Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Mobil Lexus putih itu akhirnya terparkir mulus di area parkir sebuah kafe bernuansa aesthetic di pusat kota. Begitu mesin mobil dimatikan, keheningan nyaman merayap di dalam kabin.
Sebelum beranjak turun, Julian merapikan kerah kemejanya sebentar. Pria itu kemudian memutar tubuhnya menghadap Elena. Tangannya terulur santai, mengelus lembut helai demi helai rambut Elena yang terurai, lalu jemarinya berpindah mengusap pipi halus sahabatnya itu dengan amat telaten.
Meski perlakuan manis dan perhatian kecil seperti ini sudah menjadi kebiasaan Julian selama bertahun-tahun, Elena tetap saja tidak pernah benar-benar kebal. Bintik-bintik merah muda perlahan menyebar di kedua pipinya, memancarkan rona malu yang tak bisa ia sembunyikan.
Elena menunduk tipis sambil terkekeh pelan untuk mengalihkan rasa canggung. "Jules... udah, ah. Nanti kafenya keburu penuh."
Julian tersenyum tipis melihat reaksi yang selalu berhasil membuat wajah sahabatnya menggemaskan itu. Setelah memberikan satu usapan lembut terakhir di puncak kepala Elena, Julian kembali ke mode siaga. Ia meraih tas ransel di kursi belakang, mengeluarkan laptop serta berkas kerjanya dengan cekatan.
"Yuk," ucap Julian ringan.
Pria itu bergegas turun lebih dulu dari mobil. Tanpa memberi jeda, langkah kaki panjangnya memutari bagian depan Lexus putih tersebut untuk membukakan pintu di sisi penumpang, menyambut Elena dengan senyuman hangat yang siap menemani siang mereka.
Pemandangan itu bukan hal baru, tapi selalu berhasil mencuri perhatian. Meski tak pernah berjanji atau saling bertukar pesan soal pakaian sebelum berangkat, Julian dan Elena seolah memiliki ikatan batin yang tak kasatmata.
Warna pakaian yang mereka kenakan siang itu lagi-lagi berada dalam nada warna yang serasi—sebuah kebetulan berulang yang membuat siapa pun yang melintas akan mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sangat padu.
Julian melangkah mantap di samping Elena. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis berpadu sempurna dengan fitur wajahnya yang tajam; mata cokelat yang dalam, rambut hitam pekat yang tertata rapi, hidung mancung, serta garis dagu yang tegas. Karismanya begitu tenang namun mendominasi ruang di sekitarnya.
Sementara itu, Elena berjalan di sisinya dengan keanggunan yang alami. Tubuhnya yang mungil setinggi 158 cm terlihat serasi berdiri di sebelah Julian. Kulit kuning langsatnya tampak berseri di bawah lampu kafe, memantulkan pijar lembut yang mempertegas hidung mancungnya serta bentuk bibirnya yang seksi dengan belahan tipis di bagian bawah.
Rambut hitamnya yang lurus berkilau melambai lembut mengikuti tiap pijakan kaki, membawa aroma parfum kombinasi segar dan manis yang merebak halus bahkan dari jarak beberapa meter.
Saat pintu kaca kafe didorong terbuka dan gemerincing bel menyapa, beberapa pasang mata pengunjung spontan tertuju ke arah pintu masuk.
Kombinasi ketampanan Julian yang karismatik dan kecantikan Elena yang memikat seketika menyedot perhatian, menghadirkan impresi visual yang begitu hidup di tengah suasana kafe yang riuh.
Gemiring bel di atas pintu kaca mengalun pelan saat langkah mereka memasuki area utama. Seorang pelayan dengan senyum ramah langsung menyapa dan memandu mereka melintasi sudut-sudut kafe yang mulai ramai, menuju sebuah ruangan VIP berdinding kaca es yang elegan dan privat.
Ternyata, Julian sudah menyiapkan kejutan kecil ini tanpa berucap sepatah kata pun sebelumnya.
Begitu pintu ruangan VIP digeser terbuka, pandangan Elena langsung tertuju ke tengah meja kayu panjang. Di sana, berdiri anggun sebuah bucket bunga tulip segar dengan warna lembut yang menawan. Bunga favorit yang selalu sukses meleluhkan hatinya.
"Jules... ini kamu yang siapin?" bisik Elena pelan.
Julian hanya menyunggingkan senyum tipis yang hangat, menatap lekat reaksi sahabatnya. Elena tak sanggup menahan rasa hangat yang membuncah di dada. Jemarinya menyentuh kelopak tulip itu perlahan, sementara binar bahagianya terpancar jelas dari pipinya yang kembali tersipu malu.
Mereka pun mengambil tempat duduk yang nyaman. Tak perlu menunggu lama, hidangan lezat beserta minuman yang telah diatur sebelumnya mulai disajikan di atas meja. Elena mulai menikmati santapannya dengan tenang, merasakan atmosfer ruang VIP yang begitu nyaman dan tenang.
Di hadapannya, Julian mulai membuka laptop, jemarinya yang lentik bergerak lincah menari di atas keyboard. Sesekali mata cokelatnya beralih dari layar monitor hanya untuk melirik Elena yang sedang menikmati makanannya, memastikan wanita di depannya itu merasa aman dan terawat di sisinya.
ayo tor lanjutin update nya