NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 - Istri Tuan Kedua

Gerimis subuh belum berhenti ketika penjaga gerbang Kediaman Kusumah mengedipkan mata di depan layar pemantau pos kecilnya. Sebuah bayangan manusia berdiri membeku di luar gerbang besi, payung lipat tua terbuka setengah di tangan kiri, dan gaun putih sebatas lutut basah oleh embun. Sudah hampir dua jam bayangan itu tidak bergeser sedikit pun.

Kediaman Kusumah berdiri di kaki bukit selatan Kota Serimpi, menempati lebih dari setengah lereng dengan gerbang besi hitam yang jarang dibuka untuk orang sembarangan. Rumah itu milik keluarga terkaya di kota, dan pagi hari seperti ini biasanya hanya dilewati oleh mobil-mobil berlapis kaca gelap.

Penjaga pos menekan tombol interkom, mengambil jas hujan tipis, lalu turun memeriksa sendiri. Dari balik jeruji ia baru bisa melihat wajah itu seluruhnya, dan lututnya mendadak tidak kuat menahan berat badan.

Rambut hitam panjang itu terurai begitu saja melewati bahu dan punggungnya. Kulitnya sangat pucat, dan sepasang mata lonjong yang seharusnya lembut itu kini tertekan oleh kelopak yang turun separuh. Bulu mata panjang menaungi iris, meninggalkan bayangan yang membuat seluruh wajah itu terasa tajam.

Lelah. Jenuh. Kejam. Tiga kata itu melayang sendiri dari balik gerbang besi dan membuat penjaga itu mundur selangkah tanpa sempat berpikir.

Sudut mulutnya sedikit tertarik ke atas, dan dari balik jeruji terlihat sepasang gigi yang tidak benar-benar sedang tersenyum. Cahaya lampu taman yang redup jatuh tidak merata di wajahnya, meninggalkan separuh bagian yang terang dan separuh bagian yang tenggelam dalam bayangan. Cahaya itu membuat wajah yang tadinya cantik terasa asing dan menakutkan.

"Nona, mencari siapa?" Suaranya bergetar setengah karena dingin dan setengah karena yang lain.

Penjaga itu mendekat sedikit lagi, lalu mundur penuh karena terkejut. Ia sudah belasan tahun bekerja di Kediaman Kusumah dan mengenali betul wajah Nona Kedua Kusumah, gadis yang dikirim ke panti perawatan jiwa empat tahun lalu.

"Itu Nona! Nona, kenapa Nona ada di sini?" Ia hampir berteriak.

Penjaga kedua yang mendengar berbalik badan dan berlari masuk memanggil pemilik rumah, sepatunya menyeret genangan air di halaman depan sampai celananya basah sebatas lutut.

"Ini rumahku, kenapa aku tidak boleh pulang?" Puspita menarik sudut mulutnya. Mata lonjong yang besar itu kosong dan dalam, dan ketika ia menatap seseorang, ada perasaan aneh yang muncul tanpa bisa dijelaskan siapa pun.

Penjaga itu mundur satu langkah lagi tanpa perintah siapa pun. Empat tahun lalu ia melihat Nona Kedua digiring keluar dari kediaman ini dengan wajah berlumur sesuatu yang membuat seluruh orang di halaman menunduk dan tidak berani menegur.

Tuduhan yang melekat padanya sederhana dan keji. Ia dituduh mengidap mania berat, depresi berat, dan kebiasaan menyakiti diri sendiri. Isu paling keji yang berembus ke seluruh rumah menyebut bahwa ia pernah menusuk ayahnya sendiri dua kali dengan pisau pemotong. Tidak satu pun tuduhan itu pernah dibuktikan dalam perkara pidana.

Empat tahun lalu, setelah Puspita genap berusia delapan belas tahun, keluarganya memohon kepada Pengadilan Negeri Kota Serimpi agar kewenangan Puspita dalam mengurus kepentingan perdatanya dibatasi. Berkas permohonan itu memuat laporan dokter pilihan keluarga serta kesaksian bahwa Puspita tak mampu mengurus diri dan hartanya. Berdasarkan bukti tersebut, pengadilan memberi Wibisono wewenang untuk mengurus kepentingan perdata Puspita. Wibisono kemudian memakai wewenang itu untuk menyetujui penempatan Puspita di Panti Perawatan Jiwa Bhakti Asih, meski dasar perawatan tersebut belakangan dipertanyakan.

Beberapa minggu sebelum pagi itu, seorang kuasa hukum independen mengajukan permohonan agar penetapan tersebut dicabut. Pengadilan memerintahkan penilaian independen oleh psikiater, memeriksa rekam perawatan Puspita, lalu mendengar keterangannya secara langsung. Penilaian medis terbaru menyatakan Puspita mampu mengurus kepentingannya sendiri, sedangkan isi berkas lama menyisakan banyak pertanyaan. Pengadilan pun mencabut penetapan itu dan mengembalikan kewenangan Puspita untuk mengurus hartanya sendiri.

Penetapan pengadilan itu tidak dengan sendirinya mengakhiri perawatan. Dokter penanggung jawab Bhakti Asih melakukan evaluasi terpisah, menyatakan rawat inap tidak lagi diperlukan, lalu menerbitkan dokumen pemulangan dan rencana perawatan lanjutan. Setelah salinan penetapan disampaikan kepada panti dan proses pemulangannya selesai, Puspita keluar secara resmi. Ia bukan melarikan diri, meski keluarganya kelak akan menyebutnya kabur.

Empat tahun berlalu, dan penjaga itu masih mengingat betul malam ketika gadis itu berdiri di anak tangga dengan pakaian compang-camping berlumur kotor, seolah baru merangkak keluar dari neraka.

\=\=\=\=

"Puspita? Nona kabur dari panti perawatan?" Suara Galuh memotong gerimis dari arah serambi.

Galuh melangkah keluar mengenakan setelan profesional tipis, tubuhnya tinggi dan wajahnya masih muda, tetapi begitu matanya menemukan Puspita, benci dan jijik muncul begitu terang hingga tidak sanggup disembunyikan sedikit pun.

Puspita menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku tidak kabur. Pengadilan sudah mencabut penetapan yang kalian ajukan, dan dokter telah memulangkanku setelah pemeriksaan. Aku mau kembali ke Kediaman Kusumah."

Galuh seolah mendengar lelucon paling lucu tahun ini. Ia melipat tangan dan menimbang Puspita dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

"Sudah sembuh? Kalau begitu seharusnya sekarang kau masuk penjara."

"Aku mau kembali ke Kediaman Kusumah." Puspita mengulangi kalimatnya, nadanya persis sama.

"Bagaimana makhluk yang sanggup menusuk ayahnya sendiri bisa kembali ke Kediaman Kusumah? Kau sama tidak tahu malu dengan ibumu!"

Galuh menegakkan tubuh di atas hak tingginya dan menatap Puspita dari atas ke bawah. Sejak kecil ia membenci sepasang kembar itu, karena ibu Puspita, Retno, memakai keberadaan kembaran itu untuk masuk rumah dan mengusir ibu Galuh dari Kediaman Kusumah.

Kembaran itu mewarisi sifat Retno yang egois dan menjijikkan. Kakak kembarnya, Damar, dilaporkan meninggal empat tahun silam, dan sejak itu gadis itu sendiri berubah menjadi mimpi buruk keluarga Kusumah.

Menurut cerita yang beredar di seluruh rumah, di tengah malam empat tahun lalu ia nyaris menusuk ayahnya sampai mati, dan menjatuhkan Galuh dari tangga hingga dua bulan penuh terbaring di rumah sakit.

Tidak ada pengadilan yang menjatuhkan vonis kepadanya. Diagnosis dan penetapan yang membatasi kewenangan perdatanya bukan pengganti proses pidana, sehingga Galuh tak bisa begitu saja menyeretnya ke lembaga pemasyarakatan. Kenyataan itu yang paling Galuh sesali seumur hidupnya.

Melihat mata lonjong yang kosong dan dalam itu, Galuh kembali mengingat insiden empat tahun lalu ketika ia terjatuh dari anak tangga. Selama dua bulan di atas ranjang rumah sakit, ia nyaris yakin dirinya akan cacat selamanya.

Wajahnya berubah sesaat, lalu ia membisikkan kalimatnya pelan dan tajam.

"Mau kembali ke Kediaman Kusumah? Mimpi. Kau akan habis di panti sampai tua, dan anak yang lahir dari ibumu serta ayahku sudah menggantikan tempatmu di rumah ini!"

"Galuh." Puspita tertawa rendah.

"Bagaimana rasanya jadi orang cacat? Kupikir itu belum cukup. Suatu hari aku akan membuatmu cacat sempurna."

Ia mendongak. Pupil gelap itu memerah samar di dasarnya.

"Seperti... kakakku." Sisanya keluar satu per satu kata.

"Tergeletak di tengah jalan, merangkak seperti anjing yang sekarat."

Dua bulan di atas ranjang rumah sakit adalah masa paling menyakitkan dalam hidup Galuh. Marah sudah tidak terbendung lagi, dan ia menampar Puspita tepat di pipi kiri dengan telapak tangan yang siap sejak tadi.

Puspita sebetulnya bisa menghindar, tetapi ia memilih tidak. Sebagai gantinya ia menatap Galuh sambil menyentuh bekas itu dengan ujung jari, lalu menghitung napas dalam-dalam. Satu. Dua. Tiga.

"Kenapa tidak coba lebih keras?" Wajahnya sedikit gila.

"Maksudmu apa?"

Retno keluar membawa secangkir kopi yang sudah dingin sejak tadi. Melihat ketegangan di antara keduanya, ia melirik Galuh dengan hati nurani yang bersalah, lalu seolah tidak melihat bekas tamparan di pipi putrinya sendiri, ia berkata pada Puspita, "Bagaimana Nona bisa kabur dan keluar begini? Cepat kembali ke panti, jangan sampai ayahmu melihatmu."

"Kenapa aku harus kembali?" jawab Puspita.

"Aku juga anak Ayah. Kalau nanti ia meninggal, bagian hartanya jatuh padaku. Oh iya, ingat juga bagian warisan untuk kakakku."

Wajah Retno berubah drastis.

"Puspita! Apa yang Nona ucapkan! Bagaimana Nona bisa melaknat ayah sendiri!"

"Dia bukan hanya melaknat, dia berani melakukannya." Galuh menyeringai.

"Retno, kau punya anak yang luar biasa!"

Retno mendengus di hadapan Galuh dan tidak berani menjawab sedikit pun.

Beberapa mobil berhenti di gerbang kediaman. Di bawah tatapan Galuh, para pengawal Kediaman Kusumah bersiap menggiring Puspita kembali ke panti perawatan dengan cara yang tidak akan membuat gadis itu melawan.

Puspita berbalik pergi, dan tepat pada saat itu belasan wartawan berlari masuk dari ujung jalan. Mereka mengangkat kamera, memotretnya keras, lalu mengambil beberapa foto jarak dekat bekas tamparan di pipinya.

Kedatangan wartawan itu tidak datang dari redaksi mana pun. Sejak subuh, unggahan siaran langsung seorang warga sekitar yang merekam gadis bergaun putih di depan gerbang sudah menyebar, dan dari sanalah kamera-kamera itu datang berbondong-bondong.

Pengawal tidak menyangka jumlah wartawan sebanyak itu. Mereka segera melupakan Puspita dan sibuk mengusir para perekam gambar ke arah pagar.

"Apa yang kalian lakukan? Tidak boleh memotret di sini!"

Galuh berkerut dan memarahi mereka dengan suara paling keras yang ia punya.

"Siapa yang membiarkan kalian masuk? Pergi sekarang, atau kutelepon polisi."

Sebuah mikrofon dijulurkan tepat di depan Galuh.

"Wakil Presiden Galuh, saya wartawan dari portal berita bisnis. Bukankah Nona Puspita itu putri Ketua Grup Sedaya, ayah Anda sendiri? Kenapa Anda tidak membiarkannya masuk?"

"Ada bekas tamparan di pipi Nona Puspita. Apakah Anda yang menamparnya, Wakil Presiden?"

"Ibu Nona Puspita dahulu merusak rumah tangga Anda. Apakah Wakil Presiden Galuh selalu membalas dendam dengan cara seperti ini?"

"Arya Mahesa, putra kedua Keluarga Mahesa, telah tiada empat tahun silam, dan Anda menindas istrinya. Apa Anda tidak takut pada murka Keluarga Mahesa?"

Galuh tertegun sejenak, lalu ia bertanya pada wartawan itu, suaranya tiba-tiba kehilangan tempo.

"Apa hubungannya dia dengan Keluarga Mahesa?"

Wartawan itu menjelaskan dengan sabar, seolah hal itu sudah diketahui semua orang.

"Arya Mahesa meninggal dan meninggalkan surat wasiat. Seluruh hartanya diwariskan kepada istrinya, Nona Puspita. Sekarang Nona Puspita adalah pewaris tunggal seluruh harta Arya Mahesa."

"Apa?"

Galuh dan Retno serentak memucat, dan kali ini tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup menyusun kalimat berikutnya.

Puspita sangat marah. Kalau ada orang yang menindasnya, ia akan membuat orang itu kehilangan seluruh harga dirinya sampai tak tersisa.

Empat tahun lalu tuduhan itu nyaris mengirimnya ke penjara dan nyaris melumpuhkan Galuh, sementara kini keduanya masih berdiri utuh di pelataran rumah sendiri, dan rumput di atas nisan Damar sudah tinggi setengah orang. Bagaimana mungkin ia menelan harga diri semurah itu?

Maka Puspita pulang.

Dan tamparan yang tadi ia terima tidak sia-sia sedikit pun. Galuh harus membayarnya berbunga.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
dylick
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
dylick
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
dylick: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!