Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi itu datang dengan kabut tipis yang menggantung rendah di atas lapangan latihan, dan tribun kayu sudah penuh sebelum lonceng kedua berbunyi. Murid-murid berdesakan di setiap tangga, berdiri di atas bangku, bahkan memanjat tiang-tiang rendah bertali merah hanya untuk mendapat tempat yang lebih baik.
Dari teras timur, para tetua duduk berjajar dengan cangkir teh di tangan, dan wajah mereka tegang menahan rasa ingin tahu. Hari ini, final uji tanding bulanan mempertemukan dua nama yang beredar dari mulut ke mulut sejak semalam.
Yu Tian naik ke panggung dengan jubah abu-abu yang sudah dicuci dan tangan terselip di dalam lengan. Bisikan di tribun langsung berubah, dan ia mendengarnya jelas dari balik kabut.
"Lihat Qi-nya. Bukankah kemarin dia masih tingkat awal?"
"Fondasi Roh tingkat delapan! Kemarin dia lolos semi final, sekarang sudah naik lagi?"
"Tingkat sembilan melawan tingkat delapan. Cuma satu tingkat selisihnya. Bagaimana mungkin?"
Di seberang panggung, seorang pemuda bertubuh besar berdiri dengan kedua kaki terpancang kokoh. Bahunya lebar, rambut pendeknya dicukur rapi, dan jubah cokelat tuanya terlihat berat oleh sulaman benang tebal.
Bai Zhuo tidak tersenyum, tidak menyapa, dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun sampai Gu Chen mengangkat tangan. Baru kemudian ia berbicara, dalam dan datar. "Aku sudah melihat caramu bertarung kemarin. Aku bukan Lan Shuang, dan aku tidak akan menahan diri."
"Bagus." Yu Tian memiringkan kepala, dan matanya masih setengah mengantuk. "Aku juga tidak suka lawan yang menahan diri."
Lonceng berbunyi. Bai Zhuo menghentakkan telapak kakinya ke panggung, dan lantai batu di bawahnya retak berderak ke segala arah. Pecahan tanah naik dari celah-celah itu, bergabung, dan memadat menjadi bola raksasa sebesar gerobak yang melayang di atas kepalanya. Ia menunjuk dengan satu jari, dan bola itu meluncur ke arah Yu Tian dengan deru rendah yang menggetarkan dada.
Yu Tian sudah bergerak sebelum bola itu mendekat. Ia melompat ke kiri, berguling di bawah bayangannya, dan bola itu menghantam tiang bertali merah di belakangnya sampai remuk. Pecahan batu dan debu cokelat menyembur, dan bau tanah basah memenuhi udara.
Bola kedua menyusul sebelum debu mengendap, lalu ketiga, dan Yu Tian menghindarinya dengan langkah-langkah pendek, menjaga jarak, menghitung irama serangan itu.
Namun kali ini Bai Zhuo tidak mengejar. Ia menghentakkan kakinya sekali lagi, dan tanah di bawahnya terangkat membentuk tiang kokoh yang naik semakin tinggi dengan bunyi gemeretak. Tiang itu melebar di bagian atas, membentuk menara kecil setinggi tiga kali orang dewasa, dan Bai Zhuo berdiri di puncaknya dengan tangan terlipat, memandang ke bawah tanpa terburu-buru.
'Pintar.' Yu Tian menyeka debu dari pipinya dan menatap ke atas dengan mata menyipit. 'Jurusku harus menyentuh perutnya. Dari ketinggian itu, aku tidak bisa menjangkau tanpa melompat, dan kalau melompat, aku terbuka sepenuhnya.'
Ia mengelilingi menara itu pelan-pelan, mencari celah di antara bola-bola tanah yang terus melesat dari puncaknya. Satu bola menyerempet bahunya dan merobek lengan jubah sampai ke siku, menggores kulit dengan garis merah panjang.
Tiga menit lewat tanpa satu pun serangan Yu Tian yang mendekati sasaran. Bisikan tribun mulai berubah menjadi gumam cemas, dan seorang murid di barisan depan berteriak. "Dia hanya menghindar! Kenapa tidak menyerang?"
Yu Tian tidak menoleh. Ia terus bergerak, menunggu, dan napasnya tetap teratur.
Bai Zhuo akhirnya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tanah di seluruh panggung bergetar, dan puluhan bola kecil terangkat dari lantai, masing-masing sebesar kepalan, melayang rapat mengelilingi Yu Tian dalam kubah yang menutup dari segala arah. "Tidak ada celah untuk menghindar sekarang."
Yu Tian menatap bola-bola itu satu per satu, lalu tersenyum tipis. 'Ada celah. Kau hanya tidak melihatnya karena terlalu sibuk menutupnya.'
Bola-bola itu menyerang bersamaan. Ia menekuk lutut, melompat ke atas bola terdekat, menjadikannya pijakan, dan melompat lagi ke bola berikutnya sebelum bola pertama hancur. Ia berlari di atas hujan tanah itu, dari satu bola ke bola lain, semakin tinggi, sampai ia melewati puncak menara dan berada tepat di atas kepala Bai Zhuo.
Mata Bai Zhuo melebar. Yu Tian meluncur turun dengan kepalan kanan terarah ke bawah pusar lawannya, dan ia memadatkan Qi sekecil mungkin. Namun tubuhnya meluncur dari ketinggian dengan seluruh beratnya, dan di udara tidak ada pijakan untuk menarik pukulan yang sudah terlepas.
Duk!
Kepalan itu menghantam tepat di sasaran, jauh lebih dalam daripada yang ia perhitungkan. Qi di dantian Bai Zhuo pecah dalam satu denyut, dan hawa tanah di sekeliling panggung padam seketika. Menara itu runtuh menjadi serpihan, dan Bai Zhuo memuntahkan darah segar dari mulutnya, jatuh ke lantai panggung tanpa mengangkat tangan menahan tubuhnya.
Yu Tian mendarat di samping pemuda itu dan berdiri membeku. Wajah Bai Zhuo pucat keabu-abuan, napasnya terputus-putus, dan matanya yang masih terbuka menatap langit tanpa melihat apa pun.
Telapak tangan Yu Tian berdenyut dingin, dan di dalam kepalanya sebuah gambar yang sudah ribuan tahun terkubur naik ke permukaan tanpa ia undang: seseorang yang jatuh dengan cara yang sama, di bawah langit yang jauh lebih luas, dan tangannya sendiri yang bersalah.
Ia melangkah mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, dan bibirnya bergerak tanpa suara.
"Maaf..." Hanya itu yang keluar, serak dan nyaris tak terdengar.
Gu Chen sudah berlari naik ke panggung sambil meneriakkan nama tabib. Dua tabib berjubah putih menerobos kerumunan dengan tandu, dan sorak yang tadi memenuhi tribun berubah menjadi kepanikan, jeritan, dan langkah-langkah kaki yang terburu-buru.
Salah satu tabib menempelkan telapak tangannya di perut Bai Zhuo, dan wajahnya berubah setelah beberapa tarikan napas. Ia mengangkat pandangan perlahan, dan suaranya terdengar jelas di tengah lapangan yang mendadak sunyi. "Dantiannya hancur. Rusak parah, dan tidak bisa dipulihkan. Ia tidak akan bisa menjadi kultivator lagi."