Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN DI TANAH SAMPAH
Tiga hari berlalu sejak Xuanyuan mengambil Pedang Tulang Hitam.
Setiap malam, setelah sekte tertidur, ia menyelinap ke tebing utara tempat yang tersembunyi di balik tumpukan batu dan semak berduri. Di sana, di bawah cahaya bulan yang pucat, ia berlatih. Bukan dengan teknik mewah. Hanya ayunan. Ribuan kali. Ribuan hari.
Tangan kanannya memegang gagang tulang yang kasar. Bilah patahnya berkilau samar saat ia mengayunkan. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena beban pedang itu luar biasa berat. Otot lengannya terasa robek, keringat menetes ke tanah yang berlumut.
"Kau tidak berlatih untuk menjadi cepat. Kau berlatih agar setiap ayunan menjadi bagian dari dirimu. Saat musuh melihat pedang itu turun, mereka tidak akan melihat senjata mereka akan melihat tekad yang tidak bisa dipatahkan." suara Lang Wuyan terdengar pelan di benaknya, seperti angin yang lewat.
Xuanyuan berhenti, napasnya terengah-engah. Ia menatap bilah patah itu.
"Siapa pemilikmu sebelum aku?" bisiknya.
Tidak ada jawaban. Tapi untuk sekejap, di permukaan tulang hitam itu, terlihat bayangan samar seseorang yang berdiri sendirian di tengah hujan, dikelilingi oleh banyak musuh. Lalu hilang.
Pagi itu, nasib buruk datang lebih awal.
Saat Xuanyuan sedang menyapu halaman depan, Hu San dan dua temannya datang. Wajah mereka gelap. Jelas mereka mencari masalah.
"Hei cacat. Di mana roti yang kuberikan kemarin? Kau tidak menghabiskannya, lalu berani membuangnya?" Hu San menendang keranjang kosong di samping Xuanyuan. "Atau... kau sudah punya makanan lain? Mencuri dari dapur sekte, mungkin?"
"Aku tidak mencuri," jawab Xuanyuan tenang, terus menyapu.
"Diam! Kau sampah, dan sampah tidak boleh punya suara!" Hu San menendang sapu dari tangan Xuanyuan, lalu mendorong dadanya hingga ia terjatuh ke tanah. "Berlutut. Minta maaf. Atau aku pastikan kau tidak bisa berdiri lagi besok pagi."
Xuanyuan tidak berlutut. Ia bangkit perlahan, debu menempel di jubah lusuhnya. Matanya yang tertutup kain mantra menatap lurus ke arah Hu San. Sesuatu dalam keheningan itu membuat Hu San mundur selangkah tanpa sadar.
"Kau... berani menatapku? Hajar dia!"
Dua temannya menerjang. Xuanyuan tidak memiliki teknik bertarung. Ia hanya punya insting yang tajam Pupil Gandanya merasakan setiap perubahan napas, setiap pergeseran berat badan, setiap niat membunuh yang melonjak.
Tangan kiri Xuanyuan bergerak cepat, menangkis pukulan pertama dengan pergelangan tangan. Tulang jarinya nyeri, tapi ia tidak mundur. Tubuhnya yang kurus ternyata jauh lebih tangguh dari yang terlihat hari-hari menyapu, mengangkat batu, dan membawa air telah membentuk otot yang padat dan keras di bawah kulitnya yang pucat.
Pukulan kedua datang dari samping. Xuanyuan menunduk, tinju itu melesat di atas punggungnya. Ia melangkah masuk, bahunya menghantam perut lawan. Pemuda itu terbatuk, terjatuh mundur.
Hu San marah. Ia mengeluarkan pedang pendek dari pinggangnya senjata tajam, berkilauan.
"Kau membuatku malu. Sekarang aku akan melukaimu sedikit. Supaya kau tahu tempatmu."
Pedang itu menebas ke arah wajah. Xuanyuan tidak sempat berpikir. Ia mundur, kakinya tersandung batu, terjatuh ke belakang. Pedang itu menebas udara tepat di atas matanya. Ujung bilah menyayat kain mantra hitam di dahinya.
Kain itu terurai sedikit.
Hu San terhenti. Matanya terbelalak.
Di balik celah kain itu, ia melihat satu lingkaran hitam, lalu lingkaran kedua yang lebih kecil di dalamnya berputar perlahan, seakan menelan cahaya pagi.
"Itu... apa itu mata iblis?!" Hu San mundur, tangannya gemetar.
Xuanyuan buru-buru menutup kembali kain itu dengan tangan kirinya, jantungnya berpacu. Ia tidak siap. Ia belum boleh diketahui.
"Pergi," katanya, suaranya rendah dan bergetar.
Hu San tertawa gugup, lalu ketawa itu berubah menjadi amarah. "Tidak. Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada. Dan sekarang... aku harus memastikan kau tidak pernah menceritakannya pada siapa pun."
Hu San mengangkat pedang, matanya menyala dengan niat membunuh yang nyata.
Tiba-tiba, suara dentuman logam terdengar.
Xuanyuan tidak berpikir. Tangannya meraih ke pinggang dan Pedang Tulang Hitam yang patah itu terbang keluar. Ia tidak mengayunkannya dengan terampil. Ia hanya memegangnya dengan kedua tangan, menangkis ke atas.
KLANG!!!
Getaran dahsyat meledak di antara mereka. Pedang Hu San terlempar dari tangannya, berputar di udara dan menancap ke tanah beberapa langkah jauhnya. Tangan Hu San kesakitan, ia berlutut, menatap Xuanyuan dengan ngeri.
"Senjata... dari mana kau dapat senjata itu?"
Xuanyuan berdiri, napasnya berat. Ujung pedang patah itu menunjuk ke tanah, tetapi aura dingin yang memancar dari tulang hitam itu membuat udara di sekitar mereka terasa menurun suhunya.
"Pergi. Atau ayunan berikutnya tidak akan menangkis."
Ada sesuatu di matanya meski tertutup kain yang membuat Hu San percaya sepenuhnya. Ia meraba pergelangan tangannya yang bengkak, lalu berlari terbirit-birit bersama kedua temannya, meninggalkan pedangnya yang masih menancap di tanah.
Xuanyuan berdiri sendirian di halaman yang sepi. Tangan kanannya gemetar hebat. Pedang patah itu terasa seakan memiliki berat yang semakin bertambah. Ia menurunkan lengannya perlahan.
"Ayunan pertama yang sesungguhnya. Tidak buruk untuk pemula." Lang Wuyan terdengar, kali ini ada sedikit rasa hormat dalam suaranya. "Tapi kau membuat kesalahan besar. Hu San tahu. Dan orang yang merasa malu dan takut... akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar untuk menutupi ketakutannya."
Xuanyuan menatap arah ke mana mereka lari.
"Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, bukan?"
"Bukan karena pertarungan ini. Tapi karena mata yang kau sembunyikan itu. Sekte Awan Langit bukan tempat yang aman untuk seseorang yang membawa pusaran di matanya. Segel pertama retak. Yang lain akan menyusul. Dan ketika mereka terbuka... Langit akan tahu di mana kau berada."
Xuanyuan mengambil pedang Hu San dari tanah, lalu mematahkan bilahnya dengan tangan kosong dengan satu gerakan tegas. Besi itu berderit lalu patah. Ia meletakkan gagangnya di atas batu gerbang. Sebuah pesan tanpa kata.
Sore itu, ia tidak pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Ia kembali ke gubuknya, mengemas satu-satunya miliknya sepotong jubah usang, dan separuh kenangan tentang masa kecil yang kabur. Di bawah bantal jeraminya, ia menemukan sesuatu yang tidak ia taruh di sana.
Sebuah kantong kain kecil. Di dalamnya ada beberapa koin perak, sepotong roti kering, dan selembar kertas yang bertuliskan tangan halus:
"Aku mendengar mereka berencana melaporkanmu ke tetua. Pergilah sebelum malam tiba. Jangan cari aku. Aku akan mencarimu. L.Y."
Xuanyuan menggenggam kertas itu erat. Matanya terasa panas. Ia melipatnya dengan hati-hati, menyimpannya di dekat dadanya, di atas cincin perak tua itu.
"Mereka mengusirku sebelum aku siap," bisiknya pelan. "Tapi aku tidak akan pergi dengan tangan kosong."
Ia memandang ke arah puncak gunung sekte ke arah aula utama tempat para tetua duduk di atas kekuasaan mereka.
"Satu hari nanti... aku akan kembali. Dan saat itu, pintu gerbang ini akan terbuka untukku, bukan untuk mengusirku."
Malam itu, saat bulan naik ke puncaknya, Liu Xuanyuan melangkah keluar dari gerbang Sekte Awan Langit yang telah menjadi rumahnya selama delapan belas tahun. Di pinggangnya tergantung Pedang Tulang Hitam yang patah. Di matanya, kain mantra itu masih terikat sedikit lebih longgar, sedikit lebih siap.
Di belakangnya, di jendela menara obat, satu sosok berdiri diam menonton sosoknya menghilang dalam kabut malam. Tangannya menekan dadanya, di mana separuh cermin retak tersembunyi di balik jubahnya.
"Semoga angin membawamu ke tempat yang lebih baik, Xuanyuan," bisiknya pelan.
Dan di kejauhan, di wilayah yang belum pernah diketahui Xuanyuan, sebuah pilar cahaya ungu kedua berkedip samar lalu padam.
Perjalanan menembus Langit Abadi baru saja dimulai.