Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Part 35
"Astaga. Aku tidak akan kabur. Kalian pikir, bagaimana caraku untuk kabur dari roof top seperti itu? Loncat gedung? Yang benar saja." Cio menjawab malas membuat mereka terdiam di tempatnya, merasa apa yang diucapkan tuannya itu memang ada benarnya.
"Baiklah, Tuan."
Tanpa mau memperdulikan mereka lagi, Cio membuka pintu itu lalu menutupnya kembali. Meninggalkan para pengawalnya untuk tetap setia di sana, tanpa banyak alasan untuk mengganggunya lagi. Di roof top itu sudah ada Alex yang menunggunya, menatap heran ke arah temannya yang begitu aneh menyuruhnya untuk datang di tempat seperti itu.
"Kenapa harus di tempat seperti ini hanya untuk bertemu?" Alex berjalan ke arah Cio dengan tangan yang masih berada di saku celananya.
"Di luar ada pengawal Papaku." Cio mendudukkan tubuhnya di kursi, sembari menikmati angin yang tertiup kencang menerpa wajah dan tubuhnya.
"Kenapa sampai menyewa pengawal untukmu? Apa kamu diperkenalkan sebagai ahli waris dari keluarga Alexandra di kampus ini? Berarti namamu Tuan Alencio sekarang ya?" sindir Alex dengan senyum khasnya sembari mendudukkan tubuhnya di samping Cio yang berdecak tak menyukai ucapannya.
"Sudahlah. Aku sudah cukup kesal dengan tingkah laku Papaku dan kamu jangan menambahinya dengan cara menyindir namaku."
"Kenapa? Bukannya dengan menggunakan nama itu, kamu akan dihormati banyak orang?" Mendengar ucapan Alex itu, Cio justru terdiam dengan sesekali mengembuskan nafas beratnya.
"Tidak. Aku tidak pernah menyukai nama itu. Aku lebih suka nama Cio, nama yang selalu aku dengar saat Mama memanggilku." Cio menjawab lirih seolah ada luka yang terbuka mengingat kenangan indah itu.
"Iya, aku mengerti. Tapi kenapa Papamu ingin menunjukkan identitasmu di kampus ini? Seingatku, Papamu pernah melakukannya di sekolah SMP kita yang dulu. Waktu itu kamu sering di bully, sampai kamu sakit-sakitan. Setelah memperkenalkan mu ke seluruh murid dan pihak sekolah, orang tua murid yang membully mu bahkan sampai kesusahan mendapatkan pekerjaan setelah bangkrut. Semua itu karena Papamu kan? Papamu itu mengerikan, beliau tidak akan mengungkapkan kekuasaannya bila tidak ada masalah yang penting." Alex berujar ngeri, terlebih lagi saat mengingat bagaimana papanya temannya itu memperlakukan orang-orang yang sudah membuatnya marah.
Karena alasan itu juga lah, kenapa Alex memperingati Farel untuk tidak berurusan dengan Cio waktu itu. Temannya itu memiliki Papa monster, akan bagaimana nasib Farel bila sudah berurusan dengan keluarga Alexandra. Pasti keluarganya juga akan terkena imbasnya, sesuatu hal yang tidak mungkin Alex biarkan, meskipun waktu itu Farel sudah cukup keterlaluan.
"Untuk menunjukkan kastah antara aku dan Amanda." Cio menjawab penuh arti, dan tentu saja jawabannya itu tak membuat Alex mengerti dari segi pemikiran temannya.
"Maksud kamu apa?"
"Kamu tahu kan hubunganku dengan Amanda sangat dekat? Meskipun kita tidak berpacaran dengannya, Papaku juga bisa menilai kalau aku menyukainya. Beberapa Minggu yang lalu, Viona datang dan berbicara kalau aku harus menjauhi Amanda."
"Masalah itu? Amanda sudah menceritakannya padaku. Beberapa hari ini, dia terus menanyakan kabarmu, dia merasa sangat mengkhawatirkanmu." Alex menyahut bersalah karena tidak mengatakan hal ini ke Cio di ponsel, Alex hanya tidak ingin temannya itu akan memberontak dan akan mendapatkan masalah setelah mengetahui Amanda mengkhawatirkannya.
"Aku yang lebih mengkhawatirkannya, Lex." Cio menunduk sendu dan itu bisa Alex mengerti.
"Papaku mengancam akan mencelakai dia kalau aku tidak mau menuruti semua perintahnya. Aku terpaksa pulang tapi aku tetap ingin kuliah di sini, dengan syarat tidak boleh menemui Amanda ataupun menyapanya." Cio melanjutkan ucapannya dengan nada yang kian sendu, merasa tidak bisa berbuat banyak kali ini.
"Amanda pasti akan salah paham dengan ini." Alex menjawab ragu yang justru dianggukki oleh Cio sendiri.
"Aku tahu. Amanda pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak menyapanya? Apalagi setelah dia tahu statusku, Amanda pasti berpikir lebih buruk lagi. Itu lah yang Papaku inginkan. Menunjukkan ke Amanda, bila kasta kita berbeda." Cio menyunggingkan senyum mirisnya merasa sudah bisa menebak jalan pikiran orang lain, terlebih lagi papanya sendiri. Sedangkan Alex hanya terdiam, mencari jalan keluar terbaik untuk membantu teman baiknya itu.
"Kamu tenang saja. Aku akan memberitahukan hal ini ke Amanda kalau kamu cuma pura-pura tidak ingin menyapanya."
"Terima kasih, tapi aku tidak mau kamu mendapatkan masalah dari Papaku. Membuat Amanda tahu semua ini juga bukan hal bagus. Kalau dia datang menemui ku, semua akan lebih buruk dari ini." Alex mengalihkan tatapannya, merasa tidak percaya dengan jawaban Cio yang justru menolak bantuannya. Meskipun dari ucapannya itu semua banyak benarnya, tapi tetap saja Alex merasa ingin membantu.
"Aku pikir kamu akan memperjuangkan Amanda, ternyata tidak." Alex menyunggingkan senyum sinisnya, yang kali ini ditatap tanya oleh Cio di sampingnya.
"Selama ini, kamu tidak pernah merasa cukup bahagia setelah kematian Mamamu. Tapi dengan Amanda, aku bisa melihat bagaimana kamu begitu bahagia saat di sampingnya. Seharusnya kamu bisa lebih berusaha lagi untuk kebahagiaanmu sendiri, kamu juga butuh hidup yang lebih baik kan?" Alex melanjutkan ucapannya, mencoba memberi Cio keyakinan akan kebahagiaannya sendiri.
"Kamu benar. Setelah kematian Mamaku, aku merasa bila aku sudah tidak memiliki kebahagiaan lagi. Tapi bukan berarti aku tidak berusaha mencari kebahagiaanku sendiri, aku bahkan sering tertawa palsu di depan orang-orang terdekatku. Tapi bersama dengan Amanda, aku bisa tersenyum tulus. Lalu bagaimana mungkin aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri, sedangkan gadis yang berhasil membuatku bahagia akan meregang nyawa karena Papaku?" Cio bertanya ke arah Alex yang terdiam, bahkan matanya mulai berkaca-kaca meski bibirnya tersenyum miris.
"Aku tidak bisa melakukannya, Lex. Tidak bisa." Cio melanjutkan ucapannya sembari menggeleng lemah.
"Aku mengerti," jawab Alex seadanya tanpa bisa membantah. Keduanya kembali terdiam, menatap langit cerah yang terlukis indah di langit.
"Aku tadi melihat Amanda berangkat bersama dengan Farel? Apa mereka sudah baikkan?" Cio tiba-tiba bertanya, dari nada suaranya terdengar sendu sembari tertunduk lesu.
"Aku tidak tahu. Tapi akhir-akhir ini mereka memang lebih sering bersama."
"Pada akhirnya aku juga tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaanku kan, Lex? Karena sekarang Amanda sudah bisa dekat dengan lelaki yang disukainya. Jadi apa yang aku korbankan sekarang ini sudah benar." Cio menatap awan luas di hadapannya, tersenyum sumringah walau hatinya terasa sesak menyiksa dadanya. Sedangkan Alex hanya terdiam, berpaling tanpa bisa menjawab apa-apa.