Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 17
Bintik-bintik embun pagi masih menggantung lembap di dahan pinus saat ratusan murid baru berkumpul di Lapangan Bintang, sebuah pelataran batu hitam yang membentang di balik Aula Cendana. Angin fajar yang berhembus kencang melambaikan jubah biru muda para murid, membawa hawa dingin khas puncak pegunungan yang menusuk kulit. Di tengah lapangan luas itu, berdiri tiga pilar batu membisu setinggi sepuluh meter. Permukaan pilar tersebut berwarna abu-abu gelap, bertekstur sangat padat dengan lima alur ukiran melingkar yang dikenal sebagai Batu Uji Energi.
Guru Mo Shen berdiri tegak di atas panggung pengawas bersama dua instruktur pembantu. Di tangannya, sebuah gulungan kitab kulit membentang rapi mencatat daftar nama seluruh murid angkatan baru.
"Batu Uji Energi ini terbuat dari batuan padat Lautan Selatan," pangkasi Guru Mo tegas, suaranya menggema jernih membelah kesunyian lapangan. "Batu ini tidak hanya mengukur besarnya daya serang fisik, tetapi juga merekam tingkat kemurnian serta efisiensi penyelarasan energi roh yang kalian alirkan ke dalam senjata atau cakar kalian."
Guru Mo menunjuk lima alur ukiran melingkar yang memancar redup di sepanjang pilar batu tersebut.
"Makin banyak alur yang menyala, makin tinggi efisiensi tebasan kalian. Ingat ajaran kemarin: kekuatan tanpa penyelarasan hanyalah pemborosan energi yang sia-sia," sambung Guru Mo mendalam.
"Murid pertama dari barisan depan, Lu Fan!" seru instruktur pembantu memanggil nama.
Lu Fan menyunggingkan senyum penuh percaya diri. Dengan dada terangkat busung, pemuda kaya dari Kota Wushan itu melangkah maju menghadap pilar batu sebelah kanan. Ia menarik napas dalam, lalu mengepalkan tangan kanannya ke udara.
Wusss!
Lidah api berwarna merah jingga memercik terang, membungkus jemarinya hingga bertransformasi menjadi sebilah Pedang Api yang memancarkan hawa panas menyengat. Lu Fan melepaskan teriakan nyaring, mengayunkan pedang apinya dengan tebasan memutar yang dahsyat tepat ke tengah permukaan pilar batu.
Brakkk!
Percikan api membumbung tinggi di udara, disusul suara benturan keras yang menggetarkan pelataran. Di permukaan batu hitam itu, tergores celah dangkal sepanjang setengah jengkal. Tak lama kemudian, alur lingkaran pada pilar batu mulai menyala satu per satu dari bawah—satu, dua, tiga, hingga alur keempat memancarkan pendar merah cerah.
"Lu Fan, Roh Pedang Api! Empat alur menyala, kerapatan energi delapan ratus jin!" seru instruktur mencatat dengan kelantangan suara.
Gelak tawa dan tepuk tangan riuh langsung pecah di antara kelompok murid kota besar. Lu Fan memutar pedang apinya dengan gaya pamer sebelum memadamkannya kembali. Ia berbalik, melayangkan tatapan tajam yang meremehkan ke arah barisan murid desa di belakang.
"Lihat itu, anak desa!" cemooh seorang pengikut Lu Fan dari barisan depan. "Empat alur menyala! Mana ada senjata rongsok dari kampung kalian yang bisa menyamai pencapaian setinggi itu!"
Xi'er mengembungkan pipinya kesal, jemarinya meremas kain jubahnya pelan. "Pamer sekali orang itu," bisik Xi'er gemas pada Shen Jue.
"Biarkan saja," sahut Shen Jue santai tanpa ada riak emosi di wajahnya. "Tebasannya memang kencang, tapi apinya membakar habis sepertiga energinya di udara sebelum menyentuh batu. Itu bentuk pemborosan yang ceroboh."
"Berikutnya, Gongsun Zhi!" panggil instruktur membaca lembaran berikutnya.
Anak bertubuh tegap itu melangkah maju tanpa sedikit pun keraguan. Ia menggenggam Tombak Besi Hitam-nya yang telah dibebaskan dari bungkus kain hitam. Mengingat nasihat Shen Jue semalam, Gongsun Zhi tidak lagi memaksakan dorongan otot bahunya secara buta. Ia menarik napas panjang, menurunkan tumpuan gravitasinya ke perut bawah, lalu membiarkan dorongan napasnya menyatu laras dengan bobot alami tombak.
Ssswt... Bummm!
Tidak ada pendar cahaya mencolok atau letupan api yang memamerkan diri. Yang terdengar hanyalah dentuman rendah yang amat tebal dan bergetar, bagai pasak besi raksasa yang dihujamkan mendalam ke perut bumi. Mata Tombak Besi Hitam itu menancap sedalam dua jari tepat di pusat pilar batu.
Di saat yang sama, alur ukiran pada pilar batu menyala tenang dari bawah—satu, dua, tiga, empat, dan alur kelima berkedip tipis sebelum menetap di angka empat penuh dengan warna abu-abu keperakan yang amat tebal.
"Gongsun Zhi, Roh Tombak Besi Hitam! Empat alur penuh, kerapatan energi sembilan ratus lima puluh jin!" seru instruktur pembantu dengan raut terkejut.
Bisik-bisik keheranan seketika menjalar di antara murid-murid. Guru Mo Shen di panggung pengawas mengangguk-angguk puas, mengamati kerapatan goresan tombak Gongsun Zhi yang hampir tanpa celah pemborosan. Lu Fan yang berdiri tak jauh dari sana menggigit bibir bawahnya gusar, tidak menyangka anak berrompi kusam itu sanggup melampaui kerapatan daya hancur pedangnya.
"Berikutnya, Ruan Xi'er!"
Xi'er melompat ringan maju ke depan. Dengan gerakan lincah dan lentur, jemari tangannya merenggang, memunculkan bayangan cakar perak samar dari Roh Musang Bayangan Perak.
Set! Set!
Dua tebasan silang yang amat cepat terpecah di udara. Cakar peraknya menyayat permukaan batu dengan suara gesekan tajam yang halus, meninggalkan dua garis goresan dalam yang simetris. Alur batu menyala terang hingga angka tiga penuh dengan warna perak berkilat.
"Ruan Xi'er, Roh Musang Bayangan Perak! Tiga alur penuh, kerapatan energi cepat!" catat instruktur melengkapi papan nilai.
Xi'er tersenyum riang, melompat kembali ke barisan sambil saling bertukar pandang lega dengan Gongsun Zhi.
"Murid terakhir dari kelompok ini... Shen Jue!" panggil instruktur pembantu membaca nama di penghujung lembaran.
Atmosfer di Lapangan Bintang seketika berubah riuh oleh gumpalan tawa mengejek. Nama Shen Jue sebagai pemilik belati rongsok berkarat dari Desa Ping-an sudah menyebar luas di antara para murid baru.
"Lihat, si pemilik belati rongsok akhirnya maju!" tawa seorang anak kota kencang.
"Awas, jangan sampai belati kecilnya patah waktu menyentuh batu keras itu!" tambah murid lain yang disambut derai tawa riuh di sekelilingnya.
Lu Fan menyilangkan tangan di dada dengan sudut bibir terangkat culas. "Kerapatan seratus jin saja mungkin sudah menjadi keajaiban buat belati sampah itu," cemooh Lu Fan sengaja memperkeras suaranya.
Di tengah kepungan cemoohan dan tatapan meremehkan itu, Shen Jue melangkah maju dengan sangat tenang. Pakaian linen abu-abunya mengibar halus ditiup angin pegunungan. Wajahnya tetap datar, tak tersentuh oleh kegetiran atau emosi amarah sedikit pun.
Dari saku jubahnya, Shen Jue merogoh belati kecil berkarat sepanjang satu jengkal. Logam tua yang tampak tak berharga itu memancarkan hawa dingin yang amat samar saat jemari Shen Jue menyentuh gagangnya.
Gongsun Zhi menatap punggung Shen Jue dengan pandangan percaya penuh. "Shen Jue pasti punya caranya sendiri," pangkasi Gongsun Zhi pelan pada Xi'er.
"Tentu saja!" sahut Xi'er mantap. "Orang-orang yang cuma tahu pamer api itu tidak tahu apa-apa!"
Shen Jue kini berdiri satu langkah di depan pilar batu hitam yang menjulang. Ia memegang belati berkarat itu secara terbalik di tangan kanannya. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah jalur-jalur energi spiritual yang bersirkulasi alami di dalam Batu Uji Energi.
Ia tidak memanggil aura berwarna-warni atau melepaskan letupan energi gertakan seperti murid lainnya. Shen Jue hanya menghembuskan napas halus, membiarkan esensi jiwanya menyatu tipis dengan lapisan karat di permukaan belatinya.
"Mari kita lihat," batin Shen Jue tenang sambil mengayunkan belati kecilnya perlahan menuju pilar batu. "Seberapa banyak energi alami yang bisa dipotong oleh bekas segel tua ini."