Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Moncong senjata laras panjang yang mengarah tepat ke kepala mereka berkilat tertimpa cahaya lampu senter.
Hujan deras makin lebat mengguyur tubuh Maya dan Reza yang terduduk lemas di sudut lorong. Senyuman kemenangan di wajah Sora terasa begitu dingin, seolah wanita itu sedang menikmati pertunjukan panggung di mana ia memegang kendali penuh atas akhir ceritanya.
"Tembak mereka sekarang," perintah Sora datar kepada dua pengawalnya tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya.
Namun, sebelum jari para pengawal itu menekan picu senjata, suara deru mesin mobil yang meraung keras mendadak memecah keheningan malam dari arah lorong parkiran.
Sebuah mobil jip hitam besar menerobos masuk, menabrak tumpukan drum bekas di dekat lorong hingga menimbulkan suara dentuman dahsyat.
BRAMMM!
"Tuan Besar! Cepat masuk!" teriak Rian—pengawal kepercayaan Reza—dari balik kaca jendela jip yang terbuka, seraya menembakkan pistolnya ke udara untuk memecah konsentrasi pasukan Sora.
Dua pengawal Sora terperanjat dan refleks membalas tembakan. Di tengah kekacauan, tembakan balasan, dan jeritan histeris Sora yang gaun mewahnya terciprat lumpur, Rian melompat keluar, memapah tubuh Reza yang hampir tak sadarkan diri, lalu menarik Maya masuk ke kursi belakang jip.
Jip hitam itu langsung tancap gas, melesat menembus kegelapan malam dan guyuran hujan, meninggalkan Sora yang berteriak murka di balik kepulan asap roda mobil.
Beberapa hari telah berlalu sejak malam yang hampir merenggut nyawa mereka.
Reza berhasil diselamatkan oleh tim medis tersembunyi yang disiapkan oleh Rian di sebuah vila pribadi yang jauh dari pusat kota.
Luka tembak di perut Reza sudah dijahit ulang dan kondisinya makin membaik, meski pria itu masih harus banyak beristirahat di atas tempat tidur.
Vila itu dikelilingi oleh hutan pinus yang sunyi, jauh dari jangkauan klan keluarga Burhan maupun anak buah Sora.
Namun, ketenangan di vila mewah itu justru menjadi neraka tersendiri bagi Maya.
Sejak malam ciuman emosional di bawah rintik hujan itu, ada sesuatu yang patah dan hancur di dalam dada Maya.
Setiap kali ia melihat Reza yang terbaring lemah, atau setiap kali ia mengingat sentuhan bibir pria itu, rasa bersalah yang teramat sangat menyergap hatinya bagaikan cengkeraman racun yang mematikan.
Pagi itu, udara gunung terasa sangat dingin. Maya berdiri di balkon luar kamar, memeluk tubuhnya sendiri sambil menatap kabut tipis yang menyelimuti pepohonan pinus. Matanya sembap karena kurang tidur.
"Maya..." suara berat Reza terdengar dari arah dalam kamar. Pria itu sudah bisa duduk di tepi ranjang dengan kain perban yang melilit perutnya.
Maya menarik napas panjang, menahan sesak di dadanya, lalu berbalik melangkah masuk. Ia berusaha sebisa mungkin menjaga jarak, berdiri dua meter di depan ranjang Reza tanpa berani menatap langsung mata hitam pria itu.
"Iya, Reza... Kamu butuh sesuatu? Mau minum?" tanya Maya dengan suara datar, berusaha keras menutupi getaran di tenggorokannya.
Reza mengerutkan keningnya, menyadari perubahan sikap Maya yang mendadak menjadi sangat dingin dan asing.
Padahal beberapa hari lalu, gadis itu menangis di pelukannya dan membalas ciumannya dengan begitu tulus.
"Kamu kenapa, Maya?" tanya Reza pelan. "Sejak kita sampai di vila ini, kamu selalu menghindar dari saya."
Maya menundukkan kepalanya, mengamati ujung sepatunya. "Aku tidak menghindar. Aku cuma mau memastikan kamu bisa istirahat dengan tenang."
"Maya, lihat saya," perintah Reza dengan suara rendah namun tegas.
Dengan berat hati, Maya mendongakkan kepalanya. Begitu matanya beradu dengan tatapan mata Reza yang tenang dan penuh perhatian, pertahanan mental Maya seketika runtuh. Air mata yang sejak pagi ditahannya akhirnya lolos meniti pipi pucatnya.
"Kenapa menangis?" tanya Reza cemas, hendak beranjak berdiri dari ranjang.
"Jangan bangun, Reza! Luka kamu nanti terbuka lagi!" cegah Maya cepat, melambaikan tangannya panik.
"Kalau begitu, katakan sama saya, ada apa?" desak Reza lekat-lekat.
Maya menggigit bibir bawahnya rapat-rapat sampai terasa asin oleh darah dan air mata. "Rasa bersalah ini membunuhku, Reza..." bisik Maya dengan suara parau yang menyayat hati.
Reza tertegun. "Rasa bersalah?"
"Iya!" jerit Maya pelan, emosi yang ia pendam selama ini akhirnya meledak juga. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku selalu teringat wajah Nyonya Sora! Aku teringat makian ayahnya! Aku teringat kata-kata anak buah kamu yang menyebutku cewek simpanan!"
"Maya, kan sudah saya katakan—"
"Tapi kenyataannya begitu, Reza!" potong Maya histeris, air matanya makin deras mengalir.
"Aku ini cewek biasa yang masuk ke kehidupan kamu dan merusak segalanya! Kamu punya istri sah! Nyonya Sora itu istri kamu di mata hukum dan klan kamu! Apapun alasan pernikahan kalian, faktanya aku ini orang ketiga!"
"Saya tidak pernah mencintai Sora, Maya!" tegas Reza, matanya menyala menahan rasa sakit di dadanya saat melihat Maya menderita.
"Tapi aku merasa seperti penjahat!" balas Maya penuh keputusasaan.
"Setiap kali ingat ciuman kita malam itu di bawah hujan... aku merasa sangat jijik pada diriku sendiri! Aku merasa seperti cewek murahan yang mengambil suami orang lain! Aku tidak bisa hidup seperti ini, Reza... Jiwaku sakit!"
Reza terdiam seribu bahasa. Kata-kata "jijik pada diri sendiri" yang diucapkan Maya menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada peluru yang menembus perutnya malam itu. Pria berkuasa itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap Maya dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Jadi... ciuman malam itu... kamu menyesalinya?" tanya Reza pelan, suaranya terdengar sangat rapuh dan terluka.
Maya menatap Reza dengan mata yang berkaca-kaca. Lubuk hatinya yang paling dalam berteriak kalau ia mencintai Reza, tapi rasa moralitas dan rasa bersalahnya sebagai cewek biasa terus menghantuinya tanpa ampun.
"Aku... aku tidak tahu, Reza..." bisik Maya lirih sambil menggelengkan kepalanya pasrah.
"Yang aku tahu, aku tidak boleh terus-terusan ada di sini. Keberadaanku cuma membawa kehancuran buat kita berdua."
Keheningan yang menyiksa mendadak melingkupi kamar besar itu. Hanya suara desir angin gunung di luar jendela yang terdengar meratap.
Reza perlahan berdiri dari ranjangnya, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di perutnya. Ia melangkah perlahan mendekati Maya, berhenti persis di depan gadis itu.
"Kalau keberadaan kamu di sini bikin kamu merasa seperti penjahat..." kata Reza dengan suara amat rendah dan dalam, "apa kamu mau saya menceraikan Sora sekarang juga?"
Maya membelalakkan matanya sempurna, membeku tak percaya mendengar keputusan nekat yang baru saja keluar dari mulut sang bos mafia.
Namun sebelum Maya sempat memberikan jawaban atas pertanyaan gila itu, suara ketukan panik dari luar kamar mendadak terdengar. Rian membuka pintu dengan wajah pucat pasi.
"Tuan Besar! Berita buruk!" seru Rian panik.
"Nyonya Sora baru saja menggelar konferensi pers secara terbuka di televisi nasional. Dia mengumumkan kepada publik bahwa Mba Maya adalah buronan kasus penculikan dan perusakan rumah tangga!"
Bersambung.....