Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Kerja keras mereka
Sebelum plang kayu bertuliskan "Tabib Lian" digantung di depan pintu dan sebelum warga distrik miskin datang berobat, ketiga remaja itu dihadapkan pada satu kenyataan pahit yang tidak kalah menegangkan dari kejaran pasukan istana bahwa mereka tidak punya uang sepeser pun.
Di tengah dunia kekaisaran yang dikendalikan oleh keserakahan para pejabat dan pajak kekaisaran yang mencekik, bahkan untuk sekadar membeli sekarung beras, beberapa kati arang, atau kain kasa dan bahan-bahan herba dasar di pasar pusat, seseorang membutuhkan kepingan mata uang tembaga atau perak.
Dan saat ini, kantong kain milik Feng, Bao, dan Lianhua benar-benar kosong melompong. Sisa perbekalan dari gua air terjun telah habis.
Di ruang depan rumah tua yang pengap itu, Feng melipat kedua lengannya di dada sambil menatap tajam ke atas meja kayu usang. Di atas meja tersebut hanya tergeletak tiga butir umbi kering sisa kemarin dan sebuah belati tua.
"Mari kita bicara jujur," ucap Feng memecah keheningan, suaranya terdengar serius. "Kita bisa merencanakan siasat sehebat apapun untuk menyusup ke penjara bawah tanah dan membebaskan Panglima Lu. Kita juga bisa berencana membuka rumah berobat. Tapi... semua rencana itu butuh modal awal. Dari mana kita harus membeli wadah herba, jarum akupunktur, kain pembersih, dan makanan untuk mengisi perut kita selama sepekan ke depan jika kantong kita kosong?"
Bao menghela napas panjang, dan menyandarkan punggungnya pada dinding bata merah yang mengelupas. "Kau benar, Feng. Kemarin saat aku mengintip ke pasar pusat, sebungkus kecil serbuk akar ginseng hitam saja harganya selusin keping tembaga. Kalau kita mendatangi pasar tanpa uang, kita hanya akan diusir penjaga toko sebagai pengemis."
Lianhua duduk di kursi kayu di seberang mereka. Ia mengenakan jubah kelabu kusamnya, jemari tangannya dengan tenang merapikan gulungan peta rute kota yang sempat ia gambar di atas selembar kulit kayu tipis.
Mendengar kekhawatiran kedua rekannya, Lianhua mengangkat wajahnya. Matanya yang jernih menatap Feng dan Bao bergantian dengan tatapan penuh pengertian.
"Kalian tidak perlu cemas memikirkan modal itu," kata Lianhua dengan suara yang tenang dan menyejukkan. "Membangun pijakan di jantung musuh memang butuh pengorbanan di awal. Kita tidak bisa langsung menjadi tabib terpandang tanpa usaha nyata."
Lianhua berdiri, lalu menepuk pelan pundak Feng. "Mulai hari ini, kita bagi tugas. Kita tidak boleh hanya duduk berpangku tangan meratapi kemiskinan kita."
Feng mengangkat alisnya. "Maksudmu, Lianhua?"
"Feng, Bao," lanjut Lianhua dengan nada tegas namun penuh kasih. "Kalian berdua adalah pemuda yang kuat dan cekatan. Pergilah ke pasar pusat dan dermaga bongkar muat di sisi selatan kota. Cari pekerjaan serabutan, menjadi kuli angkut karung gandum, membelah kayu bakar untuk kedai teh, atau membantu para pedagang besar menurunkan barang dagangan. Kumpulkan keping demi keping upah harian kalian secara jujur dan senyap."
Bao sedikit terperanjat. "Menjadi kuli angkut di dermaga? Tapi... bagaimana dengan penyamaran kita? Apakah tidak berbahaya jika ada prajurit istana yang mengenali wajah kita?"
"Prajurit istana tidak akan pernah sudi melihat atau memperhatikan wajah para kuli kasar di dermaga yang kotor dan bau lumpur," jawab Lianhua sambil tersenyum tipis meyakinkan. "Justru di tempat-tempat kumuh dan sibuk seperti itu, identitas kita sebagai buruh harian akan tersamarkan dengan sempurna di antara ratusan rakyat jelata lainnya. Gunakan kain penutup kepala dan jangan menonjolkan diri."
Feng mengangguk mantap, kilatan tekad pun terpancar di matanya. "Baiklah! Aku paham. Menjadi kuli angkut tidak ada apa-apanya dibanding latihan pedang di lembah dulu. Kami akan pastikan membawa pulang cukup uang tembaga malam ini."
"Dan apa yang akan kau lakukan sendirian di rumah ini, Lianhua?" tanya Bao cemas, seraya menatap sang putri.
Lianhua menoleh ke sekeliling ruangan rumah tua yang berdebu tebal itu, lalu melangkah ke jendela yang menghadap ke lorong luar.
"Aku akan tinggal di sini," jawab Lianhua mantap. "Fokusku ada dua. Pertama, membereskan rumah ini, membersihkan setiap sudut ruangan, dan meracik sisa herba liar yang kita bawa dari hutan menjadi beberapa obat balur darurat. Kedua... aku akan duduk di ambang jendela ini, mengamati pola patroli prajurit istana yang lewat, mencatat jam pergantian sipir pasar, dan menganalisis lingkungan sekitar."
Hari beranjak siang. Sesuai pembagian tugas yang disepakati, Feng dan Bao meninggalkan rumah tua tersebut menyusuri lorong-lorong sempit menuju kawasan dermaga bongkar muat Sungai Selatan, pusat logistik terbesar di luar tembok benteng Kota Garnisun.
Suasana di dermaga sangat riuh dan penuh sesak. Ratusan buruh kasar berbadan kekar berkejaran mengangkat karung-karung beras seberat seratus kati di bawah terik matahari yang membakar kulit.
Bau amis ikan sungai, keringat bercampur debu, dan teriakan para pengawas pelabuhan berpadu menjadi satu di udara.
Feng dan Bao tidak membuang waktu. Mereka langsung mendatangi seorang bos pengawas gudang gandum berbadan tambun yang sedang memegang cambuk kecil.
"Tuan, apakah gudang anda butuh tambahan tenaga untuk mengangkat karung gandum ke gerobak?" tanya Feng dengan suara sopan, seraya menundukkan sedikit kepalanya agar tidak mencolok.
Bos pengawas itu melirik Feng dan Bao dari atas sampai bawah, mengamati otot lengan mereka yang padat hasil latihan bela diri bertahun-tahun. "Hm... Kalian berdua terlihat cukup kuat. Angkut sepuluh gerobak karung ke gudang utara sebelum matahari tenggelam! Upahnya dua puluh keping tembaga untuk masing-masing orang. Cepat bergerak, jangan malas!"
"Baik, Tuan!" jawab Feng dan Bao serentak.
Tanpa mengeluh sedikit pun, kedua pemuda itu langsung bekerja. Karung-karung gandum yang berat diangkat ke atas pundak mereka. Keringat seketika bercucuran membasahi pakaian mereka, napas mereka memburu di tengah debu pelabuhan yang menyesakkan.
Setiap kali otot-otot mereka terasa mau pecah karena lelah, bayangan tujuan besar mereka membebaskan Panglima Lu dan menegakkan keadilan kembali membakar semangat di dalam dada mereka.
Sementara Feng dan Bao berjuang membanting tulang di dermaga, di rumah tua lorong kumuh, Lianhua menjalankan bagian tugasnya dengan ketelitian tingkat tinggi.
Dengan mengenakan sehelai kain apron usang dan mengikat rambut panjangnya ke belakang, Lianhua menyapu bersih lantai tanah yang berdebu tebal, membersihkan sarang laba-laba di langit-langit kamar, serta menggosok jendela kayu hingga memperlihatkan pemandangan jalanan luar yang jernih.
Setelah bagian dalam rumah bersih dan tertata rapi,meskipun perabotannya sangat sederhana, Lianhua beralih ke meja kerjanya di dekat jendela depan.
Ia mengeluarkan beberapa potong kayu arang kecil dan selembar kertas kasar. Sambil duduk bersandar tenang, matanya yang tajam mengawasi setiap aktivitas di luar jendela.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara ketukan sepatu besi berderap teratur di lorong depan. Lianhua menoleh sekilas.
Tiga orang prajurit patroli Pasukan Serigala Hitam berzirah lengkap melintas di depan rumahnya tepat pukul dua siang. Mereka berjalan santai sambil mengobrol keras, tampak meremehkan situasi di distrik kumuh tersebut.
Lianhua dengan cepat menggoreskan arang di atas kertas, dan mencatat waktu kemunculan mereka. "Patroli siang: Tiga orang, lewat pukul 14.00 lewat lima menit. Senjata pedang panjang di pinggang kiri, pergerakan lambat karena kurang Waspada."
Ia terus mengamati. Beberapa saat kemudian, seorang pedagang buah keliling melintas, disusul oleh beberapa anak kecil yang berlari riang. Lianhua mencatat letak sumur umum di ujung lorong, jarak waktu tempuh menuju pasar pusat, serta titik-titik buta (Blind spot) di mana tidak ada pandangan langsung dari pos jaga istana.
Bagi Lianhua, rumah tua ini bukan sekadar tempat berlindung. Rumah ini adalah pos pengintaian militer mini,sebuah titik strategis di jantung wilayah musuh yang kelak akan menjadi pusat komando bayangan bagi pergerakan Aliansi Bunga Lotus.
**
Menjelang malam hari, saat langit Kota Garnisun mulai diselimuti temaram lampu lentera kertas di sepanjang jalan utama, pintu rumah tua itu diketuk pelan dari luar.
Tok... Tok... Tok...
Lianhua yang sedang meracik serbuk herba penurun demam di meja langsung bangkit dan membukakan pintu.
Di ambang pintu, berdiri Feng dan Bao dengan napas terengah-engah dan pakaian yang kotor oleh debu gandum serta noda peluh. Meskipun wajah mereka tampak sangat lelah, senyuman lebar terkembang di bibir keduanya.
"Kalian sudah pulang," sambut Lianhua lembut, lalu mempersilakan mereka masuk dan menyodorkan mangkuk air hangat. "Minumlah dulu. Kalian bekerja terlalu keras hari ini."
Bao meneguk air hangat itu dengan lahap hingga tandas, lalu tersenyum lebar sambil merogoh saku jubah bagian dalamnya.
Ia mengeluarkan sekantong kain kecil yang bergemerincing nyaring, lalu menuangkan isinya di atas meja kayu.
Tring! Tring! Tring!
Puluhan keping mata uang tembaga berkilau di bawah temaram cahaya lentera.
"Hasil kerja keras kami seharian di dermaga," kata Bao bangga dengan mata yang berbinar. "Totalnya ada empat puluh keping tembaga bersih setelah dipotong biaya makan siang roti kukus tadi."
Feng ikut meletakkan beberapa lembar kupon belanja herba yang ia dapatkan sebagai bonus tambahan dari bos gudang. "Pengawas gudang bahkan menyuruh kami kembali bekerja besok karena tenaga kami dianggap paling cepat dibanding buruh lainnya."
Lianhua menatap kepingan uang tembaga dan kupon tersebut. Rasa haru dan bangga menyelimuti hatinya. Kepingan logam kecil itu bukan sekadar alat tukar, itu adalah keringat, perjuangan, dan bukti nyata bahwa mereka bertiga tidak pernah menyerah pada keadaan, betapa pun sulitnya rintangan yang menghadang di hadapan mereka.
Lianhua tersenyum tulus, sembari menatap Feng dan Bao secara bergantian.
"Kerja bagus, kalian berdua," ucap Lianhua dengan suara yang penuh kehangatan dan apresiasi mendalam. "Dengan modal empat puluh keping tembaga ini, besok pagi kita bisa membeli papan kayu untuk plang nama, beberapa kati arang untuk merebus obat, dan bahan-bahan herba dasar di pasar."
Lianhua mengepalkan tangannya pelan di atas meja, sorot matanya kembali memancarkan ketajaman taktik yang luar biasa.
"Modal awal telah terkumpul. Kedok telah disiapkan. Besok... lembaran baru perlawanan kita di dalam kota musuh resmi dimulai!"
Bersambung...