Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29.
"Kau memang gadis yang menyebalkan."
Suara rendah, dingin, dan sarat akan ketidaksukaan itu meluncur begitu saja dari bibir Nathan, memecah keheningan mencekam di dalam dapur yang luas tersebut.
Clarisa tertegun, mengerjap beberapa kali sebelum kesadarannya kembali penuh. Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi gelombang amarah yang mendidih di dada. Wanita mana yang tidak akan emosi setelah dituduh menyebalkan, padahal insiden barusan adalah murni ketidaksengajaan karena pria itu berdiri terlalu dekat tanpa bersuara layaknya hantu!
"Aku menyebalkan?!" sergah Clarisa sengit, dagunya terangkat tinggi menantang sorot mata tajam Nathan. Ia melangkah mundur satu langkah untuk menjaga jarak, meski tatapannya sama sekali tidak gentar. "Siapa juga yang sengaja menabrakmu, Tuan Muda Nathan yang terhormat?! Kalau berdiri itu jangan kayak jelangkung, diam-diam di belakang orang! Mana tahu aku kalau kamu berdiri di situ!"
Nathan mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat sebelah, membentuk senyuman meremehkan yang membuat darah Clarisa semakin mendidih.
"Ini rumahku," balas Nathan datar, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. "Jadi aku berhak berdiri di mana saja sesukaku. Sebaliknya, kau... tamu yang tidak tahu sopan santun, mondar-mandir di rumah orang sembarangan, lalu merusak properti dan mengotori bajuku. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu cara berjalan yang benar?"
Mendengar kalimat arogan yang merendahkan keluarganya, mata Clarisa membelalak lebar. Tanpa sadar, bayangan saat ia menampar pemuda itu di rumah sakit kembali berkelebat di kepalanya. Tangannya yang bebas bahkan sudah terkepal kuat di sisi tubuhnya.
"Wah, wah... Mulutmu benar-benar minta disekolahkan lagi, ya!" tukas Clarisa dengan nada bergetar menahan geram, menuding dada Nathan menggunakan telunjuknya. "Nggak heran kalau Bella sering tersiksa tinggal di rumah ini! Punya kakak yang karakternya mirip es batu dan arogan setengah mati kayak kamu itu benar-benar malapetaka!"
Urat di pelipis Nathan langsung mengeras mendengar nama Bella disebut. Sorot matanya yang semula dingin mendadak berubah menjadi gelap dan berbahaya. Ia maju selangkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga memaksa Clarisa sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan di antara keduanya.
"Jaga mulutmu, Clarisa," desis Nathan tertahan, suaranya berubah menjadi bisikan tajam yang menusuk. "Jangan ikut campur urusan keluarga kami. Kau itu cuma tamu. Jadi, urusi saja urusanmu sendiri dan jangan banyak tingkah di rumah ini."
"Oh, ya? Tamu?" Clarisa membalas dengan seringai tajam, sama sekali tidak gentar meski kini ia terkurung oleh aura intimidasi pemuda itu. "Asal kamu tahu, ya! Aku datang ke sini karena aku peduli sama sahabatku—sesuatu yang jelas-jelas tidak pernah bisa dilakukan oleh seorang kakak brengsek sepertimu! Kalau bukan karena kamu dan orang tuamu yang toksik itu, Bella nggak bakal nyaris mati depresi!"
Skakmat. Kalimat itu menghujam telak tepat di titik terlemah dalam diri Nathan.
Bayangan tentang rahasia busuk ayahnya, pengorbanan ayah kandung Bella, serta rasa bersalah yang setiap malam mencabik-cabik nuraninya mendadak berkelebat cepat di kepala Nathan.
Wajah pemuda itu memucat seketika, dan kepalan tangannya di sisi tubuh semakin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Alih-alih membalas dengan bentakan seperti biasanya, Nathan justru terdiam kaku, rahangnya terkatup rapat menahan badai emosi yang berkecamuk di dadanya.
Melihat Nathan mendadak bungkam, Clarisa merasa diatas angin, meski ada sedikit rasa heran di hatinya melihat reaksi pemuda itu yang tidak sepedas biasanya. Clarisa mendengus pelan, menurunkan tangannya, lalu menatap kemeja Nathan yang basah dengan pandangan sinis.
"Makanya, lain kali kalau berdiri di tempat gelap, pasang sensor atau pakai lonceng di lehermu biar orang tahu," ujar Clarisa ketus. Ia menunduk sejenak menatap pecahan kaca di lantai. "Dan soal gelas yang pecah serta kemejamu yang basah itu... anggap saja itu balasan setimpal karena kamu sudah bikin sahabatku menangis bermandi air mata. Permisi!"
Tanpa menunggu balasan dari Nathan, Clarisa melangkah melewati pemuda itu dengan sengaja menyenggol bahu Nathan cukup keras, lalu berjalan cepat meninggalkan area dapur menuju lantai atas.
Nathan tetap berdiri mematung di tempatnya semula. Ia tidak mengejar gadis itu, tidak juga meneriakinya. Punggungnya bersandar pelan pada kabinet dapur, sementara pandangannya menerawang kosong ke arah pecahan kaca di lantai marmer. Napasnya terasa berat, menghimpit dadanya dengan beban ribuan ton yang tak sanggup ia lepaskan pada siapapun.
*
Dengan langkah menghentak penuh kekesalan, Clarisa menaiki anak tangga demi anak tangga menuju kamar Bella. Napasnya masih memburu, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa amarah yang meluap akibat perdebatan sengitnya dengan Nathan di dapur.
Ck! Sumpah ya, itu cowok bener-bener nyebelin banget! Muka tembok, arogan, nggak punya hati! gerutu Clarisa dalam hati, membuka pintu kamar Bella dengan dorongan yang agak kuat.
Ia masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu di belakangnya. Tanpa sadar, ia mulai mengomel dengan suara setengah berbisik namun cukup nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu.
"sok banget jadi penguasa rumah... Emangnya dia pikir dia siapa? Ganteng sih, tapi kalau kelakuannya kayak es batu basi gitu, ogah banget diliat!" celoteh Clarisa sambil mondar-mandir di dekat ranjang, melampiaskan kekesalannya.
Suara omelan itu rupanya cukup mengusik ketenangan di atas tempat tidur. Perlahan, kelopak mata Bella berkedip. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghalau rasa kantuk, lalu terbangun sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ehm... Clar?" panggil Bella dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, menatap sahabatnya dengan kening berkerut bingung. "Kamu dari mana? Kok ngomel-ngomel sendiri gitu? Ada apa emangnya?"
Mendengar suara Bella, Clarisa langsung menghentikan langkahnya. Ia menarik napas panjang, berusaha meredakan emosinya agar tidak membuat Bella ikut terbebani. Clarisa lantas memasang cengiran lebar untuk mencairkan suasana.
"Eh, udah bangun, Bell? Maaf ya, bikin kamu kebangun," kata Clarisa, langsung mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Ia berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepinya. "Lagian, perut aku nih dari tadi udah keroncongan minta diisi. Oh ya, tadi pas kamu tidur, aku sempat iseng buka aplikasi ojek online buat pesan makanan."
Bella mengerjap, masih berusaha mengumpulkan nyawanya. "Pesan makanan? Pesan apa, Clar?"
"Ada deh, pokoknya makanan enak yang lagi hits kemarin-kemarin itu!" jawab Clarisa antusias, matanya berbinar. "Tadi aku minta abangnya antar ke depan gerbang mansion. Eh, tapi lama banget ya? Padahal udah dari tadi aku pesannya."
Tok, tok, tok.
Belum sempat Bella membalas, suara ketukan pintu kamar terdengar dari luar.
Clarisa langsung bersorak pelan. "Nah, panjang umur! Pasti itu pesanan aku yang datang."
Dengan gerakan cepat, Clarisa berbalik dan berlari kecil menuju pintu, lalu membukanya lebar-lebar. Namun, senyum lebar yang tadinya merekah di wajahnya mendadak lenyap seketika, berubah menjadi ekspresi kaget saat melihat siapa yang berdiri di balik pintu.
Bukan bi Rina, art mansion yang ia dapati. Melainkan Nathan.
Pemuda itu berdiri dengan postur kaku, mengenakan kemeja hitam yang tampak masih sedikit basah di bagian dadanya—bekas insiden tumpahan air di dapur tadi. Wajahnya terlihat sangat dingin, datar, dan menyebalkan seperti biasa. Di tangan kanannya, Nathan menenteng sebuah kantong plastik putih berlogo restoran terkenal.
Clarisa terpaku sejenak, menatap kantong plastik itu lalu beralih menatap tajam ke arah muka Nathan.
Nathan mendengus pelan, menatap Clarisa dengan sorot mata meremehkan dari balik pintu. Tanpa basa-basi, pemuda itu menyodorkan kantong plastik tersebut ke hadapan Clarisa dengan kasar.
"Nih," ucap Nathan ketus, suaranya terdengar dingin tanpa ampun. "Pesanan makananmu. Bi Rina tidak ada, terpaksa aku yang mengantarnya pada mu."
Clarisa mengerjap kaget, menatap kantong makanan itu dengan rasa jengkel yang kembali membuncah.
Nathan melanjutkan dengan nada sinis yang sengaja ditekankan, "Memesan makanan tapi merepotkan orang lain saja. Kalau mau pesan makanan, setidaknya turun ke bawah dan ambil sendiri, jangan bikin seisi rumah sibuk cuma karena urusan perutmu."
Mendengar sindiran tajam itu, darah Clarisa langsung mendidih seketika. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar dan merebut kantong plastik makanan itu secara paksa dari tangan Nathan hingga plastik tersebut bergesek kencang.
"Eh—!" Nathan terperanjat kecil melihat tindakan kasar gadis di depannya.
Sebelum Nathan sempat menarik tangannya kembali atau melontarkan omelan lanjutan, Clarisa mendelik tajam, mendongakkan dagunya menantang.
"Makasih ya, Tuan Muda yang terhormat!" ucap Clarisa penuh penekanan dan sarkasme yang pekat. "Repot-repot banget kamu bawa ke sini! aku bisa ambil sendiri di bawah, daripada muka masammu itu harus lihat aku!"
Nathan langsung menghentikan gerakan Clarisa yang hendak menutup pintu. Pria itu menahan daun pintu dengan telapak tangannya, menatap Clarisa dengan rahang mengeras.
"Hei!" sergah Nathan tajam, suaranya meninggi tidak terima. "Kau ini benar-benar tidak punya sopan santun, ya!"
Urat di pelipisnya kembali berdenyut menahan amarah, Clarissa sudah malas untuk menjawab ucapan nathan. pintu kamar itu kembali ditutup dengan kencang tepat di depan hidungnya.
Brak!
Nathan berdiri mematung di lorong sepi luar kamar Bella, menatap pintu yang tertutup rapat dengan napas memburu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seorang gadis yang tidak hanya berani menamparnya, tapi juga terang-terangan menginjak-injak harga dirinya tanpa rasa gentar sedikit pun.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang