NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Senin, 31 Oktober 2016.

Pukul 18.12, Arthur Sterling tiba kembali di Queens setelah meninggalkan kantor Richard Coleman di Midtown Manhattan.

Perjalanan dengan kereta bawah tanah terasa lebih panjang daripada biasanya. Bukan karena ia lelah, melainkan karena pikirannya terus memutar kembali percakapan yang baru saja terjadi.

Richard tidak menawarkan pekerjaan. Ia juga tidak menjanjikan keuntungan atau akses istimewa ke dunia investasi.

Namun, pria itu memberinya sesuatu yang mungkin lebih berguna pada tahap kehidupannya sekarang: kesempatan untuk membuktikan kemampuan melalui proses yang bisa diperiksa.

Arthur memahami bahwa kesempatan semacam itu tidak boleh disia-siakan.

Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah menghabiskan puluhan tahun untuk membangun reputasi. Ia tahu bahwa reputasi yang bertahan lama tidak tercipta hanya karena seseorang membuat keputusan yang benar sekali atau dua kali. Reputasi terbentuk dari serangkaian keputusan, cara seseorang menghadapi kegagalan, dan kemampuannya mempertanggungjawabkan tindakannya ketika hasil tidak sesuai harapan.

Masalahnya, Arthur memiliki keunggulan yang tidak bisa ia ceritakan kepada Richard.

Ia mengetahui sebagian masa depan.

Jika ia terus menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan investasi tanpa membangun kemampuan analisis yang dapat berdiri sendiri, ia mungkin memperoleh keuntungan besar. Namun, ia tidak akan pernah benar-benar mengetahui seberapa jauh kemampuan dirinya sendiri.

Lebih buruk lagi, ia bisa menjadi terlalu bergantung pada ingatan yang tidak sempurna.

Arthur menghela napas ketika kereta berhenti di stasiun berikutnya.

Ia harus membangun dua hal secara bersamaan: kekayaan dan kemampuan untuk mengelolanya.

Yang pertama dapat memberinya sumber daya.

Yang kedua akan menentukan apakah sumber daya itu bertahan.

Sesampainya di apartemen, Arthur meletakkan tasnya di dekat meja belajar dan langsung membuka laptop.

Ia membuat dokumen baru berjudul Catatan Investasi dan Evaluasi Keputusan.

Dokumen itu memiliki enam bagian.

Alasan melakukan transaksi.

Informasi yang tersedia pada saat keputusan dibuat.

Asumsi yang digunakan.

Risiko utama.

Kondisi yang dapat membatalkan tesis investasi.

Alasan keluar dari posisi.

Arthur kemudian mencatat transaksi Aurelia Therapeutics sebagai kasus pertama.

Ia tidak menuliskan bahwa dirinya mengetahui hasil uji klinis akan positif. Sebaliknya, ia mencatat dasar analisis yang dapat diperiksa dari informasi publik: tahapan pengembangan obat, kondisi keuangan perusahaan, potensi katalis, kemungkinan kebutuhan pendanaan, serta risiko yang melekat pada opsi.

Pada bagian evaluasi, ia menuliskan bahwa hasil akhirnya positif, tetapi ukuran posisi awalnya terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan keuangannya.

Ia juga mencatat bahwa penjualan sebagian besar opsi mengurangi risiko konsentrasi dan meningkatkan likuiditas, meskipun keputusan itu membuatnya berpotensi kehilangan keuntungan tambahan apabila harga terus naik.

Setelah selesai, Arthur membaca kembali catatan tersebut.

Ia tidak sepenuhnya puas.

Ada bagian yang hanya bisa ia jelaskan sebagai penilaian pribadi, sementara beberapa asumsi masih membutuhkan data yang lebih kuat.

Namun, ia tidak menghapusnya.

Justru bagian-bagian itulah yang perlu diperbaiki.

Arthur menyimpan dokumen tersebut dan menutup laptop sebentar untuk menyiapkan makan malam sederhana.

Ketika kembali ke meja, ia menemukan sebuah surel baru.

Pengirimnya adalah Nathan Brooks, mahasiswa yang sebelumnya memperhatikan jawabannya dalam kelas Professor William Harris.

Arthur membuka pesan itu.

Nathan mengucapkan terima kasih karena Arthur telah bersedia bertukar kontak dengannya. Ia kemudian menjelaskan bahwa sebuah perusahaan konsultasi keuangan kecil di Manhattan sedang mengadakan diskusi informal bagi mahasiswa yang tertarik pada analisis perusahaan dan strategi bisnis.

Acara itu dijadwalkan pada Rabu malam.

Peserta akan membahas sebuah perusahaan ritel yang sedang menghadapi tekanan persaingan. Mereka diminta mempelajari informasi publik dan menyampaikan pendapat mengenai masalah utama perusahaan tersebut.

Nathan menambahkan bahwa ia tidak dapat menjanjikan Arthur kesempatan kerja atau akses khusus. Acara itu hanya forum diskusi kecil untuk mahasiswa dan beberapa analis muda.

Arthur membaca pesan tersebut dua kali.

Ia tidak mengenal Nathan dengan baik. Mereka baru beberapa kali berbicara, dan Arthur belum tahu seberapa luas jaringan pria itu.

Namun, undangan tersebut terdengar masuk akal.

Kesempatan untuk mendengar cara analis lain menilai sebuah bisnis akan berguna, terutama jika ia ingin mengembangkan kemampuan yang tidak semata-mata bergantung pada pengetahuannya tentang masa depan.

Arthur membalas bahwa ia tertarik menghadiri acara itu dan meminta informasi lebih lanjut mengenai waktu, lokasi, serta bahan diskusi yang perlu disiapkan.

Nathan membalas beberapa menit kemudian dengan alamat kantor dan nama perusahaan: Meridian Financial Advisory.

Ia juga mengirimkan sebuah dokumen ringkas mengenai perusahaan ritel yang akan dibahas.

Arthur mengunduh dokumen tersebut.

Sebelum mulai membacanya, ia berhenti sejenak.

Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah memasuki ruangan-ruangan seperti itu dengan kekayaan yang sudah memberinya pengaruh besar. Orang-orang memperhatikan perkataannya karena mereka tahu siapa dirinya.

Sekarang, ia akan memasuki ruangan sebagai mahasiswa biasa.

Tidak ada yang mengenalnya sebagai Arthur Sterling, miliarder yang kelak menguasai kerajaan bisnis internasional.

Ia harus membangun reputasinya dari awal.

Anehnya, ia justru merasa lebih menyukai keadaan itu.

Jika seseorang menghargai pendapatnya sekarang, penghargaan tersebut setidaknya tidak berasal dari kekayaan yang belum dimilikinya.

Arthur membuka dokumen dan mulai membaca.

Selasa, 1 November 2016.

Pagi itu, Arthur bertemu Daniel Brooks di perpustakaan kampus untuk meninjau perkembangan bisnis mereka.

Daniel sudah membawa laptop dan beberapa lembar catatan baru.

"Aku punya kabar baik dan kabar buruk," katanya begitu Arthur duduk.

Arthur meletakkan tasnya.

"Mulai dari yang buruk."

"Thomas Miller belum membalas proposal yang kita kirim kemarin."

Arthur mengangguk.

"Itu belum tentu buruk. Dia mungkin sedang mempertimbangkannya."

"Benar. Tapi aku tetap berharap dia langsung menerima."

"Kalau semua calon pelanggan langsung menerima, kita mungkin sudah punya masalah lain."

Daniel mengerutkan kening.

"Masalah apa?"

"Kita tidak akan tahu apakah harga kita terlalu murah, apakah ruang lingkup pekerjaan kita terlalu luas, atau apakah kita hanya bertemu dengan orang-orang yang kebetulan membutuhkan jasa kita."

Daniel memandangnya beberapa saat.

"Kau berhasil mengubah penolakan menjadi bahan diskusi bisnis."

"Itu salah satu cara agar kita tidak terlalu kecewa."

Daniel tertawa kecil, kemudian melanjutkan.

"Kabar baiknya, Peter sudah mengirim sebagian catatan transaksi. Belum lengkap, tetapi ada beberapa hal menarik."

Ia menunjukkan tabel yang dibuat berdasarkan catatan Lawson Market.

Pada jam-jam tertentu, jumlah transaksi memang lebih rendah daripada yang diharapkan Peter. Namun, perbedaan tersebut belum cukup untuk memastikan apakah masalah utamanya adalah berkurangnya pelanggan atau perubahan pola pembelian.

Catatan mengenai barang yang tidak tersedia juga mulai menunjukkan beberapa pola, tetapi masih perlu diverifikasi.

Arthur memeriksa angka-angka itu dengan teliti.

"Apakah Peter mencatat hari ketika pemasok terlambat?"

"Untuk dua hari terakhir, ya. Tapi belum untuk seluruh periode."

"Kalau begitu, kita perlu menandainya. Keterlambatan pemasok bisa menjelaskan sebagian barang yang tidak tersedia, tetapi kita belum tahu seberapa besar pengaruhnya terhadap penjualan."

Daniel menambahkan catatan pada tabel.

"Menurutmu, kapan kita bisa memberikan rekomendasi?"

"Setelah kita memiliki data yang cukup untuk membedakan masalah yang berulang dari kejadian sesaat. Kita juga harus memastikan bahwa cara pencatatannya konsisten."

Daniel menghela napas.

"Jadi, kita belum bisa menjual solusi."

"Kita bisa menjual pekerjaan analisis jika ruang lingkupnya jelas. Tetapi kita tidak boleh menjual kepastian yang belum kita miliki."

Daniel menatap tabel tersebut lagi.

"Aku mulai memahami kenapa bisnis konsultasi bisa menjadi rumit. Kita dibayar untuk menemukan jawaban, tetapi terkadang jawaban terbaiknya adalah kita belum tahu."

Arthur tersenyum.

"Dan tugas kita adalah menjelaskan apa yang perlu dilakukan untuk mengetahuinya."

Mereka melanjutkan diskusi selama hampir satu jam.

Daniel akan memperbaiki tampilan halaman Lawson Market dan menyiapkan catatan teknis. Arthur akan menyusun ringkasan temuan awal, termasuk batasan data dan pertanyaan yang masih belum terjawab.

Mereka sepakat untuk tidak merekomendasikan diskon sampai memiliki alasan yang lebih kuat.

Sebelum berpisah, Daniel menutup laptopnya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana pertemuanmu dengan Richard?"

Arthur menceritakan bahwa Richard memintanya membuat catatan investasi yang lebih sistematis. Ia juga menjelaskan pertanyaan mengenai kemampuan membedakan keterampilan dari keberuntungan.

Daniel mendengarkan dengan serius.

"Menurutku itu bagus," katanya akhirnya.

"Bagian mana?"

"Dia tidak langsung menawarkan pekerjaan hanya karena kau berhasil menghasilkan uang. Dia ingin melihat apakah kau bisa menjelaskan keputusanmu."

Arthur mengangguk.

"Itulah yang ingin kulihat juga."

Daniel menyandarkan punggung ke kursi.

"Kalau suatu hari usaha kita berkembang, aku ingin kita melakukan hal yang sama. Jangan menilai orang hanya dari satu proyek yang berhasil. Kita harus melihat cara mereka bekerja dan bagaimana mereka menangani masalah."

Arthur menatap temannya.

Ada sesuatu yang membuatnya merasa hangat ketika mendengar kalimat itu.

Dalam kehidupan pertamanya, Daniel telah menjadi salah satu pendiri perusahaan perangkat lunak yang sukses. Arthur mengingat pencapaian tersebut, tetapi ia juga mengingat bagaimana kehidupan Daniel berakhir dalam kecelakaan mobil puluhan tahun kemudian.

Ia tidak bisa mengubah masa depan hanya dengan mengkhawatirkannya.

Namun, ia bisa membangun hubungan yang lebih baik sejak sekarang, membantu Daniel mengembangkan kemampuan, dan memastikan bahwa keputusan besar mereka kelak dibuat dengan pertimbangan yang matang.

"Setuju," jawab Arthur. "Tidak ada keputusan besar yang dibuat secara diam-diam. Kalau bisnis ini berkembang, kita harus tetap terbuka satu sama lain."

Daniel mengulurkan tangan di atas meja.

"Kesepakatan."

Arthur menjabat tangannya.

Bagi orang lain, itu mungkin hanya janji sederhana di antara dua mahasiswa.

Bagi Arthur, janji itu adalah salah satu fondasi yang ingin ia pertahankan sepanjang hidup keduanya.

Siang harinya, Arthur mengikuti kelas Professor William Harris.

Materi hari itu membahas penilaian perusahaan ritel, khususnya bisnis yang menghadapi perubahan perilaku konsumen.

Professor Harris menjelaskan bahwa sebuah perusahaan dapat mengalami penurunan pendapatan karena berbagai alasan. Perubahan harga, persaingan, kualitas produk, distribusi, dan kebiasaan pelanggan dapat memengaruhi kinerja secara bersamaan.

Seorang mahasiswa mengangkat tangan.

"Jika sebuah perusahaan mengalami penurunan penjualan selama beberapa kuartal, bukankah itu cukup untuk menyimpulkan bahwa model bisnisnya mulai gagal?"

Professor Harris menggeleng.

"Belum tentu. Kita harus mengetahui apa yang sebenarnya menurun. Apakah jumlah pelanggan? Nilai pembelian rata-rata? Frekuensi transaksi? Atau margin keuntungan? Jika kita tidak memisahkan faktor-faktor tersebut, kita mungkin memperbaiki masalah yang salah."

Arthur mendengarkan sambil teringat pada proyek Lawson Market.

Penjelasan itu sangat relevan dengan pekerjaan yang sedang ia lakukan bersama Daniel.

Professor Harris melanjutkan dengan contoh perusahaan yang mengalami penurunan jumlah transaksi tetapi tetap mempertahankan pendapatan melalui kenaikan harga. Di permukaan, pendapatan perusahaan tampak stabil. Namun, jika penurunan jumlah pelanggan terus berlangsung, bisnis itu mungkin menghadapi masalah yang lebih besar pada masa mendatang.

Ketika diskusi dibuka, Arthur mengangkat tangan.

"Menurut saya, kita juga harus memeriksa apakah perubahan tersebut bersifat sementara atau struktural. Kalau pelanggan berpindah karena pesaing menawarkan kemudahan yang lebih baik, penurunan itu mungkin tidak bisa diselesaikan hanya dengan promosi harga. Tetapi jika masalahnya berasal dari ketersediaan barang atau informasi yang tidak akurat, perbaikan operasional mungkin lebih efektif."

Professor Harris mengangguk.

"Benar. Dan bagaimana Anda membedakan keduanya?"

"Dengan mengumpulkan data yang sesuai dengan dugaan kita, lalu menguji apakah pola yang sama muncul secara konsisten. Kita juga harus mempertimbangkan penjelasan alternatif."

"Bagus," kata sang profesor. "Analisis yang baik tidak hanya mencari bukti untuk mendukung dugaan awal. Analisis yang baik juga berusaha menemukan alasan mengapa dugaan itu mungkin salah."

Arthur mencatat kalimat tersebut.

Ia sudah mengetahui prinsip itu sejak lama.

Namun, mendengarnya kembali dalam kehidupan yang baru membuatnya memikirkan sesuatu yang berbeda.

Pengetahuan masa depan dapat membantunya menemukan peluang. Tetapi jika ia hanya mencari bukti yang membenarkan ingatannya, ia akan mudah mengabaikan perubahan yang belum pernah terjadi dalam kehidupan pertamanya.

Dunia ini bukan rekaman yang tinggal diputar ulang.

Setiap keputusan yang ia ambil dapat mengubah keadaan di sekitarnya. Clara mungkin memilih jalan berbeda. Daniel mungkin mengembangkan bisnis dengan cara yang berbeda. Bahkan perusahaan-perusahaan yang ia ingat pun dapat menghadapi kondisi yang tidak sama jika ia mulai memengaruhi pasar atau persaingan.

Ia tidak boleh memperlakukan masa depan sebagai sesuatu yang pasti.

Ia harus tetap belajar dari kenyataan yang ada di hadapannya.

Setelah kelas selesai, Arthur menerima pesan dari Clara.

Apakah kau punya waktu besok sore? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.

Arthur membaca pesan itu dengan saksama.

Clara tidak memberikan penjelasan tambahan. Ia juga tidak mengatakan apakah persoalan tersebut berkaitan dengan keluarganya.

Arthur tidak ingin langsung menganggap bahwa pesan itu pasti berhubungan dengan pria yang pernah menemuinya di kampus.

Ia membalas:

Tentu. Aku punya waktu setelah kelas. Kita bisa bertemu di perpustakaan atau tempat lain yang kau pilih.

Balasan Clara datang beberapa menit kemudian.

Perpustakaan saja. Aku akan mengabarimu setelah tahu jadwal kuliahku.

Arthur menyimpan ponsel.

Ia merasa penasaran, tetapi tidak ingin membiarkan rasa ingin tahu berubah menjadi kecemasan yang berlebihan.

Clara berhak menentukan apa yang ingin ia ceritakan.

Jika perempuan itu membutuhkan pendapatnya, Arthur akan mendengarkan. Jika ia hanya membutuhkan seseorang untuk menemani, Arthur tidak harus memaksakan diri menjadi pemecah masalah.

Terkadang, membantu seseorang berarti memberikan ruang untuk berbicara tanpa buru-buru menawarkan jawaban.

Arthur memahami prinsip itu.

Tantangannya adalah menerapkannya ketika perasaannya sendiri mulai terlibat.

Malam itu, Arthur kembali ke apartemennya dan membuka dokumen mengenai Meridian Financial Advisory.

Perusahaan tersebut bukan bank investasi besar atau pengelola dana raksasa. Berdasarkan informasi yang tersedia, Meridian merupakan perusahaan konsultasi keuangan kecil yang membantu beberapa klien dalam analisis bisnis, penilaian perusahaan, dan strategi pendanaan.

Forum diskusi pada Rabu malam akan dihadiri sejumlah mahasiswa, analis muda, serta beberapa pegawai perusahaan.

Arthur membaca bahan studi kasus yang dikirim Nathan.

Perusahaan yang akan mereka bahas adalah sebuah jaringan ritel dengan beberapa cabang di wilayah timur Amerika Serikat. Pendapatannya masih cukup besar, tetapi pertumbuhannya melambat. Biaya operasional meningkat, sementara pesaing baru menawarkan pengalaman belanja yang lebih nyaman.

Dokumen itu tidak memberikan jawaban langsung.

Arthur menyukainya.

Ia mulai menyusun daftar pertanyaan: apakah penurunan pertumbuhan terjadi di seluruh cabang atau hanya di lokasi tertentu? Apakah biaya meningkat karena harga pemasok atau karena operasional yang tidak efisien? Apakah pelanggan benar-benar meninggalkan perusahaan, atau hanya mengubah jenis produk yang mereka beli?

Ia tidak ingin datang ke forum tersebut dengan jawaban yang dibuat sebelum masalahnya dipahami.

Setelah hampir satu jam, ia menyimpan catatan dan memeriksa jam.

Sudah larut.

Arthur menutup laptopnya, lalu berdiri di dekat jendela.

Lampu-lampu kota terlihat dari kejauhan. Manhattan berdiri di balik gelapnya malam, menyimpan kesempatan, persaingan, dan risiko yang belum ia hadapi.

Dahulu, ia mengira jalan menuju puncak hanya membutuhkan kecerdasan, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko.

Kini, ia tahu bahwa ada hal lain yang tidak kalah penting: kemampuan untuk menahan diri ketika kesempatan tampak terlalu menarik, kesediaan mengakui ketidaktahuan, dan kesabaran membangun kepercayaan tanpa memaksakan hasil.

Besok, ia akan bertemu Clara.

Lusa, ia akan menghadiri forum diskusi yang mungkin membuka jaringan baru.

Sementara itu, usaha kecilnya bersama Daniel masih berjuang mencari pelanggan berikutnya.

Tidak ada satu pun dari hal tersebut yang menjamin kesuksesan.

Namun, Arthur tidak lagi membutuhkan jaminan untuk melangkah maju.

Ia hanya membutuhkan alasan yang cukup kuat untuk mengambil langkah berikutnya, serta keberanian untuk mengubah arah jika ternyata ia salah.

Arthur mematikan lampu.

Kehidupan keduanya baru saja dimulai, dan ia tidak berniat mengulang seluruh kesalahan dari kehidupan pertama.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!