"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Pindahan Ke Papiliun
Keheningan seketika menyergap ruang tamu berarsitektur klasik modern itu. Udara terasa membeku saat kalimat Zahira melayang di udara.
Karlina menatap anak tirinya dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. Kipas di tangannya menggantung kaku. Di sebelahnya, Bianka menghentikan sapuan cat kuku, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.
"Kamu... kamu bilang apa?!" suara Karlina meninggi, nada bicaranya gemetar antara amarah dan rasa tidak percaya. "Pindah?! Kamu pikir kamu siapa, Zahira?! Berani-beraninya kamu ambil keputusan tanpa izin dari saya!"
Zahira berdiri tegap, tidak ada lagi helaan napas pasrah atau pundak yang terkulai cemas.
"Zahira hanya tidak ingin menjadi beban di rumah ini lagi, Mami. Dan Zahira tidak ingin merusak nama baik keluarga yang selalu Mami khawatirkan."
"Alasan!" jerit Karlina, melangkah maju hingga menyisakan jarak beberapa jengkal dari Zahira. Cincin berlian di jarinya berkilat tertimpa lampu gantung.
"Kamu pasti mau adu domba saya sama Papi kamu, kan?! Kamu mau bertingkah seolah-olah saya yang mengusir kamu dari rumah ini supaya Papi kamu benci sama saya?!"
"Zahira tidak pernah berniat seperti itu, Mami," potong Zahira lembut namun tegas. "Papi tahu Zahira ingin mandiri setelah lulus. Zahira hanya mendahului jadwalnya."
Bianka tertawa sumbang, berdiri dari sofa dan menghampiri ibunya.
"Halah, sok-sokan mau mandiri! Memangnya kamu punya uang buat sewa kos, Ra? Gaji kafe kamu yang cuma seberapa itu cukup buat makan apa?! Jangan bikin malu deh, nanti kalau kamu kedapatan tinggal di tempat kumuh, nama Sumargo juga yang jelek!"
"Tempat tinggal Zahira sudah diatur," jawab Zahira dingin tanpa mengalihkan pandangannya. "Mami dan Bianka tidak perlu khawatir."
"Kurang ajar!" Karlina mengangkat tangannya, hendak mendaratkan tamparan ke pipi Zahira.
"Cukup, Mi!"
Langkah kaki Vidi yang berderap cepat turun dari tangga memotong udara. Remaja 14 tahun itu berdiri memagari Kak Zahira, menatap ibunya dengan tatapan berani.
"Mami mau apa lagi?! Kak Zahira sudah turuti kemauan Mami buat pergi dari rumah ini, masih mau Mami sakiti juga?!" bentak Vidi dengan suara bariton remajanya yang pecah.
"Vidi! Kamu jangan ikut campur! Dia ini anak tidak tahu diri—"
"Yang tidak tahu diri itu kita, Mi!" potong Vidi cepat. "Mami yang selalu memeras ketenangan Kak Zahira! Biarkan Kak Zahira pergi, biarkan dia tenang!"
Karlina mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan emosi yang membuncah. Ia menunjuk Zahira dengan jari gemetar.
"Bagus... Bagus sekali! Kamu sudah racuni otak anak saya sampai dia berani begini! Kalau kamu mau pergi hari Sabtu, pergi sekarang juga mentalmu! Jangan pernah bawa satu pun barang mewah dari rumah ini! Keluar dari rumah saya!"
"Mami!" teriak Vidi tak percaya.
Zahira mengusap bahu Vidi pelan, membujuk adiknya agar tenang. Ia menatap Karlina dengan senyum tipis yang menyimpan kedewasaan.
"Terima kasih untuk lima belas tahun ini, Mami. Hari Sabtu Zahira akan pamit secara baik-baik."
Tanpa menunggu amukan Karlina yang kian memuncak, Zahira berbalik dan melangkah tenang menuju kamarnya di belakang. Di balik pintunya yang tertutup, Zahira menghembuskan napas panjang.
Ada rasa getar di dadanya, namun kali ini bukan rasa takut, melainkan kepakan awal dari kebebasan yang telah lama ia rindukan.
.
.
Sabtu pagi tiba dengan langit cerah yang dibalut angin sejuk. Sebuah mobil minivan putih terparkir rapi di depan gerbang kediaman Sumargo.
Gisel, Ciki, dan Hanum sudah bersiap dengan ceria di dekat bagasi yang terbuka. Namun yang membuat suasana pagi itu semakin tak terduga adalah hadirnya Elvan. Pria itu mengenakan kaos polos kasual dan celana jeans, tetap tampak elegan meski tanpa kemeja kerjanya.
"Mas Elvan beneran mau turun tangan angkut-angkut?" goda Ciki seraya membawa kardus berisi buku-buku kuliah Zahira.
Elvan tersenyum tipis, merapikan letak kacamatanya. "Saya sudah janji pada Gisel dan Bunda. Lagipula, mengangkat kardus buku bukan hal yang sulit."
Di dalam rumah, suasana terasa dingin mencekam. Karlina dan Bianka berdiri di balkon lantai dua, menyilangkan tangan di dada sembari menyaksikan proses kepindahan itu dengan pandangan sinis.
"Lihat itu, Mi," desis Bianka dengan nada meremehkan. "Cuma sanggup sewa minivan tua. Dan siapa pria berkacamata itu? Paling cuma buruh angkut atau teman kafenya yang sama-sama miskin."
Namun, di lantai bawah, Vidi memeluk erat Zahira di ambang pintu depan. Air mata remaja itu menetes tanpa bisa ditahan.
"Kakak harus sering-sering kasih kabar ya..." bisik Vidi seraya menyeka hidungnya. "Kalau Kakak butuh apa-apa, telfon Vidi. Vidi bakal langsung datang."
Zahira mengecup dahi adik kesayangannya itu penuh kasih. "Kamu belajar yang rajin ya, Vidi. Jaga diri baik-baik di sini. Ingat pesan Kakak, tetap jadi anak yang jujur dan rendah hati."
"Pasti, Kak. Pasti."
Elvan melangkah mendekati area pintu, hendak mengambil koper terakhir milik Zahira. Saat pandangannya tak sengaja beradu dengan Vidi, Elvan mengangguk santun.
"Jangan khawatir," tutur Elvan dengan suara baritonnya yang tenang dan mengayomi.
"Kakakmu akan tinggal di tempat yang aman dan sangat terawat. Saya dan keluarga yang akan menjaganya."
Vidi menatap pria berkacamata di hadapannya. Ada wibawa dan kejujuran yang terpancar kuat dari cara Elvan berbicara—sesuatu yang sangat langka Vidi temui di lingkungan sosialitas ibunya.
Vidi mengangguk mantap, merasa lega bahwa ada orang-orang baik yang melindungi kakaknya.
"Terima kasih ya, kak. Tolong titip Kak Zahira," ucap Vidi tulus.
.
.
Perjalanan menuju kediaman keluarga Susanto terasa hangat dan penuh tawa. Gisel, Ciki, dan Hanum tak berhenti berkaraoke menyanyikan lagu-lagu populer di dalam mobil, menyapu bersih sisa-sisa kesedihan di hati Zahira.
Saat minivan berhenti di sebuah pelataran rumah berarsitektur tropis yang asri dengan halaman hijau nan luas, mata Zahira berbinar.
Di bagian belakang rumah utama, berdiri sebuah paviliun kayu berdesain modern minimalis dengan jendela-jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman bunga.
Bunda Heni menyambut mereka di teras dengan senyuman paling hangat.
"Selamat datang di rumah barumu, Zahira Sayang," sambut Bunda Heni seraya memeluk Zahira erat.
Zahira melangkah masuk ke dalam paviliun. Udara segar, aroma kayu yang menenangkan, serta meja belajar kayu jati yang menghadap ke taman siap menantinya.
Tidak ada lagi bentakan yang memekakkan telinga, tidak ada lagi tatapan menghina, dan tidak ada lagi rasa cemas setiap kali melangkah.
Sore harinya, setelah semua barang tertata rapi dan Ciki serta Hanum pamit pulang, Zahira berdiri di teras kecil paviliunnya sembari memegang cangkir teh hangat.
.
.
Matahari mulai menggelincir ke ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menembus jendela kaca paviliun asri itu. Udara sore terasa begitu sejuk, bebas dari rasa sesak yang biasanya menggantung di dada Zahira.
Denting telepon genggam di atas meja belajar memecah keheningan. Layar ponsel Zahira menyala, menampilkan nama yang selalu berhasil menghangatkan hatinya: Papi.
Dengan senyum tipis, Zahira menggeser tombol hijau.
"Assalamu’alaikum, Papi..." sapa Zahira lembut.
"Wa’alaikumsalam, Putri Papi..." Suara Damian menggelegar dari seberang telepon, namun sarat akan nada rindu yang mendalam. "Ra, Papi baru selesai rapat di Bandung. Tiba-tiba kangen banget sama kamu. Kamu lagi di mana, Nak? Di rumah atau masih di kafe?"
Zahira menarik napas pelan, menguatkan hatinya. Ia tahu, kebenaran tentang amukan Mami dan kepindahannya yang mendadak akan menghancurkan hati Papi, bahkan bisa memicu pertengkaran hebat di kediaman Sumargo.
"Zahira... Zahira lagi di tempat tinggal baru, Pi," tutur Zahira halus, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap stabil dan santai.
"Tempat tinggal baru? Maksud kamu gimana, Ra?" suara Damian terdengar heran.
"Iya, Pi. Mulai hari ini Zahira sewa kos kecil dekat area kampus dan kafe," kebohongan manis terucap demi menjaga kedamaian.
"Zahira enggak mau Papi kepikiran terus kalau Zahira pulang kemalaman dari kafe. Kasihan Papi harus khawatir tiap malam. Lagipula, dari sini ke kampus tinggal jalan kaki, Pi. Jadi Zahira bisa lebih fokus menyelesaikan skripsi."