NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan
Popularitas:666.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kagum : 12

“Ibu tili gapapa kan?” si bungsu bertanya dengan nada perhatian, hilang sudah suara bossy nya.

Saniya menggeleng. “Tante baik-baik saja, mas Ardan. Mas Ardan juga gapapa kan? Gak kena air panas, kan?”

Pipi Ardan langsung bersemu kemerahan, dia menunduk seraya menutupi mulut, bersembunyi dari tatapan wanita yang berhasil membuatnya malu, enggan menjawab. “Aku dipanggil Mas? Hahaha ….”

Yarash yang gemas, mengusap rambut putranya sedikit keras sampai berantakan.

“Mas, aku berangkat dulu ya? Bus nya sudah dekat,” pamitnya. Ia maju ke samping pria memalingkan wajah dari sang putra.

“Kamu gak sarapan dulu?” Gerakannya spontanitas mengelus pucuk kepala Saniya yang mencium takzim punggung tangannya.

Suasana canggung seperti di dalam kamar tadi, kembali terasa meski hanya sesaat

“Disekolah saja, gak keburu, udah mepet banget waktunya.” Saniya menurunkan tangannya, menganggap balasan Yarash barusan bentuk memberi contoh keluarga harmonis ke anaknya.

“Tunggu sebentar, Mas ambilkan kotak makanan, kamu bawa bekal saja.” Gerakannya sudah termasuk kategori pria penuh perhatian ke istrinya, begitu natural.

Saniya Syamira terpaku dengan sorot mata meredup, batinnya pun membandingkan dengan kehidupannya sebelum menikah.

Saat-saat diabaikan, tak lagi pernah ditanya tentang keadaannya, hobi, tengah melakukan apa, ingin makan apa, bagaimana dengan hari dijalani. Kedua orang tuanya sibuk mengurus bisnis dan melimpahkan kasih sayang mereka ke Fauzia Serla.

Keberadaannya di rumah seperti benda mati yang tak perlu jaga perasaannya, dihujani perhatian.

Kedua wanita beda usia sama-sama memperhatikan pria yang sibuk memasukkan pancake ke dalam kotak bekal.

Dalam hati, Tatiana menggeram, merasa cemburu sebab perhatian ayahnya mulai terbagi ke ibu tiri. ‘Bener kata Mommy. Dia datang bukan untuk menambah kebahagiaan kami, tapi merebut Papi dariku!’

Rasa bersalah sempat menyelinap ke relung hatinya langsung sirna tak berbekas. Keengganan meminta maaf diperkuat oleh praduga tak berdasar.

Yarash menarik resleting tas bekal, lalu memberikan ke wanita yang matanya berkaca-kaca.

“Masih terasa sakit sangat sekali ya? Kamu libur saja, kita periksa ke dokter —”

Saniya memotong kalimat suaminya. “Mulai baikan, Mas. Nanti sorean juga hilang, aku gapapa.”

“Terima kasih, bekalnya.” Diambilnya tas dalam genggaman tangan berurat menonjol pada bagian punggung tangan merambat ke lengan sampai siku.

“Aku berangkat dulu.” Dia pun berbalik badan, terbiasa berpamitan dengan cara paling cepat, takut mengganggu ketenangan pemilik rumah. Ternyata kebiasaannya dulu sewaktu masih di kediaman keluarga Hadi, terbawa sampai sini.

“Ardan, kak Tiana, salim ke mami Saniya!” titah kepala keluarga, enggan di bantah.

“Ibu tili sini!” Jarinya terbuka lalu menekuk.

Yarash menggendong putranya. “Lain kali biasakan kamu yang mendekati Mami. Ardan kan lebih muda, harus sopan ke orang tua.”

Ada yang tertohok oleh kalimat terdengar sindiran di telinganya. Wajah Tatiana pun bertambah muram, kekesalan menumpuk dalam hati.

“Belajal yang benel ya.” Ardan menjilat punggung tangan ibunya. “Pahit lasanya.”

“Ardan jangan nakal di rumah, kasihan mbak Suci kewalahan jagain kamu.” Untuk pertama kalinya Saniya mengelus rambut halus balita masih dalam gendongan ayahnya.

“Aku ndak nakal cuma banyak akal,” sahutnya mengikuti kalimat sering terucap dari bibir ayahnya.

Saniya dan Yarash sama-sama tertawa kecil, mereka saling pandang lalu berlomba-lomba siapa lebih cepat memalingkan muka.

“Dada mas Ardan.” Wajah Saniya maju, bibirnya mencium pipi bulat sedikit berminyak.

Reaksi kedua pria tersebut sangat berbeda. Efek dari kedekatan tanpa jarak berhasil menghantarkan gelenyar hangat.

Ardan mengelap bekas ciuman singgah di pipi, tetapi matanya tidak berani memandang sang ibu tiri. Dia langsung memeluk leher ayahnya seraya tersenyum sampai barisan gigi kecil nan rapi terlihat. Kakinya menendang-nendang perut keras papinya.

Sementara Yarash, dapat mencium aroma lembut bunga Lili, seolah wangi parfum Saniya menempel pada kulitnya. Bayangan perut halus, lembut, berputar-putar di kepalanya, langsung saja dienyahkan dengan bergeleng.

“Tiana!” perintahnya mencoba menenangkan si bungsu yang bergerak kegirangan.

Gadis berseragam sekolah menengah pertama, setengah hati berdiri, lalu meremas sedikit kuat jemari Saniya, sangat tidak ikhlas menempelkan tangan halus pada keningnya.

“Semoga harimu menyenangkan, perasaan tetap nyaman, Tatiana. Lolos dari pantauan mata manusia, bukan berarti luput dari pengamatan yang maha kuasa,” bisikan Saniya nyaris seperti suara hembusan angin lembut

Tatiana terperanjat, kehilangan rona merah pada wajahnya. Detak jantung pun kacau, dia mendongak, seketika tubuhnya langsung menegang.

Pancaran mata Saniya tetap tenang, tetapi ada sinar kemenangan di sana, seakan dia baru saja meringkus seorang penjahat.

Ya, sebelum kejadian cepat tadi, dia sempat menangkap pergerakan kaki terulur, namun tidak bisa mencegah. Setelah kekacauan teratasi, pikiran kembali jernih, barulah disadarinya jika Tatiana sengaja mau menjegal langkahnya.

Saniya menarik lebih dulu tangannya, lalu berjalan anggun seraya menenteng tas bekal, dan menggendong tas pada bahu.

Bus jemputan sekolah sudah tiba bersamaan dengan Saniya keluar dari dalam rumah. Dia berjalan sedikit jauh melewati halaman ditanami pohon pinang hias, bunga asoka dipangkas rapi dan dibentuk tingkat.

“Miss! Miss!”

“Bu gulu sayang!”

“Mama … mamaku!”

Seruan dari dalam bus jemputan yang kacanya digeser terbuka, memperlihat wajah-wajah antusias anak-anak istimewa memanggil sosok wanita tersenyum sumringah.

“Miss … aku lindu!” seorang anak laki-laki berumur 8 tahunan, tidak dapat dicegah gerakannya oleh guru pengawas, dia turun dari dalam mobil, berlari memasuki gerbang yang pintunya dibuka separuh.

“Miss!”

Saniya meletakkan tas bekal di tepian pembatas paving blok dengan taman. Kakinya sedikit melebar, agar keseimbangan tubuh tetap terjaga, antisipasi menahan terjangan salah satu murid kesayangannya. Lentera hidupnya.

Benar saja … anak laki-laki tadi menabrakkan badan sekuat tenaganya. Hampir mereka terjatuh, tetapi Saniya bisa bertahan. Pun, menahan perih masih terasa nyeri pada perut.

Anak-anak lainnya berteriak iri, sibuk mau keluar dari dalam bus agar bisa ikut memeluk guru kesayangan mereka.

“Kok dia peluk-peluk ibu tili, Pi?” ternyata Ardan menyaksikan interaksi hangat itu, dia dan ayahnya berdiri di teras.

“Papi!” Dicubitnya pipi sang ayah yang terkagum-kagum memandang tak berkedip.

“Ya, Nak?”

“Dia kok peluk ibu tili?!” suaranya sarat kecemburuan.

Yarash mengeratkan gendongan, lalu memberi pengertian seraya tatapan tetap memandangi Saniya yang sudah jalan sambil merangkul pundak anak laki-laki setinggi ketiaknya.

“Mami kan guru yang sangat disukai muridnya, jadi ya dipeluk tanda mereka menyayangi mami Saniya,” ucapnya pelan.

“Aku mau sekolah! Sekalang!”

.

.

Bersambung.

1
dwi alfiah
suka bngt sm karya kak cublik
Fitry Hardika
karya luar biasa
Isah Sadiah
suka banget alur ceritanya/Heart//Heart/
Engkar Sukarsih
lanjut lagi dong kak cublik 🙏🙏🙏dah kangen nih sama ibu tilinya bang Ardan yang ganteng 🥰🥰🥰
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
tak terbayang gmn terpukulnya seorang ayah yg menjaga putri nya dr duina luar yg akan membuat rugi diri s dri rupanya di khianati segitunya
Waduhhhh gmn ya wis mboh lah kaluana jaman anak saiki susah di prediksi emang
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
baru tau ya Tatiana
sekaras apa saniya ibu tiri mu itu melindungi mu
tp apa balasan mu
masih kah kau angap wanita cacat Tatiana
sungguh tak tau malu
tp selepas ini AQ harap kau sadar
Nabila Nabil
bagussss... jujur semua.... aku tunggu kejujuranmu..... 🤣🤣🤣
Nabila Nabil
betul opa Darius i love you jadi pengen ngelonin anaknya deh... 🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mamam tuh cinta rasa tak kucing🤣🤣🤣
Nabila Nabil
nah lohhhh apa gak semakin sakit hati si yarash... padahal si yarash udah ngasih kasih sayang berharap Tatiana tidakk memgaharapkan itu dari laki laki lain kecuali suaminya nanti eh malah cosplay jadi LONTHEEEEE..... 🤣🤣🤣
Nabila Nabil
gimana ya punya anak cewek sama cowok itu resikonya sama besar cewek kalo salah pergaulan bisa hamil duluan cowok kalo salah pergaulan juga jadi boty... semoga anak anak kita dijauhkan dari segala marabahaya yg mengancam dunia akhir akhir ini ya allah.... 😭😭😭😭
Didi Setiadi
gas terosss
🙏🙏🙏
Didi Setiadi
kita dulu pernah bandel juga goblok sewaktu remaja dan untungnya dulu kita miskin jadi nggak sempet clubbing atau nongki² gitu palingan cuma nyolong duit emak sama tanaman tetangga buat dimakan kalok pos kamling.
Didi Setiadi
🤣🤣🤣 panggil emakmu , ikut sana 🤣🤣🤣
haha haahg🤣🤣
Mengukir Senja
aaaah jahatnya 😳
dewi rofiqoh
Cinta dan sayang mami saniya tak menuntut validasi kamu tatiana. Sadarlah! Semoga tidak ada yang merekam mu selain mang suip
AFPA
ngaku..kl daleman tantemu..
kamu yg ngerusak
AFPA
1000 buat papi
Anonim
Thour up setiap hari dong.
Moms Rafi-alhusaini 🌺
udah kepalang nyebur akhirnya ngaku juga 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!