Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Minggu, 13 November 2016 — Queens, New York
Arthur Sterling memiliki satu kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak kehidupan pertamanya: setiap kali menemukan peluang baru, ia akan mencari alasan mengapa peluang tersebut mungkin gagal.
Bagi sebagian orang, kebiasaan itu terdengar pesimistis. Mereka lebih suka membayangkan keuntungan, menghitung potensi pendapatan, dan membicarakan kesuksesan yang akan diraih.
Arthur justru memulai dari pertanyaan yang berbeda.
Apa yang bisa salah?
Berapa banyak uang yang mungkin hilang?
Apakah peluang itu benar-benar layak diperjuangkan?
Dan jika keadaan berubah, apakah ia masih memiliki pilihan untuk bertahan?
Pada usia delapan puluh tahun, kebiasaan itu telah membantunya mempertahankan kerajaan bisnis yang bernilai sangat besar. Namun, ia juga menyadari bahwa kehati-hatian yang berlebihan pernah membuatnya kehilangan kesempatan dalam kehidupan pribadi.
Ia terlalu lama menunggu.
Terlalu banyak mempertimbangkan kemungkinan buruk.
Dan ketika akhirnya menyadari apa yang benar-benar diinginkannya, waktu telah berlalu.
Kini, di usia dua puluh tahun, Arthur ingin belajar menyeimbangkan kedua hal tersebut.
Ia tidak akan bertindak sembrono.
Tetapi ia juga tidak akan membiarkan ketakutan mengambil semua keputusan untuknya.
Pagi itu, sebuah email dari Thomas Miller menunggunya di layar laptop.
Pemilik Miller's Corner Café tersebut telah menerima pembaruan informasi bisnis yang dikerjakan Arthur dan Daniel. Setelah memeriksa hasilnya, Thomas menyampaikan bahwa ia puas dengan pekerjaan mereka.
Namun, bagian yang paling menarik perhatian Arthur justru muncul di akhir pesan.
Thomas ingin mengetahui apakah mereka dapat membuat halaman web sederhana untuk menampilkan menu, alamat, jam operasional, dan jadwal acara musik di kafenya.
Anggarannya terbatas, tetapi ia bersedia mendiskusikan ruang lingkup pekerjaan yang sesuai.
Arthur membaca email itu sekali lagi.
Inilah kesempatan yang mereka bicarakan sehari sebelumnya.
Proyek tersebut berpotensi menjadi langkah pertama mereka dalam menawarkan layanan yang lebih luas daripada pembaruan informasi bisnis.
Namun, Arthur tidak langsung membalas dengan penawaran harga.
Ia membuka dokumen perhitungan biaya, lalu mulai membuat daftar pekerjaan yang diperlukan.
Mereka harus menentukan struktur halaman, mengumpulkan materi dari Thomas, memastikan informasi yang ditampilkan akurat, menguji tampilan pada perangkat berbeda, dan menjelaskan bagaimana Thomas dapat meminta pembaruan di kemudian hari.
Jika mereka menawarkan terlalu banyak fitur, pekerjaan akan menjadi rumit.
Jika mereka menawarkan terlalu sedikit, hasilnya mungkin tidak memenuhi kebutuhan pelanggan.
Arthur menghela napas pelan.
Sebuah halaman web sederhana ternyata tidak sesederhana namanya.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi Daniel.
"Apakah kau sudah bangun?"
Suara Daniel terdengar berat dari seberang telepon.
"Arthur, sekarang hari Minggu."
"Aku tahu."
"Orang normal menggunakan hari Minggu untuk beristirahat."
"Orang normal juga tidak mengangkat telepon sambil mengeluh selama tiga puluh detik."
Daniel terdiam.
Kemudian terdengar suara tawa kecil.
"Baiklah. Apa yang kau butuhkan?"
Arthur menjelaskan mengenai permintaan Thomas.
Daniel langsung terdengar lebih bersemangat.
"Aku sudah memikirkan cara membuat halaman sederhana menggunakan platform yang tidak membutuhkan banyak pengembangan dari awal. Kita bisa membuat sesuatu yang cukup profesional tanpa menghabiskan terlalu banyak waktu."
"Bagus. Berapa lama?"
"Kalau materinya lengkap, mungkin beberapa hari untuk versi awal. Tetapi kita harus memperhitungkan pemeriksaan dan revisi."
Arthur menyukai jawaban itu.
Daniel tidak langsung menjanjikan hasil dalam satu malam hanya untuk membuatnya terkesan.
"Kalau begitu, mari kita bertemu pukul sepuluh. Kita hitung biayanya sebelum menjawab Thomas."
Daniel menghela napas.
"Aku harap suatu hari nanti kita memiliki cukup uang untuk menyewa seseorang yang menghitung biaya bagi kita."
Arthur tersenyum.
"Kalau kita tidak memahami biaya sendiri, bagaimana kita tahu apakah orang yang kita sewa melakukan pekerjaannya dengan benar?"
"Baiklah. Aku akan membawa laptop."
Percakapan berakhir.
Arthur kembali menatap email Thomas.
Untuk pertama kalinya, usaha kecil mereka mendapatkan kesempatan yang dapat menguji kemampuan teknis sekaligus kemampuan mereka dalam mengelola proyek.
Arthur tidak tahu apakah mereka akan berhasil.
Namun, ia berniat memberikan kesempatan itu peluang terbaik untuk berkembang.
1. Harga Sebuah Pekerjaan
Pukul sepuluh pagi, Arthur dan Daniel bertemu di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai.
Daniel datang membawa laptop dan sebuah buku catatan. Ia memesan kopi, lalu langsung membuka dokumen berisi perkiraan biaya pengembangan halaman web.
"Aku sudah membuat tiga kemungkinan," katanya.
Arthur mendekat.
Daniel menunjukkan rancangan pertama: halaman dasar dengan informasi bisnis, menu, lokasi, jam operasional, dan kontak.
Rancangan kedua menambahkan halaman khusus untuk acara musik serta beberapa bagian tambahan yang dapat diperbarui secara berkala.
Rancangan ketiga menawarkan fitur yang lebih rumit, termasuk formulir pemesanan meja.
Arthur memeriksa ketiganya.
"Menurutku, kita sebaiknya tidak menawarkan pilihan ketiga."
Daniel mengangkat alis.
"Karena terlalu mahal?"
"Karena Thomas sudah mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan sistem pemesanan meja. Kita tidak perlu menjual sesuatu yang tidak dibutuhkannya."
Daniel mengangguk perlahan.
"Baik. Berarti kita fokus pada dua pilihan pertama."
Mereka kemudian menghitung waktu pengerjaan untuk masing-masing pilihan.
Daniel memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan struktur halaman, mengatur tampilan, memasukkan materi, dan menguji fungsi dasar.
Arthur menambahkan waktu untuk komunikasi dengan pelanggan, pemeriksaan teks, pengumpulan informasi, serta revisi.
Mereka juga memperhitungkan biaya platform dan kebutuhan teknis lain yang mungkin muncul.
Setelah melakukan beberapa penyesuaian, mereka menemukan bahwa harga terlalu rendah akan membuat pekerjaan tersebut tidak sebanding dengan waktu yang dikeluarkan.
Namun, harga terlalu tinggi juga tidak sesuai dengan skala usaha mereka dan anggaran Thomas.
Akhirnya, mereka memilih untuk menyiapkan satu proposal dengan ruang lingkup terbatas, sementara pilihan tambahan akan ditawarkan hanya jika Thomas benar-benar membutuhkannya.
"Bagaimana kalau kita menawarkan harga seratus lima puluh dolar untuk halaman dasar?" tanya Daniel.
Arthur memeriksa kembali perhitungannya.
Angka tersebut bukan keputusan final. Mereka masih perlu memastikan biaya platform, batas revisi, dan kebutuhan pemeliharaan.
"Sebagai angka awal, itu bisa kita pertimbangkan," jawab Arthur. "Tetapi proposalnya harus menjelaskan apa saja yang termasuk di dalamnya."
Daniel mencatat beberapa poin.
Mereka sepakat bahwa harga tersebut harus mencakup pembuatan satu halaman web sederhana, informasi bisnis, menu yang diberikan Thomas, lokasi, jam operasional, serta bagian untuk menampilkan jadwal acara.
Thomas bertanggung jawab menyediakan materi dan memastikan informasi yang disampaikan benar.
Perubahan besar di luar kesepakatan awal akan dibicarakan secara terpisah.
Mereka juga tidak akan menjanjikan peningkatan penjualan.
Halaman web dapat membantu pelanggan menemukan informasi, tetapi keberhasilan bisnis Thomas tetap bergantung pada banyak faktor lain.
Setelah proposal selesai, Arthur membacanya dari awal hingga akhir.
"Menurutmu, apakah Thomas akan menerimanya?" tanya Daniel.
"Mungkin. Mungkin juga tidak."
Daniel menatapnya.
"Kau tidak pernah bisa memberikan jawaban yang menyenangkan."
Arthur tertawa.
"Aku bisa mengatakan bahwa dia pasti menerimanya. Tetapi itu tidak membuatnya menjadi kenyataan."
Daniel menggeleng.
Mereka akhirnya mengirimkan proposal tersebut kepada Thomas, lalu kembali membicarakan jadwal kerja.
Arthur merasa puas karena mereka telah mengambil langkah baru tanpa mengabaikan keterbatasan mereka.
Mereka belum mengetahui apakah layanan ini akan menjadi sumber pendapatan yang berarti.
Namun, kini mereka memiliki sesuatu yang lebih konkret untuk diuji.
Sebuah tawaran dengan ruang lingkup, harga, dan tanggung jawab yang jelas.
2. Data yang Tidak Bisa Berbohong
Menjelang siang, Arthur dan Daniel pergi menemui Peter Lawson.
Pemilik dua toko kelontong itu ingin mengetahui perkembangan pengumpulan data di tokonya yang mengalami penurunan penjualan pada sore hari.
Peter menyambut mereka dengan ekspresi lelah.
"Penjualan minggu ini masih belum stabil," katanya. "Aku berharap kalian bisa menemukan penyebabnya segera."
Arthur membuka catatan yang mereka bawa.
"Kami sudah menyederhanakan formulir pencatatan barang yang tidak tersedia. Apakah pegawai mulai menggunakannya?"
Peter mengangguk.
"Lebih mudah daripada formulir sebelumnya. Mereka sudah mulai mencatat barang yang dicari pelanggan dan apakah pelanggan membeli pengganti."
"Bagus. Apakah ada pola yang terlihat?"
Peter mengambil buku catatan dari bawah meja.
"Beberapa pelanggan mencari produk yang sama, terutama pada sore hari. Tetapi tidak semuanya pergi tanpa membeli. Sebagian memilih merek lain."
Arthur memeriksa catatan tersebut.
Ia melihat bahwa beberapa jenis barang memang lebih sering tidak tersedia pada jam-jam tertentu. Namun, data itu belum cukup untuk menentukan apakah ketidaktersediaan barang menjadi penyebab utama penurunan penjualan.
Mereka juga membutuhkan informasi mengenai jumlah transaksi, nilai pembelian rata-rata, dan perbedaan pola antara hari kerja dengan akhir pekan.
"Pak Lawson, kami menemukan beberapa hal yang layak diperiksa lebih lanjut," kata Arthur. "Tetapi kami belum bisa mengatakan bahwa satu faktor tertentu merupakan penyebab utama."
Peter menghela napas.
"Jadi, aku harus menunggu lagi?"
"Untuk membuat keputusan yang tepat, kita perlu memahami masalahnya terlebih dahulu. Kalau kita langsung memberikan diskon, misalnya, tetapi masalahnya adalah barang yang dicari pelanggan tidak tersedia, kita mungkin menghabiskan uang tanpa menyelesaikan persoalan."
Peter terdiam.
Kemudian ia mengangguk.
"Aku mengerti. Aku hanya tidak suka melihat penjualan turun tanpa tahu alasannya."
Arthur memahami perasaan itu.
Sebagai pemilik usaha, Peter harus membayar pemasok, menggaji pegawai, dan menjaga agar kedua tokonya tetap berjalan.
Ketidakpastian membuat semua keputusan terasa lebih sulit.
Namun, Arthur tidak ingin memberikan jawaban palsu hanya untuk membuat Peter merasa lebih tenang.
"Kami akan terus mengumpulkan data yang diperlukan," katanya. "Setelah itu, kita bisa membahas beberapa pilihan dan membandingkan risikonya."
Peter mengucapkan terima kasih.
Sebelum mereka pergi, ia mengatakan bahwa pegawainya mulai terbiasa menggunakan formulir baru. Mereka juga menemukan beberapa kejadian ketika pelanggan memilih produk pengganti daripada meninggalkan toko.
Informasi itu belum membuktikan adanya peningkatan penjualan.
Namun, informasi tersebut membantu mereka memahami perilaku pelanggan dengan lebih jelas.
Dalam perjalanan kembali, Daniel membuka catatan.
"Menurutmu, berapa lama lagi sebelum kita bisa memberikan rekomendasi?"
Arthur berpikir sejenak.
"Kita perlu melihat data beberapa hari lagi dan memastikan pencatatannya cukup konsisten. Setelah itu, kita bisa memberikan rekomendasi awal dengan menyebutkan keterbatasannya."
Daniel mengangguk.
"Setidaknya, kita mulai memiliki gambaran."
Arthur tersenyum.
"Benar. Dan itu lebih baik daripada memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi tidak didukung bukti."
Ia tahu bahwa beberapa pelanggan mungkin lebih menyukai janji besar.
Namun, ia lebih memilih membangun reputasi berdasarkan kejujuran.
Jika mereka ingin usaha ini bertahan, mereka harus belajar menerima bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan cepat.
3. Sebuah Undangan yang Berbeda
Sore hari, setelah kembali ke kampus untuk mengambil beberapa buku, Arthur menerima pesan dari Nathan Brooks.
Nathan mengingatkannya bahwa Meridian Financial Advisory akan mengadakan diskusi informal pada minggu berikutnya.
Topiknya adalah bagaimana perusahaan kecil dapat mengevaluasi peluang pertumbuhan tanpa mengabaikan kebutuhan modal kerja.
Arthur membaca pesan tersebut dengan penuh perhatian.
Sejak menghadiri forum sebelumnya, ia menyadari bahwa diskusi semacam itu memberinya kesempatan untuk menguji pemahamannya terhadap masalah bisnis yang berbeda-beda.
Ia juga dapat belajar dari orang-orang yang memiliki pengalaman profesional lebih luas.
Namun, ia tidak ingin datang dengan harapan mendapatkan pekerjaan atau perlakuan khusus.
Undangan itu hanyalah kesempatan untuk berdiskusi.
Arthur membalas bahwa ia bersedia hadir dan berterima kasih kepada Nathan atas informasinya.
Setelah itu, ia membuka catatan yang pernah dibuatnya mengenai analisis bisnis.
Ia mulai menyusun beberapa pertanyaan yang ingin dipahaminya lebih jauh.
Bagaimana perusahaan kecil menentukan kapan harus menambah pegawai?
Bagaimana mereka membedakan pertumbuhan yang sehat dari pertumbuhan yang hanya meningkatkan kebutuhan modal kerja?
Dan bagaimana sebuah perusahaan dapat menghindari situasi ketika penjualan meningkat, tetapi uang tunai justru semakin menipis?
Pertanyaan terakhir menarik perhatiannya.
Ia pernah melihat perusahaan besar mengalami kesulitan meskipun pendapatannya terus meningkat. Piutang yang menumpuk, persediaan yang terlalu besar, dan kewajiban pembayaran yang jatuh tempo dapat membuat bisnis kekurangan uang tunai.
Pendapatan bukan uang yang langsung tersedia.
Keuntungan akuntansi juga tidak selalu berarti perusahaan memiliki cukup kas untuk membayar kewajibannya.
Arthur kemudian teringat pada pelanggan-pelanggan kecilnya.
Samuel perlu memahami arus kas restoran.
Peter harus mengelola persediaan dan ketersediaan barang.
Thomas membutuhkan layanan yang sesuai dengan anggaran terbatas.
Robert ingin memahami bagaimana calon pelanggan berubah menjadi janji servis.
Mereka menghadapi persoalan berbeda, tetapi semuanya memiliki hubungan dengan cara mengelola sumber daya yang terbatas.
Arthur mulai melihat bahwa pengalaman membangun usaha kecil dapat membuat diskusi keuangan terasa lebih nyata.
Ia bukan lagi sekadar mahasiswa yang mempelajari teori dari buku.
Ia sedang mencoba menerapkan teori tersebut pada masalah yang benar-benar dihadapi orang lain.
Dan setiap kesalahan kecil memberinya pelajaran yang tidak dapat diperoleh hanya dengan menghafal rumus.
4. Clara Menemukan Sesuatu
Menjelang malam, Arthur menerima pesan dari Clara Vance.
Clara bertanya apakah mereka bisa bertemu sebentar di perpustakaan sebelum pulang.
Arthur segera membalas bahwa ia bisa datang.
Ketika tiba di perpustakaan, Clara sudah duduk di meja dekat jendela dengan beberapa lembar kertas di hadapannya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu," katanya.
Arthur duduk di seberangnya.
Clara menjelaskan bahwa ia telah mencoba menyederhanakan tabel keuangan yang digunakan Samuel. Ia ingin membuat versi yang tidak hanya mencatat penjualan dan pengeluaran, tetapi juga membantu pemilik usaha memahami perbedaan antara biaya rutin dan biaya yang muncul sesekali.
"Misalnya, biaya pembelian bahan makanan terjadi cukup sering," katanya. "Tetapi ada juga pengeluaran untuk memperbaiki peralatan atau mengganti sesuatu yang rusak. Kalau semuanya dicampur tanpa penjelasan, pemilik usaha mungkin kesulitan memahami perubahan pengeluaran."
Arthur memeriksa tabel tersebut.
Clara telah menambahkan bagian sederhana untuk mencatat pengeluaran berkala, tanpa membuat tabel utama menjadi terlalu rumit.
Ia juga menambahkan kolom catatan agar pemilik usaha dapat menjelaskan kejadian tidak biasa.
"Ini bagus," kata Arthur. "Terutama karena kau tidak mencoba memasukkan semua informasi ke dalam satu halaman."
Clara tersenyum.
"Aku mulai menyadari bahwa terlalu banyak informasi justru membuat orang enggan menggunakannya."
Arthur mengangguk.
"Bagaimana kalau kita mengujinya pada Samuel selama beberapa hari, lalu meminta pendapatnya?"
"Itu yang kupikirkan."
Arthur kemudian mengajukan pertanyaan mengenai cara menghitung pengeluaran yang tidak terjadi setiap hari.
Mereka mendiskusikan beberapa kemungkinan dan menyepakati bahwa tabel tersebut sebaiknya mencatat jumlah uang yang benar-benar dikeluarkan, disertai keterangan mengenai jenis pengeluaran. Jika diperlukan, mereka dapat membuat ringkasan mingguan atau bulanan untuk membantu pemilik usaha melihat pola.
Mereka tidak perlu berpura-pura menjadi perusahaan akuntansi profesional.
Tujuan awal mereka adalah membantu pemilik usaha mencatat informasi dasar secara lebih teratur.
Jika kelak pelanggan membutuhkan laporan akuntansi resmi atau nasihat pajak, mereka harus merujuk kepada tenaga profesional yang memenuhi syarat.
Clara menyukai pendekatan tersebut.
"Aku tidak ingin kita menawarkan sesuatu yang belum benar-benar kita kuasai," katanya.
Arthur tersenyum.
"Kalau begitu, kita memiliki prinsip yang sama."
Mereka menghabiskan hampir satu jam menyempurnakan rancangan tersebut.
Setelah selesai, Clara mengumpulkan kertas-kertasnya.
"Aku senang bisa mengerjakan sesuatu seperti ini," katanya. "Aku merasa kemampuan yang kupelajari bisa digunakan untuk membantu orang lain."
Arthur menatapnya dengan hangat.
"Itu juga yang membuatku tertarik membangun usaha ini."
Clara tersenyum, tetapi kemudian ekspresinya sedikit berubah.
"Aku masih belum menyelesaikan masalah keluargaku."
Arthur mengangguk tanpa mendesaknya untuk melanjutkan.
"Mereka ingin berbicara lagi dalam beberapa hari. Aku masih belum tahu bagaimana menjelaskan keputusanku."
Arthur mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati.
"Apakah kau sudah tahu apa yang ingin kau sampaikan?"
Clara menggeleng.
"Belum sepenuhnya."
"Kalau begitu, mungkin kita tidak perlu membicarakan jawabannya sekarang. Kau bisa memikirkan pertanyaan apa yang perlu kau ajukan kepada mereka sebelum membuat keputusan."
Clara memandangnya.
"Seperti apa?"
"Misalnya, apa sebenarnya yang mereka harapkan darimu, pilihan apa yang tersedia, dan apa konsekuensi dari setiap pilihan. Kau juga bisa meminta penjelasan mengenai hal-hal yang belum kau pahami."
Clara terdiam sejenak.
"Itu terdengar sederhana."
"Kadang-kadang, langkah pertama memang sederhana. Yang sulit adalah mengambilnya."
Clara tersenyum kecil.
"Aku akan mencoba."
Arthur tidak tahu apakah saran itu akan membantu Clara menyelesaikan persoalannya.
Namun, ia senang karena Clara mulai membicarakan langkah-langkah yang dapat ia ambil sendiri.
Arthur ingin berada di sisinya, tetapi ia tidak ingin menjadi orang yang mengambil alih semua keputusan hanya karena merasa mampu melakukannya.
Ia ingin Clara merasa lebih kuat, bukan lebih bergantung kepadanya.
Ketika mereka akhirnya meninggalkan perpustakaan, Clara mengucapkan terima kasih karena telah mendengarkannya.
Arthur hanya tersenyum.
Baginya, kesempatan untuk mengenal Clara dalam kehidupan kedua ini jauh lebih berarti daripada sekadar berusaha mengulang kenangan dari kehidupan sebelumnya.
Ia ingin mengetahui siapa Clara sebenarnya, apa yang ia inginkan, dan kehidupan seperti apa yang ingin dibangunnya.
Masa lalu Arthur tidak boleh menjadi alasan untuk menentukan masa depan Clara.
5. Sebuah Keputusan Kecil
Malam itu, Arthur kembali ke apartemennya dan membuka spreadsheet keuangan.
Ia memeriksa uang yang tersedia, biaya operasional, serta kewajiban yang mungkin muncul dalam beberapa minggu ke depan.
Proyek Thomas berjalan sesuai rencana.
Pekerjaan Robert akan segera dimulai.
Proyek Peter masih membutuhkan pengumpulan data.
Sementara itu, Samuel mulai menggunakan tabel keuangan sederhana yang dikembangkan bersama Clara.
Mereka memiliki beberapa peluang untuk memperluas layanan, tetapi juga memiliki pekerjaan yang belum selesai.
Arthur menuliskan satu keputusan di dokumen rencana usaha.
Tidak menerima proyek baru yang membutuhkan komitmen besar sebelum jadwal dan biaya proyek berjalan benar-benar dipahami.
Ia tidak bermaksud menolak semua kesempatan.
Jika sebuah proyek baru sesuai dengan kemampuan mereka, mereka tetap dapat mempertimbangkannya.
Namun, mereka tidak akan mengambil pekerjaan hanya karena takut kehilangan pendapatan.
Arthur kemudian membuka catatan investasi Aurelia Therapeutics.
Ia memeriksa kembali alasan menjual sebagian besar posisi dan memastikan bahwa catatan tersebut membedakan hasil aktual dari asumsi awal.
Harga saham setelah penjualannya mungkin saja terus naik.
Jika itu terjadi, ia mungkin akan merasa telah menjual terlalu cepat.
Namun, keputusan menjual sebagian besar posisi tetap didasarkan pada konsentrasi risiko, kebutuhan likuiditas, dan ketidakpastian setelah pengumuman hasil uji klinis.
Ia tidak dapat mengubah keputusan itu hanya untuk mengejar keuntungan tambahan yang belum tentu akan diperoleh.
Arthur menutup dokumen investasi.
Ia mulai memahami bahwa kehidupan kedua bukan berarti ia harus memanfaatkan setiap pengetahuan masa depan untuk menghasilkan uang sebanyak mungkin.
Pengetahuan itu dapat membantunya mengenali peluang, tetapi ia tetap harus memutuskan mana yang layak dikejar dan mana yang sebaiknya dilewatkan.
Jika ia hanya berfokus pada kekayaan, ia berisiko mengulangi kesalahan yang sama seperti dalam kehidupan pertama.
Ia bisa saja menjadi kaya lebih cepat.
Namun, ia juga bisa kembali mengorbankan waktu, hubungan, dan kebebasan yang ingin ia lindungi.
Arthur memandang daftar pekerjaan yang tersisa.
Masih banyak hal yang harus diselesaikan.
Ia belum memiliki perusahaan besar.
Ia belum memiliki sumber pendapatan yang stabil.
Ia bahkan belum tahu apakah hubungan dengan Clara akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dekat.
Tetapi setidaknya, ia mulai membuat keputusan dengan kesadaran yang lebih baik.
Ia tidak lagi hanya bertanya, Bagaimana cara mendapatkan keuntungan terbesar?
Ia juga bertanya, Apa yang akan dikorbankan untuk mendapatkan keuntungan itu?
Dan bagi Arthur Sterling, pertanyaan kedua mungkin merupakan pelajaran terpenting yang dibawanya kembali dari kehidupan pertamanya.
Sebab, ia sudah pernah mendapatkan hampir semua yang diinginkan dunia.
Kini, ia ingin memastikan bahwa dalam usahanya meraih kekayaan untuk kedua kalinya, ia tidak kembali kehilangan hal-hal yang paling berharga.
Masa depan masih terbuka di hadapannya. Namun, kali ini, Arthur tidak akan membiarkan ambisi menjadi satu-satunya hal yang menentukan arah langkahnya.