terbayar tuntas detik itu juga.

​“Aku berjanji, Ayah... kelak aku akan membawa Ayah hidup bahagia dan tidak akan ada lagi orang yang berani merendahkan kita!”

​Malam itu, mereka menikmati santapan malam paling hangat di gubuk sederhana tersebut.

​Usai makan, Dahu menyampaikan niatnya untuk pergi ke kota besar demi mengikuti ujian seleksi murid sekte kultivasi.

​Wang Shun mendengarkan dengan saksama. Ia sadar dunia sekte di luar sana penuh dengan intrik, persaingan berdarah, dan bahaya. Namun melihat binar keyakinan di mata putranya, Wang Shun tahu ia tidak boleh menjadi penghambat.

​“Pergilah, Dahu,” ujar Wang Shun tulus. “Jelajahi dunia luas itu dan kejar cita-citamu.”

​Ia kemudian merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kantong kain usang berisi beberapa keping uang perak hasil tabungannya bertahun-tahun.

​“Bawalah ini untuk bekal perjalananmu.”

​Dahu tertegun menatap kantong uang itu. “Ayah, ini uang tabungan Ayah... simpan saja untuk kebutuhan Ayah di rumah.”

​“Terimalah,” Wang Shun menggenggamkan kantong itu ke tangan Dahu. “Selama ini kau selalu memikirkan Ayah. Kali ini, biarkan Ayah memberikan dorongan terakhir untuk masa depanmu.”

​Dahu menerima kantong itu dengan dada bergemuruh haru.

​Malam kian larut. Dahu berdiri di ambang pintu gubuk, menatap gugusan bintang di langit malam yang membentang luas.

​Langkah awalnya telah tuntas. Ia telah bangkit dari penderitaan, menembus batas dirinya, dan membuktikan keberadaannya.

​Di kejauhan, kota besar tempat seleksi sekte menunggunya.

​Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat.

​Mulai detik ini, takdir tak lagi berkuasa atas dirinya. Dialah yang akan mengukir jalannya sendiri di bawah langit kultivasi!

​Di dalam alam bawah sadarnya, sang iblis kuno menatap punggung Dahu dalam keheningan.

​“Pengumpulan Qi tingkat pertama...” gumam si iblis pelan. “Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa mengguncang dunia ini, Wang Dahu.”

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!