NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Telinga di Balik Dinding

Perekam suara itu seukuran kancing baju, dan Andien menyelipkannya di balik lipatan kebayanya seperti menyembunyikan jantung kedua.

"Tekan sekali untuk mulai, sekali lagi untuk berhenti," kata Laras kemarin, dalam pertemuan singkat di bangku taman rumah sakit. "Jangan menyalakannya kalau kamu tidak yakin ada yang penting. Dan Andien, kalau ada bahaya, lupakan semuanya dan pergi."

"Bagaimana Ibu bisa setenang ini?"

Laras tersenyum pahit. "Aku dokter. Aku dilatih tenang saat pasien sekarat. Hanya saja kali ini, pasiennya pernikahanku sendiri."

Sekarang, di dapur paviliun, Andien mengaduk teh dengan tangan yang berusaha tidak gemetar. Dari ruang tamu terdengar suara mobil memasuki halaman. Bukan satu, tetapi dua.

Bu Wati muncul di ambang dapur, wajahnya tegang. "Mbak, Tuan Carlo datang. Dengan tamu."

"Siapa?"

"Pak Hendra."

Nama itu membuat napas Andien tertahan. Ia menekan perekam di balik kainnya. Satu kali, pelan.

"Bu Wati, tolong bawakan kue ke depan. Saya yang antar tehnya."

"Tapi Tuan bilang Mbak harus di kamar..."

"Kalau saya bersembunyi, justru mencurigakan. Saya kan 'keponakan' Ibu, bukan?"

Bu Wati menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, antara cemas dan, entah mengapa, kagum.

---

Hendra Subroto adalah pria enam puluhan dengan rambut perak tersisir licin dan kacamata berbingkai emas. Ia duduk di sofa dengan punggung tegak dan tangan terlipat di atas lutut, seperti kepala sekolah yang sedang menunggu murid bandel. Di sampingnya, Carlo tampak gelisah, jemarinya mengetuk lengan kursi.

Andien masuk membawa nampan dengan kepala sedikit tertunduk, persis pelayan yang sopan.

"Teh, Pak."

"Terima kasih, Nak." Hendra menerima cangkirnya, matanya menyapu Andien sekilas, ramah dan datar. "Keponakan Bu Wati, ya? Dari desa?"

"Iya, Pak."

"Desa mana?"

Dada Andien berdegup. "Karang Sewu, Pak. Di kabupaten sebelah."

Ia melihat Carlo menegang. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup. Hendra tak berkedip. Senyumnya melebar, penuh keramahan yang terlalu rapi.

"Desa yang indah, saya kira. Sungainya terkenal, ya."

Tangan Andien yang memegang nampan mengencang. *Sungai.* Ia tak pernah menyebut sungai.

"Kami tidak pernah ke sana, Pak Hendra," potong Carlo cepat, nadanya terlalu ringan. "Dien, sudah, tinggalkan kami. Kami ada urusan kantor."

"Baik, Mas... Tuan."

Andien berbalik. Langkahnya tenang, tetapi telapak tangannya basah. Ia tidak masuk kamar. Ia berhenti di balik tembok dapur yang berbatasan dengan ruang tamu, tempat Bu Wati dulu pernah menunjukkan bahwa suara dari sana terdengar jelas melalui lubang angin.

Ia berjongkok, memeluk lutut, dan mendengarkan.

---

"Kamu terlalu ceroboh, Carlo." Suara Hendra turun satu oktaf, tak lagi ramah. "Rumah ini, gadis itu, semua ini. Kamu pikir Laras tidak akan menemukannya?"

"Laras tidak tahu apa-apa."

"Dia sudah menyelidikimu. Aku punya orang di dalam rumahmu, ingat?" Terdengar denting cangkir diletakkan. "Dia memeriksa catatan telepon. Dia menelepon kantor. Dan sekarang..."

"Aku bisa mengurusnya."

"Seperti kamu mengurus malam di sungai itu?"

Hening. Andien menahan napas hingga dadanya perih.

"Aku tidak pernah bilang itu tentang sungai," kata Carlo pelan. Suaranya berubah, dan Andien mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar darinya sebelumnya: kewaspadaan dingin, seperti pisau yang ditarik perlahan dari sarungnya. "Aku bilang aku jatuh dari tebing."

"Kamu bilang begitu pada polisi. Pada Laras. Tapi pada orang-orangmu sendiri kamu bilang tepi sungai, waktu kamu setengah sadar di mobil pertama."

"Aku tidak ingat pernah bicara dengan siapa pun di mobil."

"Kamu demam, Carlo. Kamu bicara macam-macam."

"Aku tidak masuk mobil siapa pun." Kata-kata Carlo meluncur pelan, ditimbang satu per satu. "Aku keluar dari desa itu dengan berjalan kaki, ke jalan raya, lalu menelepon sopirku dari telepon umum. Hanya satu orang yang tahu aku selamat selama tiga minggu itu. Dan itu bukan kamu."

Di balik tembok, jantung Andien berdentam begitu keras ia khawatir terdengar sampai ruang tamu. Jari telunjuknya mencari tombol di balik kebaya, memastikan alat itu masih menyala.

"Kalau begitu," suara Hendra datar, "dari mana aku tahu soal sungai?"

"Itu pertanyaanku."

"Mungkin dari laporan anak buahku yang menemukan darah di sana."

"Anak buahmu?" Carlo tertawa pendek, hampa. "Aku tidak menugaskan siapa pun mencariku di sana. Kamu yang menyuruh mereka ke sana, Hendra. Kenapa kamu tahu tempat yang tak kuberitahukan pada siapa pun?"

Kesunyian merambat, panjang dan tajam.

Kemudian terdengar suara yang membuat darah Andien membeku. Bukan teriakan atau bantingan, melainkan tawa pelan. Tawa seorang pria tua yang lelah berpura-pura.

"Kamu selalu lebih pintar dari yang kuduga, Nak." Hendra tak lagi memakai nada sopan. "Itulah masalahmu sejak dulu. Dan itulah sebabnya ayahmu memilihmu, bukan aku."

"Jadi benar kamu."

"Aku tidak mengaku apa-apa." Terdengar gesekan kain, Hendra berdiri. "Tapi aku beri satu nasihat dari orang yang dua puluh tahun menjaga perusahaan ini untuk ayahmu. Jumat nanti ada RUPS luar biasa. Dewan akan memutuskan siapa yang memimpin Prasetia Group. Kamu butuh suara keluarga Prameswari, dan itu berarti kamu butuh Laras. Jadi bersikaplah baik padanya. Dan buang gadis ini sebelum Jumat."

"Atau?"

"Atau aku sendiri yang membuangnya." Suara itu lembut, nyaris penuh kasih. "Dengan cara yang tidak akan kamu sukai."

Andien menutup mulut dengan kedua tangan.

"Jangan berani menyentuhnya," desis Carlo.

Itu bukan suara pria yang sedang berpura-pura. Itu suara yang pecah, mentah, dan Andien tak tahu mengapa, di tengah ketakutan, hatinya terasa remuk.

"Menarik," kata Hendra pelan. "Kamu benar-benar peduli, ya? Ironis. Padahal kamu tak pernah peduli pada istri yang sah."

Langkah sepatu menjauh. Pintu depan terbuka dan menutup. Dan setelahnya hanya ada hening, dan sebuah suara yang tak ingin Andien dengar: dengusan napas Carlo yang terpukul, lalu bunyi sesuatu dipukulkan ke dinding.

---

Andien tidak tahu berapa lama ia berjongkok di sana. Ketika ia akhirnya berdiri, kakinya kesemutan, dan perekam di balik kebayanya terasa panas.

Ia menekannya sekali. Berhenti.

"Dien."

Ia terlonjak. Carlo berdiri di ambang dapur, kemejanya kusut, rambutnya berantakan. Matanya merah, dan untuk pertama kalinya Andien melihat pria itu tanpa topeng apa pun. Hanya ketakutan dan kelelahan.

"Kamu mendengar?"

Andien membuka mulut. Berbohong sudah terasa seperti pakaian yang tak lagi muat. Tetapi mengaku, di sini, di depan pria yang barusan mengancam akan melindunginya dan sekaligus membuangnya...

"Saya hanya mau mengambil minum," bisiknya.

Carlo menatapnya lama. Lalu ia tertawa, pendek dan getir, dan duduk di kursi dapur seperti orang yang kehabisan tenaga.

"Kamu tidak pandai berbohong, Dien. Itu salah satu hal yang kusuka darimu."

Andien tak menjawab.

"Aku menikahimu bukan karena rencana." Carlo menatap telapak tangannya sendiri. "Aku ingin kamu tahu itu. Apa pun yang kamu dengar, apa pun yang akan kamu pelajari tentangku, bagian itu tidak bohong."

"Mas sudah punya istri."

Kalimat itu lepas begitu saja. Dingin, pelan, dan tak bisa ditarik kembali.

Carlo mengangkat wajah. Tak ada keterkejutan di sana, hanya kepasrahan yang lama tertahan. "Siapa yang memberitahumu?"

"Itu bukan pertanyaan yang penting."

"Kamu benar." Carlo memejamkan mata. "Itu bukan pertanyaan yang penting."

Mereka duduk berhadapan, dua orang yang saling mengenal terlalu sedikit dan terlalu banyak. Di luar, senja jatuh, dan lampu taman menyala satu per satu.

"Aku akan jelaskan semuanya," kata Carlo akhirnya. "Tapi bukan malam ini. Aku harus melewati Jumat dulu."

"Selalu ada alasan untuk menunda, Mas."

"Kali ini bukan alasan. Nyawamu dan nyawa Laras sama-sama bergantung pada hari Jumat itu."

Andien menatapnya. Ia ingin percaya. Ia ingin percaya begitu keras hingga rasanya sakit. Tetapi di balik kebayanya, perekam kecil itu masih menyimpan suara Hendra, dan nama Laras bergema di kepalanya seperti lonceng.

"Baik, Mas," katanya pelan. "Saya tunggu sampai Jumat."

Carlo menatapnya dengan sorot yang hampir seperti rasa syukur, lalu menunduk dan mencium punggung tangannya. Andien membiarkannya.

Tetapi ketika pria itu pergi dan mobilnya menghilang di tikungan, ia mengeluarkan ponsel kecil pemberian Carlo dan mengetik satu pesan untuk nomor yang baru disimpannya kemarin.

*Bu Laras. Saya punya rekaman. Hendra mengaku tahu soal sungai. Dan dia mengancam akan membuang saya sebelum Jumat.*

Balasan datang dalam hitungan detik.

*Jangan kirim apa pun lewat ponsel itu. Dia pasti memantaunya. Hapus pesanmu. Besok pagi, jam enam, pasar di belakang rumah sakit. Bawa rekamannya.*

Andien menghapus pesan itu dengan jari gemetar. Lalu ia menatap layar yang kembali gelap, dan baru menyadari satu hal yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Tadi, di ruang tamu, Hendra menyebut *"kamu tak pernah peduli pada istri yang sah"*. Padahal tak seorang pun menyebut Laras di depannya.

Hendra tahu. Sejak awal ia sudah tahu tentang Andien, tentang pernikahan itu, tentang segalanya.

Dan itu berarti, entah sejak kapan, setiap langkah Carlo selalu diawasi oleh orang yang paling ia percaya.

---

*Bersambung ke Bab 9...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!