Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Tolong Jangan Block Gue!
Melihat layar ponsel Naya yang menyala tepat beberapa senti di depan hidungnya, seluruh sirkuit di dalam tempurung kepala Rendra Adijaya resmi mengalami kebakaran massal. Insting social anxiety-nya berteriak histeris menyuruhnya untuk segera melompat keluar lewat jendela kelas lantai dua, tetapi saklar obsesi dan kebucinan akutnya justru menuntut tindakan darurat yang jauh lebih nekat demi mempertahankan eksistensi sang pawang mental di hidupnya.
Tanpa babibu, Rendra langsung melesat menuju pintu depan kelas XI-A dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Cklek! Glek!
Dengan gerakan secepat kilat khas atlet e-sports profesional peraih medali emas, Rendra menutup pintu kelas rapat-rapat lalu memutar kunci ganda dari dalam hingga berbunyi nyaring. Tidak berhenti sampai di situ, dia juga buru-buru berlari memutari ruangan untuk menutup semua gorden jendela kelas satu per satu, hingga ruangan yang sepi itu mendadak berubah menjadi remang-remang dan dramatis.
Naya yang masih berdiri di dekat meja hanya bisa melongo kaku dengan mata melotot, menyaksikan kelakuan ajaib sang pangeran sekolah.
"Heh, manekin! Lu ngapain ngunci pintu segala, hah?! Lu mau menyandera gue di kelas kosong? Atau lu mau ngajak gue baku hantam gara-gara rahasia lu terbongkar?!" semprot Naya beruntun. Tangannya langsung bersiap memegang sandaran kursi kayu erat-erat, kalau-kalau cowok blasteran di depannya ini mendadak berubah menjadi psikopat yang berniat melakukan tindakan kriminal.
Namun, dugaan Naya melesat sejauh galaksi andromeda.
Begitu Rendra berbalik badan, seluruh topeng pangeran dingin yang dia bangun susah payah dengan modal gengsi selama bertahun-tahun langsung runtuh, luntur, dan menguap tanpa sisa ke udara. Wajah tampannya pecah total. Dia langsung merangkak dramatis melintasi lantai kelas, menghampiri Naya, lalu menjatuhkan kedua lututnya ke lantai tepat di depan cewek pojok kelas itu.
"Nayaaa! Tolong jangan block akun gue! Gue mohon banget sama lo, Nayaaa!" rengek Rendra dengan suara cempreng aslinya yang manja, melengking, dan penuh keputusasaan brutal.
Kedua tangan Rendra terangkat ke atas dengan gerakan gemetaran parah. Dia dengan sangat hati-hati mencubit ujung jaket rajut murah berwarna abu-abu milik Naya menggunakan dua jarinya. Rendra takut dibilang lancang jika memegang tangan Naya secara langsung, tetapi di sisi lain, dia tidak mau melepaskan satu-satunya sumber waras dan penyelamat jiwanya di dunia nyata maupun gaib.
Naya melangkah mundur selangkah karena syok, tetapi cubitan jari Rendra di ujung jaketnya ikut bergeser mengikuti arah langkahnya. Naya cengo parah sampai mulutnya menganga lebar selama beberapa detik penuh.
"Lu... lu beneran si Rendra Adijaya pangeran sekolah yang fotonya sering dijadiin wallpaper HP cewek-cewek seangkatan?! Kok bentukannya jomplang gini gila?! Mana wibawa lo yang kemarin?!" tanya Naya tak percaya, menatap makhluk di bawahnya dengan pandangan luar biasa heran.
"Gue rela beliin angkot jalur sekolah ini beserta supir-supirnya biar lo ga perlu nunggu angkot lagi, Nay! Gue rela beliin lo server Discord premium beserta bot-botnya sekalian untuk sepuluh tahun ke depan! Gue rela ngerjain semua tugas kalkulus dan fisika lo seumur hidup! Asal lo jangan block gue di Discord! Jangan kick gue dari hidup lo, Nayaaa!" Rendra mulai menangis bombay tanpa air mata, wajah blasterannya mendongak menatap Naya dengan tatapan memelas yang teramat sangat lebay layaknya anak kucing kelaparan yang kesiram air got.
"Gila... lu beneran udah ga waras ya, Ren?" Naya menepuk jidatnya sendiri dengan frustrasi, memutar bola matanya malas melihat idola sekolah yang sekarang sedang bersujud pasrah di bawah kakinya sambil merengek manja. "Lepas ga tangan lu dari jaket gue?! Gak usah lebay bawa-bawa angkot segala! Malu-maluin bapak lu aja lu yang pengusaha kaya raya!"
"Nggak mau! Sebelum lo janji dan bersumpah ga bakal block akun @King_Ren!" sahut Rendra keras kepala, malah mempererat jepitan jarinya di ujung jaket Naya dengan wajah cemberut. "Kalau lo sampai block gue, jiwa sosial gue bakal mati mendadak, Nay! Gue ga bisa napas di sekolah ini kalau ga denger lo ngatain gue babi, kunyuk, atau jamet tiap malam di voice channel!"
Naya langsung mendengus geli campur heran mendengar pengakuan jujur itu. “Ini anak seleranya aneh bener, dikatain babi dan jamet malah bikin dia bahagia setengah mati,” batin Naya tak habis pikir dengan isi kepala Rendra yang jaringan sarafnya sepertinya sudah putus total sejak bayi akibat kebanyakan uang.
"Ya lagian lu ngapain sih pura-pura kaku kayak kanebo kering di sekolah, hah?!" semprot Naya lagi, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menunduk menatap Rendra yang masih berlutut pasrah di lantai. "Bolak-balik depan meja gue cuma buat nyari rautan pensil lah, ngirim kopi premium subuh-subuh pake stiker kucing lah. Lu pikir lu lagi main film detektif intelijen?"
Rendra cemberut makin dalam, muka blasterannya merona merah padam karena aksinya ketahuan sedetail itu oleh sang pengawas Discord. "Ya kan... gue pengen lo merhatiin gue di dunia nyata juga, Nay. Tapi gue takut banget kalau harus ngomong langsung sama manusia asli. Cuma sama lo doang di internet gue bisa terbuka apa adanya. Pas gue tahu lo ternyata sekelas sama gue... saklar di otak gue mendadak bunyi klik dan gue bertekad lo harus jadi pawang mental gue selamanya di dunia nyata."
"Pawang kepala lu peyang! Gue admin Discord galak, bukan pawang kebun binatang ya!" ketus Naya.
Meskipun kata-katanya tajam, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada perasaan geli sekaligus sedikit tersentuh melihat tingkat kebucinan akut dan kejujuran cowok serapuh kerupuk soto di depannya ini. Karakter gap-moe-nya bener-bener di luar nalar.
"Udah, buruan berdiri lo! Malu-maluin kalau ada yang ngeliat dari celah gorden! Lu kalau ga berdiri sekarang, beneran detik ini juga gue klik tombol block di akun Discord lu seumur hidup!" ancam Naya dengan nada mengintimidasi.
Mendengar ancaman maut yang paling dia takuti itu, Rendra langsung melompat berdiri dengan kecepatan kilat, menegakkan tubuh tingginya kembali menjadi seratus delapan puluh senti, lalu buru-buru merapikan seragam abu-abunya yang agak lecek. Dia sempat hampir kelepasan melakukan selebrasi sujud syukur di atas lantai kelas sebelum buru-buru menahan dirinya karena tatapan galak Naya.
Dalam waktu tiga detik saja, wajah Rendra kembali dipasang sedatar tembok semen tanpa ekspresi—mode pangeran sekolah hybrid wibu cemas yang angkuh.
"Gue udah berdiri, Kanaya. Jadi... lo ga bakal block akun gue, kan?" tanya Rendra dengan suara yang kembali ditekan seberat, sedalam, dan sedingin mungkin, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri cowok cool-nya yang sebenarnya sudah hanyut total sampai ke pintu air banjir kota.
Naya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat transformasi ekspresi Rendra yang berubah secepat bunglon taman itu. "Gue pertimbangkan buat ga block lu. Tapi... jelas ada syaratnya," ucap Naya dengan seulas senyum sarkasnya yang mulai terkembang, bersiap meluncurkan klausul perjanjian rahasia baru yang bakal memeras tenaga dan otak pangeran sekolah pintar ini sampai tuntas demi keuntungannya sendiri.
Rendra langsung mengangguk patuh dengan mata yang kembali berbinar-binar penuh kilatan obsesi, siap menerima kontrak perbudakan apa pun dari sang admin galak pojok kelas.