Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kepala Klan Baru
Angin siang menyapu aroma darah yang masih tersisa di halaman depan Aula Utama Klan Lin.
Para kepala klan besar Kota Awan Merah dan Penguasa Kota tidak berani berlama-lama. Satu per satu dari mereka maju membungkuk hormat kepada Lin Xuan, meninggalkan kotak-kotak hadiah persembahan dengan tangan gemetar sebelum berpamitan pulang. Sejak detik Pedang Abu Hitam membelah tubuh Lin Zhen dan Gadis Suci Sekte Pedang Bulan Beku berdiri di sisi Lin Xuan, seluruh kekuatan di Kota Awan Merah sadar bahwa pemuda berusia enam belas tahun ini bukan lagi seseorang yang berada di level yang sama dengan mereka.
Di dalam Aula Leluhur yang kini telah dibersihkan, papan arwah mendiang Kepala Klan Lin Xiao dan istrinya kembali diletakkan di tempat tertinggi di tengah altar utama.
Lin Xuan menyalakan tiga batang dupa cendana dan membungkuk tiga kali dengan khidmat di depan papan arwah kedua orang tuanya, diikuti oleh Lin Wan'er yang menyeka air mata haru di pipinya.
"Ayah, Ibu," ucap Lin Xuan pelan di depan altar. "Hari ini Lin Zhen, Lin Kun, dan Lin Bao telah membayar kejahatan mereka dengan darah. Adapun Lin Tianhao dan ayahnya, Lin Cang, yang bersembunyi di Sekte Awan Biru... putra kalian tidak akan membiarkan mereka hidup tenang lebih dari sebulan lagi."
Setelah menancapkan dupa ke dalam tempat pembakaran perunggu, Lin Xuan berbalik menghadap puluhan tetua dan pengurus klan cabang yang masih berlutut di belakangnya.
"Paman Keempat," kata Lin Xuan sambil meraih lengan Tetua Keempat Lin Shan agar berdiri. "Selama lima tahun aku dan Wan'er dikucilkan di Paviliun Bambu, hanya keluarga Paman Keempat yang diam-diam mengirimkan makanan dan arang setiap musim dingin. Mulai hari ini, kursi Kepala Klan Lin kuserahkan sepenuhnya kepada Paman Keempat."
Tetua Keempat Lin Shan terkejut hebat dan hendak kembali berlutut. "Tuan Muda Xuan, itu tidak pantas! Anda adalah putra kandung mendiang Kepala Klan dan kultivator terkuat di klan kita—"
"Masa depanku tidak berada di Kota Awan Merah, Paman Keempat," potong Lin Xuan dengan senyum tipis namun tegas. "Musuhku saat ini berada di Sekte Awan Biru dan Sekte Darah Langit. Jika aku memegang jabatan Kepala Klan sedangkan diriku berada jauh di sekte, urusan klan justru akan terbengkalai."
Lin Xuan mengeluarkan sebuah kantong penyimpanan dari balik jubahnya dan menyerahkannya ke tangan Tetua Keempat.
"Di dalam kantong ini terdapat dua ribu Batu Roh Tingkat Rendah, dua puluh butir Pil Pemurni Darah, serta catatan pengelolaan tambang Gunung Utara," ujar Lin Xuan. "Selain itu, aku telah meninggalkan surat kerja sama dengan Tetua Qin di Paviliun Harta Seribu Bintang. Selama Klan Lin memegang lencana hitamku ini, tidak akan ada satu pun klan di Kota Awan Merah yang berani menyentuh Klan Lin."
Melihat isi kantong penyimpanan yang nilainya melampaui seluruh kekayaan klan selama bertahun-tahun, mata Tetua Keempat dan para tetua cabang lainnya memerah karena rasa syukur yang mendalam.
"Tuan Muda Xuan, selama Lin Shan masih bernapas, seluruh anggota Klan Lin akan menjaga rumah ini untuk kepulangan Anda kapan pun!"
Sore harinya, suasana di halaman Paviliun Bambu terasa tenang dan sejuk. Rumpun bambu hijau bergoyang pelan ditiup angin gunung, seolah tak pernah terjadi pertumpahan darah beberapa hari lalu.
Di meja batu di bawah pohon bambu, Su Qingge duduk anggun sambil memegang pergelangan tangan Lin Wan'er untuk memeriksa aliran meridian gadis muda itu.
Semalam, setelah menelan sebutir Pil Penyeimbang Yin-Yang berkemurnian seratus persen yang diracik oleh Lin Xuan, seluruh sumbatan es liar di tubuh Lin Wan'er telah berubah menjadi jalur energi spiritual berwarna biru kristal yang sangat jernih.
"Luar biasa..." gumam Su Qingge dengan mata berbinar kagum. "Ini benar-benar Tubuh Roh Es Yin Murni yang hanya muncul sekali dalam lima ratus tahun di Wilayah Timur! Bahkan bakat bawaanku sendiri masih kalah setengah tingkat jika dibandingkan dengan kemurnian konstitusi tubuh Wan'er."
Su Qingge menoleh ke arah Lin Xuan yang sedang menuangkan teh hangat di seberang meja.
"Lin Xuan, kau pasti sudah tahu bahwa dalam waktu satu bulan kau akan memasuki sarang harimau di Sekte Awan Biru," ujar Su Qingge serius. "Ayah Lin Tianhao, Diakon Lin Cang, adalah salah satu tangan kanan Tetua Penegak Hukum di sana. Jika kau membawa Wan'er bersamamu, kau tidak akan bisa bertarung dengan leluasa. Bagaimana jika kau mengizinkan Wan'er ikut bersamaku ke Sekte Pedang Bulan Beku?"
Lin Wan'er langsung menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan cemas, tangannya memegang ujung lengan baju Lin Xuan. "Kakak Xuan, Wan'er tidak mau berpisah dengan Kakak..."
Lin Xuan menatap adik perempuan yang telah ia jaga sejak kecil itu dengan tatapan lembut, lalu mengusap puncak kepala Lin Wan'er.
"Wan'er, Nona Su benar," ucap Lin Xuan halus. "Sekte Pedang Bulan Beku adalah tanah suci terbaik di Wilayah Timur bagi kultivator berelemen es. Di sana, bakat Tubuh Roh Es Yin Murni milikmu bisa berkembang tanpa batas, dan tidak akan ada seorang pun dari Sekte Awan Biru maupun Sekte Darah Langit yang berani menyentuhmu."
Su Qingge ikut mengangguk sambil tersenyum tipis—senyum langka yang membuat keindahan wajahnya tampak menghangatkan suasana sore itu. "Jangan khawatir, Wan'er. Guruku adalah Ketua Sekte Pedang Bulan Beku. Begitu beliau melihat bakat tubuhmu, beliau pasti akan langsung mengangkatmu sebagai murid inti dan adik seperguruanku. Lagipula, jarak antara Sekte Pedang Bulan Beku dan Sekte Awan Biru tidaklah sejauh ujung dunia."
"Satu tahun lagi," kata Lin Xuan sambil menatap mata adiknya dengan penuh keyakinan, "Enam Sekte Besar Wilayah Timur akan menggelar Turnamen Agung Enam Sekte di Puncak Awan Tengah. Saat hari itu tiba, Kakak berjanji akan berdiri di puncak panggung turnamen itu dan menjemputmu dengan kepala tegak."
Lin Wan'er menggigit bibirnya, menahan air mata agar tidak jatuh, lalu mengangguk mantap. "Wan'er janji akan berlatih keras di Sekte Pedang Bulan Beku! Saat bertemu Kakak Xuan setahun lagi, Wan'er tidak akan menjadi adik yang lemah dan harus selalu dilindungi lagi!"
Lin Xuan tersenyum lega, lalu mengeluarkan tiga botol giok putih dari kantong penyimpanannya dan menggeserkannya ke hadapan Su Qingge.
"Nona Su, di dalam botol ini terdapat sembilan butir Pil Penyeimbang Yin-Yang yang kuracik semalam menggunakan sisa kelopak Teratai Api," ujar Lin Xuan. "Kutukan Darah Es Pembeku Jiwa di tubuhmu berasal dari garis keturunan kuno yang belum bisa dicabut sepenuhnya sebelum aku menemukan bahan obat tingkat empat. Namun sembilan butir pil ini cukup untuk menekan kutukan itu selama satu tahun penuh tanpa kambuh."
Melihat sembilan butir pil tingkat dua sempurna yang diserahkan begitu saja, jantung Su Qingge bergetar pelan. Di dunia luar, satu butir pil seperti ini saja sanggup memicu pertumpahan darah antar kultivator Alam Fondasi Roh!
"Lin Xuan... utang budiku padamu tampaknya semakin sulit terbayar," bisik Su Qingge sambil menyimpan botol giok itu dengan hati-hati di dekat dadanya. "Berhati-hatilah di Sekte Awan Biru. Jika kau menghadapi jalan buntu, kirimkan pesan melalui Lencana Bulan Beku yang kuberikan padamu."
Keesokan paginya saat fajar menyingsing, sebuah kereta terbang yang ditarik oleh dua ekor Bangau Salju Tingkat Tiga membawa Su Qingge dan Lin Wan'er melesat menembus awan utara.
Sementara di daratan bawah, Lin Xuan mengencangkan ikatan Pedang Abu Hitam di punggungnya, lalu melangkah mantap ke arah timur—memasuki bentangan belantara Hutan Kabut Seribu Binatang.