Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Sang Penguasa
Kesepakatan yang baru saja terjalin di atas meja kerja Devan masih menyisakan hawa dingin di udara. Aria baru saja melepaskan genggaman tangannya dari jemari Devan ketika pria itu melangkah santai menuju brankas dinding tersembunyi di balik lukisan minyak berukuran gergasi.
Devan menekan beberapa tombol kombinasi, lalu memasukkan kunci fisik berlapis kroom. CLICK. Pintu brankas baja itu terbuka perlahan. Dengan gerakan tanpa ragu, Devan mengambil kalung berlian The Scarlet Tear dari dalam saku jasnya dan memasukkannya ke dalam brankas tersebut, lalu menguncinya rapat kembali.
Aria yang melihat perhiasan hasil jerat payahnya dikunci di tempat yang mustahil ia jangkau saat ini, langsung berdiri tegak. Matanya berkilat marah.
"Apa yang kamu lakukan, Devan?" cetus Aria tajam, melangkah mendekat ke meja kerja Devan. "Kalung itu milikku! Kamu sendiri yang bilang kalau kita ini bersekutu, bukan?"
Devan berbalik, menyandarkan punggungnya pada dinding marmer di samping brankas. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Aria dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Aliansi kita baru berlaku untuk misi Black Ledger di Kasino Royale Vane," tutur Devan dengan suara beratnya yang tenang. "Sementara kalung berlian merah itu adalah barang bukti kejahatan yang kamu curi dari wilayah klan Vane sebelum kesepakatan kita lahir."
"Aku mempertaruhkan nyawaku buat membobol brankas itu!" balas Aria, nada suaranya naik satu oktaf. "Tanpa keahlianku, kalung itu masih tertanam di brankas Hotel Lumina. Kamu tidak berhak menyitanya!"
Devan terkekeh pelan—sebuah tawa kaku tanpa rasa humor yang makin menyulut amarah Aria. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Aria bisa merasakan aura dominasi Devan yang pekat dan mengintimidasi.
"Di dunia bawah, hak milik ditentukan oleh siapa yang memegang kendali," bisik Devan, menunduk sedikit agar matanya sejajar dengan pandangan Aria. "Dan saat ini, aku yang memegang kendali atas kalung itu... juga atas dirimu."
"Kamu bandit licik," desis Aria, mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Devan tidak terpengaruh oleh makian itu. Ia justru merogoh saku kemeja hitamnya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus berenkripsi militer, lalu mengusap layarnya beberapa kali sebelum mengarahkannya ke depan wajah Aria.
Di layar ponsel tersebut, terpampang rekaman video CCTV berresolusi tinggi. Gambar itu memperlihatkan sosok Aria dengan gaun beludru hitamnya saat sedang meretas pintu brankas di Hotel Lumina, lengkap dengan sudut wajahnya yang terlihat jelas saat mengambil kalung The Scarlet Tear.
Aria membeku. Darahnya mendadak terasa dingin. Rekaman itu adalah bukti tak terbantahkan yang sanggup menghancurkan seluruh kariernya di dunia gelap.
"Bagaimana bisa...?" gumam Aria kaget. Ia yakin betul sudah mematikan seluruh jaringan kamera pengawas sebelum beraksi malam itu.
"Kamu mematikan kamera jaringan utama," potong Devan datar. "Tapi kamu lupa kalau klan Vane memasang kamera analitik mandiri dengan baterai cadangan yang terpisah dari server gedung. Anak buahku meretas dan mengambil rekaman ini beberapa menit sebelum bangunan itu meledak."
Devan menarik kembali ponselnya, memasukkannya ke dalam saku dengan gerakan elegan. Tatapan matanya yang kelam mengunci presisi iris mata Aria tanpa ampun.
"Bayangkan apa yang akan terjadi kalau rekaman ini jatuh ke tangan Hector Vane—pemimpin klan Vane yang terkenal kejam dan tanpa belas kasihan," lanjut Devan dengan nada bicara yang begitu santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Hector kehilangan aset ratusan miliar dan reputasinya hancur semalam. Dia sedang mengarahkan ratusan pembunuh bayaran untuk mencari siapa dalang di balik pembobolan itu."
Aria mengepalkan giginya rapat-rapt. Ia tahu betul reputasi Hector Vane. Pria tua itu tidak akan sekadar membunuhnya; Hector akan menyiksanya hidup-hidup sampai ia mengembalikan setiap sen dari kerugian tersebut.
"Kamu mengancamku?" tanya Aria, menyipitkan matanya rapat-rapat.
"Aku cuma menyampaikan fakta," pungkasi Devan dingin. "Satu sentuhan tombol dari ponselku ini cukup untuk mengirimkan identitas lengkapmu, jejak digitalmu, dan lokasi keberadaanmu saat ini langsung ke meja kerja Hector Vane. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, markas ini akan dikepung, dan kamu akan diseret keluar dalam keadaan tidak bernyawa."
Atmosfer di dalam ruangan itu mendingin secara drastis. Ancamannya begitu nyata dan mematikan. Aria merasakan dorongan naluri bertahan hidupnya menjerit. Pria di depannya ini tidak sedang bergertak. Devan Argantara adalah tipe pria yang sanggup melempar seseorang ke dalam kandang serigala tanpa berkedip sedikit pun jika orang itu dinilai tidak berguna baginya.
"Kamu butuh aku buat dapatkan Black Ledger," cetus Aria, mencoba menggunakan kartu truf terakhirnya. "Kalau kamu menyerahkanku ke klan Vane, kamu tidak akan pernah bisa menyusup ke kasino itu."
Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat berbahaya. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, mengurung Aria dengan keberadaan tubuh jangkungnya yang tegap.
"Memang betul," aku Devan tanpa ragu. "Tapi aku masih punya waktu untuk mencari peretas lain, sedangkan kamu... kamu tidak punya waktu sama sekali jika Hector Vane menemukanmu."
Aria menahan napasnya. Untuk pertama kalinya sejak ia ditangkap, Aria merasakan posisi tawarnya benar-benar terpojok. Devan telah mengunci seluruh jalur pelariannya, mengambil barang curiannya, dan memegang tali kekang atas hidup dan matinya.
"Apa mau mu sebenarnya, Devan?" tanya Aria pelan, suaranya kini terdengar lebih rendah, menahan kelelahan emosional yang melanda.
Devan mengulurkan tangannya, merapikan sehelai rambut berantakan yang menyapu pipi Aria dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah kontras yang mengejutkan dari ancaman mematikannya beberapa detik lalu. Sentuhan jemari Devan yang dingin membuat kulit pipi Aria berdesir aneh.
"Aku mau penyerahan diri secara utuh, Aria," bisik Devan tepat di depan telinga wanita itu. "Bukan cuma keahlian jarimu di atas papan ketik, tapi juga kepatuhanmu selama berada di bawah atapku. Jangan pernah mencoba bermain belakang, jangan pernah mencoba kabur, dan jangan pernah berpikir kamu bisa menipuku lagi."
Aria memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas kencang lewat hidung. Rasa jengkel, marah, dan keterpaksaan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Namun di balik itu semua, otaknya yang cerdas memberi tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup saat ini.
Ketika Aria membuka matanya kembali, tatapan matanya kembali tajam, meski ia tahu ia telah kalah dalam pertempuran taktik kali ini.
"Kalung itu..." kata Aria, menunjuk ke arah brankas dinding Devan. "Setelah misi Black Ledger selesai dan pengkhianat di klanmu tertangkap, kalung itu harus dikembalikan kepadaku."
Devan menatap Aria dengan pandangan menilai yang mendalam, lalu mengangguk pelan secara elegan. "Jika kamu menyelesaikan tugasmu dengan sempurna tanpa cela... perhiasan itu akan jadi milikmu kembali."
"Deal," desis Aria kaku.
Devan tersenyum puas. Ia mundur satu langkah, melepaskan kungkungan intriknya dari tubuh Aria, lalu berjalan menuju pintu ganda ruang kerjanya.
"Anak buahku akan mengantarmu ke kamarmu di lantai tiga," ujar Devan sembari membuka pintu. "Istirahatlah. Mulai besok, latihan dan persiapan untuk penyusupan ke Kasino Royale Vane akan dimulai. Jangan kecewakan aku, Little Bird."
Aria menatap punggung Devan yang melangkah keluar ruangan dengan rasa benci yang tertahan. Pria itu baru saja menyita hasil kejahatannya, mengancam nyawanya, dan mengurungnya dalam sebuah sangkar emas.
Aria mengepalkan tangannya rapat-rapt. Nikmati kemenanganmu sekarang, Devan Argantara, batin Aria penuh dendam. Karena begitu aku dapatkan kesempatan, aku bukan cuma bakal mengambil kembali kalung itu... tapi aku juga bakal membongkar seluruh kekuasaanmu sampai tak tersisa.