Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Gadis itu sudah bergerak lebih dahulu, mendorong tubuh Marco yang menghalangi jalannya. Gerakannya tidak terlalu kuat, tetapi cukup membuat Marco kehilangan keseimbangan sesaat.
"Nona Gia, tunggu!" seru Marco.
Gia tidak menghiraukannya. Ia berlari menghampiri ayahnya dengan langkah sempoyongan. Tubuhnya masih lemah, dan punggungnya terasa sakit setiap kali ia bergerak terlalu cepat. Namun, rasa sakit itu seolah tidak berarti dibandingkan ketakutannya melihat Adam terus memukuli Sadam.
Begitu sampai di dekat mereka, Gia langsung berlutut di lantai.
"Papa!" Ia meraih lengan Sadam, berusaha melindungi tubuh pria itu dengan tubuhnya sendiri.
Sadam menoleh, terkejut melihat putrinya berada di sana. Tetapi, Adam langsung menurunkan tangannya perlahan. Tatapannya jatuh pada Gia yang kini berlutut di hadapannya dengan napas terengah-engah.
"Menjauh, Gia," perintahnya.
Gia menggeleng cepat, "Tidak."
"Gia, saya bilang menjauh."
"Tolong, Tuan Adam." Suaranya bergetar hebat. "Jangan pukul Papa aku lagi."
Adam menatapnya tanpa berkedip. Gadis itu mengangkat wajah, air matanya mengalir deras membasahi pipi. Kedua tangannya meraih lengan Adam, tetapi ia tidak berani menggenggamnya terlalu erat.
"Tolong, aku mohon."
"Bangun."
"Aku tidak akan bangun sebelum Anda berjanji tidak akan memukul Papa ku lagi."
Tatapan Adam semakin gelap, "Jangan menguji kesabaran saya."
"Aku tidak bermaksud begitu." Gia menggeleng berkali-kali. "Aku hanya meminta Anda berhenti. Tolong, jangan sakiti dia lagi."
Adam menatap tangan Gia yang mencengkeram lengannya, kemudian mengalihkan pandangan kepada Sadam yang masih berada di lantai.
"Kau ingin melindunginya?"
Gia tidak menjawab. Adam tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam suara itu.
"Kau benar-benar ingin melindungi pria bodoh ini?"
Gia menelan tangisnya, "Dia papa ku."
"Dan kau putrinya!" Suara Adam mendadak menggelegar hingga Gia tersentak.
"Di mana dia ketika kau membutuhkan perlindungannya? Di mana dia ketika kau mengatakan bahwa bukan dirimu yang menyebabkan kecelakaan itu? Mengapa dia tidak pernah mau mendengarkanmu?"
Gia terdiam dengan bibir gemetar. Adam membungkuk sedikit, membuat Gia terpaksa mendongak untuk menatapnya.
"Ketika kau menghilang pada hari pernikahanmu, apakah dia mencarimu sampai ke ujung dunia? Tidak!" Adam menunjuk Sadam yang berada di belakang Gia.
"Pria ini justru menyalahkanmu! Dia mengatakan bahwa kau telah mempermalukan keluarga, menghancurkan reputasinya, bahkan menyuruhmu mati!"
Maudi membeku, perempuan itu perlahan menoleh kepada Sadam, seolah baru menyadari betapa buruknya perkataan yang pernah dilontarkan suaminya kepada Gia.
Ia memang mengetahui pertengkaran mereka. Ia juga tahu Sadam sangat marah setelah Gia menghilang pada hari pernikahannya. Namun, mendengar Adam mengatakannya dengan begitu keras membuat dadanya terasa sesak.
"Dia ... mengatakan Gia harus mati?" bisik Maudi tidak percaya.
Sadam tidak menjawab, dia hanya mengusap wajahnya yang terluka, lalu memalingkan pandangan. Tidak ada penyesalan yang terlihat di sana.
"Setelah semua yang dia lakukan kepadamu, kau masih berlutut di sini untuk menyelamatkannya?"
Gia menangis tanpa suara. Adam menarik lengannya dari genggaman gadis itu, tetapi Gia segera kembali meraih ujung lengan jasnya.
"Aku mohon..."
"Jawab aku, Gia!" Bentakan itu membuat seluruh tubuh Gia menegang.
"Untuk apa kau membela pria yang bahkan tidak pernah membelamu?"
Gia membuka mulut, tetapi suaranya tertahan oleh isak tangis. Adam tidak memberinya waktu untuk menjawab.
"Kau bahkan sampai mempertaruhkan nyawamu demi pria ini!"
Kalimat itu menghantam Gia lebih keras. Adam mengetahui kejadian di kamar mandi itu. Ia mengetahui betapa dekatnya Gia dengan kematian ketika dirinya ditemukan tidak sadarkan diri di dalam bak mandi. Namun, sampai saat ini, Adam tidak pernah benar-benar mengungkapkan betapa besar kemarahan yang ia simpan ketika mengingat kejadian tersebut.
"Kau tahu apa yang paling membuatku muak?" lanjut Adam dengan suara bergetar menahan amarah.
"Kau terus berusaha melindungi orang-orang yang menyakitimu, sementara tidak seorang pun pernah benar-benar berdiri di pihakmu!"
Gia menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh ke punggung tangannya.
"Aku hanya tidak ingin papa terluka lagi," bisiknya.
"Meskipun dia menyakitiku dia pernah menyayangi dan membesarku dengan sangat baik,"
Adam terdiam, "Jadi, kau akan terus membiarkannya menyakitimu?"
Gia menggeleng lemah, "Tidak."
"Kalau begitu, menyingkirlah."
Gia kembali menggeleng, "Jangan pukul dia lagi, aku mohon."
Adam menatapnya dengan rahang mengeras.
"Apa yang akan kau berikan sebagai gantinya?"
Pertanyaan itu membuat Gia terdiam. Adam mendekat setengah langkah.
"Kau tadi memohon agar aku berhenti. Jadi, katakan kepadaku, yang akan kau lakukan agar aku menghentikan ini?"
Gia menelan ludah. Ia tahu Adam tidak sedang bercanda. Pria itu benar-benar menginginkan jawaban darinya.
"Aku akan melakukan apa saja," jawabnya akhirnya.
Maudi langsung menatap putrinya dengan mata membesar.
"Gia, jangan—"
Gia tidak mendengarkan ibunya. Ia terus menatap Adam, meskipun tubuhnya gemetar hebat.
"Aku berjanji akan melakukan apa saja yang Anda minta. Asalkan Anda tidak memukul Papa lagi."
Adam terdiam beberapa saat, Adam akhirnya menurunkan tangannya.
"Bangun."
Gia menggeleng kecil, "Tuan Adam, berjanjilah dulu."
Tatapan Adam kembali menajam.
"Kau masih berani mengajukan syarat kepadaku?"
Gia langsung menunduk, "Maaf..."
Beberapa detik berlalu sebelum Adam mengembuskan napas kasar.
"Aku tidak akan memukulnya lagi."
Gia mengangkat wajah dengan cepat, seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Adam menatapnya tajam.
"Tapi bukan berarti urusan ini selesai."
Ia melirik Sadam, setelah itu, Adam berbalik dan memberi isyarat kepada Marco agar melepaskan Maudi. Marco segera melangkah mundur. Maudi langsung berlari menghampiri Sadam, berlutut di samping suaminya, lalu memeriksa wajahnya dengan tangan gemetar.
"Mas Sadam, bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?"
Sadam menepis tangan istrinya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku!"
Maudi terdiam, terpukul oleh sikap suaminya sendiri. Namun, yang membuatnya semakin tidak percaya adalah ketika Sadam justru memandang Gia dengan tatapan marah.
"Dan kamu!" bentaknya. "Puas sekarang? Kamu membawa pria gila ini ke rumah kita dan membiarkannya memukulku?!"
Gia melakukan apa saja untuk menghentikan kekerasan itu. Tetapi yang diterimanya justru tuduhan.
"Papa..." bisiknya.
"Diam! Jangan berpura-pura peduli kepadaku!"
Maudi memandang Sadam dengan mata membelalak.
"Mas Sadam, cukup! Gia baru saja—"
"Jangan ikut campur!" Sadam kembali membentak istrinya.
Gia menundukkan kepala. Tangannya yang tadi mencengkeram lengan Adam kini perlahan terlepas, sementara tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan akibat rasa sakit dan kelelahan.
"Tuan Adam, terima kasih telah membiarkan Papa ku." Kata Gia pelan. Lalu, Adam menatapnya dengan kening berkerut.
" Aku akan tinggal di sini, aku berharap anda dapat menepati janji Anda. Kak Amerda, ada di kediaman Dominic, Anda bisa mengurusnya di sana," ujar Gia. Adam terkejut, dalam ucapan Gia tersirat kata-kata yang membuat kening Adam berkerut, itu artinya Gia mengusir Adam.
"Baik," raut wajahnya nampak kecewa, kedua tangan terkepal, lalu dia melirik Marco dan berkata.
"Kita pergi," Adam langsung berbalik dan Marco mengangguk lalu mengikuti Tuannya.
ap Dy punya rencana sendri???