NovelToon NovelToon
DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMPARAN YANG TAK DIBALAS

"Kami cuma bicara soal pernikahan, Bu. Sinta minta maaf karena sudah bikin keributan."

Damar menjawab terlalu cepat. Kalimatnya keluar dengan nada yang tinggi dan bergetar, seperti anak SD yang ketahuan membolos. Bu Retno tidak menjawab. Ia hanya menatap putranya dari ujung kepala sampai kaki, lalu pandangannya bergeser ke dalam paviliun, ke arah Sinta yang berdiri tegak di dekat jendela.

"Minta maaf," ulang Bu Retno pelan. "Jam sebelas malam. Di paviliun. Berdua saja. Kamu pikir Ibu ini bodoh, Damar?"

"Bu, bukan begitu..."

"Masuk ke rumah. Sekarang."

"Tapi, Bu..."

"Ibu bilang sekarang!"

Bentakan itu memecah kesunyian malam. Damar tersentak, melirik Sinta sekilas dengan mata penuh rasa bersalah, lalu menunduk dan berjalan pergi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Sinta memandangi punggung itu menjauh dan merasakan sesuatu mati sedikit lagi di dalam dadanya. Lelaki yang baru lima menit lalu berjanji akan berusaha, kini menyerah hanya karena satu bentakan.

Bu Retno melangkah masuk dan menutup pintu paviliun di belakangnya. Bunyi klik pelan itu terdengar seperti vonis.

"Sekarang kita bicara," katanya, "sebagai sesama perempuan."

Sinta tidak menjawab.

"Kamu ini memang tidak tahu diuntung, ya." Bu Retno berjalan memutari ruangan sempit itu sambil menyapukan pandangan ke dinding berjamur, kasur tipis, dan koper yang belum dibongkar. "Dulu kamu datang ke rumah ini cuma bawa dua tas kain dan sepasang sandal jepit. Ingat? Siapa yang beri kamu makan? Siapa yang beri kamu atap? Siapa yang bikin kamu bisa pakai gelar menantu Wiryawan?"

"Saya ingat, Bu."

"Dan sekarang kamu membalas dengan merayu anak saya di tengah malam supaya dia batal menikah?"

"Saya tidak merayu siapa pun."

*Plak.*

Tamparan kedua dalam dua hari, di pipi yang sama. Kepala Sinta berpaling, rambutnya jatuh menutupi wajah. Panas menjalar sampai ke telinga, dan di mulutnya terasa asin darah dari bibir yang robek.

"Jangan jawab saya kalau saya bicara!"

Sinta perlahan menegakkan kepala. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, melihat noda merah tipis di sana, lalu menatap mertuanya. Bukan dengan kebencian yang meledak-ledak. Tatapannya tenang, terlalu tenang, dan itu justru membuat Bu Retno mengerutkan kening.

"Kenapa kamu lihat saya begitu?"

"Tidak ada, Bu."

"Kamu pikir kamu hebat? Kamu pikir dengan menyimpan muka sok tabah itu saya akan takut?" Bu Retno mendengus, mendekat sampai Sinta bisa mencium bau minyak urut dan bedak tabur dari tubuhnya. "Dengar baik-baik. Dua minggu lagi Melia sah jadi istri Damar. Kamu boleh tetap di rumah ini, tapi sebagai pembantu. Bukan menantu, bukan istri. Pembantu. Mengerti?"

"Mengerti, Bu."

"Kamu cuci baju Melia. Kamu masak untuk Melia. Kalau Melia mual, kamu yang bersihkan muntahnya. Kalau dia mau makan rujak jam tiga pagi, kamu yang keluar cari."

Sinta mengangkat alis tipis. "Mual, Bu?"

Gerakan Bu Retno terhenti. Hanya sepersekian detik, tapi cukup lama untuk terlihat. Rahangnya mengeras, matanya mengecil.

"Maksudku, kalau nanti dia hamil," ralat Bu Retno kaku. "Namanya juga perempuan subur. Pasti cepat hamil. Tidak seperti kamu."

"Tentu, Bu. Perempuan subur memang cepat hamil." Sinta tersenyum kecil. "Apalagi kalau suaminya juga subur."

Udara di paviliun itu mendadak membeku.

Bu Retno menatapnya lama. Sangat lama. Wajah tua itu tak lagi marah, tapi sesuatu yang lebih berbahaya muncul di sana: curiga. Ia melangkah mendekat, mencengkeram dagu Sinta dengan jemarinya yang kurus dan dingin, memaksa menantunya mendongak.

"Apa yang kamu tahu?" desisnya.

"Tahu soal apa, Bu?"

"Jangan main-main denganku, Sinta. Apa yang Damar bilang padamu malam ini?"

"Hanya minta maaf, seperti yang dia bilang tadi."

"Bohong."

"Kalau Ibu tidak percaya, tanyakan saja pada Mas Damar. Dia kan anak Ibu yang paling penurut."

Cengkeraman itu menguat. Kuku Bu Retno menancap di kulit rahang Sinta. Rasa sakitnya tajam, tapi Sinta tidak mengerang. Ia justru menatap lurus ke mata mertuanya, tanpa berkedip, hingga perempuan tua itu yang akhirnya membuang pandang lebih dulu.

Bu Retno melepaskan dagu Sinta dengan kasar dan berbalik, napasnya sedikit memburu. Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di gagangnya.

"Dengar, Sinta. Saya sudah tiga puluh tahun mengurus rumah ini. Saya tahu setiap sudutnya, setiap rahasianya, setiap orang yang keluar masuk. Kalau kamu pikir bisa merusak apa yang sudah saya bangun, kamu keliru besar."

"Saya tidak berniat merusak apa pun, Bu."

"Bagus. Kalau begitu tidurlah. Besok subuh kamu bangun, siapkan sarapan untuk dua puluh orang. Keluarga Pak Hendra datang melihat rumah."

"Baik, Bu."

Pintu terbuka. Bu Retno melangkah keluar, dan Sinta menarik napas lega yang ditahannya terlalu lama. Tapi lega itu tak bertahan sampai sepuluh detik.

---

Subuh datang dengan langit kelabu dan dapur yang sudah sibuk. Sinta sudah berdiri di depan kompor sejak pukul empat, mengaduk rendang dalam kuali besar sambil mengiris bawang di sela-selanya. Dua puluh porsi. Dua puluh nasi kuning. Dua puluh telur balado. Tangannya bergerak otomatis, tapi kepalanya penuh.

*Tempat yang tidak akan pernah kamu temukan.*

Amplop itu ada di suatu tempat di rumah ini, disembunyikan oleh perempuan yang lebih licik dari yang pernah Sinta bayangkan. Dan Melia, dengan telepon rahasianya, dengan lelaki misterius yang menelepon malam-malam, dengan senyum manisnya yang kosong, adalah bom waktu yang sedang berdetak di bawah atap yang sama.

"Pagi, Kak Sinta."

Melia berdiri di ambang dapur dengan piyama satin warna gading, rambut digelung sembarangan, wajah segar tanpa riasan. Ia terlihat seperti lukisan perempuan baik-baik. Tangannya mengelus perutnya perlahan, gerakan kecil yang mungkin tak disadarinya sendiri.

"Pagi," jawab Sinta tanpa menoleh.

"Kakak masak sebanyak ini sendirian?"

"Ibu yang suruh."

"Kasihan." Melia berjalan masuk, mengambil sebutir telur balado dari piring dan menggigitnya sedikit. Wajahnya langsung mengernyit, ia buru-buru menaruh telur itu kembali dengan tangan menutup mulut. "Ih, bau amisnya..."

Sinta berhenti mengiris. Perlahan ia menoleh.

Melia buru-buru menegakkan badan, memasang wajah ceria. "Maaf, Kak. Aku sedang tidak enak badan. Masuk angin."

"Masuk angin?"

"Iya."

"Mual-mual?"

Mata Melia berkedip cepat. "Kenapa Kakak tanya begitu?"

"Aku cuma khawatir, Mel." Sinta meletakkan pisau di talenan dan mengelap tangannya pada celemek, gerakannya lambat dan disengaja. "Kamu kan calon istri Damar. Kalau kamu sakit, nanti Ibu menyalahkan aku."

Melia tertawa kecil, terlalu keras, terlalu cepat. "Oh, jangan khawatir. Aku cuma perlu istirahat."

"Tentu." Sinta tersenyum, dan senyum itu cukup membuat Melia menelan ludah. "Kalau perlu apa-apa, bilang saja. Teh jahe, mungkin? Atau... asam jawa? Katanya bagus untuk yang sedang mual."

"Asam jawa?" ulang Melia. "Untuk apa?"

"Untuk masuk angin," jawab Sinta polos. "Kan? Memangnya untuk apa lagi?"

Melia menatapnya. Lama. Di wajah cantik itu, topeng manisnya retak sedikit demi sedikit, dan di baliknya, untuk pertama kalinya, Sinta melihat sesuatu yang ia tunggu-tunggu: rasa takut.

"Kakak ini aneh," bisik Melia dingin. "Aku nggak suka cara Kakak bicara."

"Aku juga tidak suka banyak hal, Mel." Sinta mengambil pisaunya lagi dan melanjutkan mengiris bawang. "Tapi aku belajar menerimanya. Seperti kamu sebentar lagi belajar menerima banyak hal di rumah ini."

Melia terdiam, lalu berbalik dan keluar dari dapur dengan langkah cepat, hampir berlari. Sinta menatap punggungnya sambil terus mengiris. Air matanya menetes, tapi ia tahu itu hanya karena bawang.

*Satu retakan sudah terbuka.*

---

Menjelang pukul sembilan, rumah Bu Retno penuh. Keluarga Pak Hendra datang dengan dua mobil, membawa buah tangan dan senyum berseri. Sinta berlalu-lalang membawa nampan, sementara para tamu menikmati rendang buatannya seolah itu hasil kerja pembantu yang memang sudah semestinya.

"Enak sekali masakannya," puji Bu Hendra, ibunda Melia, menyuap nasi kuning. "Pembantunya siapa, Jeng Retno?"

"Ah, ini orang lama di rumah," jawab Bu Retno ringan, tanpa menoleh pada Sinta yang berdiri di dekat meja saji. "Dulu bekas menantu, sekarang ikut-ikutan bantu."

"Bekas menantu?" Bu Hendra tertawa kecil. "Oh, jadi yang itu..."

"Iya, yang itu." Bu Retno menghela napas dramatis. "Kasihan, tidak bisa kasih keturunan. Tapi saya masih kasihan, makanya saya biarkan tinggal. Daripada terlantar di jalan."

Tawa para tamu terdengar sopan dan puas.

Sinta menyajikan es teh dengan tangan mantap. Tak ada getar, tak ada air mata. Ia menunduk sedikit, seperti pelayan yang baik, lalu mundur ke dapur dengan senyum samar di bibirnya. Di punggungnya terasa tatapan Melia, yang sejak tadi duduk di sofa dengan wajah pucat dan genggaman tangan yang terlalu erat pada ujung bajunya.

Di dapur, Sinta mencuci piring sambil mengatur napas. Telinganya menangkap setiap suara dari ruang tamu: tawa, dentingan sendok, cerita kosong tentang tanggal pernikahan dan katering. Ia bersabar. Ia menghitung waktu.

Tiba-tiba terdengar langkah tergesa di belakangnya. Rini muncul dengan napas tersengal, wajah memerah, dan sesuatu yang berkilat di tangannya.

"Bu Retno!" panggil Rini sambil berlari melewati Sinta ke ruang tamu. "Bu! Ada yang harus Ibu lihat!"

Sinta berbalik cepat. Jantungnya langsung jatuh ke perut.

Di tangan Rini, tergenggam sebuah ponsel kecil berlapis casing biru. Ponsel yang seharusnya masih tersembunyi di dalam sarung bantal paviliun.

Seluruh ruang tamu mendadak sunyi. Bu Retno menoleh, sendoknya terhenti di udara. Rini menyerahkan ponsel itu dengan wajah penuh kemenangan.

"Saya temukan ini di kamar paviliun, Bu. Di bawah bantal Sinta. Ada foto aneh di dalamnya."

Mata Bu Retno turun ke layar yang menyala. Wajahnya perlahan berubah warna, dari merah menjadi kapur pucat. Bibirnya bergerak tanpa suara, lalu dengan suara serak ia berkata:

"Siapa yang memberikan ini padamu, Sinta?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!