Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 - Pergi Dari Rumah
BUGH!
Sebuah bogem mentah tepat menghantam wajah Galih. Lelaki berusia dua puluh tahun itu seketika jatuh ke lantai. Sisi wajahnya terasa panas dan berdenyut hebat saat kulit pipinya bergesekan langsung dengan semen dingin yang berdebu. Pandangannya sempat berkunang-kunang untuk beberapa detik, menangkap samar bayangan sosok tinggi besar yang berdiri tegak di hadapannya dengan napas memburu.
"Dasar anak kurang ajar! Nggak tahu terima kasih! Sekarang kau bilang nggak mau jadi TNI sepertiku?!" omel Hilman, ayah kandung Galih. suara berat itu menggema keras di seluruh ruangan, dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Belum sempat anaknya berdiri atau sekadar menyapu darah tipis yang mulai keluar dari sudut bibirnya, Hilman menendang tubuh Galih dengan keras. Ujung sepatu larsnya mendarat tepat di rusuk Galih, membuat pemuda itu meringis menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke dada.
Memang sejak kecil Hilman mendidik anaknya dengan disiplin dan keras. Tidak ada kata tawar-menawar dalam kamus hidup mantan prajurit itu, terutama pada Galih yang merupakan anak sulung dan satu-satunya anak lelakinya. Bagi Hilman, membesarkan anak laki-laki berarti harus siap menempanya tanpa ampun, membentuknya menjadi figur yang serba bisa dan tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun.
Sejak Galih lahir, Hilman selalu berharap putranya itu akan menjadi tentara sepertinya. Sebuah ambisi pribadi yang dipaksakan secara mutlak tanpa pernah menanyakan apa yang sebenarnya diimpikan oleh sang anak. Jadi sejak kecil Galih disetir untuk menjadi kuat fisik dan mental. Jadwal hariannya dipatok kaku, latihan fisiknya dipaksa melampaui batas kemampuan usianya. Dipukuli dan ditendang sudah jadi makanan Galih sehari-hari setiap kali dia dianggap gagal memenuhi standar tinggi yang ditetapkan oleh ayahnya. Setiap kesalahan kecil selalu dibayar dengan derita fisik yang meninggalkan luka luar dan dalam.
Hilman memang sosok ayah yang baik jika dilihat dari sisi tanggung jawab materi. Dia bekerja keras untuk memastikan perut keluarganya terisi dan atap rumah mereka tidak bocor. Tapi dia sosok kepala keluarga yang ringan tangan dan keras. Wataknya yang impulsif dan temperamental membuat rumah tinggal mereka tidak pernah benar-benar terasa aman. Seluruh anggota keluarga Darmawan sudah dipastikan pernah merasakan tamparannya, membuat setiap langkah di dalam rumah itu selalu dibayangi rasa cemas.
"Sudah, Yah... Hentikan... Sebaiknya kita dengarkan dulu Galih bicara. Dia pasti punya alasan." Lastri, ibunya Galih berusaha menghentikan amukan suaminya sambil berlinang air mata. Tangannya yang gemetar mencoba menggapai lengan Hilman, memohon ampun untuk putra sulungnya yang kini terbaring tak berdaya di atas lantai.
"Sudah, Ma. Biarkan saja Ayah memukulku. Pukul saja aku sampai mati, Yah! Aku tetap nggak mau jadi tentara! Aku nggak mau jadi sepertimu!" pekik Galih. Suaranya serak dan bergetar, namun terpancar keberanian yang luar biasa dari balik tatapan matanya yang membara. Untuk pertama kalinya, dia berani bicara begitu pada Hilman. Benteng ketakutan yang selama belasan tahun mengurungnya mendadak runtuh begitu saja.
Galih memang sudah kehilangan kesabaran karena selalu dikekang semenjak kecil. Kekangan itu membuat hidupnya sesak, bermimpi untuk bebas rasanya sulit. Hari demi hari dijalaninya seperti seorang tahanan di rumahnya sendiri, dan malam ini, batas ketahanannya benar-benar telah melampaui titik jenuh.
"ANAK SIALAN! Kurang ajar!" Hilman tentu semakin dibuat naik pitam mendengar ucapan Galih. Ego dan harga dirinya sebagai kepala keluarga serasa diinjak-injak oleh anak kandungnya sendiri. Kini dia melempari barang-barang di dekatnya ke arah Galih. Sebuah asbak kaca, gelas plastik, hingga pajangan kayu beterbangan, melayang menghantam tembok dan lantai di sekitar Galih hingga hancur berkeping-keping.
Lastri yang merasa tak tahan melihat anaknya terus disakiti, segera memeluk Hilman. Ia merangkul pinggang suaminya erat-erat, menggunakan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya untuk menahan gerakan tubuh Hilman. Mencoba menghentikan dan menenangkan sang suami yang sudah kalap dikuasai emosi.
Brak!
Namun Lastri malah didorong dan langsung jatuh ke lantai. Dorongan kasar itu membuat tubuh wanita paruh baya itu tersungkur ke samping, membentur kaki meja kayu dengan keras.
"Mama!" Nina adiknya Galih langsung menghampiri Lastri sembari menangis pilu. Gadis kecil itu merangkul tubuh ibunya yang terbatuk-batuk, mendekapnya erat sembari menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi ketakutan luar biasa. Suara tangis Nina berpadu dengan ketegangan mencekam yang memenuhi ruangan itu.
"Ini semua gara-gara kau! Kau terlalu memanjakannya, Lastri! Jadi begini kan dia?!" bentak Hilman. Matanya menyalang ke arah Galih, memancarkan kebencian mendalam atas pembangkangan yang baru saja terjadi. Urat-urat di lehernya menegang, menandakan amarahnya telah mencapai puncak tertinggi.
"Baiklah kalau itu maumu, Galih. Aku akan pukuli kau sampai mati!" Hilman mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia mencari benda yang bisa dijadikannya alat pukul, memutus habis sisa-sisa rasa kemanusiaannya sebagai seorang ayah yang seharusnya melindungi sang anak.
Tepat sebelum Hilman mengambil alat pukul, Lastri berlari masuk ke kamar. Dengan gerak cepat yang didorong oleh insting seorang ibu untuk menyelamatkan nyawa putranya, dia menyambar barang-barang yang bisa dijangkau. Dengan cepat dia ambil tas ransel Galih, memasukkan baju secukupnya dan selembar uang seratus ribu yang dia ambil dari dalam lemari. Setelah itu, Lastri menghampiri Galih yang masih berusaha bangkit dari lantai.
"Galih! Cepat pergi dari sini sekarang!" suruh Lastri dengan nada berbisik tapi penuh penekanan. Wajah ibunya pucat pasih, dengan mata yang terus mengawasi gerak-gerik suaminya di sudut ruang tamu.
"Ta-tapi bagaimana dengan--"
"Kau tidak usah cemaskan aku dan Nina. Jika kau ingin hidup bebas, pergilah sekarang, Nak! PERGI!" potong Lastri. Tatapan mata Lastri seolah memohon agar Galih tidak membuang-buang waktu yang sangat berharga itu.
Galih bergegas mengambil tas yang diberikan Lastri. Tanpa sempat mengenakan alas kaki yang layak, dia mendorong pintu depan dan kemudian pergi keluar dari rumah. Dia berlari sekencang mungkin menembus kegelapan malam, membiarkan angin dingin menusuk kulitnya. Menjauh dari rumah yang dirinya rasa seperti neraka tempat segala kebebasannya dirampas selama dua puluh tahun hidupnya.
Galih berlari tanpa menoleh ke belakang. Langkah kakinya menyapu tanah keras dan kerikil tajam, menyusuri jalanan kampung halamannya yang mengarah ke jalanan besar. Rasa sakit di rusuk dan wajahnya seolah menguap, teralihkan oleh pacuan adrenalin yang luar biasa. Beberapa tetes air mata menetes di wajahnya yang lebam, membasahi luka memar yang mulai membengkak di sekitar pipinya.
Sebenarnya sudah lama Galih ingin pergi dari rumah. Rasa tertekan yang menggunung di dadanya sudah sering memicu keinginan untuk melarikan diri jauh ke tempat yang tak terjangkau. Akan tetapi tidak dia lakukan karena takut pada ayahnya dan juga mencemaskan ibu serta adiknya. Dia selalu dibayangi rasa bersalah jika harus meninggalkan Lastri dan Nina sendirian menanggung perangai buruk Hilman.
Sekarang Galih benar-benar tak punya pilihan, karena kali ini nyawanya terancam ditangan ayah kandungnya sendiri. Jika dia bertahan satu menit saja di rumah itu, mungkin dia tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi. Dia hanya berharap ibu dan adiknya baik-baik saja di bawah perlindungan takdir. Galih berjanji akan kembali jika dirinya sudah berhasil dengan kehidupannya, datang sebagai sosok mandiri yang mampu mengangkat ibu dan adiknya dari cengkeraman penderitaan tersebut.
Setelah berlari cukup lama hingga paru-parunya serasa terbakar dan nafasnya tersengal-sengal, Galih akhirnya tiba di pinggir jalan raya. Garis aspal hitam yang membentang luas itu menjadi batas antara masa lalunya yang kelam dan masa depannya yang tak pasti. Dia duduk ke tanah sambil menangis pilu, melepaskan seluruh beban beban mental yang tertahan selama ini. Memukul-mukul dadanya berulang kali, mencoba mengusir rasa sesak yang kian mengimpit pernapasan. Jujur saja, rasa sesaknya masih mengendap di dada, berbaur dengan rasa takut, kecewa, dan ketidakpastian akan arah tujuannya.