Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong, Nyonya!
Cristal mengubah cepat ekspresinya. Air matanya jatuh dalam satu detik. Ia berlari kecil menghampiri Lucian lalu memeluk lengan kekar pria itu.
"Sayang, akhirnya kamu kembali! Aku takut sekali tadi. Dia marah-marah dan mau memukulku!"
Annabella yang masih duduk di sofa sontak mengangkat kepalanya.
Dadanya sesak melihat pemandangan itu persis seperti dirinya di masa lalu. Dulu, ia juga pernah di posisi itu. Memeluk dan memohon perlindungan waktu menyamar sebagai putri palsu Winston.
Bedanya, kini ia yang menjadi penjahat dalam cerita orang lain.
"Aku tidak pernah memukulmu!" bantah Annabella.
Cristal bersembunyi di balik punggung tegap Lucian. "Lihat, Sayang! Dia masih membentakku. Aku cuma mau tunggu di sini tapi dia malah mengancamku."
"Kau jangan bohong. Kau sendiri yang menyiram air ke wajahku dan menamparku!"
"Tidak! Aku tidak melakukan itu, Lucian!" elak Cristal sambil menggeleng keras. Air matanya mengalir deras. Ia tampak seperti korban yang paling tertindas di dunia. "Sayang, aku tidak mau berada di ruangan ini lagi. Aku takut dia menyakitiku."
Dengan lembut Lucian mengusap bahu Cristal.
"Sudahlah. Aku di sini."
Annabella memandang mereka berdua tanpa suara.
Sakit. Rasanya begitu sesak melihat bagaimana Lucian memperlakukan Cristal dengan lembut, kelembutan yang tidak pernah lagi ia dapatkan.
"Lucian, aku mengatakan yang sebenarnya."
Dalam sekejap, tatapan lembut Lucian berubah dingin. Sedingin es.
"Cukup! Jangan berani menyalahkan Cristal!"
"Tapi—"
"Aku tidak ingin mendengar alasanmu!"
Satu kalimat cukup untuk membungkam Annabella.
Cristal kembali merengek sambil memegang perutnya. Manja. "Sayang, aku lapar. Sejak tadi aku belum makan siang. Bekal yang kuminta juga jatuh karena dia."
Lucian mengusap rambut Cristal dengan sayang.
"Baiklah. Kita pergi makan sekarang."
Cristal tersenyum manis. Dari balik bahu Lucian, ia melirik Annabella dengan tatapan mengejek sebelum kembali bergelayut manja di lengan Lucian. Namun, sebelum mereka pergi, Lucian berhenti. Ia berbalik dan mendekati Annabella. Ia menatap tajam istrinya yang menundukkan kepala.
"Dengarkan aku baik-baik. Jika kau berani menyentuh kekasihku, bersiaplah untuk kembali ke penjara. Dan jangan lupa, nasib pamanmu juga ada di tanganku. Aku bisa membuatnya berakhir di pemakaman kapan saja!"
Wajah Annabella seketika pucat pasi. Ancaman itu. Ancaman yang sama yang selalu mengikatnya. Ia tidak punya kebebasan untuk melawan. Selama Aditya masih terbaring tak berdaya di rumah sakit, ia harus menelan semua penghinaan ini.
Annabella menunduk semakin dalam.
"Aku mengerti."
"Bagus."
Lucian lalu menggandeng Cristal dengan mesra.
"Satu hal lagi. Jangan pernah datang ke kantor karena kehadiranmu hanya akan membuatku malu."
Annabella menggigit bibirnya kuat-kuat. Matanya mulai panas, tetapi ia berusaha menahannya sekuat tenaga.
"Baik."
Ia tidak membantah lagi. Untuk apa?
Setelah Lucian dan Cristal pergi, Annabella sedikit membungkuk mengambil tas bekal yang tergeletak di lantai. Ia datang hanya untuk menjalankan perintah, tetapi justru mendapat penghinaan dan tuduhan.
—
Annabella tiba di rumah dengan tubuh lelah dan hati yang makin terluka. Ia langsung menuju gudang untuk menemui Yumna. Namun, begitu ia memasuki ruangan, langkahnya mendadak terhenti.
Mesin jahitnya hancur di lantai. Kain-kain berserakan, pola jahitan terinjak-injak, dan beberapa peralatan rusak tak berbentuk.
Annabella terpaku. Benda itu... satu-satunya sumber penghasilannya. Satu-satunya cara ia bisa bertahan hidup tanpa harus meminta belas kasihan Lucian.
"Tidak mungkin..."
"Siapa yang melakukan ini?"
Yumna yang sejak tadi bersembunyi segera berlari menghampirinya.
"Tante jahat yang lucakin, Onty!"
"Tante jahat? Siapa, Sayang?"
Yumna mengusap matanya yang basah.
"Tante yang lambutnya dicunggul yang diputal-putal."
Annabella terdiam sesaat. Otaknya langsung menangkap ciri-ciri itu.
"Ranti?"
Yumna terisak dan memeluknya erat.
"Onty, kita pelgi caja dali cini. Yumna takut. Yumna ndak mau di cini lagi. Ayo pulang ke Kakek."
Hati Annabella terasa seperti diremas. Ia sendiri ingin pergi. Ia ingin lari sejauh mungkin. Namun, ia tak bisa. Ia masih terikat pernikahan dengan Lucian. Keselamatan Aditya juga bergantung pada pria itu.
"Maafkan Onty, Sayang. Onty belum bisa bawa Yumna pergi."
Yumna mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau gitu, Onty picah aja cama cuaminya."
Annabella tertegun.
Bocah berusia tiga tahun itu mungkin belum memahami seluruh persoalan orang dewasa, tetapi ia sudah tahu bahwa pernikahan ini membuat Annabella menderita.
Anak sekecil itu seharusnya hanya memikirkan permainan dan kebahagiaan. Namun, Yumna justru meminta mereka pergi dari tempat yang menyakiti mereka.
Annabella mengusap rambutnya dengan lembut.
Anak ini pasti sudah melewati banyak penderitaan.
"Tenang dulu, ya. Onty akan menyelesaikan masalah ini."
Setelah memastikan Yumna kembali bersembunyi di tempat aman, Annabella bangkit. Kali ini, ia tidak ingin membiarkan perbuatan Ranti berlalu begitu saja.
Ranti tampak duduk santai di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Sebuah kemoceng tergeletak di samping tangannya.
Annabella menghampirinya dengan wajah serius.
"Ranti, kenapa kau merusak mesin jahitku?"
Ranti mengangkat kepala sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya dengan angkuh.
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu! Kau sudah keterlaluan. Mesin itu satu-satunya sumber penghasilanku. Kalau kau punya masalah denganku, kenapa harus merusak barangku?" Amarah yang Annabella tahan sejak di kantor Lucian akhirnya meledak.
Ranti meletakkan ponselnya dengan kasar, lalu berdiri.
"Aku bilang aku tidak melakukannya! Kau punya bukti?"
Annabella diam. Ia tak memiliki rekaman atau bukti lain. Namun, ia tahu anak kecil tidak mungkin berbohong.
"Kalau memang bukan kau, lalu siapa lagi? Jangan mengelak!"
Wajah Ranti memerah karena kesal.
"Perempuan tidak tahu diri! Kau pikir siapa dirimu sampai berani menuduhku?"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Annabella. Kepalanya tertoleh ke samping. Hari ini, ia sudah dua kali ditampar. Pertama oleh Cristal, sekarang oleh Ranti.
Selama ini Annabella selalu berusaha menahan diri. Ia menerima hinaan, hukuman, dan tuduhan yang tidak dilakukannya demi menjaga keselamatan Aditya.
Namun, ketika melihat mesin jahitnya hancur, kesabarannya akhirnya habis.
"Kenapa kau menamparku?" tanya Annabella dengan tatapan sinis yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Karena kau pantas mendapatkannya!" bentak Ranti.
Annabella menatap pelayan itu dengan mata penuh dendam. "Kau yang merusak barangku, lalu kau masih berani menyalahkanku?"
"Memangnya kau bisa apa?" bentak Ranti sambil mendorong bahu Annabella dengan kasar.
Dan pada detik itu, emosi Annabella putus. Dalam keadaan kalap, Annabella meraih asbak kaca yang berada di atas meja dan mengayunkannya ke arah Ranti.
Prang!
"Aaaah!"
Ranti memegangi kepalanya. Darah mulai mengalir deras di sela-sela jemarinya. Pembantu lain yang lihat itu pun terkejut. Minah lantas mendekat dengan wajah panik, sementara yang lain hanya mematung.
Asbak terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Annabella tidak menyangka akan bertindak sejauh itu.
Ranti mulai menangis keras sambil merangkak menjauh. "Tolong! Dia mau membunuhku! Tolong aku!"
"Aku tidak bermaksud membunuhmu! Kau yang pukul aku duluan. Kau juga yang rusak mesin jahitku, Ranti!"
Minah menatap luka di kepala Ranti, lalu memandang Annabella dengan cemas. Ia ingin membela Annabella, tetapi melihat darah yang terus mengalir membuatnya sulit berkata-kata.
Annabella memang telah diperlakukan buruk. Namun, tindakan barusan juga bisa membawa masalah besar baginya.
Belum sempat siapa pun melakukan sesuatu, terdengar suara langkah berat dari arah tangga. Adara dan Arsen muncul di ruang tamu.
Mereka langsung terkejut melihat Ranti terduduk di lantai dengan kepala berdarah.
"Tolong, Nyonya! Tuan!" teriak Ranti lalu mengulurkan tangannya yang berlumuran darah. "Dia nyerang saya! Dia mau bunuh saya!"
Melihat Annabella pucat, Ranti tertawa jahat dalam hati.
Mamp*s! Tuan dan Nyonya pasti akan murka dan mengirim kau kembali ke penjara, Annabella!
___
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???
doa yg terbaik buat mom semoga. cepat sampai retensi ny ,,
🤗