Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.Melunakan hati.
Situasi memanas. Bang Oscar sungguh tak bisa di tenangkan. Bahkan Pak Dante, Bang Yudhistira dan Prada Syafi'i dan seorang anggota lagi tidak bisa membuat Bang Oscar tenang.
Sejak tadi Mama Dilan melarang Pitta untuk mendekati suaminya yang sudah seperti banteng mengamuk, tapi akhirnya beliau mengijinkannya.
"Pitta, maju nak..!! Peluk suamimu dengan erat, pasti Bang Oscar mu mau mendengarkan..!!" Perintah Mama Dilan.
Pitta melangkah pelan dengan tangisnya. Ia setengah berlari mendekati Bang Oscar, tepat saat itu kaki Bang Samuel menendang. Dalam sepersekian detik, Bang Oscar sigap menghadang dan menangkisnya lalu balik menendang dada sahabatnya.
Buugghhh...
Tangan Bang Oscar menarik Pitta agar tidak sempat jatuh ke lantai. "Kenapa kamu nggak diam sama Mama???" Ucapnya setengah membentak.
Refleks hal yang sama Pak Dante pun menegur keras istrinya. "Bagaimana kamu ini, dek. Kalau Pitta sampai kenapa-napa, anakmu itu bisa menghajar ku..!!!!"
Entah apa yang terjadi, Pitta dan Mama Dilan seakan terlihat sangat tersinggung. Pitta lalu menghampiri Mama Dilan, keduanya pergi dengan membawa wajah mendung.
Pak Dante yang emosi langsung menampar wajah putranya.
plaaaaakk..
"Cukup, Oscar..!!!! Kendalikan amarahmu itu..!!! Urusan ini lanjut nanti.. Kejar Pitta sekarang..!!!!" Bentak Bang Dante.
"Mati kau, le..!!" Ancam Bang Oscar meskipun ia melihat sahabatnya sudah terkapar, ia masih sempat menginjak lehernya.
"Sempat-sempatnya kau mengancam. Cepat kejar Pitta." Omel Bang Yudhistira.
~
"Mamaaa.. Pitta di bentak Abang." Pitta mengadu sesenggukan sampai napasnya sesak.
"Hari ini Papa juga bentak Mama paling keras."
Kedua wanita itu menangis duduk meringkuk di bawah sebuah pohon di area taman kota.
Pak Dante paham betul saat istrinya tengah bersedih, pasalnya Ia memang hampir tak pernah membentak istrinya itu. Berbeda dengan Pitta, gadis itu sebenarnya sudah biasa di bentak, tapi kali ini bentakan Bang Oscar terasa begitu menyayat perasaan.
"Dek.. Bukan begitu maksud Abang. Ayo ikut dengan Abang, biar cepat clear permasalahan kita." Bujuk Pak Dante.
Bang Oscar ikut berjongkok, ia pun membujuk Pitta dengan lembut. "Ayo kita pulang, bicara di rumah..!!" Nadanya besar dan kasar khas orang seberang.
Pak Dante langsung menoleh pada putranya yang jauh dari kata kelembutan. Bang Oscar pun berdehem mencoba mengatur kata yang baik untuk Pitta.
"Pittaa..!!!" Bang Oscar melemahkan nada suaranya. "Pulang yuk..!! Kita ngobrolnya di rumah, bisa lebih santai."
Pitta masih kesal, terus menepis tangan besar Bang Oscar.
"Sayaaang..!!"
Usai mendengar kata itu Pitta langsung luluh, ia menyambut uluran tangan pria yang 'mengaku' sebagai suaminya.
"Papa mau satu mobil sama saya atau pakai mobil dinas??" Tanya Bang Oscar.
"Mobil dinas saja, Papa pinjam ajudanmu. Kalian bicaralah berdua. Jangan ribut di mobil..!!"
:
Mobil pribadi Letnan Oscar melaju perlahan menuju rumah sakit tentara. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam terasa sunyi. Pitta memandang ke luar jendela, belum sepenuhnya hilang rasa kesalnya, sedangkan Bang Oscar duduk diam di sampingnya, pikirannya tertuju pada keadaan kesehatan istrinya yang sedang mengandung.
Sesampainya di depan gedung rumah sakit, Pitta menoleh ke arah Bang Oscar dengan tatapan bingung. "Mau apa kita kesini??"
Bang Oscar menatapnya dengan nada tenang namun serius. "Periksa kesehatanmu, biar semua berita yang simpang siur tentang telatnya haidmu bisa lebih jelas dan tidak ada lagi yang memutar balikkan kenyataan."
Mereka kemudian berjalan masuk ke ruang pemeriksaan. Saat menunggu dokter, Bang Oscar mengusap puncak kepala Pitta dengan lembut. Hati Pitta menolak, tapi tidak dengan respon tubuhnya. "Maaf tadi suara Abang terlalu keras, Abang hanya takut sesuatu terjadi padamu dan..... Ya... Janin kecil Abang." ucapnya pelan.
Pitta hanya menunduk, ia meremas ujung lengan baju dengan gelisah. Ia masih ingat bentakan dan keributan tadi di ruang meeting Batalyon, tapi usapan tangan suaminya itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Tak lama kemudian dokter senior dari militer datang untuk memeriksa keadaan kandungan Pitta sekaligus memastikan kondisi kesehatannya secara keseluruhan.
...
Dokter senior militer itu sudah memeriksa kesehatan Pitta secara menyeluruh, tatapannya serius namun tenang.
"Kalau di lihat dari hasil pemeriksaan lanjutan dan sample yang sudah diambil sebelumnya, Mbak Pitta benar‑benar hamil dua bulan. Kondisi janin terus terang kurang baik, kau perlu menjaga agar bumil tidak terlalu sering terkejut atau terkena tekanan batin yang berat."
Bang Oscar menahan napas sejenak, matanya beralih ke arah Pitta yang sedikit terkejut mendengarnya. Ia mengusap lembut paha Pitta di sampingnya, suaranya lebih rendah dan hati‑hati.
"Allah Ya Rabb.." Bang Oscar terduduk lemas. "Kau dengar itu ya, dek? Kau harus jaga si kecil ini. Tugas Abang semakin bertambah, Abang keras demi kebaikanmu, bukan berniat menyakitimu..!!"
Pitta menunduk menatap perutnya yang masih belum terlihat buncit, air mata menetes perlahan ke ujung gaunnya. Ia belum terbiasa dengan kenyataan bahwa ada nyawa kecil yang tumbuh di dalam tubuhnya.
"Apakah… kondisi ibunya aman, Dok?" tanya Bang Oscar terus memastikan.
"Selama tekanan batin berkurang dan istirahat cukup, insya Allah aman. Yang paling penting, hindari pertengkaran yang membuat bumil stress berlebihan agar janin juga aman." Jawab dokter.
Bang Oscar mengangguk paham, pemeriksaan pun usai. Saat mereka bersiap keluar ruang pemeriksaan, dokter memanggil Bang Oscar sebentar untuk berbicara secara pribadi. Ia pun meminta Pitta menunggu sebentar di luar.
"Letnan, hasil pemeriksaan tambahan sudah keluar. Dari HPHT yang di berikan istrimu, juga keterangan lainnya, hasilnya menunjukkan kemungkinan besar janin ini adalah anakmu. Namun secara resmi kita masih menunggu hasil pemeriksaan DNA akhir untuk keputusan sidang etik nanti." Kata dokter. "Ada metode yang bisa di lakukan, NIPP. Kita bisa melakukannya untuk mendukung sidang perkara ini."
Bang Oscar mengangguk paham. Ia sedang mengusahakan yang terbaik bagi Pitta dan calon bayinya.
"Hanya yang Abang heran, kenapa kau tidak menikah resmi dulu. Kenapa harus nikah siri dulu. Itu bahaya.. Bagi karirmu, Oscar. Untung kau punya bukti valid pernikahanmu dengan Pitta." Ujar dokter.
"Saya tidak ada pembelaan diri, Abang pun pasti tau jawaban pastinya." Jawab Bang Oscar.
"Pitta masih di bawah umur, kan?? Hmmm.. Maksudnya sudah cukup, hanya saja secara psikologi dan fisik, kau tau betul istrimu belum siap menghadapi kehamilan. Dari ekspresi wajahmu, kau sangat menyesali semua, kurang kontrol akhirnya membuat Pitta akhirnya hamil. Benar, Letnan Oscar??"
"Siap."
Dokter mengangguk perlahan, tatapannya penuh peringatan. "Baiklah, Oscar. Abang harap kau benar‑benar paham. Kenyataan menunjukkan Pitta masih terlalu muda untuk menjalani kehamilan ini, sedangkan usia dan pengalamanmu sudah jauh lebih matang. Tugasmu adalah menjaganya dengan lebih ekstra hati‑hati. Kau harus siaga untuk dua nyawa dalam pelukanmu."
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍